alt/text gambar

Kamis, 15 Januari 2026

Topik Pilihan: ,

RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM REFORMASI

(Kompas, 15 Januari 1999)


Oleh: Sukidi


Ramadhan 1419 H ini, datang di tengah kondisi bangsa kita sedang diterpa badai krisis: moneter, ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Dari sudut pandang etika-keagamaan, semua krisis ini berpangkal pada: krisis moralitas penguasa (korupsi, kolusi dan nepotisme). "Di negara kita, yang muslimnya terbesar di dunia, korupsi terjadi luar biasa..." begitu gugatan Prof Nurcholish Madjid (1998). Inilah paradoks keberagaman kita: muslim terbesar vis a vis korupsi luar biasa. Belakangan, krisis moral ini sudah mengambil bentuknya ke semua lini kehidupan: sosial (kerusuhan massa, penjarahan), ekonomi (penimbunan sembako), agama (pembakaran rumah ibadah; masjid, gereja), politik (santet di Banyuwangi akibat pertarungan elite politik), dan seterusnya.

Itulah akibat krisis moralitas. Padahal, nilai-nilai moral itu merupakan hakikat dan buah dari agama. Logikanya, bila merebak krisis moral, berarti buah dari krisis spiritual-keagamaan. Logika ini mengingatkan saya pada seorang pakar ekonomi pembangunan dunia, EF Schumacher yang menulis buku bagus sekali: A Guide for the Perplexed 1981. Kata Schumacher, belakangan ini orang baru sadar bahwa segala krisis—baik krisis ekonomi, bahan bakar, makanan, lingkungan, maupun krisis kesehatan—, justru berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan diri kita terhadap yang Absolut, Tuhan. Betapa dahsyatnya krisis spiritual ini, sehingga Paul Brunton, menamai buku klasiknya dengan judul: The Spiritual Crisis of Man, 1974. 

Itu karena, dari sudut metafisika maupun epistemologi keagamaan, krisis semacam ini bisa dikatakan sebagai akibat daripemberontakan/pembangkangan manusia terhadap Tuhannya. Bahkan, fenomena semacam inilah, yang dahulu kala telah mendorong banyak filsuf tradisional dari berbagai agama—seperti  Huston Smith (Kristen), Frithjof Schuon(Islam),Ananda Comaraswamy (Hindu)—berusaha membuat suatu sketsa yang menunjukkan bahwa krisis semacam ini, muncul karena manusia modern begitu jauh dari "realitas surgawi," atau karena manusia modern dalam bahasa filsafat perennial (sophia perennis)—"hidup ini di pinggir lingkaran eksistensi.” 

Untuk itulah, manusia modern perlu segera merealisasikan dirinya dengan Yang Absolut (Tuhan) sebagai bentuk dari reformasi spiritual, sehingga manusia bisa menyelamatkan bumi dan dirinya dari kehancuran total atau "revolusi sosial" dalam kekhawatiran KH Abdurrahman Wahid. 

Nah, agenda krusialnya adalah bagaimana menjadikan puasa di bulan ramadhan ini sebagai momentum reformasi spiritual dan sosial dalam rangka merealisasikan diri (manusia) ke hadirat Tuhan. Memandang puasa sebagai memomentum reformasi, mungkin dikira mengada-ada. Padahal, itulah wacana baru dalam menyingkap makna hakiki puasa. Puasa sebagai momentum reformasi, dengan demikian dapat diklasifikasikan ke dalam dua bahasan: reformasi spiritual-vertikal dan reformasi sosial-horizontal. Tetapi, dua bahasan ini berujung pada satu tujuan: menggapai ridha Tuhan.

Reformasi 

Puasa sebagai momentum reformasi spiritual yang bergaris vertikal (Tuhan), disandarkan pada doktrin normatif Islam pada Qs. al-Baqarah/2:183. Firman Allah yang memuat perintah berpuasa ini, hanya dikhususkan kepada kaum yang beriman. Jadi, iman merupakan modal dan bekal primer kaum muslimin untuk menunaikan ibadah puasa sebulan penuh ini.

Karena, iman bukan sekadar mempercayai eksistensi Tuhan secara taken for granted, tetapi—ini yang terpenting—menaruh kepercayaan hidup kita hanya kepada Tuhan. Jadi, Tuhan merupakan asal dan orientasi akhir hidup kita, yang karenanya kita harus bersikap—dalam bahasa William James—the will to believe. Dengan cara ini, kita kian inklusif kepada sebuah wacana: bahwa iman adalah komitmen total kepada The Ultimate Reality, yang membuat kita—meminjam istilah Paul Tillich—“berani untuk berada" dalam hidup ini.

Itulah modal primer berpuasa tertinggi bagi kaum beriman: meneguhkan dahulu "kesadaran keimanan" (faith consciousness) kehadirat Allah. Kesadaran ini begitu signifikan untuk menapaki hari demi hari sepanjang bulan Ramadhan ini. Tanpa kesadaran keimanan, puasa kita terasa sia-sia belaka. Karena, kita berpuasa hanya karena beriman kepada Allah. Dan Allah pun mewajibkan ibadah puasa hanya kepada kaum beriman, tidak kepada seluruh manusia, meski muslim sekalipun. Itulah sebab nya, titah berpuasa ini diawali dengan firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman...." (Qs, al-Baqarah/2:183).

Oleh karena iman berada dalam domain hati, maka tugas kita sekarang adalah: bagaimana mengembangkan kesadaran hati (soul consciousness)?

Puasa di bulan Ramadhan merupakan momentum istimewa untuk mengembangkan kesadaran hati sebagai kesadaran tertinggi (the Higher Consciousness)? Caranya adalah menjadikan puasa sebagai instrumen reformasi-spiritual atau pendakian spiritual. Secara epistemologi-keagamaan, pendakian spiritual dalam prosesi ibadah puasa ini, dicapai  melalui tiga tahapan. Imam besar Islam Abu Hamid al-Ghazali secara jenius merinci tiga tahapan ibadah spiritual, yakni: puasa sebagai proses pendakian spiritual, yakni: 

Pertama, puasa orang awam, yang sekadar menahan rasa lapar, haus, dan hubungan seksual. Hadits Nabi, "banyak orang berpuasa hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga," mungkin berada pada level ini.

Kedua, puasa orang khusus, yang bukan sekadar mampu menahan rasa lapar, haus, dan hubungan seks, tetapi mampu pula menahan "panca-inderanya" dari perbuatan dosa. Inilah tahapan kedua dalam proses pendakian spiritual.

Ketiga, puasa orang super khusus, yang bukan sekadar menahan rasa lapar, haus, syahwat, panca-indera, tapi juga "puasa hati-nurani." Inilah puncak tertinggi ibadah puasa dalam proses pendakian spiritual, yang bisa mencapai The Higher Consciousness. Yakni, mencapai kesadaran hati (soul consciousness) untuk mengalami makna hakiki puasa sebagai sebuah disclosure, pengalaman akan kehadiran Tuhan dalam diri kita: "... Ke mana engkau hadapkan wajahmu, di situlah wajah Tuhan..." begitulah penggalan bahasa puitis Al Quran, (al-Baqarah/2:115).

Itulah sebabnya, kenapa sejak dahulu kala, banyak orang arif dan bijak mengajak manusia untuk menyucikan hati. "Untuk mengerti sifat-sifat Tuhan, maka harus ada kesucian hati kita," begitu pesan John Smith. Pesan serupa disampaikan filsuf Plotinus dalam bahasa aslinya, never can the the soul have vision of First Beauty unless itself be beautiful. Di  samping John Smith, filsuf Plotinus, Thomas Aquinas,  pesan seperti itu juga dilontarkan oleh beberapa sufi Islam, seperti Jalaluddin Rumi, yang berkata "It is the sun's self that lets the sun be seen... God alone can feel God's Love" (Khosla, The Sufism of Rumi, 1987). Ini lanjut Rumi, dikarenakan "mata  hati bukan saja penting, tetapi punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan" (Mathnawi, Vol. 4).

Pada frame inilah, puasa sebagai instrumen pengembangan kesadaran hati, menemukan common platform-nya. Inilah puncak reformasi spiritual-vertikal ibadah puasa, yang secara teologis mampu menumbuhkankesadaran hati-nurani untuk ikut berpuasa. Pada level ini, tujuan hakiki ibadah puasa benar-benar tercapai secara sempurna, yang dalam firman Allah (al-Baqarah/2:183) dirumuskan la'allakum tattaquun: agar kamu sekalian menjadi orang- orang yang bertakwa.

Menuju reformasi sosial-horisontal 

Jika iman berujung pada kesadaran keimanan, maka ujung takwa adalah kesadaran ketuhanan (God-consciousness). Tugas kita adalah: bagaimana pola relasi puasa-kesadaran ketuhanan, yang berujung pada reformasi sosial bergaris horisontal.

Takwa, sebagai tujuan utama ibadah puasa, memang lebih tepat dimaknai—mengikuti rumusan Muhammad Asad dalam tafsirnya; The Message of the Quran, (1980)—sebagai God-consciousness, yaitu "kesadaran ketuhanan," yang dalam bahasa Arab, sinonim dengan kesadaran rabbaniyyah atau ribbiyyah. Dalam konteks ini, bisa  dikedepankan sebuah pertanyaan filosofis: mengapa di saat kita berpuasa, rela menahan rasa lapar, haus, dan pemenuhan kebutuhan seks, padahal kita dapat saja melakukan semua itu, kapan saja dan di mana saja, secara pribadi dan sembunyi-sembunyi, tanpa  diketahui orang lain?

Jawabnya tiada lain karena kita menyadari sepenuh hati, berada dalam bingkai "kesadaran ketuhanan"—makna hakiki takwa sebagai tujuan utama ibadah puasa—, di mana Tuhan selalu melihat, mengawasi dan menyertai kita; di mana pun kita berada. Karenanya, sekecil apa pun, kita tidak akan pernah melanggar larangan-Nya, biar pun kita sendirian. Karena kita sudah meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Hadir (omnipresent) dalam keseharian hidup kita. Hakikat puasa, dengan demikian adalah penyerahan diri secara total di bawah cahaya "kesadaran ketuhanan." "Dia(Tuhan) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Tuhan itu Maha Periksa akan apa pun yang kamu kerjakan," begitu firman Tuhan pada Q.s., al- Hadid/57:4.

Maka, konsekuensi logisnya adalah tiada jalan lain kecuali patuh di bawah cahaya kesadaran ketuhanan. Maksudnya, bila puasa diyakini sebagai refleksi kesadaran ketuhanan, maka hakikat puasa sebenarnya adalah bagian dari latihan untuk "berani berada" dan "berani dalam ketiadaan."

Pertama, puasa sebagai latihan untuk "berani berada” dalam hidup ini, seperti dipopulerkan pemikir besar abad ini, Paul Tillich melalui karyanya: The Courage To Be. Maksudnya, dengan  keberanian hidup bersandarkan kesadaran ketuhanan, maka kita akan terbebaskan dari berbagai kecemasan eksistensial diri kita: teror, santet, penculikan, kematian, dan sederetan kecemasan eksistensial lainnya yang seringkali menghantui hidup manusia. Oleh karena hidup kita hanya bersandarkan ke hadirat Tuhan, maka "tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, dan tiada tempat mengabdi, kecuali Dia," papar pakar tafsir Prof Quraish Shihab, 1995. Inilah yang membuat diri kita tegar untuk "berani berada" dalam hidup ini.

Kedua, puasa juga latihan untuk "berani dalam ketiadaan": tidak makan, minum, hubungan seks, dan perbuatan tercela lainnya. Pararel makna generiknya, puasa berarti menahan diri dari: nafsu makan, nafsu minum, nafsu seks, nafsu kuasa, nafsu serakah, dan nafsu-nafsu amarah lainnya. "Nafsu (buruk) itu dapat membawa manusia pada keserakahan," begitu peringatan Tuhan kepada kita. Melalui puasa di bulan Ramadhan ini, seluruh hawa nafsu manusia dikekang, dikontrol, dan dikendalikan oleh iman dan takwa. Puasa, dengan demikian berpangkal pada: iman dan takwa. Inilah dua nilai intrinsik yang paling sentral dalam agama, seperti bunyi sabda Nabi Muhammad SAW, "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah takwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur."

Ini tentu wajar sekali, dan dengan sendirinya benar, karena logika dari keinsyafan yang mendalam akan takwa sebagai pengalaman (simbolik) kehadiran Tuhan dalam hidup ini ada- lah munculnya kesadaran moral-etis manusia untuk berbudi pekerti luhur dan berperilaku jujur. Kesadaran inilah yang melahirkan sebuah etika baru, yang secara gampangnya kita sebut sebagai "etika ketuhanan." Sebuah etika yang dibangun bersandarkan pada sifat- sifat kebaikan Tuhan. Karenanya, etika ini merupakan bentuk dari sifat-sifat kebaikan Tuhan, seperti rahman (pengasih), rahim (penyayang), barr (pemulia), ghafur (pemaaf), dan ihsan (berbuat baik). 

Etika ketuhanan ini, tentu amat diperlukan manusia dalam membangun kesadaran moralitas bangsa.Inilah kewajiban yang secara imperatif, melekat pada diri kita: membangun standar moral dalam kehidupan sosial dewasa ini. Reformasi sosial dari ibadah puasa, dengan demikian diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai moral yang senapas dengan nilai-nilai keislaman secara universal: keadilan, kebenaran, dan demokrasi. Karenanya, bukan tanpa kebetulan bila tahun 1995, Kuntowijoyo memasukkan disiplin moral dan demokrasi sebagai sebuah dari pendidikan puasa. 


* Sukidi, Staf Yayasan Paramadina dan Alumnus IAIN Jakarta, tinggal di Ciputat.


Sumber: Kompas, 15 Januari 1999

0 komentar:

Posting Komentar