alt/text gambar

Selasa, 10 Februari 2026

Topik Pilihan:

TAKHTA RAJA DI PANGKUAN RAKYAT





Petruk duduk termenung, memandang sebidang tanah luas, yang datar membentang. Pikiran Petruk melayang ke mana-mana. la geli, mengingat lagi kisahnya ketika ia menjadi raja di

Kerajaan Lojitengara.


(BASIS, Nomor 1-2, Tahun Ke-45, Januari-Februari 1996, “Obrolan Ki Petruk) 


Waktu Petruk menjadi raja, banyak orang menertawakannya. Menurut banyak orang, Petruk dadi Ratu itu hanyalah lakon impian, lakon lamunan rakyat bawahan yang tak dapat memperbaiki keadaan. Mana mungkin rakyat miskin dan bodoh menjadi raja kaya dan bijaksana? Ada pula yang bilang, lakon itu adalah pasemon (sindiran) tentang kere munggah bale (gelandangan yang menjadi kaya dan lupa daratan), Lainnya lagi mengejek lakon itu hanya dagelan untuk menghibur orang miskin. Dan sebagian lagi berpendapat, Petruk Dadi Ratu itu kisah aji mumpung, di mana orang miskin menggunakan kesempatan dalam kesempitan


Di zaman Belanda dulu, lakon Petruk Dadi Ratu juga hanya dipandang sebagai guyonan. Petruk disebut sebagai Opper-bevelhebber, jenderal berkuasa, yang memerintah semua balatentara. Sebagai penguasa, Petruk menjungkirbalikkan segala pranatan. Di negaranya, Loji- tengara, mengisap candu dihalalkan, main judi dinaikkan derajatnya menjadi sport utama, yang dipopulerkan bagi semua warga negara.


Dari dulu sampai sekarang, entah orang Jawa entah orang Belanda, mereka semua ternyata tidak mengerti wayang. Mereka memikirkan wayang secara wadag. Pantas, jika mereka menganggap saya, hamba sahaya yang kecil dan miskin ini menggunakan kesempatan, berpesta ria menjadi raja. Petruk Dadi Ratu itu bukan lakonnya orang bodoh jadi raja, atau lakon orang kecil beraji mumpung, tapi lakon mencoke wahyu marang kawula (hinggapnya wahyu pada diri rakyat)", kata Petruk


Petruk mengenang, bagaimana ia sampai menjadi raja. Alkisah tuannya, Abimanyu menderita sakit. Abimanyu adalah perantara, yang nantinya akan mewariskan dampar (takhta) Palasara, pendiri Astina, kepada Parikesit, anaknya. Bersamaan dengan sakitnya, pergilah ketiga wahyu, yang dimilikinya, yakni wahyu maningrat, yang menebarkan benih keratuan, wahyu cakraningrat, yang menjaga keberada annya sebagai ratu dan wahyu widayat, yang melestarikan hidupnya sebagai ratu.


Ketiga wahyu itu hinggap pada diri Petruk. Kemudian Petruk pun dapat menjadi raja di negara yang dinamainya Loji- tengara. la menggelari dirinya Prabu Wel-Geduwel-Beh! Untuk kukuh menjadi raja, ternyata ia membutuhkan dampar kerajaan Astina, warisan Palasara. Petruk memerintahkan kedua patihnya, Bayutinaya, yang titisan Anoman dan Patih Wisandhanu, yang titisan Wisanggeni, anak Arjuna, mencuri tahta Palasara itu.


Kedua utusan itu berhasil membawa pulang takhta Palasara. Prabu Wel-Geduwel-Beh mencoba duduk di atasnya. Begitu duduk, ia terjungkal. Supaya tidak terjungkal, Sang Prabu harus memperoleh boneka yang bisa dililing (dilihat dan ditimang). Kedua utusannya, Bayutinaya dan Wisandhanu berhasil membawa boneka itu. Ternyata boneka itu adalah Abimanyu, yang sedang sakit itu.


Ketika dipangku Prabu Wel-Geduwel-Beh, Abimanyu sembuh. Dan Abimanyu berkata, "Kamu takkan dapat menduduki takhta itu, jika kamu tidak memangku aku". Sang Prabu memangku Abimanyu, dan ia pun dapat duduk di dampar Palasara.


"Pada waktu itulah saya mengalami, bahwa saya ini hanyalah kawula. Dan saya sadar, saya akan tetap tinggal sebagai kawula, tak mungkinlah saya bisa duduk sebagai raja. Tugas saya hanyalah memangku raja, agar ia dapat menduduki takhtanya. Tuanku Abimanyu dapat duduk di takhta raja karena saya memangkunya. Jadi raja itu takkan bisa menjadi raja, kalau tidak dipangku kawula, rakyat seperti saya ini", kata Petruk sambil memandang tanah datar di hadapannya.


Dulu Petruk tidak tahu, mengapa ketiga wahyu itu pergi meninggalkan tuannya dan hinggap padanya. Sekarang ia paham, wahyu sebenarnya hanya pergi untuk sementara. la pergi hanya untuk nitik, menengok, siapakah yang memangku orang yang kedunungan (dihinggapi) wahyu Wahyu itu tidak asal hinggap, dia akan hinggap pada orang yang layak dihinggapi, dan orang yang layak itu haruslah orang yang dipangku Petruk, Sang Rakyat dan Sang Kawula ini. Maka, setelah tahu, bahwa memang Petruklah yang memangku Abimanyu, wahyu itu pun berhenti menitik, dan ketiganya kembali kepada Abimanyu.


Di hadapan tanah datar itu, pikiran Petruk melayang lagi. Ia sedih teringat gugurnya Abimanyu dalam perang Bharatayudha. Petruklah yang menggendong jenazah Abimanyu. Petruk pula yang membakar mayat Abimanyu menuju alam mokshaya. "Saya ini hanyalah rakyat. Betapa pun hina diri saya, hanya sayalah yang bisa mengantarkan sang raja menuju alam kesempurnanaannya. Sampai ke moksha pun, raja itu tergantung pada kawula. Hanya rakyatlah yang dapat menyempurnakan hidup raja, bahkan ketika ia berhadapan dengan akhiratnya", kata Petruk


"Memang, kawula, Sang Rakyat ini ada sepanjang zaman. Sementara raja itu tidaklah abadi. Ia bertahta hanya dalam masa tertentu. Ketika masa itu lewat, ia harus turun atau binasa. Sementara rakya terus ada. Buktinya, saya ini ada sepanjang zaman, menjadi punakawan, hamba, yang me nemani penguasa dari masa ke masa, sampai hari ini. Kawula iku ana tanpa wates, ratu kuwi anane mung winates (Rakyat itu ada tanpa batas, sedangkan raja itu hanya ada secara terbatas)", kata Petruk


Petruk makin menyadari, siapa diri rakyat itu sebenarnya. Hanyalah rakyat yang dapat membantu penguasa untuk menuliskan sejarahnya. "Maka seharusnya penguasa itu menghargai kawula. Penguasa itu harus berkorban demi kawula, tidak malah ngrayah uripe kawula (menjarah hidup rakyat). Kwasa iku kudu ana lelabuhane (Kuasa itu harus mau berkorban). Kuasa itu bahkan hanyalah sarana buat lelabuhan. Kalau penguasa tak punya lelabuhan, kendati ia masih berkuasa, ia tidak akan di-petung (dianggap) oleh rakyat. Raja itu bukan raja lagi, kalau sudah ditinggal kawula. Siapa yang dapat memangkunya, agar ia dapat menduduki takhta, kalau bukan rakyat? Raja yang tidak dipangku adalah raja yang koncatan (ditinggalkan) wahyu", kata Petruk


Tapi Ki Petruk mengapa banyak penguasa yang tak memperhatikan kawula, menginjak-injak dan menghina kawula toh tetap dapat duduk di takhtanya?


"Dalam wayang pun ada penguasa yang tak dipangku rakyat seperti saya. Dia adalah Dasamuka yang lalim. Dia adalah Duryadhana yang serakah. Seperti halnya hanya ada satu takhta Palasara, demikian pula hanya ada satu takhta rakyat. Duryadhana berkuasa, tapi tak pernah ia berhasil menduduki takhta Palasara. Banyak penguasa berkuasa, tapi mereka sebenarnya tidak bertakhta di dampar yang sebenarnya, yakni dampar rakyat ini", jawab Petruk


Tiba-tiba Petruk mendengar, tanah datar di hadapannya itu bersenandung, makin lama tanah itu bahkan menjadi senandung Panitisastra: dulu tanah itu adalah hutan lebat yang bersinga. Singa bilang, kalau hutan tak kujaga, tentu ia akan dibabat habis oleh manusia. Dan hutan bilang, kalau singa tak kunaungi, dan pergi dariku, pasti ia akan ditangkap manusia. Akhirnya, singa dan hutan sama- sama binasa. Singa yang tak berhutan dibunuh manusia, hutan yang tak bersinga habis dibabat manusia.


"Raja dan rakyat itu harus wengku winengku rangkul merangkul, pangku memangku, seperti singa dan hutan, seperti Abimanyu dan Petruk", kata Ki Petruk menyenandungkan tembang Panitisastra. 


I KuntaraWiryamartana

Sindhunata


Sumber: BASIS, Nomor 1-2, Tahun Ke-45, Januari-Februari 1996

0 komentar:

Posting Komentar