![]() |
| Derrida |
“Kehadiran Makna Selalu Tertunda”: Filsafat Dekonstruksi Derrida
Artinya, kita tidak bisa menghadirkan atau mendeskripsikan
makna secara utuh atau lengkap. Sejauh kita menjelaskan suatu makna, maka
sejauh itu juga kita terjebak dalam kata-kata lain untuk menjelaskannya. Selalu
ada saja yang kurang. Contohnya ketika kita mendeskripsikan tentang “cantik”. Apakah
cuma putih seperti bulan purnama, hidung mancung, tubuh tinggi semampai, atau
rambut panjang bagai mayang mengurai, mata biru bagai Samudera Hindia, bibir
merah bagai delima, apa cuma segitu? Pasti ada teks-teks lain yang
menggambarkan cantik itu seperti apa. Artinya, kita itu tak bisa
mendeskripsikan makna cantik secara utuh dan lengkap. Pasti ada teks-teks yang
tertinggal. Nah, konsep makna yang tertunda inilah Derrida menjelaskan konsep
lain, yakni trace (jejak).
Apa itu trace?
Sejauh kita menjelaskan kata-kata yang lain, maka sejauh itu
pula kita menyusuri jejak-jejak makna yang tercecer di mana-mana. Dengan menelusuri
jejak makna, maka secara tidak langsung kita juga belajar tentang apa yang
tidak pernah terungkap. Derrida menyebutnya absence (ketidakhadiran).
Apa itu absence?
Absence adalah cara menampilkan makna yang tidak pernah
ditampilkan. Contoh: Ketika kita mendefinisikan perempuan cantik itu putih, langsing,
nyatanya yang hitam juga cantik, yang gemoy juga cantik. Contoh lain: orang
kaya pasti bahagia, nyatanya kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya. Yang tak
kaya juga ada yang bahagia. Yang kaya juga ada yang tak bahagia. Dari konsep absence
ini, Derrida ingin memberitahu kita bahwa semua serba paradoks. Tak ada yang benar-benar
utuh. Cinta itu membahagiakan, sekaligus menyakiti. Oksigen itu memberikan
kehidupan, sekaligus menuakan sel-sel manusia dan mematikan manusia.
Lalu apakah dekonstruksi itu penting? Dekonstruksi menjadi penting
karena ia mengajarkan kita lebih berhati-hati dalam memahami teks. Dan pemikiran
ini membuka pintu untuk mempertanyakan apa yang dianggap sebagai kebenaran dan
stabilitas dalam pemikiran dan bahasa. Pentingnya dekonstruksi juga terlihat
dalam bidang sastra, seni, dan budaya. Banyak kritikus sastra dan seniman
menggunakan dekonstruksi untuk mengungkapkan kompleksitas dalam karya seni dan
budaya.
Dekonstruksi adalah konsep filsafat yang rumit. Tapi intinya,
ia mengajarkan kita untuk melihat arti dalam teks dan bahasa dengan lebih
kritis, dan menyadari kompleksitasnya. Derrida ingin mengubah cara kita memahami
dunia dan membuka pikiran kita untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana
bahasa dan pemikiran kita bekerja. Ini adalah ide yang telah mempengaruhi
banyak aspek kehidupan kita dan terus menjadi sumber diskusi dalam dunia
filsafat dan budaya.
Sumber: Dekonstruksi
Derrida: Kehadiran Makna Selalu Tertunda (Menit ke 6); Satu Kata Banyak Makna


0 komentar:
Posting Komentar