Kini kita akan membahas kebenaran dalam tataran yang lebih kasat mata, yaitu moralitas. Nietzsche melihat moralitas sebagai tanda dekadensi, suatu sikap ketidakpercayaan-atas-hidup. Dalam bab Origin of Moral Valuations pada buku The Will to Power, Nietzsche menggambarkan moralitas senada dengan penjelasannya atas kebenaran: “Yang saya maksud dengan 'moralitas' adalah suatu sistem evaluasi yang sebagian sejalan dengan kondisi kehidupan suatu makhluk.” Moralitas adalah bentuk nyata dari klaim kebenaran di dalam masyarakat. Bagi Nietzsche, fenomena moral tak pernah ada, yang ada hanyalah interpretasi moral atas fenomena itu. Perbuatan seperti membantu orang tua, hidup sederhana, rendah hati, bukanlah perbuatan moral. Perbuatan semacam itu hanya kita tafsirkan secara moral. Sedangkan interpretasi itu berasal dari sesuatu yang bersifat extra-moral. Apa itu ekstra-moral? Untuk memahami ini, terdapat sebuah aforisme Nietzsche yang menarik:
Dahulu ada yang mengatakan tentang setiap moralitas: “Dari buahnya kamu akan mengetahuinya.” Saya katakan tentang setiap moralitas: “Ini adalah buah yang dengannya saya mengenali tanah dari mana ia tumbuh.”
Dalam aforisme itu, Nietzsche sebenarnya berbicara tentang fenomena extra-moral. Orang pada umumnya melihat moralitas dari buah yang dihasilkan moralitas itu (misalnya perbuatan etis). Namun Nietzsche melihat sebaliknya: moralitas merupakan buah yang kita bisa menyadari dari tanah macam manakah buah itu muncul. Bisa kita duga, “tanah” (soil) yang dimaksud oleh Nietzsche adalah masyarakat. Di sinilah kita dapat melihat analisis—dan juga kritik tajam—Nietzsche atas masyarakat Kristiani-Eropa.
Masyarakat Eropa yang Kristiani, bagi Nietzsche, telah menjadi masyarakat yang dekaden. “Apa yang ditolak oleh Kristus? Semua yang kini disebut Kristiani.” Dekadensi yang meresapi peradaban Eropa disebabkan oleh “paradigma berpikir Platonis”. Paradigma ini membuat manusia Eropa menghasrati pembebasan setelah kematian, semacam ranah Idea Plato, dan dengan itu menampik kehidupan itu sendiri. Maka itu, Nietzsche menyebut agama Kristiani sebagai “la religion de la souffrance humaine” (agama penderitaan manusia).” Agama Kristiani mengajarkan manusia untuk menegasi dirinya sendiri, menyangkal eksistensinya di dunia, meredam gejolak manusiawinya. Semua itu dilakukan demi imbalan surga yang abadi dan final. Kritik Nietzsche atas Kristianitas cukup keras:
"Sejak awal, iman Kristiani adalah sebuah pengorbanan: sebuah pengorbanan dari seluruh kebebasan, semua kesombongan, semua kepercayaan diri dari roh: pada saat yang sama, perbudakan dan ejekan terhadap diri sendiri, mutilasi diri."
Bagi Nietzsche, moralitas Kristiani adalah “moralitas budak”. Moralitas ini adalah moralitas milik para budak: kesetiakawanan, saling mengasihi, menyangkal diri demi komunitas, semua itu merupakan ciri khas moralitas budak. Moralitas ini disebut pula “moralitas kawanan”. Moralitas semacam ini membuat orang-orang hanya berani hidup dalam kerumunan, dalam kebersamaan yang dangkal, dalam anonimitas yang aman. Nietzsche sendiri menulis, “Masuk ke kehidupan nyata—seseorang menyelamatkan kehidupan pribadinya dari kematian dengan menjalani kehidupan biasa.” Bagi Nietzsche, tak ada jalan lain, moralitas semacam itu harus dihancur-leburkan. Moralitas itu bertanggung jawab atas dekadensi masyarakat Eropa yang semakin takut untuk berpikir, yang hanya berani hidup dalam kerumunan. “Seluruh moralitas penyangkalan diri harus dipertanyakan tanpa ampun dan dibawa ke pengadilan [...] Ada terlalu banyak pesona dan gula dalam perasaan 'untuk orang lain', 'bukan untuk diri saya sendiri'.” Oleh karena itu, dalam suatu adegan singkat di tepi sungai, Zarathustra bersabda:
Wahai saudara-saudaraku, bukankah segala sesuatunya sedang berubah-ubah saat ini? Bukankah semua pagar dan gang terjatuh ke air? Siapa yang masih berpegang pada "kebaikan" dan "jahat"?
Sekarang kita akan beralih menuju pandangan Nietzsche mengenai ateisme. Baginya, seperti ia tulis dalam The Antichrist (Der Antichrist), kepercayaan akan Tuhan tak hanya merupakan suatu kesalahan namun juga suatu “pengkhianatan atas hidup”. Kita menganggap Tuhan memang sungguh ada, namun kita tak sadar bahwa kita, nun dahulu kala, telah menciptakan-“Nya” dari ketidaktahuan kita. Begitulah kira-kira yang dimaksud oleh Nietzsche ketika ia menulis dalam Beyond Good and Evil: “circulus vitiosus deus”. “Lingkaran setanlah yang menciptakan Tuhan”. Tampaknya term “lingkaran setan” (vicious circle) di sini dapat diartikan sebagai “lingkaran setan logika”, yaitu hubungan antarkonsep yang jalin-jemalin sehingga membentuk lingkaran penuh yang tanpa jalan keluar, circulus in definiendo. Contoh yang jelas adalah pertanyaan ini: “Manakah yang lebih dulu ada, telur atau ayam?” Pertanyaan semacam itu hanya akan bergerak melingkar-lingkar saja tanpa jalan keluar, kecuali jika kita menghadirkan semacam deus ex machina sebagai entitas ketiga yang melampaui keduanya. Dan persis di sinilah, Tuhan dihadirkan. Maka Tuhan tercipta justru dari lingkaran setan, dari ketidaktahuan kita. Selain itu, Tuhan membuat manusia menyangkal dirinya, sebagaimana Nietzsche menulis dalam Ecce Homo: “Apa yang menjadi penolakan terbesar terhadap keberadaan sejauh ini? Tuhan.“ Penerimaan akan adanya Tuhan dan moralitas Kristiani sebetulnya hanya merupakan kedok ketakutan manusia. Hal-hal itu membuat manusia merasa memiliki legitimasi yang sah di atas bumi (sebagai homo imago Dei), yang dalam kenyataannya merupakan makhluk kecil yang tak berarti, sebuah aksiden selintas di tengah gelombang kemenjadian dan arus buas dari jagat raya yang chaotic ini.
In summa: kebenaran adalah nilai yang berguna untuk melestarikan kehidupan manusia. Moralitas, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran sosial, adalah ciptaan manusia, atau lebih persisnya dalam konteks Eropa, adalah ciptaan orang-orang lemah (budak) yang hanya berani hidup dalam kerumunan. Masyarakat Eropa yang diresapi moralitas budak atau kawanan mau tak mau akan segera terjatuh dalam dekadensi. Tuhan, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran spiritual, adalah konsep kosong hasil ciptaan manusia yang lemah, yang lari dari kenyataan hidupnya, yang tak bisa lagi berpikir. Semua ini adalah gejala, tanda-tanda lahirnya suatu zaman yang muram: era nihilisme.
***
Kedatangan nihilisme adalah sesuatu yang niscaya. Nihilisme terlahir dari kesalahan manusia sendiri. Kepercayaan manusia terhadap nilai moral yang mutlak, kepercayaan manusia pada Tuhan dan surga, kepercayaan manusia pada kebenaran yang baku, itu semua membuat manusia tak lagi berefleksi, tak berani berefleksi (no longer reflects, afraid to reflects). Kepercayaan kita pada nilai-nilai seperti itu telah mengantarkan kita pada konsekuensi finalnya: kedatangan nihilisme. Oleh karena itu, Nietzsche menulis pada bab European Nihilism: “Apa yang dimaksud dengan nihilisme? Bahwa nilai-nilai tertinggi mendevaluasi dirinya sendiri. Tujuannya tidak ada, 'Mengapa?' tidak menemukan jawaban.” Kepercayaan manusia pada kebenaran sebagai kebenaran, pada adanya kebenaran absolut, kebenaran pada-dirinya-sendiri, membuat kepercayaan itu sendiri runtuh. Nilai-nilai yang dulunya diyakini benar, kini mendevaluasi dirinya sendiri, hancur dengan sendirinya. Semuanya karena manusia hanya berani hidup dalam kawanan, tanpa bertanya, dan akhirnya, merasa tanpa tujuan, tanpa makna.
***
Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 40-44

0 komentar:
Posting Komentar