![]() |
| Patung untuk menghormati filsuf Immanuel Kant di Königsberg (sekarang Kaliningrad, Rusia). Dipahat oleh pematung Christian Daniel Rauch. Diresmikan pada 1864. |
Oleh: Fitzerald Kennedy Sitorus
Semboyan Pencerahan (Enlightenment, Aufklärung) yang biasa kita kenal dari Immanuel Kant berbunyi: „Sapere aude! Habe Mut, dich deines eigenen Verstandes zu bedienen!“ Sapere aude. Beranilah menggunakan pikiranmu sendiri."
Kant menuliskan kalimat ini dalam tulisan pendeknya yang terkenal, “Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung“ - „Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?“ dalam jurnal Berlinische Monatsschrift 1784.
Frase sapere aude sendiri berasal dari penyair Romawi terkenal, Horace, yang dalam salah satu syairnya mengatakan: „Sapere aude; Incipe!“ Artinya: „Beranilah untuk tahu; sekarang.“
Dalam perdebatan panjang mengenai Pencerahan di Jerman tahun 1700-an, frase tersebut diterjemahkan dan ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda. Penyair Friedrich Schiller misalnya menerjemahkannya, demikian: Erkühne dich, weise zu sein, - „Beranilah untuk menjadi bijaksana“.
Tetapi terjemahan Kant-lah yang kemudian paling terkenal dan diterima sebagai semboyan Pencerahan.
Melalui semboyan ini, Kant menuntut agar orang berani berpikir sendiri, tidak begitu saja tunduk menerima pendapat otoritas lain, siapa pun itu. Berani berpikir sendiri, menimbang secara kritis setiap pendapat yang diterimanya, sebelum mengambil sikap terhadap pendapat itu, adalah tanda kedewasaan. Itulah otonomi.
Kalau orang belum berani berpikir sendiri, belum berani menimbang secara kritis pendapat orang lain, atau kalau lebih senang mengikuti pendapat otoritas lain, entah itu otoritas agama, tradisi, politik, dan lain-lain, itulah tanda kebelum-dewasaan, atau kekanak-kanakan.
Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Kant juga memiliki definisi lain mengenai Pencerahan. Bahkan definisi inilah yang paling tepat untuk zaman kita sekarang.
Dua tahun setelah menerbitkan tulisan berjudul „Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?“, Kant menerbitkan tulisan lain yang berjudul: Was heisst: Sich im Denken Orientieren? – „Apa artinya mengorientasikan diri dalam pemikiran?“
Dalam tulisan ini ia memberikan pengertian yang lebih jelas dan konkret mengenai Pencerahan sebagai tindakan „berpikir sendiri“ (Selbstdenken). Apa artinya berpikir sendiri?
Ia menulis: „Selbstdenken heisst den obersten Probierstein der Wahrheit in sich selbst (d. i. in seiner eigenen Vernunft) suchen; und die Maxime, jederzeit selbst zu denken, ist die Aufklärung,“; „Berpikir sendiri artinya mencari batu uji kebenaran tertinggi dalam diri sendiri, yakni dalam akal budi sendiri. Dan maksim, setiap saat berpikir sendiri, itulah Pencerahan.“
Ini sama dengan otonomi yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan otonomi, maka kebenaran tidak ditemukan dan tidak diuji berdasarkan pendapat atau diktat pihak-pihak lain, melainkan hanya berdasarkan akal budi atau pikiran diri sendiri. Manusia yang telah tercerahkan mampu memutuskan sendiri apa yang menurutnya benar, sesuai dengan akal budinya sendiri. Itulah kedewasaan.
Namun, yang menarik adalah uraian Kant selanjutnya dalam tulisan singkatnya di atas. Ia mengingatkan bahwa memiliki banyak informasi tidak identik dengan kondisi tercerahkan. Tidak jarang orang beranggapan bahwa pencerahan identik dengan perolehan informasi yang banyak.
Padahal, katanya, justru sering terjadi, ketika banyak informasi tersedia, orang tidak lagi menggunakan pikirannya. „Orang yang paling kaya dalam informasi adalah yang sering paling tidak tercerahkan dalam penggunaan informasi tersebut,” tulis Kant.
Kelimpahan informasi itu justru sering melumpuhkan kemampuan dan keberanian kita berpikir. Kita nyaris tidak memiliki kesempatan dan kemampuan lagi menarik jarak dari banjir informasi itu. Pada titik inilah peringatan Kant menjadi sangat penting: sapere aude.
Kita harus mampu dan berani mengambil jarak dari gempuran informasi itu, lalu secara kritis dan rasional memikirkannya, mengujinya dengan pikiran kita sendiri, agar dapat mengambil sikap yang tepat dan rasional atasnya.
Tatkala informasi, opini, gossip, hoax dan berbagai komoditi informasi lainnya begitu mudah memborbardir kita setiap saat, di situlah kemampuan dan keberanian berpikir sendiri, sapere aude, menjadi sangat diperlukan.
Ternyata apa yang dikatakan Kant 300 tahun yang lampau justru sangat relevan untuk kita hari ini.
Sumber: Fb Fitzerald Kennedy Sitorus


0 komentar:
Posting Komentar