![]() |
| (Kompas, 5 Juli 2001) |
Kebebasan mempunyai harga dan harga yang harus dibayar oleh perempuan untuk kemerdekaannya adalah ketenangan hidupnya, kedamaian, kesehatannya, bahkan kebahagiaan dan masa depannya. Namun, harga yang sangat tinggi itu pun sering kali tidak cukup. (Nawal el-Saadawi dalam The Hidden Face of Eve)
KONTROVERSI mengenai Nawal el-Saadawi (70) kembali muncul ke permukaan ketika sidang awal untuk dirinya diumumkan akan kembali di gelar di Cairo, Mesir, tanggal 9 Juli mendatang. Seperti dikutip dari kantor berita Associated Press (AP), kali ini kasus yang dituduhkan kepada Saadawi oleh ahli hukum Nabih el-Wahsh adalah penghinaan terhadap agama Islam dalam suatu wawancara yang dimuat pada mingguan Al-Midan pada bulan Maret lalu.
Tuduhan ini dimungkinkan setelah Saadawi dinyatakan sebagai orang yang mengingkari agamanya (murtad) sehingga dipaksa untuk bercerai dengan suaminya, novelis dan penganjur HAM, Dr Sharif Hatatah. Pernikahan Saadawi dengan Hatatah merupakan pernikahan ketiga setelah kegagalan dua pernikahannya terdahulu. Mereka telah menikah selama 37 tahun.
Pengadilan terhadap Saadawi dengan tuduhan simultan yang dilakukan ahli hukum Nabih el-Wahsh ini segera mengingatkan kepada kasus pengadilan yang menuntut perceraian pasangan ini pada tahun 1995, tetapi kemudian dibatalkan oleh pengadilan banding.
Tampaknya pendiri Himpunan Solidaritas Perempuan Arab (AWSA) ini bergeming terhadap tuduhan apa pun yang ditimpakan pada dirinya, meski ia bukan tidak tahu akibatnya. Saadawi bersama ratusan cendekiawan Mesir lainnya pernah dipenjara atas tuduhan kejahatan terhadap negara ketika artikelnya di Al Shaab, surat kabar Partai Buruh, menyengat kemarahan Presiden Anwar Sadat pada tahun 1981. Di penjara itu ia terus menulis meskipun hanya ada kertas toilet dan kertas pembungkus rokok.
Namun setelah bebas, pemikir, penulis dan feminis Mesir ini bukan hanya tetap tidak mau menghindari isu-isu kontroversial, seperti soal seks, politik, dan agama, tetapi bahkan berpartisipasi dalam "pertempuran" pendapat mengenai hal itu dengan penuh antusias sampai-sampai rumahnya mendapat penjagaan ketat dari pemerintah pada tahun 1987-1989 untuk melindungi Saadawi dari kemungkinan kemarahan kalangan konservatif religius.
Ancaman serupa juga membuat Saadawi untuk beberapa lama tinggal dan mengajar di beberapa universitas di AS. Pandangan-pandangan dan pemikirannya membuat Saadawi kehilangan jabatannya sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat pada Departemen Kesehatan Mesir.
"Agama digunakan untuk menghentikanku menulis. Mereka ingin membungkamku atau mengasingkan aku," ujar Saadawi, menegaskan ia tidak akan menyerah.
Kalau pengadilan memaksa mereka bercerai?
"Kami akan pulang ke rumah. Sharif dan aku. Apa yang akan mereka lakukan? Menggunakan pasukan untuk memisahkan kami? Mereka tidak bisa memisahkan kami dan aku akan tetap tinggal di Mesir. Aku tidak akan pergi.”
Bagaimana dengan ancaman pembunuhan?
"Kami sudah bosan dengan semua (ancaman) itu," tegasnya.
Pernyataan Saadawi bukan tidak mengandung bahaya. Para ahli agama menyatakan, seorang Muslim yang dinyatakan murtad terancam hukuman mati; sementara hukum Mesir yang merupakan campuran hukum sekular dan hukum Islam tidak jelas sikapnya dalam masalah ini.
Nasr Abu Zeid, seorang profesor ahli sastra Arab juga mengalami tuduhan serupa seperti yang dituduhkan kepada Saadawi. Ia harus bercerai dari istrinya dan diancam hukuman mati pada tahun 1996. Pasangan itu melarikan diri ke Belanda dan tidak kembali.
***
KONFLIK antara Saadawi dengan otoritas-otoritas negara dan kalangan konservatif berlangsung sepanjang kariernya sebagai penulis. Dokter ahli bedah yang menguasai Ilmu Jiwa ini menyodok para pemuka agama dengan pendapat dan kebebasannya berpikir yang diekspresikan melalui tulisan yang dihasilkan secara intensif sejak 40 tahun lalu. Kekritisannya pada persoalan ketidakadilan membuat penguasa dan pendukung status-quo seperti duduk di atas bara.
Puluhan bukunya menohok tepat di jantung kaum patriarkh karena mempersoalkan nilai-nilai yang menindas kaum perempuan lebih banyak diterbitkan dalam berbagai bahasa asing. Pemerintah Mesir melarang penerbitan buku-bukunya karena dianggap berbahaya bagi masyarakat.
Saadawi mengungkapkan sebagian Dalam Memoir of Woman Doctor, pengalaman hidupnya, termasuk kegagalan perkawinannya. Dalam Woman at Point Zero ia mengisahkan nasib seorang pelacur dengan penuh empati; dalam God Dies at the Nile ia mengisahkan kekerasan seksual yang dilakukan laki-laki kaya terhadap perempuan petani miskin. Dalam Death of an ex-Minister ia berkisah tentang pemerintahan yang amburadul di suatu negara, namun sebenarnya menyiratkan situasi di negerinya sendiri.
Esai sosiologinya mengenai perempuan Arab dalam The Hidden Face of Eve (1980)‒di dalamnya terdapat masalah-masalah peka menyangkut praktik-praktik budaya seperti pemutungan alat kelamin perempuan, pelacuran, perbudakan, dan penindasan yang dialami para perempuan di desa-desa di seluruh wilayah Mesir‒bahkan tidak bisa ditemukan dalam edisi bahasa Arabnya di Mesir, negerinya sendiri.
Buku nonfiksinya Woman and Sex (1972) merupakan "tiket" yang membawanya masuk daftar hitam penguasa dan kelompok garis keras. Namun, ia juga menghadapi kritik dari ilmuwan lain seperti Georges Tarabishi dalam bukunya Woman Against her Sex: A Critique of Nawal el Saadawi (1980) yang kemudian dijawabnya dalam buku yang sama.
Dalam Daughter of Isis, Saadawi memakai Isis, Dewi Kesuburan, istri penguasa Mesir Kuno, Pharaoh Orisis sebagai metaphor perjuangan perempuan. Di situ ia menuliskan sejarah hidupnya secara rinci, termasuk pemutungan alat kelaminnya saat berusia enam tahun; yang membuat jiwanya. terguncang sampai waktu lama.
***
MESKI tulisan-tulisannya cukup jelas menyatakan standpoint-nya, namun banyak pihak sering keliru menginterpretasikan "kemerdekaan" yang dilontarkan Saadawi. Bahkan banyak perempuan menolak Saadawi karena menganggap ia menganjurkan seks bebas.
Padahal pijakan Saadawi tidak terlalu jauh dari akarnya. Ia mengaku hanya mengikuti apa yang telah dirintis para pendahulunya, seperti Sheikh Mohammed Abdou, Abdallah Nadeem pada para penulis pada awal tahun 1900-an, seperti Kassim Ameen, Malak Hefni Nassef, dan May Ziada.
Saadawi sendiri sebenarnya tidak selalu sejalan dengan pemikiran feminis Barat. Ketidakhadirannya pada Konferensi Perempuan IV di Beijing tahun 1995 merupakan sikap protesnya karena konferensi itu menurut dia dikuasai agenda feminis Barat. Seluruh karya Saadawi membangunkan para aktivis negara berkembang bahwa kapitalisme bisa "berkawin" nilai-nilai setempat untuk merantai perempuan.
Saadawi, yang oleh banyak pihak juga disebut sebagai humanis menyatakan dirinya tetap seorang Muslim; yang mempercayai dengan segenap jiwanya bahwa Islam adalah agama yang membebaskan. (Maria Hartiningsih)
Sumber: Kompas, 5 Juli 2001
Dari Fb Herry Anggoro Djatmiko
(https://www.facebook.com/share/p/18kyF1ZjFL/)


0 komentar:
Posting Komentar