alt/text gambar

Rabu, 05 Agustus 2026

Topik Pilihan: ,

Žižek tentang Kebodohan Manusia di Zaman AI

Mengapa Kita Menjadi Semakin Bodoh?

Selamat Datang di Era Pasca-Manusia ala Slavoj Žižek


Dunia sedang tidak baik-baik saja tetapi bukan karena perang, inflasi, atau krisis energi yang biasa kita perbincangkan di televisi. Menurut filsuf paling unik hari ini, Slavoj Žižek, krisis yang kita hadapi jauh lebih dalam, krisis kemampuan manusia untuk berpikir sebagai manusia.

Di tengah euforia kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan jargon “kebebasan memilih”, Žižek justru mengajukan tesis yang terdengar seperti penghinaan kolektif, di interview terakhir dia, bahwa kita sedang menjadi semakin bodoh. Bukan karena kurang pendidikan, tetapi justru karena terlalu banyak teknologi yang berpikir menggantikan kita.

Žižek mengawali dengan data yang jarang dibicarakan secara serius, setelah puluhan tahun meningkat, rata-rata IQ global mulai menurun sejak sekitar tahun 2010. Fenomena ini dikenal sebagai reverse Flynn effect. Bagi Žižek, ini bukan kebetulan statistik, melainkan gejala kultural.

Masalahnya bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan otak, tetapi karena kita berhenti menggunakannya secara aktif. Kita menyerahkan kerja berpikir menulis, menilai, menyimpulkan kepada algoritma.

Dengan gaya khasnya yang menjijikkan sekaligus jenius, Žižek memberi analogi ekstrem, bayangkan sepasang manusia berkencan. 

Sang pria membawa vagina plastik, sang perempuan membawa dildo elektrik. Kedua alat itu disambungkan, dibiarkan “berhubungan”, sementara mereka duduk minum teh dan berbincang santai. 

Mesin yang berhubungan seks, manusia menonton.

“Itulah dunia intelektual kita hari ini,” kata Žižek.

ChatGPT menulis teks.

ChatGPT mengulas teks.

ChatGPT meringkas hasil ulasan.

Ini sudah terlihat mahasiswa memakai Ai untuk mengerjakan tugas, dosen memakai Ai untuk mengoreksi paper, dan pembaca merangkum hasil karya jurnal pakai Ai, bahwa segala hal kehidupan kita sudah terkonversi entah ke mesin atau algoritma.

Bahkan kita berhubung sex dengan mesin, misalnya melihat porno di alat elektronik ketimbang dengan sesama manusia.

Manusia tidak lagi menjadi subjek berpikir kita hanya menjadi penonton dari proses yang meniru kita. Di sinilah kebodohan baru lahir, bukan kebodohan karena tidak tahu, melainkan kebodohan karena tidak lagi perlu tahu.

Žižek lalu membongkar mitos paling sukses kapitalisme kontemporer, kebebasan kerja. Ekonomi digital tidak lagi menjual eksploitasi secara kasar, melainkan menjual perasaan menjadi bos bagi diri sendiri.

Pengemudi ojek online, kurir, freelancer, content creator semua diyakinkan bahwa mereka adalah “mitra”, bukan buruh. Mereka disebut wirausaha kecil yang memiliki “alat produksi” sendiri: motor, laptop, ponsel.

Padahal, menurut Žižek, inilah bentuk eksploitasi paling canggih. Ketika Anda percaya diri sebagai kapitalis kecil, Anda tidak lagi melihat perusahaan sebagai penindas. Anda justru melihat sesama pekerja sebagai pesaing. Solidaritas kelas runtuh sebelum sempat lahir.

Anda “bebas” memilih jam kerja tetapi secara ekonomi dipaksa bekerja 14–16 jam sehari. Anda “bebas” keluar dari sistem tetapi tidak punya tabungan untuk benar-benar keluar. Inilah kebebasan yang berubah menjadi penjara tanpa penjaga.

Sebagai pemikir kiri, Žižek tidak menolak feminisme atau perjuangan kesetaraan. Yang ia kritik adalah versi woke culture yang kehilangan sasaran materialnya.

Menurut Žižek, banyak perdebatan publik hari ini terjebak pada simbol, bahasa, gestur, representasi. Kita sibuk memperdebatkan kata ganti, etika humor, atau perilaku di pesta elite sementara horor struktural sehari-hari dibiarkan utuh.

Gerakan seperti #MeToo, misalnya, sering kali berputar di sekitar dunia selebritas, aktor, sutradara, produser. Padahal kekerasan dan penindasan paling brutal justru dialami oleh perempuan kelas pekerja: petugas kebersihan, buruh pabrik, sekretaris, pekerja rumah tangga mereka yang tidak punya pilihan ekonomi untuk melawan atau pergi.

Bagi Žižek, ideologi sejati bukan soal apa yang kita katakan di media sosial, melainkan siapa yang mencuci piring, siapa yang mengasuh anak, dan siapa yang tidak punya uang untuk meninggalkan pasangan yang abusif. Jika kritik tidak menyentuh praktik material ini, ia hanya menjadi moralitas kosong.

Di titik ini, Žižek menyerang dogma modern yang hampir tak tersentuh, pengejaran kebahagiaan. Baginya, tidak ada ide yang lebih merusak manusia daripada keyakinan bahwa hidup harus diarahkan untuk “bahagia”.

Manusia, kata Žižek, adalah makhluk yang secara struktural menyabotase kebahagiaannya sendiri. Kita tidak dirancang untuk puas. Maka, ketika kebahagiaan dijadikan tujuan langsung, hasilnya justru frustrasi, kecemasan, dan rasa gagal permanen.

Kebahagiaan, jika pun datang, seharusnya hanya menjadi produk sampingan dari keterlibatan mendalam pada sesuatu: kerja intelektual, perjuangan politik, cinta, atau panggilan hidup. Žižek mengaku hanya merasa mendekati kebahagiaan ketika menyelesaikan sebuah buku bukan ketika mencarinya secara sadar.

Dalam masyarakat yang memerintahkan kita untuk bahagia, ketidakbahagiaan dianggap sebagai kegagalan moral. Dan di situlah manusia benar-benar hancur.

Jika semua ini terdengar suram, Žižek belum selesai. Ia memandang teknologi seperti Neuralink yang dikembangkan Elon Musk bukan sebagai kemajuan netral, tetapi sebagai ancaman ontologis.

Ketika otak terhubung langsung dengan mesin, pertanyaannya bukan lagi soal privasi data, melainkan, siapa yang mengontrol pikiran itu sendiri? Jika sinyal digital bisa memengaruhi impuls neural, maka kebebasan berpikir fondasi etika modern bisa menjadi artefak sejarah.

Di titik ini, manusia bukan hanya dibantu oleh mesin, tetapi diperluas dan dikolonisasi olehnya. Kita memasuki era pasca-manusia, makhluk yang masih hidup secara biologis, tetapi kehilangan otonomi simbolik.

Bagi Žižek, filsafat tidak hadir untuk memberi solusi instan atau panduan hidup bahagia. Filsafat justru berfungsi sebagai gangguan, mengacaukan cara kita merumuskan masalah.

Sumber: Fb

0 komentar:

Posting Komentar