alt/text gambar

Sabtu, 21 Februari 2026

Topik Pilihan: ,

Anggap Saja Kita yang Salah Dengar


Oleh: Nadirsyah Hosen


Ada satu fase dalam hidup saya ketika perhatian saya terhadap bacaan al-Qur’an begitu tajam, bahkan mungkin terlalu tajam. Saya tahu, salah harakat bisa mengubah makna. Salah i‘rab bisa menggeser pesan ayat. Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga.

Bukan untuk tenggelam dalam makna.

Bukan untuk meresapi getarannya.

Tapi untuk mengaudit: tajwidnya benar atau tidak? Makhrajnya tepat atau meleset? Nahwunya rapi atau berantakan?

Suatu maghrib, di sebuah masjid, saya menumpang shalat. Tapi tak ada imam tetap. Tiba-tiba seorang bapak berdiri di depan. Shalat pun dimulai.

Dan… bacaannya tidak sempurna. Ada yang kurang tepat. Ada yang terasa janggal di telinga saya yang waktu itu merasa “terlatih”.

Sepanjang jadi makmum, hati saya ngedumel. Fokus saya bukan pada Allah. Bukannpada shalat saya. Bukan pada makna ayat. Tapi pada “kesalahan” sang imam.

Begitu salam kanan-kiri selesai, saya langsung bangkit. Ke pojok masjid. Saya ulangi shalat saya.

Di rumah, dengan sedikit rasa bangga, saya cerita pada Abah. Bahkan sambil menirukan bacaan imam tadi dengan nada meremehkan.

Abah hanya tersenyum.

“Lain kali, nggak usah kamu ulangi shalat kamu.”

“Tapi bacaannya kan nggak benar, Abah….shalatnya gak sah”

Beliau menjawab pelan, hampir seperti berbisik:

“Anggap saja kamu yang salah dengar tadi.”

Jawaban itu sederhana. Tapi menampar halus ego saya.

Sejak itu saya belajar satu hal: tidak semua yang terdengar salah harus segera dihakimi. Tidak semua yang terasa kurang tepat harus langsung dikoreksi dengan rasa lebih suci.

Saya mulai fokus pada bacaan saya sendiri. Pada kekhusyukan saya sendiri. Pada makna shalat yang sering justru hilang karena sibuk menjadi “hakim” bagi orang lain.

Kini prinsip itu saya bawa ke banyak ruang kehidupan:

Kalau melihat orang lain salah,

anggap saja mungkin kita yang salah lihat.

Kalau mendengar orang lain keliru,

anggap saja mungkin kita yang salah dengar.

Bukan untuk membenarkan kesalahan.

Bukan untuk menormalisasi kekeliruan.

Tapi untuk melatih hati agar tidak tergesa-gesa menghakimi.

Untuk menjaga diri dari merasa lebih benar.

Dan untuk mengingat bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Kadang yang perlu kita luruskan bukan bacaan imam,

tapi cara pandang kita sendiri.

Bukankah cara syaitan menggoda itu seperti ini: ketika ia gagal membuat kita melakukan kesalahan, ia akan sukses membuat kita merasa paling benar sendiri?


Nadirsyah Hosenseorang kiai dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Pada 2005-2023, dipercaya sebagai Ra'is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru. Mengarang buku "Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era", (Republic of Letters Publishing, Dordrecht, The Netherlands, 2010); "Shari'a and Constitutional Reform in Indonesia" (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2007); dan menulis buku bersama Ann Black and Hossein Esmaeili yang bejudul" Modern Perspectives on Islamic Law" (Edward Elgar, UK, 2013 dan 2015)

0 komentar:

Posting Komentar