Gemar membaca dan suka ngoleksi buku sejak kelas 3 MTs. Hingga hari ini sudah terkumpul kira-kira 10.000 judul buku. Tapi gak punya tujuan yang konkrit dan jelas. Bisa dibilang disorientasi. Membaca dan membeli buku tidak terarah akhirnya hampir semua disiplin ilmu dan pengetahuan ada. Yang ada di pikiranku yang penting senang dan bahagia. Judul buku apapun asal aku suka dan sesuai dengan minatku aku beli saja. Dengan koleksi yang cukup lumayan besar itu, akhirnya tanpa sengaja buku-buku yang aku koleksi sejak 29 tahun yang lalu sekarang sudah berbentuk perpustakaan pribadi. Saya kasik nama perpustakaan "Rumah Peradaban Al Asnawiyah Ibnu Ahmadun". Ini sebenarnya nama-nama ayah dan kakekku. Aku sengaja menggunakan nama mereka sebagai bentuk kecintaan saya pada mereka dan agar anak-anakku kenal pada leluhurnya.
Saya terkadang merasa apa yang sudah saya lakukan ini sangat berlebih-lebihan dan tidak semestinya. Rasa bersalah sering kali mondar mandir dikepalaku. Menghabiskan uang puluhan atau mungkin ratusan juta rupiah hasil kerja kerasku untuk menumpuk buku. Memangnya untuk apa mengoleksi buku sebanyak itu?. Apa yang akan kau dapatkan dari semua itu?. Terkadang saya sempat goyah. Aku berniat tidak akan lagi membeli buku. Apalagi kalau ingat aku membangun perpustakaan ini bukan hanya dengan keringatku saja dan bahkan dengan air mata istriku. Kenapa tidak! karena aku terkadang mengorbankan belanja dapur keluargaku hanya untuk membeli dan memborong buku-buku. Tapi setiap aku berjanji gak akan lagi beli buku, aku selalu gagal, gagal dan gagal lagi. Rasa kecintaan pada tumpukan buku-buku mengalahkan segalanya. Setiap ada buku-buku baru yang belum aku punya, saya bernafsu memilikinya. Dan tiba-tiba sikap tamak menguasai hatiku. Pikiranku baru terasa tenang, dan hatiku riang ketika aku sudah memilikinya. Saya gak pernah berpikir apakah kondisi psikis seperti ini adalah gangguan kesehatan jiwa atau kegilaan dalam bentuk lainnya. Aku tidak perduli. Aku hanya teringat ungkapan bung Hatta "Aku rela dipenjara asal bersama buku, karena dengan buku aku merasa bebas".
Hidup dalam kelimpahan buku-buku dan literatur tidak bisa menjadikan aku sebagai siapa-siapa. Setan sangat sering menggodaku. “Kenapa dirimu tidak bisa seperti mereka yang sering kau lihat di media sosial. Mereka yang fasih berbicara ini dan itu dengan keahlian dan profesionalisme yang mumpuni. Lalu apa yang bisa kau harapkan dengan memplototi untaian teks-teks yang berbaris rapi itu. Kau hanya dapat mata yang buram karena siang malam mengeja huruf, kalimat dan paragraf perparagraf buku. Pantatmu kempes dan tipis karena berlama-lama duduk mengangkangi buku-buku, dan bahkan harta kekayaanmu hampir saja habis dan ludes karena kau menukarkan nya dengan paket-paket buku". Begitulah setan tak henti-hentinya membisiki telinga dan memprovokasi pikiran yang bersemayam dibatok kepalaku. Saya tidak diam untuk melawannya. saya terus melawan, walaupun saya lebih sering kalah daripada menangnya.
Saya merenung kenapa tidak bisa seperti mereka?. Ya mungkin karena saya tidak perna belajar serius dan formal seperti mereka. Berbeda dengan mereka yang memang belajar dan membaca untuk meraih prestasi dan kompetensi dibidang masing-masing. Saya lihat diantara mereka ada yang mendapat berkah prestise sosial akademik bahkan keuntungan material yang membanggakan. Sedangkan aku membaca sangat tidak serius dan hanya untuk senang-senang saja. Jujur saja yang saya rasakan adalah banyak membaca justru saya semakin tidak tau apa-apa. Mungkin ini akibat metode belajar yang salah. Saya tidak memiliki keahlian dan keterampilan tertentu karena metode membaca yang tidak teratur, terarah dan tidak sistematis. Disini saya membuktikan kebenaran sebuah adagium bahwa “belajar cara belajar itu lebih penting ketimbang belajar itu sendiri. Belajar secara serampangan, tidak teratur dan terencana memang tidak efektif untuk mendapatkan kompetensi dalam sebuah proses pembelajaran. Tetapi paradox nya adalah justru dengan cara belajar seperti inilah saya mendapatkan kepuasan batin, keriangan jiwa dan pencerahan intelektual. Saya merasa hidup terasa lebih otentik dan menikmatan kebebasan yang luar biasa saat saya dengan bebas membaca apa saja buku-buku yang ada dihadapku. Terkadang 30 menit pertama saya membaca buku fiqih, 30 menit kemudian membaca sejarah, 30 menit lagi membawa buku politik, dan 30 menit selanjutnya membaca buku-buku spiritual. Begitu yang saya dilakukan setiap hari. Sastra, tasawuf, ekonomi, sains, kadang kitab hadis, tafsir kemudian balik lagi baca filsafat, studi Islam dan lain sebagainya.
Bacaan acak dan tidak beraturan seperti itu, ringan saja saya lakukan karena memang saya tidak dituntut oleh keadaan, dimana saya tertuntut dan harus membaca dan mendalami buku atau disiplin ilmu tertentu. Saya bukan dosen, bukan peneliti, bukan seorang da'i atau penceramah sehingga tidak tertuntut untuk membaca atau mendalami satu buku atau disiplin ilmu tertentu. Beberapa kawan yang berkunjung ke perpustakanku dengan nada penuh ragu sering bertanya kepadaku, “Apakah buku sebanyak ini sudah anda baca tuntas seluruhnya”. “Memang apa kepentingaku harus membaca seluruhnya atau memahami isi buku seutuhnya, wong saya bukan siapa-siapa”. Sambil cengingiran begitu saya menjawabnya. Teruss, gimana??. Lha saya hanya senang saja mengoleksi dan membacanya. tidak lebih dari itu. Dalam kesendirian saya terkadang juga tergoda berpikir. Untuk apa aku banyak tahu hal dari membaca buku ini dan itu jika tidak bermanfaat untuk lingkungan dan sesama. Apalagi ketika pikiranku sudah penuh dengan gagasan dan ide, rasanya mau ledak saja. Ibarat tekanan air yang terus bertamba tanpa lobang-lobang dimana air bisa mengalir. Di titik ini saya merasa berada dititik nadzir, dimana makna eksistesial hidup menjadi buram. Saya merasa hidup didunia lain. Ibarat ikan yang terlempar didaratan. Ia sesak bernafas dan berlahan lemas dan diam. Di tengah kegelapan malam saya terkadang berprasangka yang tidak-tidak. Saya lihat disekitar kita hidup terkadang tidak adil dan paradoks. Saya lihat ada orang yang matanya belum perna kabur, wajahnya lesuh dan layu karena kelelahan membaca. Pantatnya belum tipis karena kelamaan duduk dan bahkan hartanya belum perna digunakan untuk membeli bertruk-truk buku, tapi Tuhan jadikan mereka tumpuan, rujukan dan tempat umat belajar. Dan pada akhirnya umat tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya doktrinasi dan pembodohan atas nama agama. Sedangkan pada sisi lain, meraka yang bertungkus-lumus dengan ilmu dan pengetahuan, yang mewakafkan diri dan hartanya untuk ilmu tidak menjadi tumpuan umat belajar dan terbuang murah dimata masyarakat.
Ingin sekali saya protes keutamaan-keutamaan ilmu yang sering didawuhkan oleh para ahli ilmu, itu semua hanyalah ilusi yang menina-bobohkan para santri untuk menuntut ilmu. Faktanya ahli ilmu itu tidak ada apa-apanya dalam realitas kehidupan sosial. Keagungan ilmu tenggelam dibawah glamornya gelar-gelar dan status sosial di masyarakat. Hanya status akademik dan sosial yang memiliki privilege di tengah masyarakat yang cenderung feodal dan aristokratik. Lama sekali saya tersandra dengan pemahaman dan asumsi seperti ini. Pada akhirnya saya harus beranjak. Mindset yang benar dan positif harus saya tanamkan dalam diri. Ilmu adalah jauhar cahaya. Ia terus bersinar menerangi. Dengan sifat ini Tuhan menciptakan dan mengatur semesta raya. Sesedikit apapun sebuah ilmu yang kau miliki, hal itu lebih mulya dan agung ketimbang segunung amal dan ibadahmu. Karena ilmu adalah sifat Tuhanmu, sedangkan amal dan ibadah adalah sifat para hamba sepertimu. Dalam paradoks kehidupan diatas Tuhan seakan-akan berbicara kepadaku “Bukan ilmu dan pengetahuan dalam genggamanmu yang dapat memberikan kemulyaan dan keutamaan pada dirimu. Bukan pula kebodohan dan kejahilan yang membuat dirimu hina dan rendah. Tetapi Akulah yang memberi kemulian dan kehinaan kepada siapapun yang aku kehendaki”. Aku berangsur-angsur insaf bahwa Tuhan dapat menghinakan orang yang berilmu sekalipun dan sebaliknya mengangkat derajat orang jahil sekalipun.
Menghabiskan banyak waktu dengan berkutat dengan teks-teks rumit yang memusingkan kepala dan mengangkangi tumpukan buku berjibun berdebu, akan terasa hampa jika aku terus berhasrat pada kepuasaan dan kebanggaan sosial dan material. Di fase inilah aku perlu nilai-nilai spiritualitas. dengan menginsafi bahwa mengeja kalimat demi kalimat adalah lelaku batin seseorang kepada Tuhannya. Terus membaca ilmu sampai diri ini menjadi ilmu itu sendiri dan bahkan jumbuh dengan pemilik ilmu sendiri yakni Tuhan. Sedangkan prestise sosial seperti kebutuhan pada predikat ahli ilmu, aktivis literasi, pinter, wawasan luas, perpustakaan berjalan seperti yang sering kawan-kawan sematkan kepadaku adalah penjara yang mensandra pikiran dan jiwa. Semua predikat itu semua adalah ilusi, fantasi, fatamorgana dan menipu yang hanya akan membangun penjara gelap dalam jiwa dan membakar pencerahan-pencerahan iluminatif yang kita peroleh dari pergulatan teks.
Pada akhirnya saya merasakan setiap hari saya hanya melakukan "Masturbasi intelektual". 😁
Motivasi saya gemar membaca mungkin hanya ini فتح عام وسلوك تام
Sumber: Fb

0 komentar:
Posting Komentar