alt/text gambar

Sabtu, 02 Mei 2026

Topik Pilihan: , ,

Filsafat: Sebuah Refleksi atas Keterbatasan Setiap Klaim Manusia tentang Kebenaran

 

Bila dengan "filsafat" dimaksudkan "sistem-sistem pemikiran besar", maka kini paling banter ia hanya bisa dilihat sebagai konstruksi tentatif tentang dunia atau dalam peristilahan Stephen Pepper, suatu "World Hypothesis". Meskipun demikian, dibandingkan dengan wacana metaforis dalam arti sempit, wacana filosofis masih bisa dianggap memiliki perbedaan tegas oleh sebab ia lebih memiliki "kekuatan penjelasan” (explanatory power) ketimbang wacana metaforis. Itu adalah berkat kecenderungannya yang kuat ke arah ”univositas” konsep. Tetapi di sisi lain ”univositas” tidaklah sama dengan ”transparansi” dalam merepresentasikan realitas murni, bagai cermin. Univositas hanyalah strategi untuk membangun ruang-logika, yang penting untuk "menjelaskan” realitas. 

Persoalannya kemudian apakah univositas itu memang selalu tercapai? Ini soal lain. Dalam kenyataannya hasil dari berbagai tegangan tadi umumnya adalah sebuah "wacana hibrida” dengan terminologi yang licin dan selalu mengelak. Dan itulah filsafat, ia adalah wacana hibrida, antara ekuivositas dan univositas, namun toh masih dapat dikatakan memiliki kemampuan ”penjelasan” lebih ketimbang "pelukisan”, sebab memang betapapun juga ia berintensi besar untuk bergerak dengan logika dan univositas. 

Betapapun ekuivokalnya filsafat, ia toh tidak sama dengan puisi ataupun novel. Filsafat selalu dibangun atas dasar keinginan untuk "menjelaskan” kenyataan dan bukan sekedar melukiskan. Dan kendati memang membawa ambiguitas, ditambah lagi statusnya yang "hipotetis” saja (yang notabene tak bisa diverifikasi ataupun difalsifikasi secara ketat), toh filsafat masih sangat berguna terutama untuk mengorganisasikan dan memperluas pemahaman kita tentang dunia, manusia dan kehidupan itu sendiri dari sudut berbagai kemungkinan penafsirannya.

Namun dari sudut hermeneutik, filsafat tak selalu mesti berarti "sistem pemikiran besar yang menyeluruh”, melainkan dapat pula berarti sekedar "refleksi kritis yang hendak memahami berbagai cara manusia memahami dunianya”. Dari sini kita masuk ke tataran ketegangan yang kedua. 

Pada tataran yang kedua, filsafat sebagai hermeneutik berurusan lebih dengan berbagai bentuk manifestasi pemahaman manusia tentang dunianya. ltu berarti ia berurusan terutama dengan berbagai permainan-bahasa yang digunakan manusia untuk memahami kenyataan hidupnya. Permainan-bahasa di sini dapat berarti: berbagai ilmu, sistem nilai, sistem logika, bahkan berbagai ideologi, dst. Pada tataran ini filsafat mengalami tegangan di antara beragam permainan-bahasa itu. Namun di antara berbagai permainan-bahasa itu filsafat dapat dilihat sebagai ”netral” dalam artian bahwa ia tidak pertama-tama berurusan dengan nilai-kebenaran dari berbagai permainan bahasa itu, melainkan berurusan pertama-tama dengan pola atau model yang digunakan oleh berbagai pemahaman dalam beragam permainan-bahasa itu. Kalaupun kemudian filsafat bicara juga tentang nilai-kebenaran, itu lebih merupakan implikasi dari proses hermeneutik tadi. 

Yang khas dalam filsafat sebagai hermeneutik adalah bahwa pada akhirnya ia merupakan pengenalan reflektif atas keterbatasan setiap klaim manusia tentang pengetahuan, dan atas aspek relatifitas historiko-kultural dari setiap bentuk wacana manusiawi. Kesadaran atas keterbatasan-keterbatasan ini adalah kunci untuk dialog dan kerjasama antarmanusia. Itu sebabnya filsafat sebagai hermeneutik dapat berperan sangat penting dalam memajukan dialog antar permainan-bahasa yang berbeda demi terciptanya saling pemahaman timbal-balik dan saling memperkaya satu sama lain dengan konsep yang makin luas tentang dunia, manusia dan kehidupan ini. Dengan kecenderungannya untuk berhati-hati terhadap segala klaim tentang kriteria ”universal”, hermeneutik memajukan rasa hormat atas keunikan dan otonomi setiap budaya dan nasion. Namun dalam kenyataan, antara yang partikular dan yang universal sebenarnya tak perlu dipertentangkan secara diametrikal pula. Bukankah semakin kita mengenal dan menghormati yang partikular kita justru dapat melihat dan memahami yang universal juga? Semakin kita memahami yang banyak kita justru semakin mengerti yang satu? Tetapi keyakinan macam ini barangkali hanya bisa dianggap sebagai horizon eskatologis saja. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 165-166) 

0 komentar:

Posting Komentar