alt/text gambar

Kamis, 15 Januari 2026

Topik Pilihan: ,

Obituari: KARNA TELAH MANGKAT, GUNDONO

(TEMPO, 13-19 Januari 2014)


Obituari: KARNA TELAH MANGKAT, GUNDONO

Oleh: Sujiwo Tejo


Pesinden itu membandingkan saya dengan dalang Ki Slamet Gundono. Dalam pewayangan, kata dia, Gundono itu Karna. Saya saudara kandungnya dari ibu Kunti, Arjuna. Mungkin ia mau menghibur. Waktu itu saya curhat setengah memprotes: kenapa bisa-bisanya dia menangis, bahkan sampai kesurupan, membawakan lagu-lagu Gundono, tapi tidak untuk lagu-lagu saya? 

“Ke Gundono, aku kesurupan. Ke kamu, aku jatuh hati....” 

Sayangnya, tak ada ayat dari kitab suci mana pun yang mewajibkan laki-laki percaya omongan pesinden. Tapi mengenang Slamet Gundono, yang wafat 5 Januari lalu, dalang yang senantiasa tampil dengan sitar-mandolin khasnya, memanglah mengenang lagu-lagunya yang lekas menghanyutkan kita ke alam lain. 

Mereka antara lain ada di album Kelingan Lamun Kelangan, Mabuk Gusti, dan Tuhan Maha Dalang. Melodinya mengalir di sela pola nada-nada orang bule dan orang Jawa. Tepatnya Jawa Pesisiran Banyumas, tempat ia dilahirkan di Dukuh Salam, Slawi, Tegal, pada 1966. Pada ketukan tertentu, kadang liuk-liuk nadanya leyeh-leyeh sejenak di salah satu pola tangga nada tersebut. 

Siapa berani tak tergetar mendengar Gundono dengan suaranya yang tiba-tiba bening menjulang lalu serak-serak menjerembab turun bergunduk-gundukan vibrasi magis tatkala ia lantunkan larik berikut: 

Tresnaku marang sira ora bisa digambarna...

Ademe ngungkuli banyu...

Angete ngungkuli geni...

Itu bahasa Jawa Ngapak alias Jawa dialek Banyumas. Terjemahannya kurang lebih: cintaku padamu tanpa ibarat, anyesnya tak ibarat air, hangatnya tak ibarat bara. Tapi apakah syair dan lagu yang dibalut harmoni sitar-mandolin plus gamelan dan kadang rampak rebana ini eksklusif gaya Banyumasan? 

Elizabeth D. Inandiak, penerjemah Serat Centhini, tepat ketika menggambarkan Slamet Gundono laksana gunungan tanpa jejer. Maksudnya, Gundono luwes. Lihatlah, pesinden yang pernah mendukungnya bukan cuma dari Banyumas. Banyak pesinde dari Jawa yang lain yang bisa dicantumkan dalam riwayat kesenian Gundono, antara lain Cahwati dan Sruti Respati. 

Bahkan, pada 2011, Gundono dan saya, yang berlatar Jawa Timur, pernah berkolaborasi dengan dalang wayang golek Sunda, Asep Sunandar Sunarya. Belum lagi kalau kita sebut kolaborasinya dengan seniman berbagai latar, seperti Garin Nugroho, Sardono W. Kusumo, dan Goenawan Mohamad. Gampangnya Gundono menclok ke berbagai idiom ungkap kesenian itu mungkin karena latar belakangnya. Orang tua biologisnya petani, tapi orang tua non-biologisnya banyak dan beragam, dari almamaternya Institut Kesenian Jakarta dan Institut Seni Indonesia Surakarta; pesantren; Rendra; sampai dalang legendaris bergaya Semarangan, Ki Nartosabdo. 

Namakanlah ia murid tak tercatat dari Ki Natrosabdo, ibarat Karna murid tak tercatat Rama Parasu. Tapi murid-muris resmi penyandang Bintang Maha Putra itu terperangah menonton Gundono. Mereka tak percaya Gundono, yang bergaya pedalangan Banyumasan, sanggup persis meniru gaya Semarangan Ki Nartosabdo lengkap dengan gestur-gestur sang maestro ketika mendalang. 

Sejatinya, menclok-mencloknya Gundono bukan cuma pada segala yang masih berada dalam ranah kesenian. Dari dalang gemblung, wayang akapela khas Banyumas, ia melompat ke wayang kondom, lalu ke wayang air. Tapi sejatinya ia bahkan pernah ingin melompat jauh ke luar kesenian. 

Pagi itu, awal 1990-an, ia dengan sepeda motor bebeknya mendatangi Hotel Cakra tempat saya menginap di Solo. “Saya sebenarnya enggak ingin jadi dalang,” ujarnya. “Karena leluhur saya yang dalang-dalang itu biasanya main perempuan.” 

Saya tertawa. Pulangnya dia saya antar sampai gerbang hotel. Saya masih ketawa bukan lantaran sepeda mptor bebek itu tampak mini sekali dibanding tubuhnya yang amat besar. Saya ketawa lantaran mikir-mikir, takdir kok akan repot-repot dihindari?

Toh, akhirnya, selama Gundono jadi dalang, saya hampir tak pernah mendengar ia main-main dengan banyak perempuan. Ia seperti Adipati Karna yang cuma setia pada Surtikanti, istrinya. Gundono pergi menginggalkan seorang istri, dua anak, dan karya-karyanya. Di Slawi, wayang suket (wayang dari rumput) bikinan Ki Manteb Soedharsono turut dikubur bersama jenazahnya. 

Balik lagi, takdir kok akan repot-repot dihindari? Setelah malang-melintang ke berbagai idiom kesenian, akhirnya Gundono leboh dikenang sebagai dalang wayang suket. Itulah wayang rumput, wayang khas kelas petani udik seperti orang tua bilogisnya, kelas yang dalam lakon wayang menemukan bayi buangan Kunti: Karna. ●

Sujiwo Tejo

Sumber: TEMPO, 13-19 Januari 2014

0 komentar:

Posting Komentar