Hidup yang kekal, yang menjadi tujuan dari segala kita yang hidup ini, hidup yang dikejar oleh orang yang sadar akan arti hidup ini, yang orang-orang berlomba menempuhnya, ialah hidup sesudah mati. Itulah yang diserukan oleh kitab-kitab yang diturunkan oleh Tuhan. Itulah yang disampaikan oleh nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan.
"Wama hazihil hayatuddunya illa lahwu wala'ib... "
(Kehidupan di dunia ini hanyalah main-main. Hanya senda gurau. Hidup di akhirat itulah hidup yang sejati kalau sekiranya kita pikirkan dan kita renungkan betul-betul).
Hidup yang sekarang ini dibandingkan dengan kehidupan yang kemudian itu adalah seperti tidur saja.
Hidup yang sejati, hidup yang di akhir, hidup akhirat. Dengan demikian, kita dapat membuat supaya kehidupan yang sekarang ini menjadi kebun.
"Ad dunya mazra'atul akhirah."
Dunia ini seperti perkebunan untuk mengambil hasilnya di akhirat. Mendorong kita supaya berbuat baik banyak-banyak di dunia ini.
Jadi kehidupan di dunia ini sudah menentukan kehidupan akhirat nanti. Kalau di sini, di dunia ini, baik yang kita kerjakan, maka lepas dari kehidupan di dunia ini, kita menerima kebahagiaan, kesenangan.
Nabi Muhammad SAW pernah memisalkan. Apa kata beliau: "Kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, hanyalah seperti seorang yang mencelupkan ujung telunjuknya ke dalam laut, kemudian dia cabut kembali. Basah. Nah, basah yang sedikit di tangan itulah hidup di dunia ini. Berapa luas lautan lagi tak dapat kita tentukan dalam dan luasnya, dibandingkan air yang tinggal di ujung telunjuk kita tadi.
Hari akhir itu menafaskan jiwanya. Jadi, seperti kita mengambil ribuan nafas sehari-hari. Satu di antara nafas yang ribuan kali kita nafaskan siang dan malam itulah perbandingan kehidupan dunia, dibandingkan dengan akhirat.
Maka orang yang pandai memanfaatkan nafas yang sejenak itu dapat dipakainya dengan baik: dia beramal.
Apa yang terjadi bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh ketika nyawanya bercerai dengan badan, ketika lepas dari penjara dunia ini? Pada zahirnya kelihatan tubuh dimasukkan ke dalam bumi. Asal tanah pulang ke tanah. Air pulang ke air. Tapi ruh itu terlepas dari ikatannya. Seperti kata Suhrawardi, seorang sufi yang besar, yaitu seperti burung di dalam sangkar: ia berkicau. Ia ingin keluar. Kemudian sangkar terbuka, burung pun terbang. Sangkar kosong, burung bernyanyi di tempat yang luas. Begitulah ruh apabila keluar dari badan.
Setelah mendapat kelapangan di alam barzah, bagaimana lagi keadaan di darunna'im? Di negeri yang indah? Dikatakan bahwa yang menjadi inti kebahagiaan di dalam surga jannatunna'im itu ialah melihat wajah Tuhan.
"Wujuhuyyauma izin nadiroh."
Muka pada waktu itu berseri-seri.
"Ila rabbika nadiroh."
Karena pada hari itu kita dapat memandang Tuhan. Tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada itu.
Sehingga pernah ditanyakan kepada Rabi'ah al Adawiyah, seorang sufi perempuan: bagaimana pandangannya tentang neraka dan tentang surga. "Pandangan saya cuma satu: memandang wajah Allah. Mau ditempatkan di mana pun yang saya melihat wajah Allah, itu seribu kali lebih daripada surga."
Tapi timbul pertanyaan: mengapa kebanyakan manusia takut menghadapi kehidupan yang sejati itu? Mengapa manusia lengah daripadanya? Mengapa kehidupan dunia saja yang dicintai orang? Padahal dunia ini seperti khayal atau bayangan saja?
Apakah karena salah menggambarkannya di dalam hati? Atau karena perasaan sendiri yang tumpul? Atau karena tidak percaya kepada kehidupan akhirat itu? Atau karena akal kita sendiri tidak memahami?
Ctt:
Wasiat takwa:
marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan cara apa? Dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah formal kita. Dan memperbanyak berbuat kebajikan bagi manusia. Jadi, tak cukup hanya ibadah formal saja, tapi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Manfaatkanlah tubuh kita ini untuk bersedekah (berbuat yang benar. Sedekah dari kata sadaqta: artinya benar). Apa saja yang kita lakukan dengan benar maka ia sudah bernilai sedekah. Bahkan membuang duri di jalan pun disebut "sedekah". Karena ia merupakan perbuatan yang benar.

0 komentar:
Posting Komentar