Dibalik sorot lampu panggung politik nasional yang mentereng, tidak banyak yang tahu bahwa Muhammad Hatta Rajasa adalah seorang pejuang keluarga sejati. Sosok yang lahir di Palembang pada 18 Desember 1953 ini merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Tumbuh dalam keluarga besar dengan disiplin tinggi dari sang ayah yang seorang tentara, Hatta sudah ditempa untuk hidup mandiri sejak usia SMP dan SMA dengan tinggal terpisah sejauh 100 km dari orang tuanya.
Titik awal karier Hatta Rajasa sebenarnya jauh dari hiruk-pikuk politik. Setelah berhasil menuntaskan pendidikan di Teknik Perminyakan ITB, impian terbesarnya hanyalah satu: menjadi seorang dosen. Ia ingin mendedikasikan hidupnya di dunia akademis. Namun, realita sebagai anak tertua kedua dengan 11 orang adik memaksanya mengubur dalam-dalam impian tersebut. Ia sadar bahwa kebutuhan ekonomi keluarga jauh lebih mendesak, sehingga ia harus memilih jalan yang lebih menantang di lapangan.
Ia mengawali langkah profesionalnya di usia 24 tahun sebagai seorang teknisi lapangan di PT Bina Patra Jaya. Tidak ada kemewahan di awal kariernya; ia harus berjibaku di lapangan pengeboran minyak, sebuah dunia yang keras dan penuh risiko. Namun, kedisiplinan yang diajarkan ayahnya membuat karier Hatta melesat. Hanya dalam waktu singkat, ia dipercaya menjadi wakil manajer teknis di PT Meta Epsi, hingga akhirnya menduduki kursi Presiden Direktur PT Arthindo selama 18 tahun (1982-2000).
Titik baliknya terjadi saat Indonesia memasuki gerbang Reformasi. Kesuksesannya di dunia bisnis perminyakan tidak lantas membuatnya lupa pada naluri aktivis yang ia miliki sejak di ITB dan Masjid Salman. Hatta memutuskan untuk terjun ke dunia politik melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Keputusannya ini menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas, di mana ia terpilih menjadi Ketua Fraksi Reformasi DPR RI hasil Pemilu 1999, membuktikan bahwa kemampuan komunikasinya sangat diperhitungkan.
Karier eksekutifnya kemudian meledak dengan menjadi menteri di berbagai era kepemimpinan. Mulai dari Menristek, Menteri Perhubungan, hingga Menteri Sekretaris Negara. Keahlian lobinya yang luar biasa membuatnya menjadi "jembatan" yang selalu diterima oleh setiap presiden yang berkuasa. Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2009-2014), sebuah posisi krusial yang menjadikannya arsitek utama kebijakan ekonomi negara di masa itu.
Kisah hidup Hatta Rajasa adalah potret nyata tentang sebuah pengorbanan. Dari seorang pemuda yang terpaksa melupakan cita-cita menjadi dosen demi menyekolahkan adik-adiknya, ia justru dibawa oleh takdir untuk menjadi pengambil kebijakan tertinggi bagi jutaan rakyat Indonesia. Perjalanannya mengajarkan kita bahwa tanggung jawab terhadap keluarga seringkali menjadi pembuka jalan menuju kesuksesan yang jauh lebih besar dari apa yang kita impikan.
Sumber: VIVA - "Muhammad Hatta Rajasa"

0 komentar:
Posting Komentar