alt/text gambar

Selasa, 08 September 2026

Topik Pilihan: , ,

Metafisika Kehadiran, Sebuah Kritikan atasnya

Sebagaimana diakui Derrida dalam Positions bahwa filsafatnya tak mungkin ada tanpa menaruh perhatian pada konsep perbedaan ontologis. Dengan mencermati perbedaan ontologis, Derrida berupaya menunda setiap upaya merepresentasikan segalanya sebagai “kehadiran” karena, seperti telah kita lihat, perbedaan ontologis menekankan perbedaan antara Ada (yang diasumsikan tak termasuk dalam horizon kehadiran langsung) dan adaan (seperti Tuhan dan substansi yang termasuk dalam horizon kehadiran). Dapat dikatakan bahwa pembacaan dekonstruktif adalah pembacaan yang ingat akan perbedaan ontologis sehingga konsep-konsep metafisis (yang diandaikan hadir penuh) selalu ditunda (dengan menunjukkan peran “yang lain”). Dengan terus berpegang pada perbedaan ontologis, kita menjadi berhati-hati untuk tidak terjebak pada metafisika kehadiran. Namun kata “perbedaan ontologis” dalam konteks pembicaraan kita mengenai Derrida ini mesti dimengerti tidak sekadar dalam pengertian Heideggerian (yaitu perbedaan antara Ada dan adaan) melainkan dalam arti yang lebih luas, yaitu sebagai perbedaan antara yang tak termasuk dalam horizon kehadiran langsung (walau bukan berarti ketakhadiran alias ketiadaan) dan yang termasuk dalam horizon kehadiran langsung. 

Terkait dengan perbedaan ontologis, kritik atas metafisika kehadiran (Anwesenheit) yang dilakukan oleh Heidegger juga diteruskan oleh Derrida. Penyilangan terhadap kata Ada (kreuzweise Durchstreichung) yang dilakukan Heidegger dalam Zur Seinsfrage untuk menghindari representasi atas Ada sebagai kehadiran langsung juga digunakan oleh Derrida untuk menyilang kata apa pun yang umumnya kita representasikan sebagai kehadiran langsung. Dengan menyilang kata Ada dan menghindar dari keterjebakan pada metafisika kehadiran, Derrida menulis dalam Of Grammatology bahwa Heidegger telah melakukan suatu permulaan baru dalam sejarah metafisika (dan bahwa pencoretan itu adalah “the final writing of an epoch”). Memang terdapat sense yang berbeda antara Heidegger dan Derrida dalam penggunaan frasa “metafisika kehadiran”. 

Metafisika Kehadiran antara Heidegger dan Derrida

Bagi Heidegger, metafisika kehadiran ialah suatu bentuk paradigma yang merepresentasikan, yang meng-kerangka (Ge-Stell), Ada sehingga Ada dihadirkan dalam skema pemikiran manusia dan tidak menyingkapkan dirinya sendiri. Bagi Derrida, metafisika kehadiran adalah suatu paradigma yang menganggap bahwa identitas, makna atau apa pun dapat hadir penuh dan identik pada dirinya tanpa kontaminasi oleh “yang lain”. Kita dapat melihat bahwa pengertian Derrida atas metafisika kehadiran merupakan radikalisasi atas pengertian Heidegger. Jika Heidegger memandang bahwa pengerangkaan atas Ada membuat manusia menjadi konstruktor makna dan menghadirkan Ada secara paksa, dan bahwa pandangan metafisika kehadiran Ada dipandang dapat hadir penuh tanpa aktivitas Streit serta withdrawal of Being, maka Derrida meradikalisasikan pandangan ini dengan mengeksplisitkan bahwa kehadiran (entah Ada atau apa pun) sudah selalu terkontaminasi oleh elemen lain. Jadi kritik atas metafisika kehadiran merupakan sebuah proyek bersama yang dilakukan oleh Heidegger dan Derrida. Walaupun demikian, penekanan yang diberikan jelas berbeda. Jika Heidegger menggunakan kritik atas metafisika kehadiran agar mencapai suatu pengertian akan Kebenaran Ada, Derrida berfokus pada kritik atas metafisika kehadiran tanpa memastikan apa yang akan datang setelahnya yang hanya ia sebut sebagai “yang lain yang akan datang” tanpa melakukan identifikasi lebih lanjut (walaupun akhirnya ia menamai itu sebagai “keadilan” atau “demokrasi”. 

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 234-236

Tambahan:

Derrida menunjukkan peran “yang lain" yang berperan dalam menunda kepenuhan makna, h. 246


0 komentar:

Posting Komentar