alt/text gambar

Senin, 27 April 2026

Topik Pilihan: , ,

Fungsi Transformatif Bahasa


Bambang Sugiharto


Dasar yang melandasi dominasi fungsi deskriptif bahasa tiada lain sebenarnya adalah paradigma "Representasionalisme” dalam epistemologi modern, yang telah kita bicarakan, beserta konsep dasarnya tentang akalbudi yang dianggap bagai "cermin” itu. 

Kini, ketika cermin raksasa itu telah di-dekonstruksikan, dan kita terpaksa berfilsafat tanpa cermin, bahasa "representatif” atau bahasa deskriptif pun wibawanya tergerogoti. Kini bahasa dilihat secara lain. Sejak asumsi epistemologi modern tentang adanya kaitan alamiah satu banding satu antara kata dan benda diruntuhkan, bahasa kini lebih dilihat dalam sifat transformatifnya. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat dahulu konseptentang posisi manusia di dunia dalam kerangka Hermeneutik. 

Dalam perspektif hermeneutik, bahasa atau lebih tepat die Sprachlichkeit dilihat sebagai pusat gravitasi. Gadamer mengatakan: "Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa.” Seperti halnya dalam definisi Yunani, manusia dilihat sebagai zoon logon echon, dalam arti bahwa manusia adalah mahluk yang berbicara, pengada yang memiliki logos. Manusia adalah binatang yang bercerita. Disini bahasa bukanlah sekedar salah satu kemampuan di samping kemampuan lainnya. Munculnya bahasa dalam perkembangan manusia tidak bisa dianggap sekedar seperti ditemukannya sistem peralatan atau pun perubahan cara hidup dari berburu ke pertanian misalnya. 

Munculnya bahasa menampilkan suatu transformasi mendasar dan total dari taraf kebinatangan menuju ke alam yang sangat khas manusia, yaitu suatu keterpisahan mendasar dari kungkungan alam. Munculnya bahasa adalah munculnya kemampuan reflektif. Berkat adanya bahasa, manusia menjadi objek potensial bagi dirinya sendiri, menjadi persoalan pokok pemahaman dirinya sendiri. Perkataan ”kenalilah dirimu” yang merupakan basis kemunculan filsafat Yunani kuno, adalah ungkapan yang menunjukkan hakikat bahasa: terbitnya kesadaran diri, yang sekaligus merupakan potensi untuk mengatasi keterbatasan diri itu. Maka lalu tentang siapa kita ini sebagai manusia sangat ditentukan oleh bahasa. Kita memahami diri kita dengan cara menceritakan diri kita. Manusia bukanlah makhluk yang sudah tercetak sekali jadi secara natural, melainkan lebih suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Nah, oleh sebab bahasalah yang memungkinkan manusia berpikir, maka bahasa tidak bisa hanya dilihat sebagai "medium" seperti dalam pemikiran modern umumnya. Bahasa bukanlah sekedar medium, sarana atau ekspressi pikiran. Bahasa bukan pula ”representasi” kenyataan. Secara ekstrem dapat kita katakan, bahasa adalah apa yang biasa kita sebut ”pikiran”. Sebab tak ada cara lain untuk berpikir tentang kenyataan itu selain lewat bahasa.

Bahasa di sini lebih dari sekedar teks, struktur, dan makna. Bahasa adalah juga pengalaman, pengalaman yang dihayati. Pengalaman yang dihayatilah yang terungkap dalam bahasa dan yang memberi kepada bahasa makna-makna eksistensialnya. 

Di sini pengalaman bukanlah sesuatu "yang Lain” yang bersifat metafisis, bukan pula sesuatu yang di luar sehingga bahasa seolah hanya mengacu kepadanya saja. Bahasa adalah makna dari pengalaman itu sendiri. Antara bahasa dan pengalaman terdapat saling ketergantungan amat mendasar, une appartenance. Maka dapatlah dikatakan bahwa bahasa bukan sekedar "ungkapan” pengalaman. Bahasa adalah pengalaman. Artinya, bahasa adalah pengalaman yang menyadari dirinya sendiri sebagai pengalaman tentang ini atau itu. Manakala kita menemukan cara yang lebih halus untuk mengungkapkan emosi kita, misalnya, sebenarnya kehidupan emosional itu sendirilah yang menjadi lebih halus, bukan sekedar cara kita memaparkannya saja. 

Bila benar yang dikatakan Heidegger bahwa "Bahasa adalah rumah tempat tinggal sang Ada”, akan lebih benarlah bila kita katakan bahwa bahasa adalah rumah bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Pengalaman yang telah diungkapkan adalah pengalaman yang telah mengkristal, menjadi semacam ”substansi” tertentu (kalau menggunakan istilah metafisika). Dengan kata lain, pengalaman itu tidak bermakna bila tidak menemukan "rumah"-nya dalam bahasa. Sebaliknya, tanpa pengalaman nyata, bahasa adalah ibarat kerang yang kosong tanpa kehidupan. 

Demikian bahasa yang kita bicarakan itu jadinya bukanlah, seperti yang diyakini kaum strukturalis atau pun poststrukturalis, sistem formal ”tanda-tanda” murni yang tertutup dan seolah tidak mengungkapkan apa pun selain dirinya sendiri. Bahasa bukan pula, seperti yang diyakini para filsuf analisis bahasa, sekedar sarana untuk mengungkapkan sesuatu yang lain daripada bahasa itu sendiri, yaitu benda-benda atau pemikiran. Dengan kata lain, bahasa bukan hanya mengungkapkan dirinya sendiri, bukan pula sekedar ”mengacu” kepada realitas ekstralinguistik di luar dirinya. Dengan yang terakhir ini tak hendak dikatakan bahwa tidak ada kenyataan ekstralinguistik sama sekali. Persoalannya hanyalah menyangkut kata "mengacu”. Sebetulnya bahasa adalah cara kita sebagai manusia memahami yang kita sebut ”kenyataan”. Atau, bahasa adalah cara kenyataan itu hadir dan bermakna bagi kita, cara kenyataan menyingkapkan diri kepada kita. 

Bila epistemologi modern telah didekonstruksikan, maka terdekonstruksi pula image manusia sebagai penonton kosmos alias seorang kosmotheoros, bila menggunakan istilah dari Merleau-Ponty. Tak bisa lagi kini kita menganggap manusia sekedar sebagai penonton kenyataan objektif yang berjarak. 

Bila, meminjam istilah Rorty, "cermin besar” semesta telah dirusakkan, maka roboh pulalah bisnis epistemologi yang kerjanya membuat deskripsi atau gambaran mental dari benda-benda. Maka lalu dari sudut pandang Hermeneutik postobjektivistis, "pemahaman” bukanlah pertama-tama tindakan reproduktif, melainkan sebaliknya: tindakan produktif. Jadi, pemahaman akan salah dimengerti bila dianggap, seperti kata Gadamer, "reproduksi dari produksi originalnya”. Memahami suatu pengalaman, merekonstruksi masa lalu, bukanlah berarti "merepresentasikan”-nya pada diri kita, melainkan ”mentransformasikan”-nya bagi kita. Itulah sebabnya Gadamer pun mengatakan bahwa memahami sesuatu itu berarti memahaminya secara berbeda: ”Cukuplah kita katakan bahwa kita memahami secara berbeda, kalau toh kita memang memahaminya.” 

Secara ringkas, memahami sesuatu berarti menafsirkannya. Seperti halnya dalam penafsiran sebuah teks, makna teks itu terdapat dalam penerapan teks itu secara kreatif oleh pembacanya. Dan penerapan atau pengejawantahan itu sekaligus merupakan juga transformasi diri si pembaca itu sendiri. Sebagai hasil dari pertemuan antara si pembaca dan teks yang "asing” itu, si pembaca muncul sebagai pribadi yang berbeda, yang baru, betapa pun minimalnya kebaruan itu. Maka Ricoeur pun berkata: 

”Memahami tidak berarti memproyeksikan diri ke dalam teks, melainkan meng-ekspose diri dihadapannya: berarti menerima suatu diri yang telah diperluas lewat pengejawantahan sebuah 'dunia' baru hasil penafsiran Pendeknya ini soal bagaimana teks itu memberinya dimensi subjektivitas: pada saat membaca saya tidak menyadari diri. Membaca itu memperkenalkan saya pada berbagai variasi ego. Metamorfosis dunia dalam permainan teks adalah juga metamorfosis ego.”

Tentang transformasi diri dalam pembacaan teks tadi dapat pula dikenakan pada pertemuan percakapan dengan orang lain, oleh sebab bagi Gadamer misalnya, pembacaan teks memang harus dimengerti dalam model dialog interpersonal juga. Dalam pertukaran konversasional, kita sendiri berubah: dalam interaksi pertukaran itu "saya” dan "engkau” saling mengubah. Dalam dialog itu "diri” menjadi sesuatu yang lebih daripada awalnya. Segala yang kita terima itu membuat kita berbeda dari sebelumnya. Dengan demikian, kita semakin menjadi diri kita sendiri, entah lebih baik atau pun lebih buruk. Di saat tertentu seseorang bisa betul-betul menjadi seorang bajingan, di saat lain ia menjadi agak lebih arif, dst. Beberapa percakapan, seperti dalam situasi keluarga yang buruk, boleh jadi justru menghambat kita untuk menjadi diri sendiri atau bahkan membawa pada penghancuran diri. Tetapi ada pula tentu percakapan-percakapan yang amat penting sehingga tanpa itu mungkin kita tak pernah menjadi diri kita yang sekarang ini. "Hanya melalui orang lainlah” kata Gadamer, "Kita dapatkan pengetahuan yang benar tentang diri sendiri”.

Nah, sekarang oleh sebab Epistemologi dan Metafisika selalu saja bicara tentang “Kebenaran”, maka menjadi perlu kita melihat pula konsekuensi dari perspektif di atas itu bagi konsep tentang "kebenaran”.

Dari perspektif kita di atas pertama-tama istilah "kebenaran” atau pun “kenyataan yang benar” tidak bisa lagi dilihat sebagai "merepresentasikan” kenyataan objektif ekstralinguistik. Tujuan sejarah, misalnya, tak lagi bisa dipahami sekedar sebagai ”potret” masa lalu. Fungsi susastera pun, misalnya bukanlah sekedar "imitasi kenyataan”. Dari perspektif hermeneutik “kebenaran” menunjuk pada proses transformasi yang terjadi pada setiap peristiwa pemahaman. Maka ”kebenaran” menunjuk pada proses pengkayaan-diri dan pemahaman diri lebih besar sebagai hasil dari permainan makna. Kebenaran tidak berarti ”korespondensi” dengan kenyataan, melainkan menunjuk pada tersingkapnya kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup dan bertindak, yang timbul dari atau melalui pertemuan yang "bermain”, yaitu pertemuan dialogis dengan orang lain. 

Demikian, ketimbang bicara secara nominal tentang “kebenaran” (seolah istilah ini menunjuk semacam korelasi objektif dan statis antara kenyataan "luar” dan kenyataan "dalam”) akan lebih baiklah kita bicara tentang apa yang dikerjakan orang atau tentang tidakan manusia, yaitu tentang “berada dalam kebenaran” atau "tidak berada dalam kebenaran”. Kita berada dalam kebenaran manakala kita setia terhadap diri sendiri, artinya: manakala segala narasi kita itu mengandung koherensi yang dinamis terhadap segenap masa lalu kita. Lebih jelasnya: manakala dalam proses transformasi-diri kita yang berkesinambungan kita mampu mengintegrasikan sejarah pribadi dan tradisi spesifik kita sendiri. Maka lalu bisa dikatakan, kita berada dalam ketidakbenaran atau tidak otentik manakala kita tak mampu melakukan pengintegrasian itu. Kita berada dalam kebenaran bila kita mampu mengatasi segala bentuk distorsi, terutama distorsi yang sistematis, atas percakapan dan pergaulan kita. Kita berada dalam kebenaran bila kita dapat menjaga keterbukaan dan kemungkinan interaksi bebas dengan manusia lain. Sebab siapa kita sebenarnya akhirnya dihidupi dan ditentukan oleh percakapan dan interaksi itu. 

Untuk meringkas keseluruhan bab ini, marilah sekarang kita lihat apa yang telah kita diskusikan tadi. Dalam bab ini kita telah melihat pertama, bahwa pada akhirnya perkara-perkara yang muncul dalam situasi postmodern sebetulnya berakar pada perkara bahasa. Kedua, perkara bahasa akhirnya menunjuk pada stagnasi dominasi fungsi deskriptif bahasa beserta paradigma ”representasionalisme”-nya. Ketiga, Hermeneutika menawarkan suatu cara lain untuk melihat bahasa, yaitu, bahasa dilihat sebagai cara kita mengalami dan mamahami kenyataan dan cara kenyataan tampil pada kita. Maka fungsi esensial bahasa adalah fungsi transformatifnya. Melalui bahasa kita mentransformasikan dunia, dan dunia mentransformasikan kita. Dalam konteks metamorfosis atau transformatif inilah kini kita dapat melihat peran sentral ”metafora” dalam proses penyusunan segala bentuk pengetahuan kita.

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 94-99) 



0 komentar:

Posting Komentar