alt/text gambar

Kamis, 16 April 2026

Topik Pilihan: ,

Seputar Postmodernisme

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001


Sumbangan Husserl bagi Postmodernisme

Akibat dari refleksi Husserl yang jauh dan radikal, akhirnya persoalan epistemologi sendiri pun dengan sendirinya luruh. Bersama Husserl persoalan epistemologis sirna sebab gagasan tentang ”ilmu” atau "keilmiahan” itu sendiri dipertanyakan. Memang benar, bahwa awalnya, dalam Cartesian Meditations tujuan Husserl adalah juga: "hendak memperlihatkan kemungkinan konkret gagasan Cartesian tentang filsafat sebagai ilmu yang mampu merengkuh segala pengetahuan berdasarkan fondasi absolut”.

Jadi, Husserl memang berusaha untuk mencari fondasi absolut, suatu fundamentum inconcussum yang murni. Kemudian ia yakin telah menemukannya dalam subjektivitas transendental. Namun akhirnya pelacakan arkeologisnya atas medan pengalaman hidup transendental membawanya pada penemuan terpentingnya, yang kelak justru berbalik menggugat gagasan dasarnya tentang keilmiahan itu sendiri. Penemuan tersebut adalah gagasannya tentang Lebenswelt. 

Apa Itu Lebenswelt? 

Yang dimaksud dengan lebenswelt ini tiada lain adalah aliran kehidupan langsung sebelum direfleksikan, lapisan dasar yang kemudian memunculkan tematisasi dan teoretisasi ilmiah. Ini adalah dunia yang kita hayati sehari-hari secara konkret, dunia yang mendahului pemilahan modern Galilean menjadi subjektif dan objektif (atau juga kualitas sekunder dan kualitas primer). Dengan kata lain, ini adalah dunia prailmiah yang dihayati sehari-hari, yang sebenarnya melandasi segala konstruk ilmiah dan bahkan diandaikan olehnya. Sebagaimana ditekankan oleh Husserl sendiri berkali-kali, segala bentuk konstruk ilmiah hanyalah idealisasi, abstraksi dari dan penafsiran tentang dunia prareflektif kehidupan langsung ini. Dari sebab itu, konsepsi-konsepsi ilmiah haruslah dianggap semata-mata sebagai cara pandang tertentu saja atas dunia tersebut atau cara tertentu untuk menggauli dunia tersebut sesuai dengan tujuan tertentu pula. 

Dengan demikian yang disebut dunia ”objektif” sebetulnya hanyalah penafsiran tertentu saja atas dunia pengalaman hidup sehari-hari alias Lebenswelt yang mengatasi dan mendahului kategori-kategori objektivistik maupun subjektivistik. 

Gagasan tentang dunia-hidup tadi dengan demikian sudah menggerogoti klaim-klaim dari pihak ilmu yang menganggap dirinya bebas praduga dan memiliki fondasi tak tergoyahkan. Husserl sendiri kiranya tak menduga bisa muncul kesimpulan macam ini. Tapi para penerusnya ternyata memang menemukan lebih dari yang sempat terpikirkan olehnya. Konsekuensi radikal dari upaya Husserl untuk menjadikan filsafat sebuah ilmu keras (rigorous science) telah dirumuskan oleh Gadamer: "Pemikiran filosofis bukanlah ilmu sama sekali.....Tak ada klaim tentang pengetahuan definitif kecuali satu: pengakuan atas keterbatasan manusia itu sendiri”.

Dari pemikiran dasar macam ini timbullah beberapa konsekuensi. Jika segala teoretisasi ilmiah hanyalah soal idealisasi dan penafsiran pengalaman prailmiah, bagaimanakah kemudian nasib upaya-upaya ilmiah-filosofis yang berusaha mengungkapkan "kebenaran objektif hal-hal"? Kemudian pula Epistemologi, sebagai disiplin yang hendak menjamin kebenaran objektif setiap ilmu dan setiap wacana (discourse) manusia, haruskah ia didiskreditkan? Lalu segala hal menjadi soal penafsiran belaka? Pada titik inilah terbuka jalan, di satu pihak ke arah pluralisme ekstrem, yang membawa pada relativisme dan nihilisme (Derrida, Lyotard), dan di lain pihak ke arah pentingnya Hermeneutika yang membawa segala persoalan pada wilayah dialog. 

Jalur yang pertama—yang relativistik dan nihilistik—diolah terutama oleh Jacques Derrida. Sambil menarik kesimpulan-kesimpulan radikal dari Nietzsche, Husserl dan Heidegger, lewat post-Strukturalisme, ia sampai pada gagasan, bahwa pada akhirnya bahasa dan kata-kata adalah kosong belaka, dalam arti, mereka sebetulnya tidak menunjuk pada sesuatu apa pun selain pada "makna"-nya sendiri. Dan "makna” itu pun tiada lain hanyalah permainan pembedaan (differance): pembedaan arti yang dimungkinkan oleh sistem lawan-kata. Makna tiada lain hanyalah permainan semiologik, permainan tanda-tanda. Dengan cara ini maka yang biasa disebut “kenyataan”, "Ada” atau "kebenaran”, misalnya, lenyap. Raib pulalah dasar bagi segala jenis filsafat. Bagi Derrida, hermeneutik lalu hanyalah suatu peluang terbuka untuk men-demistifikasikan setiap pretensi filsafat yang menganggap diri memiliki dasar tak tergugat.

Catatan kaki: 

Husserl menguraikan soal "dunia kehidupan” dengan cara mengkontraskannya dengan dunia ilmiah matematis. Metode ilmiah adalah suatu konstruksi yang mengidealisasi, berdasarkan apa yang terlihat. Dan diyakini oleh para ilmuwan bahwa apa yang terlihat itu tetaplah sama kendatipun yang melihat itu bukan ilmuwan. "Dunia kehidupan” bukanlah sebuah dunia idealitas geometris, melainkan sebuah dunia yang bahkan karakter ruangnyapun sebetulnya tak pernah sedemikian jelas dan gamblang. Manakala dalam dunia ilmiah tadi peran intuisi coba dihindari, dalam dunia kehidupan intuisi justru berperan sentral. Dunia kehidupan adalah medan evidensi natural asali. Kepada dunia itulah para ilmuwan harus mengembalikan teorinya untuk diverifikasi. Dunia kehidupan adalah dunia pengalaman langsung sementara dunia ilmiah adalah dunia yang sudah termediasi. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 35-37) 

***

Metafor

Metafor adalah kondisi dasar antropologis manusia. Artinya, manusia hanya bisa memahami dunia dengan cara mempersamakannya dengan hal yang ia pahami, dengan simbol-simbol yang ia ciptakan sendiri alias dengan hal yang bukan dunia itu sendiri. Karena itulah hubungan antara manusia dan dunia pada dasarnya memang sudah selalu bersifat "metaforis”. Maka dalam artian luas ini segala bentuk wacana kebahasaan manusia, termasuk wacana filsafat, dengan sendirinya bersifat metaforis.

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 163) 

***





0 komentar:

Posting Komentar