alt/text gambar

Jumat, 26 Juni 2026

Topik Pilihan: , ,

Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijiriah


Tanpa terasa waktu berlalu. Detik demi detik. Masa demi masa. Maka bagi orang yang selalu ingat kepada Allah, ia memanfaatkan waktu yang ada ini dengan berlomba-lomba melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.

Firman Allah, surat Al Ashr

Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal saleh. Selalu nasihat menasihati agar tetap berada di jalan yang benar. Dan selalu nasihat-menasihati untuk tetap bersabar dalam segala hal.

Dalam sebuah hadits:

Siapa yang hari ini sama dari hari kemarin, dia rugi.

Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia celaka.

Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia beruntung.

Oleh karena itu, hendaknya setiap kita selalu bermuhasabah, menghitung diri. Introspeksi diri. Meningkatkan kualitas spiritualitas kita. Sudahkah kita menjadi orang baik? Baik itu bukan sekedar rajin shalat, rajin ke masjid, rajin puasa saja. Tapi Allah telah menitipkan kepada kita fisik (badan) kita ini, sudahkah kita mempergunakannya untuk berbuat kebajikan bagi kehidupan manusia? Sudah berapa banyakkah kita berbuat baik dengan melakukan yang bermanfaat bagi kehidupan, terutama pada kehidupan manusia.

Jadi, tubuh yang merupakan pemberian Allah ini, mesti kita pergunakan ia agar memberi manfaat bagi orang lain. Ada banyak perbuatan kebajikan—yang dalam bahasa agamanya itu “amal saleh”— yang bisa kita lakukan. Apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, ia bernilai sedekah.

Oleh karena itu, kita harus selalu bersedekah dengan apa saja yang ia miliki. Karena pada intinya, sedekah itu ialah melakukan sesuatu yang benar. Jadi, bukan dalam bentuk memberikan uang saja. Tapi apa saja perbuatan baik itu pada hakikatnya adalah sedekah.

Rasul menggambarkan dalam banyak hadits:

Membuang duri di jalan, adalah sedekah.

Senyum adalah sedekah;

Bahkan memberi minum anjing yang kehausan pun bernilai sedekah.

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah bersabda: "Seseorang mengalami rasa haus yang sangat saat dalam perjalanan, ketika ia menemukan sebuah sumur. Ia turun ke dalamnya dan minum (air) dan kemudian keluar dan melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya karena haus dan memakan tanah yang lembab. Orang itu berkata: Anjing ini telah menderita haus seperti yang aku alami. Ia turun ke dalam sumur, mengisi sepatunya dengan air, lalu menangkapnya di mulutnya hingga ia naik dan memberi minum anjing itu. Maka Allah menghargai perbuatannya ini dan mengampuninya. Kemudian (para Sahabat di sekelilingnya) berkata: Wahai Rasulullah, apakah ada pahala bagi kami bahkan untuk (melayani) hewan-hewan seperti ini? Ia berkata: Ya, ada pahala untuk setiap hewan yang hidup.

Menolong binatang saja sudah bernilai ibadah, apalagi menolong orang yang kesusahan.

Karena itulah Rasulullah mengatakan, “Khairunnas anfa uhum linnas. Manusia yang paling baik itu ialah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.”

Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba melakukan kebajikan dalam hidup kita. Kebajikan itu bukanlah hanya shalat, puasa, haji, dan ibadah formal lainnya, tapi apa saja perbuatan baik yang kita lakukan, akan bernilai sedekah di hadapan Allah.

Seorang pegawai yang kerja di kantor tapi dipasangkan niat yang benar untuk memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat, untuk mencari nafkah yang halal, membiayai sekolah anak, menghidupi rumah tangga, itu sudah bernilai sedekah.

Seorang petani yang berangkat kerja untuk mencari penghidupan yang halal, juga sudah bernilai sedekah. Kita tak bisa bayangkan seandainya tak ada lagi petani yang mau menanam padi, tak ada lagi peladang yang menanam berbagai kebutuhan pokok, bagaimana mungkin manusia bisa memenuhi kebutuhan pokonya? Jadi, semua pekerjaan itu merupakan sesuatu bernilai manfaat bagi kehidupan manusia. Dan ia bernilai ibadah jika dipasangkan niat untuk mencari ridha Allah.

Jadi, bekerja di kantor itu menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat—hidup yang sejati itu. 

Kita mencari makan, berdagang, misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:

"Makanlah segala yang baik rezeki yang Kami berikan kepada kamu…" (Q.s. Al-Baqarah, ayat 172)

Karena ada perintah Allah "makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat. 

Atau seperti menjadi pedagang: apa kata Rasulullah? "Seorang pedagang yang jujur dan amanah akan dibangkitkan bersama para nabi, para shiddiqin, serta para syuhada (orang-orang yang mati syahid)." [HR. At-Tirmidzi 1209, Shahih At-Targhib]

Jujur! Ucapan yang mudah betul, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan kita pada akhirat kelak. 

Atau yang lain-lain. Dalam al Qur'an banyak perintah:

- Makanlah buah-buahan itu. Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah Allah itu. 

- Berjalanlah di muka bumi. Injak bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu. 

Jadi, segala amalan kita di dunia ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat. 

Bukan "ah saya tidak mau lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja.” Bukan saleh namanya. 

Jadi, itulah maksud perkataan Rasulullah:

"Addun-ya mazra'atul akhirah."

Dunia itu suatu "mazra'ah"—suatu kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat. 

Sebagai uraian penutup, khatib menyampaikan, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dan berhijrahlah.

Tentang hijrah, ada cerita menarik dari KH Zainuddin MZ:

Di kaki Gunung Galunggung, ada seorang kiyai, namanya Kiyai Syadili. Ketika Galunggung mau meletus, orang menyarakan beliau pindah tempat tinggal. Tapi beliau tidak ikut pindah.

Ditanyalah Kiyai Sadili ini.

“Pak Kyai apa gak kepengen hijrah?”

“Hijrah?”

“Ya.”

“Lah, saya malah menganjurkan hijrah,” katanya. “Tapi hijrah yang saya anjurkan: pindah dari maksiat kepada tobat. Pindah dari malas ibadah menjadi rajin ibadah. Pindah dari menentang Allah menjadi taat kepada Allah. Pindah dari jauh dengan Allah menjadi dekat dengan Allah. Hanya dengan hijrah seperti ini insyaallah Galunggung reda.”

“Ya, maksudnya pindah tempat tinggal, Kiyai. Ini kalau lahar jatuh, bahaya.”

Lalu beliau membacakan sebuah ayat: “Tidak ada orang akan mati kecuali dengan izin Allah.”

Akhirnya Galunggung benar-benar meletus. Tapi beliau selamat. Lahar yang jatuh itu tidak masuk ke rumah belaiu.

Dari cerita ini, jadi inspirasi bagi kita bahwa kita mesti hijrah. Terutama hijrah spiritual. Yakni hijrah dari yang buruk pada yang baik. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar