oleh ReO Fiksiwan
“Kemerosotan karya sastra menandakan kemerosotan suatu bangsa.” — Johann Wolfgang Goethe(1749-1832), Maximen und Reflexionen(Terjemahan Berthold Damshäuser & Agus R. Sarjono dalam Seri Puisi Jerman, Satu dan Segalanya, 2007).
Membaca buku sastra yang tebal sering kali menjadi momok bagi pembaca.
Ketika berhadapan dengan novel atau antologi yang halamannya ratusan, bahkan ribuan, otak pembaca normalnya langsung “sembelit” oleh bayangan panjangnya perjalanan membaca.
Ambil misal, buku dari Hans Emil Wilhelm Grimm (1875–1959), Volk ohne Raum(1934) setebal 1307 halaman dan dikenal dengan tagarnya: “Ohne das Buch, ohne das Volk.”
„Tak ada bangsa tanpa buku“ dalam Volk ohne Raum menjadi salah satu teks yang dipakai sebagai justifikasi ideologi ekspansionis Nazi.
Karna itu, frase “Ohne das Buch, ohne das Volk” muncul dalam wacana Grimm tentang pentingnya karya sastra sebagai pengikat bangsa.
Lain juga, karya-karya Remy Sylado, nama asli Japi Panda Abdiel Tambayong, lahir 12 Juli 1945 di Makassar dan wafat 12 Desember 2022 di Jakarta pada usia 77 tahun.
Buku-buku tebalnya, antara lain:
Kerygma & Martyria(2004), kumpulan puisi berhalaman 1056; Hotel Prodeo(2010), novel setebal 1044 halaman yang berkisah ihwal fiksi kritik sosial-politik Orde Baru, dan Sam Po Kong: Perjalanan Pertama(2005) tebal 1.128 halaman.
Lapisan tebal teks dari fiksi hingga fakta sejarah dari ketiga buku sastra di atas, semuanya menghadirkan tantangan bukan hanya pada isi, tetapi juga pada ketebalan fisik buku itu sendiri.
Untuk tujuan membaca strategi literer, bisa dibaca buku antologi kritik sastra dari sosiolog, mendiang Ignaz Kleden, dalam bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan(2004), menekankan bahwa membaca karya sastra secara kritis adalah sebuah tarik-menarik antara subjektivitas dan objektivitas, yang menuntut pembaca untuk tidak hanya menikmati teks, tetapi juga menguji dan menafsirkan maknanya.
Dikutip Kleden menyatakan:
„Dalam suatu tipe ideal…, sebuah sajak adalah murni subyektivitas, ilmu berusaha sekuat tenaga mendekati obyektivitas, tetapi esai selalu merupakan tarik-tambang yang melelahkan, senda-gurau yang manis atau dialektik yang keras di antara dua pihak yang saling menggoda dan saling meledek, saling mengandaikan dan saling meremehkan, yaitu subyektivitas dan obyektivitas.”
Uraiannya berikut menegaskan tiga tahap pembacaan karya sastra:
1/ Subjektivitas:
Membaca sastra berarti membuka diri pada pengalaman personal, emosi, dan imajinasi.
2/ Objektivitas:
Kritik sastra menuntut analisis sistematis, dengan kerangka teori dan metodologi.
3/ Dialektika:
Menurutnya, membaca kritis adalah proses tarik-menarik antara dua kutub itu. Pembaca tidak bisa sepenuhnya objektif, tetapi juga tidak boleh larut dalam subjektivitas.
4/ Strategi literer:
Membaca kritis berarti menempatkan diri sebagai pembaca yang aktif, yang menguji teks, mengaitkan dengan konteks sosial, dan menimbang makna di antara subjektivitas dan objektivitas.
Lain hal ketebalan halaman karya sastra sering kali menjadi pertimbangan penerbit. Sekat produksi teks dari penerbit dianggap berisiko rugi, alias tak laku, karena pembaca enggan membeli atau merasa tidak sanggup menuntaskan.
Namun di sisi lain, karya sastra yang tebal justru menyimpan kekayaan makna, lapisan simbol, dan kompleksitas yang tidak bisa dipadatkan begitu saja.
Dengan kata lain, membaca buku sastra tebal bukan sekadar soal stamina, melainkan soal strategi.
Secara teknis, panduan membaca buku sudah lama ditulis oleh Mortimer Adler dan Charles van Doren dalam How to Read a Book(Edisi revisi 1972; Terjemahan 2007).
Mereka menekankan bahwa membaca bukan hanya aktivitas pasif, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.
Dimulai dari membaca dengan cara berikut:
1/ Inspectional Reading(membaca inspeksi): Membaca cepat dengan teknik skimming dan superficial reading, untuk memahami struktur dan ide pokok buku dalam waktu terbatas.
Adler menyebutnya sebagai seni “membaca dengan cepat tetapi sistematis.”
2/ Analytical Reading(membaca analitis):
Membaca mendalam, mengikuti aturan-aturan tertentu(11 rules of analytical reading), dengan tujuan memahami argumen penulis secara menyeluruh.
Adler menulis: “The reader tries to uncover the skeleton that the book conceals.”
3/ Syntopical Reading(membaca sintopikal): Membaca banyak buku sekaligus, membandingkan dan menempatkan ide-ide dari berbagai penulis dalam hubungan satu sama lain.
Disebut sebagai level tertinggi membaca karena menuntut pembaca menjadi “penulis baru” yang merumuskan sintesis dari berbagai sumber
Dengan cara ini, ketebalan buku tidak lagi menjadi beban, melainkan ladang eksplorasi.
Pembaca bisa memilih untuk membaca cepat bagian tertentu, lalu mendalami bagian yang dianggap penting.
Selain anjuran Kleden sebelumnya, membaca secara kritis sebaiknya pula menuntut penguasaan dan pendekatan dalam ilmu sastra dan linguistik.
Salah satunya, Wolfgang Iser(1926-2007), dikenal luas sebagai teoretikus utama reader-response criticism(teori resepsi), serta profesor di Universitas Konstanz dan University of California, Irvine, dalam Der Akt des Lesens: Theorie ästhetischer Wirkung(1976), menekankan bahwa teks sastra bukanlah entitas yang selesai dengan sendirinya, melainkan potensi makna yang baru terwujud ketika dibaca.
Buku Der Akt des Lesen sebagai pencetus teori resepsi sastra dalam horison wawasan, menekankan bahwa membaca adalah proses interaktif antara teks dan pembaca, di mana “ruang kosong” dalam teks justru mengundang pembaca untuk mengisi makna.
Ia mengajukan beberapa gagasan penting: Teks sebagai “struktur kosong”; teks menyediakan kerangka, tetapi pembaca harus mengisi “ruang kosong”(gaps) dengan imajinasi dan interpretasi.
Berikut tahapan membaca dari Iser:
1/ Prefiguring(pra-pemahaman):
Pembaca membawa horizon harapan (expectations) berdasarkan pengalaman dan budaya.
2/ Interaction(interaksi):
Pembaca berhadapan dengan teks, menemukan konfirmasi atau frustrasi atas harapan mereka.
3/ Gap-filling(pengisian ruang kosong):
Pembaca aktif menafsirkan bagian yang tidak eksplisit, sehingga makna teks terbentuk.
4/ Reconfiguration(rekonstruksi):
Setelah membaca, pembaca menyusun kembali pemahaman, sering kali berbeda dari awal.
Demikian pula, Jacques Derrida, pencetus pembaca dekonstruktif dalam Off Grammatology(1967) menunjukkan bahwa teks selalu terbuka pada penafsiran, sehingga ketebalan bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk menemukan jejak-jejak makna yang tersembunyi.
Sementara itu, Bill Ashcroft, Gareth Griffiths, Helen Tiffin dalam The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures(1989;2002)
menyoroti bagaimana teks sastra kolonial dan pascakolonial bisa dibaca sebagai arena pertarungan ideologi, yang menuntut pembaca untuk kritis terhadap konteks sejarah dan politik.
Dengan demikian, cara membaca buku sastra tebal bukanlah sekadar menaklukkan jumlah halaman.
Ia adalah latihan mental, kesediaan untuk masuk ke dalam dunia yang kompleks, dan keberanian untuk menantang diri sendiri.
Ketebalan buku hanyalah kulit luar; yang lebih penting adalah bagaimana pembaca mampu menembus isi, mengolah makna, dan menjadikan pengalaman membaca sebagai bagian dari perjalanan intelektual.
Penerbit boleh khawatir soal laku atau rugi, tetapi bagi pembaca sejati, ketebalan buku sastra adalah tantangan yang justru memperkaya rasa dan nalar.
#coversongs:
Lagu Serat Kalatida II karya Remy Sylado dirilis pada 1977 oleh Harpa Records, masuk dalam album Bromocorah dan Putrinya.
#credit foto buku tiga di atas koleksi ReO Biblothek Kokima Hill dan di bawah buku Kafka dan Sitor Situmorang koleksi Sigit Susanto, penekun semua karya-karya Kafka.


0 komentar:
Posting Komentar