![]() |
| (PUSTAKA, No. 12, Th. I, Edisi Januari 1978) |
Oleh: BACHRUM M. TOPATIMASANG
"Apakah yang harus diajarkan di zaman penuh sarjana dan sedikit lapangan kerja?" - Majalah Titian No. 24
---
Kini hubungan yang tak menguntungkan antara kecepatan "tercetaknya" sarjana dan kemampuan ekonomi untuk menyerap mereka bukan lagi merupakan hal yang tak terbantah. Jaminan keemasan dulu itu merupakan hal kebetulan saja dan lekas berlalu. Sejumlah besar lulusan universitas kini mencari jenis-jenis pekerjaan yang tak tersedia lagi di pasaran kerja. Seiring dengan itu maka nilai materil titel mereka telah merosot. Bagi para pemegang titel yang masih baru, per dahan dari pendidikan ke pekerjaan – yang dulunya dapat dilalui dengan mudah – telah menjadi hal yang bisa membahayakan pengharapan dan harga diri.
Walter Guzzardi Jr., menulis pernyataan itu dalam artikelnya "Masa perubahan di Universitas Amerika". Jangan dikira, dilemma pendidikan Amerika Serikat itu, tidak merupakan dilemma dunia pendidikan kita juga di sini. Indikasi makin meningkatnya kemampuan produksi atau daya hasil (bukan tepat hasil) sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, yang dihadapkan pada indikasi makin sulitnya mencari lowongan kerja merupakan satu bukti pula. Dan jangan dikira, bahwa, sejak pagi-pagi pun kita tidak menyadarinya.
JAMU CAP JAGO
Menjadikan pendidikan betul-betul relevan dengan kebutuhan masyarakat, memang bukan pekerjaan gampang. Sampai sekarang pun dalam persoalan ini, kita masih terus mencari dan berusaha agar pendidikan dan kebutuhan masyarakat dapat ces pleng, seperti iklan Jamu cap Jago! Kita mau tak mau, harus terus mempertanyakan apa makna relevansi itu sesungguhnya? Bagaimana yang disebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Masyarakat yang mana, di mana dan kapan, dan seterusnya.
Relevansi atau kesesuaian sebenarnya terikat batas ruang dan waktu. Relevansi seharusnya diukur berdasarkan tiga aspek: memokok/mendasar (essential) penting (important) dan sangat mendesak (urgent). Tahun 50-60-an di Jerman Barat tenaga apoteker sangat dibutuhkan. Tapi sekarang, negara GSG-9 itu terpaksa mengekspor apotekernya ke Afrika dan Asia, karena kelebihan! Kita di sini sekarang lebih membutuhkan tenaga teknik menengah, sedang di India, tenaga teknik tinggi sudah mulai dicari-cari.
Jadi akar soalnya adalah pendidikan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Baru menentukan sesuai dan tidak keduanya. Usaha seperti ini dapat ditempuh dengan menganalisa karya atau kegiatan yang ada di masyarakat. Dan program kurikulum yang ada dalam sistim pendidikan kita pun terbentur pada paradoks perkembangan masyarakat yang terus berubah, dan fungsi institusi pendidikan sebagai "agent of change and innovation".
Karena itu, jika ada yang bertanya apakah yang harus didahulukan, program pendidikan yang dapat digunakan secara langsung dalam masyarakat, ataukah ke mampuan umum untuk menghadapi masalah-masalah dalam dunia yang berubah cepat ini ? Maka jawabnya adalah kedua-duanya.
MENCETAK TUKANG CETAK
Maka kurikulum dan sistem pendidikan secara keseluruhan, harus diarahkan pada pemilikan kemampuan bagi anak-didik terhadap kedua tantangan masyarakat di atas tadi.
Apa yang pernah dilakukan oleh Herbert Spencer (± 1860) dengan prinsip 'mayor area of human living"-nya; dan Franclin Bobbit (1924) dengan prinsip "the centres of human activities"-nya, memang masih belum memadai. Tapi setidaknya prinsip-prinsip itu dapat kita jadikan bahan dan titik berangkat pemikiran dalam rangka penyesuaian antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat.
Dengan menganalisa jenis dan sifat karya yang ada, akan ada dan yang bisa diadakan dalam masyarakat, serta kemampuan-kemampuan yang dituntutnya, pendidikan dapat memberi pelayanan pada anak didik untuk memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan inilah yang menjadi "faktor penyesuai" antara program pendidikan dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Prinsip pendidikan ini sering juga disebut competency based instruction/ education.
Posisi lembaga pendidikan tetap sebagai pengarah, kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Ini penting disadari untuk menjawab keberatan para sosiolog yang memandang peranan seperti itu terlalu muluk. Mengadakan perubahan dan pembaharuan adalah dalam kontek pengarahan. Sebab tak pernah pula ada hasil pendidikan yang mampu merombak habis-habisan lingkungan sosialnya dan membangunnya kembali dari nol koma nol. Selalu ada penyelarasan antara norma sosial yang sudah ada dan norma pembaharuan yang dihasilkan oleh sistem dan institusi pendidikan dalam implementasi nya. Kekhawatiran seperti itu sebenarnya terlalu prematur. Satu bentuk lain dari self-price and pride yang akan menuntun kita pada perdebatan skala prioritas yang tak kunjung selesai.
Dalam alur filsafat pendidikan, seperti misalnya yg berkembang di IKIP, memang umum pendapat yang menganggap analisa Spencer dan Bobbitt tak menjamin tantangan prospektif karya masyarakat masa mendatang. Bobbitt misalnya, hanya mengemukakan jenis karya masyarakat masa kini. Sehingga kemampuan-kemampuan yg diberikan oleh program pendidikan pun hanya kebutuhan saat sekarang. Maka konstatasi Guzzardi pun akan makin tuntas. Contoh problem apoteker Jerman Barat pun akan tetap ada.
Pemikiran ini kemudian berkembang, bahwa 'karya masyarakat boleh menentukan jenis kemampuan yang dapat digunakan secara langsung dalam masyarakat untuk memenuhi tuntutan kini'. Tapi ‘pendidikan-lah yg harus menentukan kemampuan umum untuk menghadapi perubahan perubahan masyarakat, sekaligus kemampuan menciptakan karya masyarakat yang baru dalam konsekwensi perubahan tadi’. Dengan demikian, pendidikan tidak saja menghasilkan 'tukang cari lowongan kerja; tapi juga 'tukang cipta lapangan kerja dan karya baru'.
PROLOG SEBUAH GUGATAN DAN PENGUKUHAN.
Ada baiknya kita memperhatikan satu bentuk model " areas of competencies" yang pernah diajukan oleh Pramoetadi. Satu bentuk model yang mengelompokkan jenis dasar kemampuan yang harus diberikan oleh program pendidikan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan, baik pribadi si anak didik sendiri maupun masyarakatnya untuk saat sekarang maupun yang akan datang. Tiga dasar kemampuan dalam model yang disebut Pramoetadi sendiri dengan model "Partomo Alinasah''nya itu yg diakuinya sendiri banyak dipengaruhi oleh gagasan D. Rowntree adalah: kemampuan kehidupan, kemampuan metodologis, dan kemampuan subyek*).
Kecaman terhadap pendidikan kita ditujukan pada masalah ini, yang sesungguhnya menjadi inti dari idea relevansi program pendidikan dan kebutuhan masyarakat. Sistem pendidikan formal kita yang ada saat ini, baru mencapai kesanggupan memberi kemampuan kandungan subyek dalam bidang keahlian, sedikit kemampuan dalam bidang penyajian (metodologis) keahlian itu, dan sangat miskin kemampuan penerapan-nya untuk menghadapi kehidupan yang nyata, dalam pada karya-karya.
KESOMBONGAN AJAIB
Beberapa waktu yang lalu, DM ITB mengadakan program "KAKAP (Kunjungan Antar Kampus Pesantren). Ada teman yang mengikuti program itu mengatakan pada saya, rasa salut dan kagumnya pada kehidupan pendidikan di "pondok-pondok" tersebut. Akhirnya kami sepakat bahwa sistem pendidikan pondok itu sebenarnya lebih komprehensif (dari sudut tiga dimensi kemampuan tadi) dari pada apa yang kami terima dan alami di'kampus.
Jangan dikira bahwa di negara-negara hebat, prinsip pendidikan 'pondok' seperti itu tidak dilaksanakan juga. Institut Technology Massachussette, Institut Carnegie Melon, Universitas Oregon, Berea High School of Kentucky, Hollins Women High-School og Virginia, dan Institut General Motors, adalah sederet contoh "kampus" AS yang melembagakan secara khusus cara cara yang dapat ditempuh oleh mahasiswanya untuk memiliki kemampuan pengambilan keputusan dalam keahlian itu dan penciptaan lapangan kerja secara serentak.**)
Sekedar illustrasi saja. Sebab masih ada semacam kesombongan aneh dan ajaib sekali pada kita, untuk terpana pada segala sesuatu yang ada di sana. Namun kalau rajin menekuni Taxonomy-nya Bloom cs, Human Resources Investation (HRI)-nya Harbison + Myers, dan juga Sistemic Thinking-nya Coombs yang relatif menjadi kiblat-kiblat pendekatan dalam penyusunan program dan sistem pendidikan saat ini pada dasarnya sama saja.
Apa yang diterapkan di "pondok-pondok" Jawa dan "kampus-kampus" AS itu, sebenarnya sederhana sekali. Menanamkan sikap, pengetahuan dan ketrampilan teknis kewiraswastaan. Amboi, sederhana sekali. Makanya jangan kaget. Sebab alasan seperti ini bisa membeliakkan kesombongan aneh kita itu. Mahasiswa misalnya belajar sebuah gagasan bergerak melalui tahap-tahap seperti design, produksi-prototip, analisa biaya dan pemasaran, dan seterusnya, dalam suatu flow diagram. Atau mengerjakan hampir semua urusan yang ada hubungan dengan menjalankan perguruan tingginya. Dari kerja tangan seharian seperti menyediakan makanan, mompa bensin, operator telepon, sampai tugas-tugas ketatausahaan, membuat daftar gaji, memegang pembukuan toko, bursa, atau kantin kampus, kataloger perpustakaan, programer komputer, dll.
"Student Employment" dalam kelompok sanggar kerja karier/ hidup seperti itu ternyata efektif bagi mahasiswa dalam menentukan arah/ jenjang karier yang akan mereka tempuh dalam kehidupan bermasyarakat nanti. Paling tidak mendapatkan langsung lapangan kerjanya. Dan syukur dapat menciptakan lapangan kerja dan karya masyarakatnya.
Sanggar kerja seperti ini patut digaris bawahi. Apa yang kita kenal internship program, praktek lapangan dan kuliah kerja dalam sistem pendidikan kita sekarang, terlalu ditekankan sebagai missi pengabdian. Makanya agak sulit mengaitkan idea ini dengan program akademis. Pengabdian memang mutlak, malah asasi. Tapi kepentingan dan prospek mahasiswa juga harus dipertimbangkan sebagai suatu aspek mendasar. Halo Dewan Mahasiswa !! Ini satu tantangan menarik.
LEBIH DARI ADAGIUM MUNGIL SAJA.
Mengapa saya menekankan kaitan program pendidikan dan lapangan kerja? Jawabnya jamak saja. Bahwa justru dengan lapangan kerjalah manusia dihadapkan pertama kali pada pemikulan tanggung jawab, hak dan kwajiban menghadapi kehidupan nyata, kehidupan seorang dewasa. Adagium dibawah kepala tulisan ini bukan sekedar pemanis mungil untuk membuat yakin. Ia lebih dalam daripada itu.
Menghadapi kehidupan harus dibedakan menilai dan memandang kehidupan. Menilai dan memandang kehidupan baru paripurna dengan melihatnya sebagai suatu gelondongan, totalitas yang menantang. Tetapi menghadapinya secara nyata, adalah parsil (partial), bagian per bagian. Parsilnya kehidupan ini adalah keahlian dan kemampuan bekerja, melakukan suatu karya. Dan itu seharusnya dibentuk dan diberikan oleh program pendidikan. Pendidikan formal, apalagi ! Rada sophisticated. Tapi cobalah renungkan.
Adalah sukar membayangkan suatu relevansi suatu program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, tanpa menyinggung pertautannya yang mendasar: antara materi pelajaran/kurikulum/program pendidikan dengan karya masyarakat yang ada, perspektif dan prospektifnya. Dan sama sukarnya untuk menyiapkan anak-didik yang sungguh siap menghadapi kehidupan nyata, tanpa memberikan mereka dasar-dasar kemampuan untuk melakukan dan menciptakan suatu karya masyarakat.
Bumisiliwangi, Januari 1978.
*) Pramoetadi, Seminar Pengembangan Kurikulum Ma- tematika, Yogyakarta, 1977.
**) TITIAN No. 24.
Sumber: PUSTAKA, No. 12, Th. I, Edisi Januari 1978


0 komentar:
Posting Komentar