alt/text gambar

Senin, 09 Maret 2026

Topik Pilihan: ,

Lailatul Qadar (Malam Kepastian)

 

Lailatul Qadar, bermakna Malam Kemuliaan  atau "Malam Kepastian". Ibadah pada malam itu dalam Al-Quran dikatakan memiliki nilai sama dengan nilai ibadah seribu bulan bagi yang mendapatkannya. Atau kalau saja mau dihitung, seribu bulan sama dengan kurang lebih umur manusia, yakni 80 tahun. Dari situ dapat diasumsikan bahwa siapa saja yang mendapatkan malam Lailatul Qadar, akan mendapatkan sebuah pengalaman hidup, yakni pengalaman ruhani yang amat berharga dibandingkan dengan hidup 80 tahun.

Berkenaan dengan tanggal turunnya Lailatul Qadar adalah bersifat ijtihad di kalangan ulama, sehingga pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama yang lain berbeda. 

Berkaitan dengan usaha-usaha mendapatkan malam Lailatul Qadar, setidaknya seseorang harus terlebih dahulu memiliki persiapan ruhani. Kesiapan ruhani tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan Lailatul Qadar sehingga dengan sendirinya orang yang tidak memiliki kesiapan ruhani tidak akan mendapatkan Lailatul Qadar.  

Pelatihan dan persiapan yang dilakukan untuk mendapatkan Lailatul Qadar, antara lain: menjalankan ibadah puasa secara benar. Kemudian, menjelang datangnya Lailatul Qadar, sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah Saw., hendaknya diperbanyak qiyam-u 'I-layl dan berzikir, perenungan, serta ihtisab, seperti yang disabdakan dalam sebuah hadis yang berbunyi, “Barang siapa berpuasa karena keimanan kepada Allah, dan melakukan penghitungan kepada diri sendiri (ihtisaban), maka diampuni dosa-dosanya yang lalu.” 

Ihtisab (self-examination) adalah sikap mau mengoreksi diri sendiri dengan menghitung-hitung amal perbuatan. Siapa yang tidak mau melakukan perenungan dan self-examination akan sulit mendapatkan Lailatul Qadar, karena hati orang yang tidak mau melakukan koreksi diri adalah indikasi hati yang tertutup oleh kesombongan diri. Kesombongan diri karena merasa dirinya paling benar dan suci. 

Di sinilah kiranya sikap jiwa menantikan datangnya Lailatul Qadar, dapat diparalelkan dengan sikap tobat dari melakukan dosa dan kesalahan. Dan di dalamnya harus ada sikap rendah hati dan ketulusan. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan bersamaan dengan melakukan iktikaf pada malam hari. 

Lewat iktikaf, seseorang dapat merenungkan keadaan dan keberadaan dirinya sehingga iktikaf menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan pencarian makna hidup yang paling esensial, seperti dalam bahasa Jawa dikenal istilah "sankan paran dumadi", atau untuk apa hidup, dari mana datangnya hidup, serta akan ke mana hidup ini? Seluruh pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang eksistensial dan identik dengan ihtisab, melakukan self-examination selama menjalankan iktikaf. 

Memperbanyak kegiatan ibadah untuk menantikan datangnya Lailatul Qadar sebagai persiapan ruhani dilakukan tanpa harus meminta bantuan orang lain. Hal yang demikian juga membuktikan betapa dalam Islam tidak dikenal ajaran mitos atau kultus individu dalam beribadah. Artinya, setiap orang dalam Islam dapat melakukan amalan ibadah tanpa harus melalui perantara. Anjuran untuk memperbanyak beribadah, memohon ampunan kepada Allah Swt. sepanjang bulan puasa khususnya, juga tidak harus menggunakan bahasa Arab. Menggunakan bahasa sendiri juga tidak apa-apa karena sesungguhnya Allah Swt. Maha Mengetahui dan Mendengar. 

(Nurcholish Madjid, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan, Bandung: Mizan, 1999, h. 198-204) 



0 komentar:

Posting Komentar