Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia.
Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita menyegarkan ingatan kita dan merenungkan tentang takwa. Takwa itu adalah tujuan dari seluruh ajaran Alquran. Oleh karena itu, kita baca dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah:
الۤمّۤۚ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Alif Lam Mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Qs.Al Baqarah (2): 1-2)
Takwa itu ialah pola hidup atau gaya kita menempuh hidup, yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita.
"Sesungguhnya Allah bersama kita." (Qs. Al-Taubah (9): 40)
Seperti diucapkan Nabi kepada sahabatnya, Abu Bakar, pada waktu beliau berdua berada di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah. Kemudian Abu Bakar merasa ketakutan karena hampir diketahui musuh. Lalu Nabi dengan tenang mengatakan:
لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ
"Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS Al-Taubah (9): 40)
Kesadaran bahwa Allah beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita.
Pertama, kesadaran itu memberikan kemantapan dalam hidup, bahwa kita ini tidak pernah sendirian. Kita selalu bersama Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan takut menempuh hidup ini dan kita bersandar kepada-Nya. Maka, sikap bersandar kepada Allah itu disebut tawakal. Salah satu sifat Allah ialah Al-Wakil, artinya tempat bersandar.
"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Qs. Ali Imran (3): 173)
Kedua, (dampak yang kedua) bahwa dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah akhlaqul-karimah. Mengapa? Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Dia, tidak mendapat ridha Allah.
***
Sesuatu yang diridhai Allah itu ialah sesuatu yang bersesuaian dengan nurani kita. Karena dalam diri kita terdapat sesuatu sebagai mudhghah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi. Sebagai segumpal daging. Suatu perumpamaan segumpal daging ini menentukan seluruh hidup kita:
“Ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu (hidupmu) akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu (hidupmu) pun rusak, (daging) itu adalah kalbu.” (HR Bukhari)
Itulah hati nurani yang diberikan kepada kita oleh Allah Swt., sebagai petunjuk pertama menempuh hidup yang benar. Maka, pertama kali di dalam mempertimbangkan akal perbuatan ialah hati nurani. Dari situ kemudian kita mendapatkan suatu rentangan garis lurus antara diri kita dengan Tuhan yang disebut as-shirathal-mustaqim (jalan lurus).
Oleh karena itu, perbuatan baik tentu bersesuaian dengan hati nurani. Sehingga Rasulullah Saw. juga menggambarkan kepada seorang sahabatnya yang bernama Wabishah bin Ma'bad, seorang yang hidupnya sedikit kasar karena dia dari kampung. Wabishah bertanya kepada Nabi, tentang apa itu kebajikan dan kejahatan? Maka Nabi menjawab dengan meletakkan tangannya ke dada Wabishah bin Ma'bad dan mengatakan, “Wabishah, kebajikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram, sedangkan kejahatan adalah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.” Berikut sabda Nabi itu:
“Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu, wahai Wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR Ahmad)
Maka kita mengetahui sesuatu itu diridhai oleh Allah, kalau kita berbuat dengan tulus dan jujur mendengarkan hati nurani kita. Karena itu, dalam hadis disebutkan bahwa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.
"Nabi Saw. ditanya: Apakah yang paling banyak memasukkan orang ke surga?” Nabi menjawab, "Takwa dan akhlak yang baik.' Nabi juga ditanya, Apa yang paling banyak memasukkan orang ke neraka?' Nabi menjawab, “Dua lubang yaitu mulut dan kemaluan.” (HR Ibnu Majah)
Hal itu pula yang menjadi dasar alasan, mengapa takwa itu merupakan asas hidup yang benar.
Ketika Nabi kita menghadapi persoalan Masjid Dhirar, yaitu masjid yang didirikan oleh beberapa kalangan di Madinah dengan maksud yang kurang baik, bukan maksud untuk menanamkan takwa kepada Allah tapi untuk memecah belah, maka, oleh Allah, Nabi diberi wahyu melarang beliau memasuki masjid itu, yang memang kemudian masjid itu dibakar.
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al-Taubah (9): 109)
Dalam agama kita, asas hidup itu hanya dua. Yang satu benar dan yang lainnya salah. Azas hidup yang benar ialah at-taqwa minallahi wa ridwanan, bertakwa kepada Allah dan upaya mencari ridho Allah.
Azas kedua, yang salah adalah semua azas hidup yang tidak berdasarkan taqwa dan tak bertujuan mencari ridha Allah.
Menempuh hidup berasaskan takwa kepada Allah dan ridha-Nya tidak lain ialah, bagaimana kita menjalani hidup ini dengan terus-menerus waspada, agar semua tingkah laku kita dalam konteks pengawasan Tuhan.
Karena itu di Al-Quran disebutkan dalam Surah Ya Sin, yang sering kita baca, bahwa pada manusia itu yang penting adalah amalnya. Dan amal itu akan dicatat oleh Tuhan beserta efeknya atau dampaknya.
Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas. (Qs. Ya Sin (36): 12)
Maka dari itu, yang kita bawa menghadap Allah adalah amal. Dan kalau seseorang sudah meninggalkan dunia ini, maka amal itu terwujud di dunia dalam bentuk reputasi.
Seperti dikatakan dalam bahasa melayu, bahasa Indonesia, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal.”
Amal yang menjadi reputasi. Yaitu ketika orang mengenang seseorang yang sudah meninggal itu apakah baik atau buruk. Dan, umur reputasi itu jauh lebih panjang daripada umur pribadi manusia tersebut. Sampai sekarang kita masih bisa menyebut dengan penuh penghargaan kepada Plato, kepada Aristoteles, apalagi kepada Nabi.
Tapi kita juga bisa menyebut dengan penuh kutukan dalam hati, orang-orang seperti Fir'aun, Abu Lahab, Nero, dan lain-lain.
Jadi reputasi itu, nama baik ataupun nama buruk, jauh lebih panjang daripada umur seseorang.
Aristoteles tampil di dunia hanya sampai umur 40-50 tahun menurut perkiraan. Tetapi sampai sekarang orang masih mengenang dia dan mempelajari pengetahuan yang diwariskan. Inilah amal. Inilah yang dimaksud dalam Surah Ya Sin di atas.
Maka dari itu, agar reputasi kita ini nanti baik, yang berarti mencerminkan apa yang kita alami di akhirat, maka hendaknya kita berusaha betul-betul menyadari Allah itu hadir.
Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hadid (57): 4)
Firman Allah:
Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Mujadilah (58): 7)
Tidak ada empat orang yang berbisik-bisik melainkan Allah yang kelima. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu melainkan Allah selalu beserta mereka di mana pun mereka berada.
Kata imanuel dalam bahasa Ibrani, artinya Tuhan bersama kita. Imanu artinya beserta kita, el artinya Tuhan (Allah).
Maka dari itu tidak heran, bahwa Al-Quran seperti yang saya kutip di atas, tidak lain tujuannya ialah membuat orang itu bertakwa. Dan seluruh ibadah kita ini pun akhirnya ialah agar membuat kita lebih bertakwa.
Barakallahu li wa lakum fil qur'anil 'azim, innahu huwal gafururrahim
Sumber: Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat, h. 360-367
Catatan tambahan:
Buya Hamka pernah mengutip kata bijak dari penyair Mesir, Ahmad Syauqi (1868–1932), yang dijuluki Amir al-Syu'ara (Pangeran Penyair).
Syair Ahmad Syauqi yang terkenal mengenai reputasi, amal, dan kenangan baik yang ditinggalkan seseorang di dunia dapat memperpanjang usia mereka secara maknawi, bahkan setelah mereka wafat.
Bunyi Pesan/Syair:
"Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia."
Makna dari Kata Bijak Tersebut:
Umur Kedua: Syauqi menekankan bahwa manusia memiliki dua umur: umur biologis (ketika bernapas) dan umur sosial (ketika namanya dikenang baik).
Memperpanjang Usia: Meskipun umur fisik manusia pendek, ia bisa "diperpanjang" dengan meninggalkan amal jariyah, karya, atau reputasi yang baik (sebutan dirimu yang dikenang).
Warisan: Apa yang ditinggalkan seseorang (amal dan nama baik) lebih bernilai daripada sekadar keberadaan fisiknya saat hidup.
Pesan ini sering dikutip sebagai motivasi untuk terus berbuat kebaikan agar terus hidup dalam ingatan manusia dan mendapatkan pahala yang terus mengalir.

0 komentar:
Posting Komentar