![]() |
| TEMPO, 13 Maret 1993 |
Resensi oleh: Fachry Ali
Judul buku: WAR, CULTURE ANDA ECONMY IN JAVA 1667-1726, ASIAN AND EUEOPEAN IMPERIALISM IN THE EARLY KARTASURA PERIOD
Penulis: M.C. Ricklefs
Penerbit: Allen & Unwin, Sidney, 1993
Tebal: 444 halaman
Inilah buku yang menguraikan dengan teliti perang suksesi Jawa selama setengah abad, sejak awal disintegrasi Mataram (1677) sampai dengan Amangkurat IV (meninggal 1726). Intensnya rangkaian konflik di masa itu telah menyebabkan perang sebagai wahana perubahan. Demikian tulis Ricklefs dalam buku 14 bab (di luar pendahuluan dan kesimpulannya) ini.
Sebelum perang, baik masyarakat Jawa maupun Eropa, dari segi teknologi persenjataan, tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama berada di masa pra-industri. Tapi supremasi Eropa muncul ketika kondisi Mataram mulai goyah sepeninggal tokoh utamanya, Sultan Agung. Amangkurat I, penggantinya, memerintah dengan “tangan berdarah”. Dia memusatkan kekuasaan demi kepentingannya sendiri.
Di bawah Trunajaya, pemberontakan pecah dari sebuah persekutuan yang “aneh”. Bukan saja karena melibatkan para petualang Sulawesi di bawah Kraeng Galesong, tapi juga putra mahkota sendiri. Pangeran Kajoran, ulama bangsawan berpengaruh menjadi pendukung utama Trunajaya, tokoh pemberontak asal Madura. Dalam kondisi teralienasi secara politik, raja tak mampu bertahan. Ia kabur. Istana Plered, yang dijaga Pangeran Puger, jatuh pada dini 1677, dan seluruh pusaka diangkut ke Kediri, pusat kekuasaan Trunajaya.
VOC, yang pada mulanya tak berminat dalam perang itu, “terpaksa” terjun. Kekacauan perang akan mengganggu kepentingan dagangnya. Maka mereka menerima permintaan bantuan Amangkurat I. Dan sejarah Jawa berubah drastis: munculnya kekuasaan asing. Sejak itu VOC tak pernah dipisahkan dari kekuasaan dan simbol politik Jawa. Kemunculan Amangkurat II, setelah Trunajaya hancur, menimbulkan persoalan legitimasi. Ia dituduh sekutu “kafir”, atau anak Gubernur Jenderal VOC yang menyaru jadi raja.
Namun Amangkurat II tampaknya hanya tunduk setengah hati kepada VOC. Melalui tangan Untung Surapati, dia telah mendalangi pembantaian Kapten Tack, Duta VOC untuk Kartasura pada 8 Februari 1668 di depan istananya. Toh peristiwa yang dilukiskan Rickfels dengan bagus pada Bab 5 ini tak menimbulkan perang kedua kekuatan itu. VOC maupun Kartasura punya kepentingan bersama: menjaga keamanan Jawa, walau motifnya berbeda.
Yang juga penting dilihat adalah uraian Rickfels tentang perubahan persepsi kekuasaan “negara-negara” lokal dengan kehadiran VOC. Di sini VOC --yang Gubernur Jenderalnya dipanggil Eyang oleh Amangkurat II --telah dilihat sebagai imperium alternatif, yang jauh lebih kuat dari Mataram. Ini terbukti dari permintaan Cirebon, Semarang, Banten, dan Madura Barat di bawah Cakraningrat II sampai IV untuk tunduk langsung ke VOC, dan bukan kepada raja mereka di Kartasura. Toh VOC, kecuali Semarang, menampik semua permintaan itu. Kehadiran kekuasaan VOC yang setengah-setengah itu tak membawa penyelesaian kekuasaan yang konklusif. Mungkin inilah salah satu penyebab perang terus berlanjut.
Namun rangkaian peperangan itu harus juga dilihat pada semangat Islam yang mempertanyakan legitimasi VOC dan bahkan Kartasura sendiri. Justru Islam, menurut Rickfels, pada waktu itu berfungsi sebagai peneguh identitas. Pemberontalan Pangeran Dipanagara (bukan yang di Yogyakarta pada 1825), bertujuan mengusir kafir atas nama Islam. Pada 1718, Jayapuspita, pemimpin pemberontakan Surabaya menulis kepada tentara Kartasura; “apakah Anda tak merasa muak bersama kaum kafir?” Dan ketika Pakubuwana I membunuh Sayid Maqallawi pada 28 Januari 1719 di mesjid penghulu istana, Babad ing Sangkala mencatatnya sebagai “kenacuran Jawa telah tiba”.
Toh kehadiran Belanda membawa efek lain. Salah satunya adalah alih teknologi persenjataan. Misalnya pada 1725 terdapat 1.000 orang desa yang memiliki senapan yang diduga buatan sendiri. Tapi yang terpenting adalah kesadaran ekonomi. Ketika VOC muncul sebagai aktor ekonomi dominan, kesadaran komersial tumbuh di kalangan para penguasa lokal, terutama di pesisir. Bahkan politik moneter pun diterapkan untuk mengatasi ekonomi utang VOC. Kerator mendevaluasi gulden Belanda secara seoihak dengan memakai real Spanyol. VOC terpaks membeli produk Jawa lebih mahal, dan Keraton membayar utangnya kepada VOC lebih mudah.
Dari segi kekuasaan, banyak yang berubah sejak VOC turut campur dalam masalah intern Jawa. Tapi yang jelas, baik VOC maupun Kartasura tak memperoleh banyak dari perang suksesi 50 tahun itu. Ketika Amangkurat IV mangkat pada 20 April 1726, kekuasaan pembangkang telah menyusut. “Jika dinasti Mataram hanya berkepentingan memelihara kekuasaannya, “ ucap Rickfels, “mereka telah meperolehnya. Tapi semua itu haru dibayar mahal, baik secara ekonomi maupun politik.
Sumber: TEMPO, 13 Maret 1993


0 komentar:
Posting Komentar