alt/text gambar

Kamis, 19 Februari 2026

Topik Pilihan:

Khutbah Idul Adha

 

KHUTBAH   IDUL ADHA  1439 H/2018M

 

Kaum muslimin  sidang  shalat  Idul Adha yang berbahagia,

Pada hari ini, kita kembali mengumandangkan kalimat-kalimat takbir dan tahmid,  mengagungkan dan memuji asma Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari yang berbahagia ini, kaum muslimin dianjurkan, selain memuji Allah dalam bentuk shalat Idul Adha, dzikir, takbir, dan tahmid, juga melaksanakan penyembelihan hewan qurban.

Qurban, artinya "pendekatan". Dengan menyembelih hewan qurban, berarti kita telah berbuat sesuatu yang mendekatkan diri kita (taqarrub) kepada Allah dan rahmat ampunan-Nya. Hari raya Idul Adha yang mulia ini mengajarkan kita akan semangat pengorbanan, supaya timbul rasa kepedulian kita terhadap sesama, dan dengan rela hati serta ikhlas untuk selalu membantu orang lain.

Jika pada hari raya ldul Fithri kita mengeluarkan zakat fitrah yang tujuannya untuk menyantuni kehidupan masyarakat yang tidak mampu, maka penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq berikutnya, juga dalam semangat menyantuni kepentingan hidup masyarakat yang tidak mampu.

Agama Islam mempunyai pendirian, bahwa kehidupan yang aman, adil, dan   sejahtera di dunia ini, tidak mungkin akan terwujud apabila kaum mustadh'afin (orang-orang tertindas) dan kaum du'afa' (orang-orang yang lemah dan miskin), tidak mendapatkan layanan dari golongan masyarakat yang mampu.

Para du'afa' atau orang-orang miskin adalah sendi dan tulang punggung kekuatan suatu masyarakat. Karena segala hal yang menyangkut kehidupan manusia di dunia  ini, banyak sekali tergantung kepada peran rakyat jelata dan masyarakat miskin. Baik itu petani, buruh, nelayan, dan lain sebagainya. Mereka ini termasuk golongan  orang-orang yang menderita. Mereka merupakan golongan yang harus mendapatkan  perhatian yang  utama dan  pertama.  Sebagaimana  sabda  Rasulullah saw:

"Carilah (keridhaan)-Ku melalui kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong dengan sebab kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian." (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Oleh karena itu, Rasulullah saw telah menggariskan suatu sikap yang jelas  terhadap masyarakat yang lemah dan miskin, yaitu kepada mereka haruslah diberi pelayanan dan santunan yang memadai demi kehidupan dunia yang aman, sejahtera, dan berkeadilan.

 

Allahu  Akbar  3 x  walillahil  hamd

Kalau kita perhatikan secara saksama, setiap kali timbul pergolakan sosial dalam kehidupan, baik dalam suatu negara ataupun dalam kelompok masyarakat, senantiasa ditimbulkan oleh rasa tidak puas antara golongan yang lemah, yang tidak mempunyai kecukupan dalam hidup dan yang menderita kelaparan, terhadap golongan yang  berkecimpung dalam kemewahan dan kesenangan hidup.

Dan setiap pergolakan sosial, betapapun kecilnya, senantiasa menimbulkan malapetaka dan akibat yang mengerikan. Oleh karena itu, kewajiban kita umat Islam untuk senantiasa memikirkan dan memperhatikan nasib rakyat miskin, mengikis kesenjangan sosial, sehingga tercipta rasa keadilan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat kita. Inilah inti pertama dari hikmah penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha.

Bagi seorang muslim yang sudah mampu, dianjurkan untuk berkorban. Sedangkan  yang tidak mau melakukan, akan mendapatkan sanksi, sebagaimana peringatan Rasulullah :

"Barang siapa yang sudah mampu untuk berqurban, tetapi tidak mau melaksanakan, janganlah ia mendekati tempat  shalat  kami." (Hadis riwayat  Ibnu  Majah  dan Ahmad)

Di bulan ini, empat belas abad yang lalu, setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Beliau mengimami shalat Idul Adha, setelah itu beliau mengambil seekor domba dan meletakkan kakinya di sisi tubuh domba seraya berkata: "Ya Allah, terimalah ini kurban dari Muhammad dan umat Muhammad."  Lalu beliau menyembelih  hewan  kurban dengan  tangannya sendiri. 

Setelah itu, Rasulullah membaringkan domba yang lain seraya berdo'a: "Terimalah ini kurban dari umatku yang tidak mampu berkurban.” Kemudian daging  tersebut dibagikannya kepada semua umat Islam yang miskin pada waktu itu. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmizi. Berdasarkan hadits inilah maka ahli fiqih menetapkan kurban itu sunnah muakkad (artinya: sunnah yang sangat dianjurkan).

Ibadah korban dalam Islam berbeda dengan korban yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Kaum musyrikin menyembelih korban untuk disajikan pada para dewa dan untuk dijadikan sebagai sesajen. Seperti dalam kepercayaan agama Mesir kuno, misalnya. Dalam Islam, korban berbeda dengan upacara persembahan dalam agama-agama non-Muslim. Dalam Islam, daging kurban tidak disajikan kepada Tuhan, tapi daging kurban justru dinikmati  oleh sebagian besar orang-orang  miskin di muka bumi.

Melaksanakan ibadah korban adalah bukti keikhlasan dan ketakwaan manusia kepada Allah. Firman Allah:

LAYYANALALLAHA LUHUMUHA WA LA DIMA UHA, WALAKIYYANALUHUTTAQWA MINGKUM

“Tidak akan sampai daging dan darah binatang korban itu kepada Allah, melainkan yang akan sampai kepada Allah itu ialah takwa dari kamu semua.” (Qur’an surat AI Hajj ayat 37)

Ibadah qurban mencerminkan pesan Islam betapa Islam memperhatikan nilai-nilai keadilan dan kepedulian sosial. Ibadah korban merupakan bentuk puji syukur manusia kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Firman Allah:   

INNA A’ TAY NA KAL KAUSAR, FASAL LILI ROBBI KA WAN HAR, INNASYA NI AKA HUWAL ABTAR.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka kerjakanlah shalat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Qur’an surat Al-Kausar ayat 1-3)

Salah satu hikmah ibadah korban adalah untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat kikir, tamak, rakus, dan bakhil, dalam diri manusia. Agar tumbuh sikap dermawan, sifat belas kasih terhadap sesama, dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk membeli dan menyembelih hewan korban, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang berhak menerimanya.

 

Allahu  Akbar  3x walillahil  hamd

Nabi Ibrahim as, setelah selesai membangun Ka'bah di  kota Makkah, ia  mendapat perintah untuk berkorban dengan jalan menyembelih putra kesayangannya sendiri, putra tunggal yang sangat disayangi dan telah lama didambakan. Sekalipun berat untuk melaksanakannya, Nabi Ibrahim dengan rela hati menjalankan perintah Allah, sedangkan Isma'il sendiri dengan kesadaran dan tawakkal, pasrah atas perintah itu.

Peristiwa itu diceritakan dalam AI Qur'an:

“Maka  tatkala  anak  itu  sampai  pada  umur  yang sanggup  berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Ia menjawab: "Hai bapakku,  kerjakanlah  apa  yang  diperintahkan  kepadamu. Insha  Allah kamu   akan  mendapatiku  termasuk  orang-orang   yang  sabar." (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 102)

Nabi Ibrahim telah rela akan kematian anaknya atas perbuatan  tangannya sendiri, dan sang anak  telah pula rela akan kematian dirinya demi patuh kepada orang tua dan taat kepada Allah. Perintah pun dilaksanakan. Setelah itu, Allah berseru memanggil Ibrahim:

“Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini suatu ujian yang nyata. Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."  (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 104-109).

Peristiwa inilah yang kemudian oleh Nabi Muhammad SAW diabadikan setiap  tahun pada hari Raya Idul Adha menjadi ibadah korban sebagaimana yang kita kenal saat ini. Seorang mukmin menjadikan peristiwa di atas sebagai cermin dalam mengorbankan segala sesuatu yang dikehendaki Allah. Peristiwa pengorbanan itu menjadi simbol kesetiaan yang tinggi seorang manusia kepada Tuhannya, yang tidak ada bandingannya sepanjang sejarah  kehidupan manusia. 

Firman Allah:

LAN TANALULLBIRRA HATTA TUNFIQU MIMMA TUHIBBUN

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Qur’an surat Al-Imran ayat 92).

 

Allahu  Akbar  3 x  walillahil  hamd

kaum  muslimin  sidang  shalat  Idul Adha  yang  berbahagia,

Pada  hari  ini,  berjuta-juta  kaum  muslim dari seluruh dunia berkumpul bersama-sama di tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima, yakni ibadah Haji. Ibadah haji dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit banyak telah mengalami  perubahan,  namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ibadah haji berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagaimana  isi  khutbah Rasulullah  pada  Haji  Wada'  (Haji  Perpisahan) yang intinya menekankan persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan manusia, serta  larangan melakukan pemerasan dan penindasan terhadap kaum yang lemah, baik di bidang ekonomi, sosial, dan politik, maupun dalam bidang lainnya. Makna-makna dalam praktek ibadah haji pada akhirnya akan mengantarkan jamaah haji untuk hidup dengan pengalaman dan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ibadah  haji  dimulai  dengan  niat,  sambil  menanggalkan  pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tidak dapat disangkal, fungsi pakaian, antara lain, ialah sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain, kepada  perbedaan  status  sosial, ekonomi, profesi, dan prestise. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis (kejiwaan) kepada pemakainya.

Di Miqat Makani, (yakni tempat dimulainya ritual ibadah haji), perbedaan dan pembedaan itu harus ditinggalkan. Semua orang harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian harus ditinggalkan. Sehingga semua orang merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Tidak ada kaya dan miskin. Tidak ada raja dan rakyat jelata. Semuanya sama sebagai manusia biasa.

Di Miqat, apa pun ras dan sukumu, lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari! Baik sebagai serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan; tikus yang melambangkan kelicikan; anjing yang melambangkan tipu daya; atau domba yang melambangkan penghambaan. Tinggalkan semua itu! Di Miqat makani, berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.

Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih—sebagaimana kain yang akan membalut tubuh kita ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini—seseorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Jamaah seharusnya merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban individu yang akan dihadapinya  kelak  di  hadapan  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa—yang di sisi-Nya  tiada  perbedaan  antara  seseorang  dengan  yang  lain, kecuali atas dasar takwa kepada Allah.

Dari segi kemanusiaan, Ka'bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga. Di sana, misalnya, ada Hijir Isma'il yang arti harfiahnya adalah "pengakuan  Isma'iI". Di sanalah, Isma'il putra Ibrahim—pembangun  Ka'bah—pernah berada  dalam  pangkuan ibunya yang bernama Siti Hajar. Siti Hajar adalah seorang wanita hitam, miskin, bahkan budak, yang kuburannya berada di tempat itu. Budak wanita ini ditempatkan Allah kuburannya di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan berdasarkan keturunan, harta, pangkat, jabatan, atau status sosial lainnya, tetapi semata-mata karena tingkat ketakwaan kepada Allah.

Setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia yang lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang  sama,  yakni   berada   dalam lingkungan Allah SWT, maka dilakukanlah sa'i.

Di sini muncul lagi Siti Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi   Ibrahim ‘alaihissalam. Diperagakan bagaimana pengalaman Siti Hajar mencari air untuk putranya. Keyakinan Siti Hajar terhadap kekuasaan Allah sangat kokoh. Ia bersedia ditinggalkan bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu kuat tidak menjadikannya berpangku tangan. Ia tidak hanya menunggu turunnya hujan dari  langit.  Tapi,  ia berusaha, mondar-mandir berkali-kali, demi mencari kehidupan.

Siti Hajar memulai  usahanya  dari  Bukit  Shafa,  yang  arti  harfiahnya adalah “kesucian dan ketegaran”, sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan ketegaran dan niat yang suci. Kemudian diakhiri di Marwa yang berarti "ideal manusia”, “sikap menghargai”, “bermurah hati”, dan “memaafkan orang lain".

Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya  manusia dalam hadirat Ilahi, yang dalam istilah tasawuf disebut: fana' fillah, maka sa'i menggambarkan usaha manusia mencari kehidupan dunia, yang dilakukan begitu selesai thawaf untuk melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan yang tak terpisah—yang tidak boleh kita abaikan salah satunya.

Dengan thawaf, disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sa'i yang menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin. Hasil usaha akan diperoleh, baik melalui usaha maupun melalui anugerah Tuhan. Itulah yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya, Isma'il dengan ditemukannya mata air zamzam. Namun, perlu dicatat bahwa mengenal Allah itu baru datang setelah ada upaya maksimal yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Di 'Arafah, padang  yang  luas  lagi  gersang  itu,  seluruh  jamaah wuquf  (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah jamaah seharusnya menemukan ma'rifat (pengetahuan sejati) tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya di dunia. Di sana pulalah jamaah semestinya menyadari langkah-langkahnya selama ini. Kesadaran-kesadaran inilah yang mengantarkan jamaah haji di Padang Arafah untuk menjadi 'arif (bijaksana) dan memahami.

Kaum  muslimin  sidang  shalat  Idul Adha  yang  berbahagia,

Demikianlah nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah korban dan ibadah haji. Semoga  ibadah  korban dan ibadah haji yang dilaksanakan oleh  kaum muslimin pada Idul Adha ini dapat  menjadikan  kita manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.

 

BARAKALLAHULI WALAKUM FIL QUR’ANIL’AZIM, INNAHU HUWAL GAFURURRAHIM

 

KHUTBAH KEDUA

 

ALLAHUAKBAR 7X

 

-ALHAMDULILLAHI HAMDAN KASIRAN KAMA AMAR

-ASYHADUALLA ILAHA ILLALLAH WAH DAHULA SYARIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUH

-ALLAHUMMASALLI WA SALLIM WA BARIK ‘ALA MUHAMMAD, WA ‘ALA ALIHI WA ASHABIHI AJMA’IN, AMMA BA’DU

-FAYA AYYUHANNAS, USIKUM WA IYYA YA BITAQWALLAH FA KOD FA ZAL MUTTAQUN

-KO LALLAHUTA’ALA FIL QUR’AN NIL ‘AZIM: “INNALAHAWA MALAIKATAHU YUSALLUNA’ALAN NABIY, YA AY YUHALLAZINA AMANU SOLLU ‘ALAIHI  WASALLIMU TASLIMA.

-ALLAHUMMASALLI’ALA MUHAMMAD WA’ALA ALI MUHAMMAD

KAMA SOLLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM

WABARIK ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMA BARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM

FIL ‘ALAMIN INNAKA HAMIDUMMAJID

-ALLAHUMAGGFIRLILMUSLIMINNA WAL MUSLIMAT WAL MU’MININA WAL MU’MINAT AL AHYA IMINHUM WAL AMWAT

INNAKA SAMI’UN QORIBUMMUJIBUD DA’AWAT YA KODIYAL HAJAT.

RABBANA ATINA FIDDUN YA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH WA QINA ‘AZABANNAR

-‘IBADALLAH. INNNALLAHA YAKMURU BIL ‘ADLI WAL IHSAN

WA ITA IZIL QURBA WA YANHA ‘ANIL FAHSYA IWAL MUNKAR WAL BAG.

YA ‘IZUKUM LA’ALLAKUM TAZAKKARUN, WA LA ZIKRULLAHI AKBAR.


0 komentar:

Posting Komentar