alt/text gambar

Minggu, 26 Juli 2026

Topik Pilihan: ,

DOKTOR SUKIDI Cendekiawan (50 tahun) Speaks up


Presiden sekali pun harus miliki fondasi pertumbuhan  intelektualitas yang matang baik dan benar (agar tidak ngawur dalam mengambil kebijakan dan pilihan² program seperti misal MBG, Red).


Bisa saja buku yang dibaca relatif banyak, itu penting, tetapi membaca buku saja tidak cukup untuk membangun intelektualitas yang matang. 


Pengetahuan dari buku perlu ditopang oleh fondasi berpikir: kemampuan bernalar, intelektual dalam menganalisis, membandingkan berbagai sudut pandang, menguji bukti, dan menarik kesimpulan secara kritis. 


Tanpa fondasi itu, seorang hanya mengumpulkan informasi, bukan membangun kebijaksanaan.


Fondasi tersebut umumnya dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas --dan proses belajar mandiri (self-study) yang berlangsung seumur hidup, Red. Masalah terbesar, utama penting kita adalah aspek pendidikan. Pendidikan melatih disiplin berpikir, metodologi ilmiah, logika, dan etika intelektual.


Sementara self-study memperluas wawasan, memperdalam minat, serta membiasakan seseorang untuk terus belajar melampaui ruang kelas, Red.


Intelektualitas sejati lahir ketika membaca, pendidikan formal, pengalaman hidup, dialog dengan orang lain, dan refleksi diri saling melengkapi. 


Orang yang benar² intelektual bukan hanya mengetahui banyak hal, tetapi juga mampu berpikir jernih, rendah hati terhadap fakta, bersedia merevisi pandangannya ketika bukti baru muncul, dan menggunakan pengetahuannya untuk mencari kebenaran serta memberi manfaat bagi masyarakat.


Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang membaca buku pun tidak, lalu hanya mengandalkan apa yang disebut "ilmu di luar buku" yang semata-mata bertumpu pada pengalaman lapangan.


Tanpa literasi yang memadai, tanpa fondasi berpikir yang kuat, tanpa kemampuan bernalar secara kritis, serta tanpa integritas, karakter, etika, adab, dan moral yang kokoh, sebuah bangsa akan kesulitan membangun peradaban yang maju. Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman yang tidak diuji oleh pengetahuan dan refleksi dapat melahirkan keputusan yang dangkal, bias, atau keliru.


Akibatnya, ruang publik mudah dipenuhi pencitraan yang mengalahkan substansi, kebijakan yang tidak berbasis bukti, budaya anti-intelektual, serta lemahnya akuntabilitas. Dalam situasi seperti itu, korupsi, pencucian uang, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan lebih mudah berkembang karena nilai-nilai integritas tidak menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.


Pada akhirnya, negara akan semakin tertinggal di bidang sektor human capital, ketinggalan dalam penguasaan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), riset dan inovasi, teknologi, produktivitas ekonomi, daya saing investasi, kualitas budaya, serta pembangunan sumber daya manusia. SDM hanya dipenuhi tenaga kerja "unskilled labors" "tidak kompetitif" didominasi lulusan SMP SMA di "pasar" lapangan kerja.


Bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan pengalaman praktis, tetapi juga membutuhkan tradisi intelektual yang kuat, pendidikan yang bermutu, literasi yang tinggi, kemampuan bahasa (khususnya bahasa Inggris) serta kepemimpinan yang berkarakter dan berintegritas. Hal ini berkorelasi langsung dengan kecerdasan serta kemakmuran rakyat bangsa negara.


---


Profil Doktor Sukidi, Ph.D Harvard.


Nama Lengkap: Dr. Sukidi Mulyadi

Kelahiran Sragen Jawa Tengah 2 Agustus 1976. Usia 50.

Profesi: Cendekiawan, filsuf, penulis, dosen, dan kolumnis Indonesia.

Kewarganegaraan: Indonesia

Bidang: Filsafat, agama, politik, demokrasi, etika publik, dan pemikiran Islam.


Riwayat Pendidikan

S1: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (Fakultas Ushuluddin/Filsafat dan Pemikiran Islam).

S2: Harvard University – Master of Arts (MA).

S3: Harvard University – Doktor (Ph.D.) dalam bidang yang beririsan dengan agama, etika, dan pemikiran politik, pemikiran Islam, kebhinekaan, demokrasi, dan HAM.


Riwayat Pekerjaan

Dosen dan peneliti.

Penulis buku dan artikel ilmiah.

Kolumnis di berbagai media nasional.

Pembicara pada seminar nasional maupun internasional mengenai demokrasi, pluralisme, etika, dan kepemimpinan.


Karier Organisasi

Aktif di berbagai forum akademik dan intelektual.

Pernah terlibat dalam jaringan intelektual muda Jaringan Islam Liberal.

Menjadi anggota berbagai asosiasi akademik selama studi dan kariernya di Amerika.


Bidang Kepakaran

Filsafat politik

Etika publik

Demokrasi

Agama dan kehidupan publik

Kepemimpinan

Pemikiran Islam kontemporer


Karya.

Dr. Sukidi telah menulis sejumlah buku dan ratusan artikel yang membahas filsafat, demokrasi, agama, dan isu-isu kebangsaan. Ia juga kerap menjadi narasumber di berbagai forum diskusi publik mengenai masa depan demokrasi dan kepemimpinan Indonesia.


https://www.facebook.com/hans.m.simanjuntak/subscribe/

0 komentar:

Posting Komentar