Kehidupan yang ambigu, kontradiktif itu harus dicintai apa adanya, tanpa memprioritaskan satu aspek dengan membinasakan aspek lainnya. Bak mencintai wanita, seluruh diri wanita yang indah membujuk merayu serta bengis mengerikan karena sifat pencemburu dan posesifnya harus diterima semua apa adanya, dengan segala risikonya. Cinta yang dewasa adalah cinta yang mau tahu dan berani menerima risiko. Bagi seorang pencinta dewasa yang bernyali, risiko bukanlah taruhan yang terlalu besar untuk diambil.
Sikap yang tepat dalam sebuah cinta yang dewasa adalah kehati-hatian dan kewaspadaan. Nietzsche mengajak pembacanya untuk waspada, artinya mengambil jarak di depan dunia, realitas:
“Kewaspadaan. [...] karakter dunia dan kekekalan dalam keseluruhannya adalah kaos, bukan karena tiadanya keniscayaan (hukum keniscayaan, necessite) tetapi karena tiadanya tatanan (ordre) tiadanya artikulasi, bentuk, keindahan, kebijaksanaan atau kategori estetis manusiawi apapun. [...] Bagaimana mungkin kita berani mengutuk atau memuja-muji keseluruhan (le tout, alam semesta)? [...] ia tidak sempurna, tidak indah, tidak anggun, dan sama sekali tidak ingin menjadi seperti itu, ia sama sekali tidak ingin meniru manusia! Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh penilaian estetis atau moral kita! Ia juga sama sekali tidak memiliki insting konservasi diri, apalagi impuls-impuls: ia tidak mengenal hukum apa pun. Berhati-hatilah untuk menyatakan bahwa di alam ini ada yang namanya hukum-hukum. [...].”
Umpamanya berhadapan dengan wanita, sikap Nietzsche adalah “berhati-hatilah, ambillah jarak”. Wanita itu tidak cantik, tidak anggun, tidak jahat, tidak jelek. Wanita di depan kita tidak menjawab keinginan dan harapan kita. Ia tidak bisa direduksi dalam hukum-hukum tertentu atau pola-pola tertentu. Wanita adalah wanita, apa adanya, ia ada di depan kita, bukan objek pemenuhan keinginan kaum lelaki, bukan pula bayangan proyeksi hasrat lelaki. Dua teks dari Senjakala Berhala-Berhala “Pepatah-Pepatah dan Ucapan-Ucapan Begitu Saja” ini memberikan inspirasi tentang apa itu realitas yang disimbolkan sebagai wanita.
“Laki-lakilah yang menciptakan wanita. Dari apa? Dari salah satu tulang rusuk tuhannya—maksudnya, dari “ideal” laki-laki itu sendiri..."
“Jenis kelamin saling tidak mengerti satu terhadap lainnya. Maksudnya, tiap jenis kelamin hanya mencintai dan menghormati apa yang sebenarnya merupakan dirinya sendiri [atau, untuk mengatakannya dengan lebih halus, ideal dia sendiri). Oleh sebab itulah jenis kelamin laki-laki menginginkan seorang wanita yang tenang; sementara yang namanya wanita seperti kucing, meski dia berusaha dengan cermat memberikan penampakan yang sangat tenang, secara esensial dia adalah kebalikannya.”
Kehidupan, dunia, realitas, yang disimbolkan sebagai wanita adalah sesuatu yang lolos dari harapan dan proyeksi antropomorfis manusia. Dalam pemikiran Nietzsche, bisa dikatakan itu semua adalah kontradiksi. Kadang yang kontradiktif ini tampil secara seram: “Dan tahukah kalian apa itu 'dunia' bagiku? Dunia adalah sebuah monster kuat (monster yang harus diterima) tanpa awal dan tanpa akhir”. Dunia dan kehidupan tidak hanya menawarkan kenikmatan untuk dihisap, tapi ia juga monster (sesuatu yang mengerikan, tak bisa ditebak). Meskipun demikian, yang kontradiktif itu juga kadang tampak indah. Teks di GS “Buku Keempat”, yang berjudul vita femina (hidup adalah wanita) dengan indah melukiskan dunia yang digambarkan sebagai wanita, sesuatu yang kontradiktif, memikat sekaligus menakutkan, mengandungi campuraduk positif dan negatif sekaligus:
“Aku hanya hendak mengatakan bahwa dunia itu penuh dengan hal-hal indah, tetapi juga hal-hal yang tak kurang tidak indahnya. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah, miskin pewahyuan yang indah seperti di atas. Tetapi, mungkin justru itulah yang membuat hidup mempunyai daya tarik sangat kuat. Hidup ini ditutupi oleh selubung emas, artinya, diselubungi oleh berbagai kemungkinan indah yang memberinya garis tubuh menjanjikan, penuh keraguan, sopan, ironis, membangkitkan welas asih, dan menggoda. Iya, hidup adalah wanita! (Ja, das Leben ist ein Weib!)”.
Pada hidup atau wanita yang kontradiktif seperti itu afirmasi dan kecintaan Nietzsche dinyatakan. Bila demikian, menjadi lebih terang benderang mengapa Nietzsche berkata: “Terhadap apa yang tidak bisa diubah, yang tercampuradukkan dengan apa yang berguna pada dirinya sendiri, yang dilihat dari atas dan secara menyeluruh,—itu bukan hanya harus ditanggung, kita bahkan harus mencintainya... Amor fati: itulah kodrat personalku.”
Hidup senyatanya bersifat abu-abu, ia sekaligus hitam dan putih, dan hidup seperti itulah yang senyatanya. Di mata Nietzsche hidup sejati yang dicari-cari kaum metafisis moralis agamis hanyalah ekspresi kelemahan fisio-psikologis mereka sendiri.
Ketakutan berhadapan dengan monster kehidupan, kepengecutan menghadapi abu-abu campur aduk realitas secara apa adanya membuat mereka lari, mencari pegangan dalam sebuah dunia di balik sana (Hinterwelt) untuk menopang hidup mereka. Bila ada hidup yang fully alive dan ascenden (menaik), yang tidak membiarkan diri dalam alur dekaden (melemah, merosot), Nietzsche menemukannya dalam tindak mencintai hidup dan dunia senyatanya secara apa adanya. Dalam paragraf pertama “Buku Keempat” GS 276 yang berjudul “Untuk Tahun Baru", Nietzsche menulis "Amor fati, semoga inilah cintaku! Aku tidak ingin berperang melawan yang jelek: aku sama sekali tidak menuduh, bahkan aku tidak menuduh para penuduh. Memalingkan wajah, semoga itulah satu-satunya penolakanku!” Yang terakhir ini tentu saja bukan teks yang sangat intelektual dari Nietzsche, meski begitu, itu toh tidak aneh dalam skema berpikir Nietzsche. Tampaknya serampangan saja Nietzsche mengatakan bahwa metode dialektika Sokrates untuk mati-matian menemukan kebenaran ada hubungannya dengan kejelekan wajah Sokrates yang berdahi lebar! “Dari kelahirannya, Sokrates berasal dari kalangan rakyat tingkat paling bawah: Sokrates adalah rakyat jelata. Kita tahu, dan masih bisa melihatnya, betapa jeleknya dia. Kejelekan, dari dirinya sendiri, sudah merupakan sebuah keberatan, bagi orang Yunani kejelekan hampir selalu menjadi motif penolakan.” (Senjakala Berhala-Berhala, “Problem Sokrates”). Di mata Nietzsche, kejelekan Sokrates inilah yang menjadi drive penemuan metode dialektik, sebuah metode yang berujung pada penyamaan rasio dengan keutamaan. Yang sesuai rasio dialektis (Yang Benar) adalah Baik dan Indah, dengan kata lain Kebaikan identik dengan Kebenaran dan Keindahan. Hanya lewat Keindahan, Kebenaran, dan Kebaikan inilah hidup bahagia akan tercapai. Dan persis di situlah masalahnya: hidup itu campur aduk, tidak bisa dikehendaki secara satu-segi misalnya, yang melulu bahagia saja. Hidup adalah campuran kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Lalu, mengapa Sokrates mengajukan teori pencarian kebahagiaan seperti itu? Nietzsche menjawab: problem fisio-psikologis Sokrates sendirilah yang membuat ia menciptakan teori seperti itu. Sokrates tidak bahagia dengan dirinya sendiri, ia tahu bahwa dirinya jelek dan ia berusaha untuk hidup dengan menanggung kejelekan itu. Caranya? Dengan menciptakan fiksi-fiksi indah untuk membuatnya bisa bertahan dalam hidup. Kejelekannyalah yang membuat Sokrates mengidealkan hal-hal indah rasio, kebenaran, keutamaan, kebaikan sebagai jalan menuju hidup bahagia. Kegagalan, ketakutan, kepengecutan di depan ambiguitas realitas apa adanya (singkatnya, kelemahan) membuat orang lari menciptakan Hinterwelt. Sebaliknya, kekuatan dan vitalitas ascenden seseorang tampak dalam keberanian dia untuk menerima kontradiksi dalam realitas apa adanya, menerima segala aspek baik dan buruk realitas secara sepenuhnya. Itulah cara berpikir Nietzsche: genealogi atas isi pemikiran berujung pada tipologi fisio-psikologis si pemikir.
A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 2017, h. 163-167

0 komentar:
Posting Komentar