Jamaah Jumat yang berbahagia,
Allah menciptakan kita, manusia, dalam bahasa Arab ada tiga macam. Pertama kalau dilihat dari sosok kita yang bersifat Phisical, bersifat material, dimensial, parsial, temporal, disebut sebagai basyarun. Basyarun artinya manusia dilihat dari fisiknya. Alhamdulillaah Allah menciptakan kita semua sebagai basyar, tidak sebagai an'am atau hayawan yang mereka diciptakan untuk mengabdi kepentingan kita. Tapi kita manusia, kita basyar, diciptakan oleh Allah dengan kesempurnaan, dengan kelengkapan yang sempurna. Ada panca indera, ada anggota badan, dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, semua berfungsi. Pendengaran, pengelihatan, lisan ucapan, tindakan, perbuatan, itu namanya panca indera atau perangkat basyar.
Syukur-syukur kalau Allah menciptakan kita berparas tampan, berupa ganteng, syukur. Karena Rasulullah pun tampan, Nabi Yusuf juga tampan sekali. Sampai-sampai ketika perempuan-perempuan melihat ketampanan Nabi Yusuf, yang seharusnya mereka memotong-motong buah dengan tidak terasa memotong tangannya. Mereka tidak sadar memotong tangannya sendiri karena larut ke dalam kegantengannya atau ketampanan Nabi Yusuf sambil mengatakan:
Perempuan-perempuan itu mengatakan, “Ini bukan basyar, ini di atas basyar” “In haadza illd malakun kariim,” “Ini malaikat ini?” Mengapa? Karena perempuan-perempuan yang seketika melihat Nabi Yusuf itu kemampuan pandangnya atau kemampuan penglihatannya sebatas fisik, sebatas jasmani, sebatas lahir. Alhamdulillah, kita menjadi basyar, dan sempurna apalagi syukur-syukur tampan, handsome, jamil.
Yang kedua, bahasa Arab-nya manusia itu insan. Insan ini wujud manusia yang ideal, yang universal, yang global, yang perenial, abadi atau langgeng, disebut insan. Insan adalah wujud manusia secara rohani, spiritual, tidak kelihatan. Tidak dilihat dari lahir fisik, tapi dari hakikat universalitas manusia. Maka manusia membawa misi yang universial yaitu kasih sayang, keadilan, ramah, santun, yang semua disebut kemanusiaan. Itu bahasa Arab-nya insaniyah.
Kemanusiaan itu lahir dari insan, lahir dari wujud kita yang disebut insan. Yaitu wujud kita yang rohani, yang abstrak, yang ideal. Insan ini tidak menerima hal-hal yang bahasa agamanya bersifat munkarat. Munkarat itu artinya yang tidak disenangi. Maka permusuhan, pembunuhan, konflik, su udzon, semua yang jelek-jelek itu sebenarnya ditolak oleh insaniyyah kita. Wujud kita sebagai insan sebenarnya menolak sifat-sifat itu menolak watak-watak yang jelek itu. Akan tetapi seringkali kita terperosok dalam sifat-sifat itu karena ketidaksempurnaan wujud insaniyyah kita. Insaniyyah kita dikalahkan oleh yang namanya hawa nafsu.
Sedikit tentang sosok manusia. Manusia itu, kita ini, perumpamaannya bagaikan negara. Presidennya atau pemimpinnya adalah qalbu (hati), kalau hati kita baik, kalau presiden baik, maka rakyat pun akan mudah diajak baik. Kalau hati kita baik, maka semua, penglihatan mata kita, pendengaran telinga kita, perilaku tangan kita, perbuatan kaki kita, langkah-langkah kita, sikap kita semuanya baik. Itu namanya qalbu (hati). Itulah kepala negaranya, ibaratnya begitu.
Nah, aql (akal) adalah ibaratnya adalah kelompok intelektual yang mempunyai konsep, yang mempunyai rencana. Itu akal, perumpamannya dalam satu negara tenaga kerjanyalah, teknokratnya, think tank-nya.
Hawa nafsu ada dua, nafsu ghadlabiyah atau nafsu amarah munkar dan nafsu syahwatiyah. Nafsu ghadlabiyah bagaikan tentara dalam negara. Tergantung perintahnya. Jika perintah baik, maka tentara jadi baik. Kalau perintahnya jelek, maka tentara akan jelek. Tapi juga harus hati-hati, Presiden atau kepala negara harus mampu mengendalikan tentara. Begitu pula hati kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu ghadlabiyah.
Hawa nafsu syahwatiyah bagaikan budak. Jadi, di negara atau kerajaan itu ada budak, ada pelayan, ada pembantu, ada OB, ada yang bekerja di dapur. Itulah hawa nafsu syahwatiyah, harus ada. Di istana harus ada pembantu, tukang nyapu, tukang masak, penjaga pintu, harus ada semuanya di istana itu. Hati presiden tidak boleh kalah dari pembantu atau dipengaruhi oleh pembantu. Begitu pula kita, kita mempunya hawa nafsu syahwatiyah, ingin kaya, ingin mewah, ingin banyak duit, banyak rumah, banyak lagi, ingin happy-lah hidup ini. Itu baik, boleh, tapi tidak boleh semua keinginan itu mendikte hati kita, mendikte qalbu kita, qalbu kita jangan kalah, jangan mau diatur oleh hawa nafsu syahwatiyah. Jadi, hawa nafsu itu, ghadlabiyah dan syahwatiyah sebenarnya adalah penting. Penting untuk mempertahankan keberadaan kita. Asalkan hati kita mampu mengendalikan. Hawa nafsu ghadlabiyah sebagai penyerang, sebagai tentara, harus diarahkan ke jalur yang baik yang benar. Sedangkan hawa nafsu syahwatiyah sebagai budak yang membantu, yang siap membantu qalbu atau membantu raja juga harus diarahkan ke jalan yang benar. Jangan sampai qalbu kita, jangan sampai raja kalah oleh kemauan tentara, oleh hawa nafsu ghadlabiyah atau kalah oleh kemauan hawa nafsu syahwatiyah yaitu budak atau pembantu-pembantunya.
Tidak ada lain, konsep yang paling efektif yang bisa mengatur hati atau menjaga hati adalah iman kepada Tuhan, iman kepada Allah. Itu yang bisa membangun kebesaran qalbu kita, memperkuat raja, membuat kerajaan, itu hanya dengan iman.
Qalbu belum tentu benar, akal belum tentu benar, apa bedanya qalbu dan akal? Akal itu mengetahui kebenaran dari juz'iyah. Dari yang parsial menuju yang global, itu akal. Maka kalau premis minor dan premis majornya benar, konklusinya akan benar. Kalau premis minor dan premis majornya salah, konklusinya akan salah. Itu akal. Kebenaran dicari step by step, dari hal-hal yang kecil menjadi kebenaran universal, itu akal.
Kalau hati tidak, kalau hati langsung menerima kebenaran universal. Kebenaran universal yang maha mutlak yaitu iman kepada Allah untuk memperkuat, untuk mempertahankan keuniversalan itu. Silakan kalau kita ingin merinci, kalau kita ingin membedah, merinci kebenaran universal itu. Jadi pola hati itu menerima kebenaran universal yang nanti akan dicari rinciannya. Kalau akal mencari kebenaran dari rincian nanti akan menuju kepada yang universal. Itu bedanya akal dengan hati.
Oleh karena itu hati punya perangkat yang sangat tajam, antara lain namanya, khawatir. Khawatir itu diwujudkan oleh dzauq (intuisi). Hati khawatir akan menerima bisikan ide lintasan empat macam. Pertama, khawatir rabbaniyyah. Lintasan dari Allah. Tahunya dari Allah. Bagaimana? Lama-lama menjadi ilham, lama-lama menjadi kasaf, lama-lama menjadi marifat. Itu namanya khawatir rabbaniyyah.
Kedua, khawatir malakutiyyah. Lintasan yang dari malaikat, kalau kita pelihara terus akan menjadi ilmu. Ilmunya ada tiga macam, ilmu al-yaqin, haqq al-yaqin, dan ain al-yaqin. Itu nanti puncaknya adalah ilmu ladunni. Itulah khawatir malakutiyyah.
Yang ketiga, khawatir nafsaniiyah atau disebut hawajiz. Ajakan-ajakan hawa nafsu untuk melakukan hal yang tidak benar, itu namanya hawajiz. Bagaimana tahunya itu hawajiz? Tahunya, yang sedang terlintas dalam khawatir kita jangan sampai diketahui orang lain. Jangan sampai ada orang yang tahu, itu pasti datangnya dari hawajiz, dari hawa nafsu, nafsaniyyah.
Yang terakhir khawatir syaithaniyyah lintasan dari setan, yang dari setan itu namanya waswasah, “Yuwaswisu fii shudur al-naas”. Menggelitik, menggoda, dan mengganggu kita supaya belok dari kebenaran. Yang paling rendah, yang paling gampang dilawan adalah godaan setan, yang paling berat godaan hawa nafsu. Itulah bahasa Arab-nya insan. Panjang lebar kalau diterangkan, karena masih banyak lagi ini pembahasan insan.
Yang terakhir, bahasa Arab-nya manusia, “an-naas”. Jadi yang pertama bahasa Arabnya manusia “basyarun”; dua “insanun"; tiga “naasun" atau “an-naas”.
Apa "naas" itu? "Naas" ini manusia dilihat dari sisi sebagai makhluk sosial. Makhluk bermasyarakat itu namanya "naas". Kalau membangun basyar, supaya basyar sehat, kuat, tampan, gampang. Ada batasannya insya Allah akan tercapai.
Membangun insan yang baik, bisa diusahakan ada batasannya, insyaallah bisa tercapai kalau diupayakan. Tapi membangun naas sampai kapan pun tidak akan selesai. Membangun masyarakat tidak akan selesai sampai kapan pun.
Oleh karena itu, betapa besar pahalanya orang yang memperjuangkan kebaikan masyarakat. Bukan hanya kebaikan dirinya sendiri, bukan hanya kebaikan keluarganya, tapi kebaikan bangsanya, kebaikan masyarakatnya. Betapa besar pahalanya.
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
La khaira fî katsîrim min najwâhum illâ man amara bishadaqatin au ma‘rûfin au ishlâḫim bainan-nâs, wa may yaf‘al dzâlikabtighâ'a mardlâtillâhi fa saufa nu'tîhi ajran ‘adhîmâ
(Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar) (An-Nisa', ayat 114)
Tidak ada gunanya kita berkumpul, bernegara, berpartai politik, berormas, ber-jam'iyyat, kecuali kalau kita punya tiga agenda. Satu, “Amara bi shadaqotin,” menghilangkan kemiskinan. Kedua, “Au ma'rufin, membangun hal-hal yang positif. Ketiga, ini yang paling sulit, “Ishlaahin baina an-naas,” membangun masyarakat yang saleh. Jadi, yang saleh bukan hanya kiai, bukan hanya ustadz, bukan hanya satu dua orang, sepuluh orang, dua puluh orang, tapi seluruh bangsa menjadi bangsa yang saleh, ini yang sulit.
Maka (dalam rangka) pembangunan "an-naas”, Allah mengutus nabi dan rasul. Kalau membangun pribadi satu dua orang, kelompok tertentu itu Allah cukup hanya mengutus ulama, mengutus nabi yang bukan rasul. Tapi kalau membangun umat “Ishlahin baina al-naas,” Allah mengutus rasul. Kalau rasul pasti nabi, kalau nabi, banyak yang bukan rasul dan misinya terbatas hanya pada waktu tertentu dan pada bagian umat tertentu.
Maka membangun “Ishlahin baina an-naas,” dibutuhkan kerja keras dari semua pihak. Ya pemerintahnya, ulamanya, teknokratnya, semuanya, kalau mau jadi bangsa yang baik, bangsa yang saleh. Nah kalau kita contohkan sekarang, masyarakat atau negara yang bagus adalah masyarakat yang berkeadilan, tegaknya hukum, tidak ada korupsi, sejahtera, makmur.
Hal itu, kalau dicari, tidak kita jumpai di negara Islam. Tidak kita jumpai di negara-negara yang umat Islamnya banyak. Justru yang ada di negara-negara non-muslim, New Zealand, Swedia, Switzerland, itu yang namanya “naas”-nya sudah baik. Maka dalam ayat lain Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
"Ya ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum"
(Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa). (Q.s. Al-Hujurat, ayat 13).
Aku jadikan kamu berbangsa dan bernegara dan yang paling mulia di mata Allah adalah bangsa yang paling bertakwa. Bukan satu, dua, tiga orang, bukan, bukan sepuluh dua puluh orang
Bangsa yang paling bertakwa kepada Allah itulah bangsa yang paling mulia di mata Allah. Bukan satu, sepuluh, seratus dua ratus, seribu, dua ribu orang saleh, tapi bangsa yang saleh. Jadi, ayat itu tekannya adalah masalah “an-naas”.
Sekali lagi kesimpulannya apa yang saya sampaikan ini adalah pertama, kita disebut dalam Al-Qur'an dari segi fisik namanya basyarun. Mari kita pelihara basyariyah kita. Kita sehat, kuat jasmaninya, tampan, itu basyar, penting. Yang kedua, bahasa Arab-nya manusia adalah “insan”. Insan berkaitan dengan spiritual, moralitas, akhlaqul karimah, Itulah insan. Mari kita perbaiki akhlaq kita, kita bangun ilmu kita, kita bangun martabat budaya kita, itulah yang disebut membangun insan.
Terakhir, “naas”. Naas adalah masyarakat, umat manusia itu bahasa Arab-nya naas. Bagaimana kita membangun naas yang saleh? Nabi Muhammad SAW telah berhasil membangun masyarakat Madinah yang saleh, masyarakat yang saleh.
Dan barang siapa yang berhasil membangun naas yang saleh, maka pahalanya, “Fasaufa nu'tiihi ajran adziiman” “... akan dibalas dengan pahala yang sangat-sangat besar”.
Barakallahu liwalakum fil qur'anil 'azim, innahu huwal gafururrahim
Sumber:
Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj,
Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 70-79

0 komentar:
Posting Komentar