Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Marilah kita sambut Hari Raya ldul Fitri 1 Syawal 1439 H ini dengan penuh khusyuk dan khidmat, serta rasa syukur yang mendalam karena taufik dan hidayah-Nyalah kita telah selamat sampai menamatkan puasa Ramadhan sebulan penuh. Dengan penuh iman dan keyakinan. Semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada kita semua sebagaimana sabda Rasulullah:
MAN SHOMA ROMADO NA IMANAN WAH TISABAN, GUFIRALAHU MA TAKADDAMA MIN ZANBIH
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan muhasabah (menghitung diri), maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.”
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kalimat takbir dan tahmid ini membawakan getaran jiwa yang meliputi rasa bahagia dan syukur, yakni rasa yang kita nikmati setelah sebulan menunaikan ibadah puasa sebagai jawaban atas panggilan llahi:
YA AYYUHALLAZI NA AMANU KUTIBA’ALAIKUMUSSIYAM, KAMA KUTIBA’ALALLAZI NAMINGKOBLIKUM LA’ALLAKUM TATTAKUN
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Baqarah ayat 183)
Sebagai seorang mukmin,
menjalankan ibadah puasa bukanlah suatu penyiksaan diri karena mengharapkan
suatu pamrih, melainkan sebagai wujud pembaktian diri kita kepada Allah
Subhanahuwata'ala.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang disinyalir oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:
KAMMIN SAIMIN LAISALAHU MIN SIYAMIHI ILLAL ATASA WAL JU'
“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Salah satu hikmah puasa yang kita
lakukan sebulan penuh pada bulan Ramadhan di antaranya adalah supaya kita dapat
merasakan penderitaan lapar yang dialami oleh saudara-saudara kita para fakir
miskin. Berapa banyak orang yang sudah diberikan Allah rezeki yang
berlimpah-limpah, tetapi tak terasa olehnya betapa pahitnya penderitaan orang-orang
miskin.
Dengan turutnya kita merasakan
tidak makan sehari suntuk, maka dapatlah kita merasakan bagaimana penderitaan
para fakir miskin. Dengan berpuasa, orang-orang yang kaya atau orang-orang yang
berkecukupan akan mempunyai rasa santun dan kasihan kepada para fakir miskin.
Dengan itu, ia akan selalu mengulurkan tangannya untuk menyantuni dan membantu
para fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang tidak mampu. Dan akan
menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial dengan memberikan sebagian rezeki
yang dianugerahkan Allah kepada kita baik dalam bentuk zakat, infaq maupun
sadaqah.
Menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah itulah tujuan puasa yang kita lakukan. Seorang yang muttaqin memberikan sebagian hartanya untuk membersihkan diri, bukan untuk mengharapkan pujian atau balas budi seseorang tetapi semata-mata ikhlas karena mengharapkan ridho AllahSubhanahuwata'ala.
Di antara ciri-ciri orang yang bertakwa ialah, pertama, mereka yang beriman kepada Allah dengan aqidah tauhid yang bersih dan kokoh. Kedua, menegakkan shalat sebagai sarana pencegah perbuatan keji dan munkar. Ketiga, menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Kemudian beriman kepada Al Qur'an dengan mengamalkan nilai-nilai lslam dalam kehidupan sehari-hari. Melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Mampu menahan nafsu amarah. Bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Serta selalu berbuat kebajikan.
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Romantika kehidupan selalu bergerak antara pasang naik dan pasang surut. Silih berganti antara suka dan duka, senang dan susah, bahagia dan derita, sehat dan sakit. Kekurangan harta, kehilangan, penderitaan, adalah warna suram dari kehidupan. Semua itu adalah bagian dari ujian hidup yang harus kita hadapi dengan sikap syukur dan sabar. Puasa melatih kesabaran dalam menghadapi segala hal.
Ramadhan adalah bulan kesabaran.
AS SHIYAMU NISHFU SHABRI.
Dengan membiasakan diri untuk sabar dan tabah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran, seorang muslim akan mempunyai kemauan yang keras dan tak mengenal putus asa, serta tahan menghadapi godaan hawa nafsu. Jiwa yang sabar dipuji Allah dalam surat Al Baqarah ayat 155-156.
WALANAB BLUWANNAKUM BI SYAI IMMINAL KHAUF FI WAL JU’ WANAKSIM MINAL AMWAL LIWAL ANFUS SIWASSAMARAT. WABASSIRI SOBIRIN. ALLAZI NA IZA ASABAT HUM MUSIBAH, QOLU INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN.
“Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar. Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan
innalillahiwainnailaihi raji'un. (Sesungguhnya kami datang dari Allah dan akan
kembali kepada Allah).”
Tidak semua gelap itu gulita, fajar
subuh akan segera memancar. Tidak semua mendung itu kelabu, hujan rahmat akan
segera menyusul. Adakalanya kamu membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagimu
dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. (Al
Baqarah: 216).
Jika ada yang memberi racun,
balaslah dengan madu. Kepada yang mengumpat, ucapkanlah salam. Tolaklah
perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik (Al Mukmin: 96)
Dan kebaikan itu tidaklah sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan kebaikan, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dengan dia ada permusuhan akan menjadi teman setia (Fushshilat 34). Hal ini diamalkan oleh jiwa yang bersih dan ikhlas serta sabar, sehingga pribadinya tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Tidak menjadikan hawa nafsu sebagai panglima. Puasa melatih kita untuk menundukkan hawa nafsu yang merupakan musuh kita yang paling kuat dan paling besar. Nafsulah musuh manusia yang tak pernah lalai setiap saat dan setiap detik selalu mengajak manusia ke lembah kehancuran dan hidup nista.
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Pada hari ini kita telah kembali
kepada fitrah kesucian. 'ld artinya kembali, fithrah artinya kesucian. Fitrah
membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran
(hanif). Dengan demikian, setiap yang ber'idul fithri harus sadar bahwa setiap
kita melakukan kesalahan. Dan dari kesadaran itu, kita harus bersedia untuk
memberi dan menerima maaf.
Seseorang yang beridul fithri
berarti kembali kepada kesuciannya. Ia akan menutup mata terhadap kesalahan,
kejelekan dan keburukan orang lain. Ia akan memberikan maaf bahkan berbuat baik
kepada yang melakukan kesalahan.
Oleh karena itu, pada hari yang
suci ini marilah kita bukakan pintu maaf. Marilah kita saling maaf-memaafkan di
antara kita. Antara anak dengan orang tua, suami dengan istri, antara adik
dengan kakak, tetangga dengan tetangga, antara menantu dengan mertua, antara
kerabat dengan kaum kerabat yang lain, antara masyarakat dengan pemimpin,
antara atasan dengan bawahan.
Marilah kita selalu perkokoh tali silaturrahmi di antara kita. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:
LA YADKHULUL JANNATA QOTI’URRAHIM
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.”
Oleh karenanya, marilah kita hilangkan
rasa iri dan dengki, perasaan mau menang sendiri, mau benar sendiri orang lain
serba salah. Hilangkan dendam kesumat. Hilangkan segala perasaan khianat, hasad
dan hasud, angkuh dan sombong, cerdik membuang kawan, menohok kawan seiring,
menggunting dalam lipatan. Janganlah kita saling menggibah, memfitnah,
menghujat, dan menyalahkan antara satu dengan yang lain. Janganlah kita
mengambil yang bukan hak kita, memakan hak anak yatim, hak fakir miskin dan mengambil
hak masyarakat.
Dengan hati yang terbuka, muka
yang jernih dan tangan yang diulurkan marilah kita saling memaafkan antara kita
pada hari yang fitri ini.
Kata “maaf” berasal dari bahasa Al Qur'an “al-
afwu” yang berarti menghapuskan. Memaafkan berarti menghapuskan bekas-bekas
luka di hati kita. Tidaklah memaafkan namanya bila masih ada dendam yang
membara.
Seorang yang bermaaf-maafan harus
mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama
dan membuka lembaran baru. Karenanyalah, mari kita buka lembaran baru dan kita
tutup lembaran lama. Yang lalu, biarlah berlalu. Kita wujudkan sikap ihsan,
karena itulah yang paling disukai oleh Allah swt.
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Pada hari raya ldul Fithri ini
kita merasakan kenikmatan dan kegembiraan. Kita saksikan sebagian besar
anak-anak kita bersuka ria dengan riang gembira dan bangga memakai pakaian baru
dan segala perlengkapan yang serba baru. Akan tetapi, marilah sejenak kita
layangkan pandangan kita kepada saudara-saudara kita para fakir dan miskin.
Bagi mereka ldul Fithri ini
mereka rayakan tidak dengan mengenakan pakaian baru. Tidak dengan menghidangkan
makanan yang enak. Tidak dengan hati yang gembira. Mereka sambut hari raya ini
dengan perasaan pilu. Dengan hati duka dan perasaan sedih. Karena semuanya
serba tiada .
Lihat pulalah anak-anak kita yang sudah menjadi yatim dan piatu. Yang tak berbapak dan tak beribu lagi. Tiada keluarga tempat meminta. Tak ada orang tempat mengadu. Fajar lebaran yang menyingsing di pagi ini mereka sambut
dengan isak tangis dan kesedihan.
Mereka tak punya baju baru pemberian
ibu. Tak ada pakaian baru dari ayah.
Dengan hati yang pilu mereka saksikan anak-anak orang lain berhari raya, bersuka ria, dan bergembira pada
hari ini.
Dengan perasaan pedih dan hati yang teriris serta air mata yang berlinang mereka saksikan orang lain berhari raya. Kepada siapa mereka akan mengadukan nasib? Ayah bunda telah tiada. Keluarga tiada yang peduli. Tak ada orang yang mendukung. Tak ada tangan yang menjinjing. Orang tua tempat mengadu kini telah tiada.
Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Pada hari ini, mari kita bukakan
pintu nurani kita. Kita renungkan nasib anak-anak yatim dan fakir miskin. Kita
tanyakan hati nurani kita: tidakkah kita merasa berdosa membiarkan dan menutup
mata menyaksikan anak-anak yatim terombang-ambing dalam gelombang kesedihan dan
tenggelam dalam lautan air mata.
Mereka adalah tanggung jawab
kita. Tempatkanlah mereka dalam khasanah kalbu kita dengan menyisihkan sebagian
harta yang diberikan Allah kepada kita. Masing-masing kita bertanggung jawab di
hadapan Allah terhadap nasib anak-anak yatim dan para fakir miskin.
***
Suatu peristiwa pada hari raya, Rasulullah keluar rumah untuk
melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang
gembira di jalanan. Tetapi tampak ada seorang
anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan kawan-kawannya. Dengan pakaian yang sederhana dan tampak murung, ia
menangis tersedu.
Melihat fenomena ini, Rasulullah segera menghampiri
anak kecil itu dan
bertanya:
“Nak, mengapa kau menangis? Kau tak bermain bersama mereka?”
Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya itu
adalah Rasulullah, dengan sedih ia
menjawab,
“Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Dan ayahku gugur dalam perang itu.”
Rasulullah terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut.
Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah mendengarkan dengan saksama
rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak kecil itu.
“Kini saya tak memiliki apa-apa,” kata anak itu, “saya tak
punya makanan dan minuman, saya tak punya pakaian dan
tempat tinggal. Sekarang saya seorang yatim. Tapi hari ini, saya melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah
mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Karena itulah saya menangis.”
Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah runtuh. Ternyata di hari raya ada anak-anak yatim mengalami nasib malang begini. Rasulullah
segera menguasai diri. Rasul menggenggam lengan anak itu dan bertanya:
“Nak, dengarkanlah baik-baik. Apakah kau sudi bila Rasulullah menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali
sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai
saudarimu?”
Mendengar tawaran ini, anak itu
mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi
Muhammad SAW. Perasaan
yang sedih pun menjadi riang gembira.
Begitulah Rasulullah mencintai dan memperlakukan anak-anak yatim. Karena ia sendiri pada masa kecilnya dulu juga merupakan seorang yatim piatu. Itulah sebabnya Rasulullah selalu melindungi dan mencintai anak-anak yatim.
ALAM YAJID KAYATIMAN FA AWA
Bukankah Dia
mendapatimu (hai Muhammad) sebagai seorang (yang) yatim, lalu Dia melindungimu.
(Quran surat Ad Duha
ayat 5).
ARO AY TALLAZI YUKAZZIBU BIDDIN. FA ZA LIKALLAZI YA DU ‘UL YATIM WA LA YAHUDDU’ALA TO ‘AMIL MISKIN
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? ltulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin ( Al Mauun:1-2).
Allah menamakan orang yang menyia-nyiakan anak yatim dan fakir miskin sebagai pendusta-pendusta agama. Dusta saja kita shalat, dusta saja kita puasa jika kita masih tidak peduli dengan nasib anak-anak yatim dan fakir miskin.
Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan
kita untuk membayar zakat, baik zakat fitrah maupun zakat harta. Zakat fitrah merupakan
peringatan simbolik tentang kewajiban untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum
yang kurang beruntung, yaitu para fakir miskin. Zakat fitrah merupakan simbol
solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan antar sesama.
Sementara zakat harta bertujuan untuk menghilangkan jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Mengikis kesenjangan sosial. Sehingga tercipta rasa keadilan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat.
Firman Allah:
WA FI AMWA LIHIM HAQQULLISSAILI WAL MAHRUM
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.” (Qs. Az Zaariyaat: 19).
Marilah kita pertebal rasa kepedulian kita terhadap fakir miskin dan anak-anak yatim dan kita tanamkan rasa senasib dan sepenanggungan. Itulah salah satu hikmah kita berpuasa di bulan Ramadhan, yakni untuk menumbuhkan perasaan belas kasih terhadap sesama, sebagaimana sabda Rasulullah:
LA YU’MINU AHADUKUM HATTA YUHIBBU LI AKHI HI MA YUHIBBU LI NAFSIHI
“Tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HADIS RIWAYAT Imam al Bukhari).
Dalam hadits yang lain dijelaskan:
"Belumlah dikatakan seorang muslim sejati orang yang tidur dalam perut kenyang, sementara tetangganya merintih dalam kelaparan."
Dalam harta milik orang-orang kaya terdapat hak anggota masyarakat yang tidak mampu. Allah mengancam orang-orang yang suka mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur'an surat At Taubah ayat 35:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, (FABA SYIRHUM BI ‘AZABIN ALIM) maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak di dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, lalu dikatakan kepada mereka, "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Sepantasnyalah kita mensyukuri nikmat Allah dengan memberikan sebagian harta kepada yang berhak menerimanya, karena masih banyak orang-orang yang harus disantuni.
Firman Allah:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Surat Al lsraa' ayat 26)
Janganlah kedudukan yang tinggi, kehidupan
yang mewah dan bahagia, serta harta yang melimpah, membuat kita lalai dan lupa diri
menjadi bakhil dan tamak, angkuh, dan sombong, telinga tuli dari ratapan fakir
miskin dan anak yatim, mata buta melihat keluarga yang sengsara. Padahal, harta
adalah amanah dan titipan Allah. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang
pasti suatu saat kita akan berpisah dengannya.
Tidak ada yang dapat menolong kita
di Hari Kiamat kecuali perbuatan baik kita sendiri, dan salah satunya adalah amal
zakat atau sedekah yang pernah kita berikan di dunia ini.
Rasulullah bersabda:
“Setiap orang (pada Hari Kiamat) berada di bawah naungan sedekahnya....” (HR. Al Baihaqi-Al Hakim-Ibnu Kuzaimah)
Jika kepedulian kita terhadap
fakir miskin dan yatim belum tumbuh dalam hati kita masing-masing, berarti kita
belum mendapatkan derajat takwa sebagaimana tujuan puasa itu sendiri.
ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD
Kaum muslimin sidang shalat ldil Fithri yang berbahagia,
Pada hari yang penuh kedamaian
ini marilah sejenak kita mengenangkan para arwah kedua orang tua kita, keluarga
kita, kaum kerabat kita, dan orang-orang yang kita cintai, yang mungkin pada
tahun-tahun yang lalu mereka masih sempat berhari raya bersama-sama dengan kita,
tapi kini mereka telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya menghadap Allah Sang
Khaliknya.
Tidak ada yang dapat menolong mereka selain dari amal perbuatan mereka sendiri serta doa anak-anak yang shaleh. Marilah kita doakan semoga mereka mendapatkan ampunan dan tempat yang layak di sisi Allah. Di samping itu, kepada keluarga kita yang tidak sempat bersama-sama dengan kita pada hari raya ini, seperti mereka yang sekarang sedang berada di rantau orang, atau sekarang sedang terbaring karena sakit, kita do'akan saja semoga mereka diberikan kekuatan iman, diberikan rezeki dan kesehatan lahir maupun bathin.
Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,
Sebagai uraian penutup, khatib
mengingatkan kita semua, dalam menghadapi perkembangan zaman hari ini marilah
kita perkuat benteng pada keluarga kita masing-masing dengan iman dan ketakwaan
kepada Allah. Mari kita bekali anak-anak kita dengan pendidikan dan pengetahuan
agama yang baik dan benar. KU ANFUSAKUM WA AHLIKUM NAAR, jagalah dirimu dan
keluargamu dari siksaan api neraka.
Di samping itu, selalulah kita tingkatkan persatuan, dengan memperkuat tali silaturrahmi di antara kita. Karena bersatu adalah rahmat Allah, sedangkan berpecah belah memanggil azab Allah segera datang. Marilah kita songsong hari esok yang lebih baik: YAKHRUJU MINAZZULUMATI ILANNUR. Keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Semoga bangsa dan negeri kita menjadi bangsa dan negeri yang aman, makmur dan penuh ampunan. BALDATUN THOYYIBATUN WARABBUN GHAFUR.
BARAKALLAHULIWALAKUM FIL QUR’ANIL AZIM, INNAHU HUWAL GAFURURRAHIM
MEMPERKUAT TALI SILATURRAHMI DAN KEPEDULIAN SOSIAL
Khutbah pada Shalat Hari Raya
'Idul Fithri di Masjid Nurul Iman
Hamparan Pugu Semurup
1439 H/2018 M
Oleh:
NANI EFENDI





0 komentar:
Posting Komentar