alt/text gambar

Sabtu, 21 Februari 2026

Topik Pilihan: ,

Tafakur menurut Tinjauan Atom Fisika

 

Di antara umat manusia terdapat sejumlah orang yang memiliki keinginan demikian keras untuk hidup suci dengan tujuan untuk memperoleh rahmat Tuhan. Keadaan yang demikian dinamakan aspirasi.

Mereka lupa akan diri sendiri. Selain pikirannya yang terputus dengan dunia luar, seluruh pribadinya pun memutuskan hubungannya dengan dunia luar dengan cara mengasingkan diri di puncak atau di lereng gunung. Dengan jalan tafakur (contemplatie) pikirannya dipusatkan ke arah yang mutlak. 

Pada suatu ketika, apabila dengan jalan tafakur pikirannya telah mencapai taraf mutmainah atau tenang dan damai (zielevdere), secara tiba-tiba pikirannya seolah-olah lenyap. Dengan lenyapnya pikiran maka lenyap pulalah perasaan dan Akunya. 

Keadaan yang demikian dikatakan oleh Imam Ghazali sebagai "De hoogste toestand is het weg zijn van de gedachte van weg zijn.” 

Adapun keterangan menurut atom fisika adalah sebagai berikut: 

Sebagaimana yang telah diuraikan, menurut pendapat Cartesius, elektron pada hakikatnya terdiri dari putaran aether, di mana tepinya masih berhubungan dengan bahan yang mengadakan putaran tersebut. Adapun bahan aether tersebut adalah zat mutlak. Dengan kata lain, setiap detik elektron dapat menambah dirinya dengan tenaga, atau dengan kata lain elektron selalu bergerak, bergetar dan berputar tanpa henti-hentinya. Jika putaran aether yang dinamakan elektron melakukan putaran berdasarkan kemauannya sendiri, maka elektron akan lenyap dan kembali menjadi aether, seperti juga halnya dengan putaran di dalam air yang kembali menjadi air jika air kembali menjadi tenang dan diam.

Pikiran kita tersusun dari elektron-elektron yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain melalui serat-serat saraf di dalam otak, lebih-lebih jika pikiran kita setiap detiknya selalu ditambah dengan rangsangan baru yang berupa tangkapan pancaindera. 

Apabila kita mulai dengan tafakur, mati raga dengan jalan menutup kesembilan lubang di dalam tubuh kita (di dalam bahasa Jawa: tafakur, pejah raga, nutupi babahan hawa sanga'' (R. Ng Ranggowarsito, Serat Wirid Idayat Jati, hlm. 18), dan dengan keras kita menuntut kehidupan suci, sedangkan seluruh pikiran kita bebaskan dari semua keinginan dan kemurkaan, serta kita pusatkan ke arah pangkal segala yang ada atau asas pusat (Het Centrale Beginsel), maka pada suatu ketika kita akan memperoleh ketenangan, ketenteraman dan rasa damai di batin kita, karena roh atau pikiran kita mencapai taraf mutmainah (roh dalam keadaan istirahat). Elektron-elektron di dalam otak yang menyusun pikiran kita berhenti berputar dan kembali menjadi aether. Dengan demikian lenyaplah semua elektron yang menjadi pikiran termasuk pikiran itu sendiri, terutama pikiran yang mengandung tangkapan pancaindera, yaitu pikiran yang berupa materi. Dengan berubahnya elektron-elektron menjadi aether, terlepas pulalah tenaga yang menggerakkan elektron-elektron, baik gerakan elektron yang berputar maupun gerakan elektron yang kian kemari. Tenaga yang dilepaskan ini diterima oleh otak sebagai sinar yang dinamakan sinar batin (inwendig licht) sebagaimana yang dimaksudkan oleh Dr. Bucke (Kosmisch Bewustzijn, hlm. 89), dan dinamakannya her subjectieve licht. 

Aether bekas elektron-elektron badan pikiran tadi (mentaal lichaam) lalu masuk ke dalam budi dengan menggunakan pancaindera batin (sensus interior). Dengan pancaindera batin ini kita dapat menyaksikan hakikat semesta alam secara langsung melalui peristiwa getaran (resonansi). Adapun hakikat semesta alam ini adalah intelek pertama dari Ibn' Al Arabi atau Brahman dalam Hiduisme. “Het Woord” menurut Evangelis Johannes dan Kun dalam Al Our'an. Pikiran yang pada mulanya terdiri dari elektron-elektron sekarang menjadi pikiran yang terdiri dari butir-butir aether di dalam budi. Butir-butir aether ini bergetar dan getarannya dapat dirasakan. Daya elektromagnetik menyampaikannya dengan perantaraan getaran yang juga membutuhkan zat pembawa. 

Seperti halnya pada daya elektromagnetik, di mana zat pembawanya terdiri dari zat yang lebih halus daripada elektron-elektron yang menjadi pangkal daya elektromagnetik itu sendiri, maka daya getaran aether pun harus mempunyai zat pembawa yang lebih halus daripadanya, yakni zat mutlak. -- Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 266-268


0 komentar:

Posting Komentar