![]() |
| Immanuel Kant, Apa Itu Pencerahan? |
Hampir 300 tahun lalu, dalam karyanya, Was ist Aufklärung? Immanuel Kant meluncurkan semboyan yang sangat terkenal: Sapere aude!: Beranilah berpikir sendiri!; Beranilah menggunakan kemampuan intelektualmu sendiri!
Menurut Kant, istilah “Aufklärung” atau “Pencerahan” dimaksudkan bahwa manusia harus melepaskan diri dari sikap tidak dewasa atau tidak matang (unmündigkeit) akibat kesalahannya sendiri.
Kesalahannya terletak pada keengganan manusia untuk memanfaatkan rasionya; orang lebih suka bersandar pada otoritas lain di luar dirinya (wahyu ilahi, nasehat orang-orang tua, otoritas agama, atau negara).
Jangan sedikit-sedikit ikut kata orang tua, kata otoritas agama, kata ulama, kata pendeta, kata negara, tanpa sikap kritis. Manusia harus punya otonomi.
Kamu memang harus baca buku, baca kitab ini-kitab itu, dengar kata ulama, pendeta, dan para ahli, tapi akhirnya: kamu harus punya pendapat sendiri! Begitu kira-kira kata Immanuel Kant.
Bagi Kant, sudah tiba saatnya untuk menyatakan bahwa akal budi manusia adalah ukuran dan prinsip untuk segala-galanya. Berkat rasionya, “sang Aku” (manusia) menjadi pusat pemikiran, pusat pengetahuan, pusat kehendak, dan pusat tindakan sehingga manusia bukan lagi sebagai viator mundi (peziarah di dunia. Dalam agama-agama, manusia di dunia ini ditamsilkan sekedar peziarah sebentar, lalu pergi lagi menuju keabadian), melainkan sebagai faber mundi (pembuat dunia). Kamu harus jadi pembuat dunia.
Ide-ide para pemikir Pencerahan, termasuk Immanuel Kant, kelak menjadi asas penting bagi paradigma positivisme (Comte) bahwa ilmu pengetahuan dan sains harus punya “Novelty” dan “Inovasi”; bukan hanya menghapal masa lalu, bukan hanya mengulang-ulang pikiran masa lalu, bukan hanya Pabrikasi.
Tetapi, apakah ide-ide Pencerahan, modernisme, dan positivisme dikoreksi dan dikritik? Ya, pasti! Para ilmuwan, pemikir dan Filsuf Eropa saling mengkritik satu sama lain. Dari mulai Descartes, Leibniz, Locke, David Hume, termasuk Kant sendiri dan lain-lain, saling mengkritik satu sama lain.
Para Filusuf Hermeneutik, dari mulai Schleiermacher, Heidegger, Gadamer, Habermas hingga Ricouer dan Derrida, mereka mengkritik satu sama lain. Diskusi selalu hidup. Tapi intinya: mereka berani punya pemikiran sendiri!
Apakah sekolah-sekolah dan perguruan tinggi kita punya spirit dan etos “critical thinking” dan “Sapere aude!”? Umumnya gak. Baca buku aja, gak, gimana mau inovasi dan novelty (dalam pengertian Sapere aude).
Atmosfer ilmu pengetahuan dan sains di negeri kita--juga banyak di negeri lain--rupanya sudah berakhir dengan berakhirnya “ideologi tripartit: positivisme, modernisme dan kapitalisme”. Apa yang dimaksud dengan “Inovasi” maksudnya di dunia industri yang kapitalistik (yang langsung menghasilkan materi dan untung). Ilmu-ilmu Humaniora yang menekankan “Refleksi”, “Critical Thinking” dan “Wisdom”, gak dianggap. Bahkan, karena membebani negara, Prodi-prodi Humaniora yang tidak kapitalistik, mungkin akan ditutup.
Padahal, orang sekolah sampai Sekolah Tinggi, bukan hanya knowledge dan skill yang harus dimiliki, tapi sikap dan pola pikir seperti yang dikehendaki Aufklärung itu. Sarjana yang punya sikap dan mental seperti di atas, harusnya mereka kreatif: tidak akan nganggur dan tidak akan jadi beban negara.
Sumber:
https://www.facebook.com/share/p/18jmAfJPen/


0 komentar:
Posting Komentar