![]() |
| Kompas, 12 April 1998 |
Cerpen oleh: Leila S Chudori
Udara di Jakarta tampaknya menunjukkan keadaan negara kami. Panas, penuh peluh dan tak ada pohon-pohon untuk berteduh. Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja teringat untuk menulis surat kepadamu, padahal saya tahu betul di dalam newsletter Keep In Touch alumni kita, kau selalu disebut-sebut sebagai salah satu dari rekan-rekan yang menghilang sejak peristiwa Tianamen. Tetapi, aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya. Suratmu terakhir yang bau sayur dan anyir ikan asin itu yang tampaknya kau kirim dari luar Beijing sebelum melarikan diri begitu gagah berani, begitu inspiratif dan semakin membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti.
Wai Tsz yang baik,
Tepat 14 tahun silam, sembari memandang bintang, kita berempat kau, aku, Finn dan Maria – saling berjanji. Kita tak akan menikah sebelum "mencapai bintang itu".
Finn, teman sekamar kita, Putri Salju berambut panjang blonda dan bermata biru itu meletakkan misi hidupnya di sekitar kumpulan bintang Andromeda. Dan katanya, "Yang kuinginkan adalah persamaan hak lelaki dan perempuan. Dan kukira itu sebuah cita-cita yang berlaku bagi kita semua," katanya dengan nada romantis. Idealisme teman sekamar kita asal Denmark ini memang sangat menjengkelkan. Dan karena itu, saya tidak mau pusing untuk membicarakan masalah kemiskinan dan korupsi yang menggila di negaraku, karena pasti susah untuk memaksanya berimajinasi. Gimana dong, negaranya begitu kaya raya dan sentosa, apa dia bisa mengerti?
Lalu, aku ingat Maria dari Filipina mengatakan, "Aku menginginkan perubahan di negaraku. Aku berharap aku bisa menjadi bagian dari perubahan itu," katanya dengan nada tetap dan yakin. Kau dan aku sama-sama langsung berteriak, saling berebutan, "Aku juga mau mengatakan hal itu!"
"Ah, mana pula Indonesia punya persoalan. Ekonomi kalian sungguh luar biasa dibanding keadaan kami," tukas Maria. "Dan kau Wai Tsz, Cina adalah raksasa tidur yang sedang menggeliat bangun. Sekali dia tegak, negara Barat akan habis sekali lahap. Cuma Filipina yang tak memiliki harapan yang pasti di bawah presiden seperti Marcos…"
Ternyata, yang pertama mengobarkan api demokrasi adalah negaranya, Filipina. Dan sesuai cita-citanya, Maria menjadi bagian dari proses demokratisasi itu. Aku ingat ketika ia mengirim sehelai potongan koran di mana ada foto Maria di antara segerombolan kawan-kawannya di University of the Philippines yang tengah berdemonstrasi di jalan besar Edsa yang bersejarah itu. Seperti sebuah film, aku membayangkan Maria, kawan sekamar kita yang susah bangun pagi itu, menjadi bagian dari sebuah perubahan besar di negaranya. Bayangkan, ia ikut menjadi bagian revolusi damai Filipina Februari tahun 1986, ketika akhirnya Marcos terpaksa bergegas ke Hawaii dan seorang janda akhirnya duduk di atas kursi kepresidenan. Sementara, aku yang menjadi tetangganya, masih dalam keadaan yang sama, bekerja di sebuah majalah berita terbesar di negaraku, dengan naif menyangka bahwa keadaan negaraku aman sentosa sejahtera dan paling tidak masih lebih mending dibanding beberapa negara teman-teman kita sekampus yang setahun bisa mengalami kudeta beberapa kali.
Wai Tsz, sejak kita lulus, aku pulang, menghirup udara yang bercampur polusi ini, menjadi wartawan. Kau pulang, menghirup udara yang bercampur polusi di Beijing, dan menjelma menjadi aktivis hak asasi manusia.
Yang menarik di negaramu itu, peristiwa masuknya berbagai perusahaan Amerika, segera saja dianggap sebagai sebuah "gebrakan Deng" yang luar biasa. Mahasiswa Cina yang diperkenankan membaca terjemahan Milan Kundera dan nonton film James Bond seolah-olah menjadi titik awal demokrasi. Salah satu suratmu dengan penuh gairah bercerita betapa menariknya ceramah-ceramah Fang Lizhi yang tak ragu-ragu mengucapkan kata demokrasi dan kebebasan. Namun setelah peristiwa Tianamen pecah, barulah kita menyadari bahwa "gebrakan" yang didengungkan pakar Barat itu hanya sebuah cara pandang yang menyederhanakan persoalan.
Sementara itu, Wai Tsz, yang terjadi di tanah airku adalah kebijakan-kebijakan ekonomi baru yang kemudian menghasilkan ratusan bank baru, gedung baru, perusahaan-perusahaan baru, stasiun televisi baru, kelompok kaya baru, mobil-mobil baru, kebijaksanaan baru lagi, gedung-gedung baru lagi, jalan baru lagi, warga super-kaya-baru lagi, dan seterusnya yang oh, sungguh luar biasa dan oh, sungguh memabukkan....
Keadaan seperti ini, Wai Tsz, memang telah membuat kami menjadi wartawan yang profesional, gesit, lincah, kompetitif dan sedikit takabur. Keadaan ini, ternyata membuat kami melupakan banyak hal dalam kemanusiaan. Misalnya, ya misalnya, jika kami sedang membicarakan tentang sebuah peperangan di negara lain pada saat rapat perencanaan, kami duduk bagai sekelompok komentator bola yang sok jago yang melecehkan salah satu pemain yang begitu "goblok" sembari menggigit ayam goreng dan tertawa cekakan, padahal yang tengah kami bicarakan itu adalah nasib ribuan ibu dan bayi yang dibantai di negara itu. Profesi ini telah membuat aku – seperti yang dikatakan Profesor Humphrey yang tidak menyetujui pilihanku untuk menjadi wartawan – mampu membuat kami menjadi sekelompok "orang sok tahu yang tak terlalu tahu apa-apa".
Pendapat Profesor Humphrey tidak sepenuhnya benar, tetapi harus kuakui, terkadang pada beberapa kasus, pendapat itu tidak terlalu salah. Profesi ini telah membuatku duduk di atas awan, memandang rakyat sebagai obyek berita, bagian dari deadline, bagian dari pergunjingan di pub, bagian dari perbincangan di hand-phone atau sekadar deretan angka-angka statistik yang tak berarti. Tianamen yang menjadi sebuah peristiwa besar bagimu adalah sebuah gerakan moral. Namun bagi kami, para wartawan, peristiwa itu tak lebih sebagai sebuah excitement, sebuah aliran adrenalin yang segar, sebuah pompa bagi darah jurnalistik kami. Aku hampir melupakan bahwa selama bertahun-tahun aku mempunyai kawan sekamar yang mungkin menjadi salah satu dari mereka yang sedang merunduk-runduk diburu dan bersembunyi di antara keranjang sayuran di batas kota. Wai Tsz... ada di mana engkau?
Di dalam suratmu terakhir, setelah peristiwa Juni 1989 – surat lusuh berbau anyir itu – aku membaca tulisan tanganmu yang ditulis dengan tinta agak luntur. "Nadira, tolonglah kami dengan tulisanmu..."
O, Wai Tsz, alangkah malunya aku. Tentu saja kami menulis, meliput, memotret peristiwa di negerimu dengan gagah perkasa. Tetapi aku tak yakin bahwa ratusan wartawan yang datang meliput peristiwa itu terdorong oleh keprihatinan. Mungkin ada juga yang memang prihatin, tetapi selebihnya adalah dorongan kompetisi, kebanggaan mendapat berita eksklusif dan kalau perlu karena keinginan meraih piala Pulitzer yang gagah perkasa itu.
Di tahun 1997 ini, tiba-tiba aku terhenyak...
Sementara perusahaan-perusahaan mulai runtuh, bangkrut, jutaan orang terkena PHK, bank-bank dilikuidasi, bahan-bahan pokok ditimbun agar harga-harga melambung tak terhentikan, perusahaan pers mulai menjerit karena harga kertas yang menjulang, para mahasiswa yang protes, ibu-ibu yang protes karena harga susu naik, maka aku baru kembali menjadi "manusia" dan teringat padamu. Teringat pada jalan-jalan kita di tepi Sungai Otonobee; teringat pada pertengkaran kita tentang persamaan dan perbedaan antara kebudayaan Barat dan Timur; dan oh... aku teringat akan "Teori Galaxi"-mu saat engkau mencoba menghiburku ketika menemui aku menangis tersedu-sedu. Kau mengajakku rebahan di atas rumput dan menatap bintang. "Dalam keadaan pedih dan terpuruk, Nadira, terbanglah ke galaksi itu dan tinggalkan Bumi ini. Maka di atas sana, Bumi ini akan terlihat begitu kecil; hingga kau akan heran mengapa kau harus menangisinya. Setelah itu, kembalilah ke Bumi, tariklah napas yang panjang dan kemudian selesaikanlah persoalan itu."
Wai Tsz, "Teori Galaksi"-mu itu sungguh sederhana dan manjur untuk beberapa hal. Tetapi untuk masalah negerimu dan masalah negeriku ini, "Teori Galaksi"-mu ini akan sia-sia. Belum pernah aku seputus asa ini. Belum pernah aku merasa tak berdaya seperti ini. Setiap hari, aku membuka jendela, dan kudengar keluhan ibu-ibu tentang kenaikan harga barang pokok, tentang orang-orang yang baru saja kehilangan kerja; tentang spekulan yang berjingkrak girang setiap kali nilai dolar melesat bagai meteor, beratus-ratus orang yang mendadak menjadi aktor teater, tersenyum-senyum di muka kamera televisi mengucapkan betapa mereka mencintai republik ini.
Dan sungguh benar si jenius William Shakespeare itu.
all the world's stage
and all the men and women merely players
they have exits and their entrances
and one man in his time plays many parts
Ingatkah engkau ketika Prof Johnson membacakan bait ini dari lakon As Your Like it? Apakah aku tengah menjadi sosok yang tak berdaya dan melankolis seperti Jacques?
Aku membayangkan Shakespeare tengah tertawa terpingkal-pingkal karena dunia ini – panggung drama ini – hanya dipenuhi oleh segerombolan orang dungu. Menurutku, panggung drama ini dipenuhi oleh orang-orang yang kepandaiannya bersandiwara begitu mengerikan. Setiap pagi, koran-koran penuh dengan berbagai berita kesulitan ekonomi, tetapi toh mereka yang mengeluh sibuk menggaruk-garuk rupiahnya untuk ditukar ke mata uang asing dan hidup di atas mayat-mayat penderitaan orang lain.
Wai Tsz, kenapa aku lahir di antara masyarakat yang melahirkan kata "gotong-royong" tetapi sesungguhnya kami adalah sekelompok orang-orang yang sangat individualistis? Hatiku sudah cedera. Seandainya aku sama individualistisnya; mungkin aku sudah pergi terbang melayang bergabung dengan teman-teman kita untuk mengejar pendidikan setinggi awan di AS. Tetapi, pada akhirnya, hatiku memang ada di sini Wai Tsz, tertanam begitu erat dan berakar sekeras-kerasnya di bumi ini. Linggis atau pacul sekuat apa pun tak akan mampu mencerabut hatiku dari tanah ini.
Untuk beberapa bulan lamanya, aku diserang mimpi-mimpi buruk yang isinya lebih mirip lukisan-lukisan Salvador Dali. Satu malam aku bermimpi terjatuh dari gedung bertingkat, seluruh anggota tubuhku terpisah namun aku masih tetap hidup. Malam yang lain aku bermimpi kedua tanganku dirantai dan ujung kakiku mulai digerogoti puluhan anjing berwarna hitam. Malam yang lain lagi aku tiba-tiba saja terlempar ke sebuah lapangan, dalam keadaan hamil tua, dan ratusan burung gagak mencoba menghisap bayiku keluar dari perutku. Maka untuk menghindar mimpi-mimpi itu, aku ke toko buku dan menghabiskan gajiku dengan memborong setumpuk buku komik Lat dengan harapan aku bisa tertawa terbahak-bahak. (Yang terjadi, aku tertawa hingga air mataku mengalir sederas-derasnya yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah episode kesedihan tak bernama). Kemudian aku menghindar dari tidur yang kelam hingga untuk beberapa bulan berikutnya aku menjadi penderita insomnia yang parah. Yang kemudian menambah parah keadaan adalah karena aku sama sekali tak mampu bergerak maupun berpikir. Very pathetique. Itulah yang bisa kulakukan: mengeluh dan marah (kepada siapa?).
Wai Tsz, aku ingat ketika engkau berkata "sesuatu yang dimulai dari niat baik dan nurani selalu lebih sukar dipercaya daripada sesuatu yang dimulai dari niat jahat." Mungkin itulah sebabnya orang sukar percaya bahwa gerakan untuk memprotes adalah sebuah dorongan nurani. Mungkin kata "nurani" memang sudah langka, atau bahkan sudah waktunya masuk ke museum saja.
Wai Tsz, di manakah engkau? Menyamar menjadi pelayan toko? Atau mengajar di salah satu sekolah dasar di sebuah dusun? Atau mungkin secara diam-diam kau masih di Beijing? Aku tak yakin kau akan membaca suratku; aku mengirimnya ke alamatmu yang lama di Beijing. Wai Tsz di mana pun engkau berada... jika kau tak membaca surat ini, aku yakin kau telah membaca isi hatiku.
Sahabatmu,
Nadira
(Jakarta, November '97)
Sumber: Kompas, 12 April 1998


0 komentar:
Posting Komentar