alt/text gambar

Selasa, 01 September 2026

Topik Pilihan: , ,

Nietzsche tentang Seni


Memandang hidup dengan sudut pandang seni adalah inti selanjutnya. Jelas sekali, peran seni sangat penting buat para seniman. Perjuangan hidup itu juga sebuah seni. Dan di “Kepulauan Bahagia" menurut istilah Nietzsche dalam Demikianlah Sabda Zarathustra : 

“Dunia harus dibentuk dalam citra kalian, oleh kehendak kalian, dan oleh cinta kalian.” 

Kesenangan yang dapat diperoleh dari kehidupan bahkan dari nafsu dan kekuasaan juga adalah seni menurut pandangannya. Misalnya, ia pernah mengatakan bahwa lukisan tentang seks juga seni, bukan pornografi. 

Sebaliknya, untuk menghadapi penderitaan yang juga merupakan buah dari kehidupan, kita juga memerlukan seni. Seseorang hanya harus membiarkan perubahan berlangsung, dan menghadapi penderitaan itu dengan selayaknya. Bukan dengan diam dan mengorbankan diri sendiri dalam penderitaan. Namun, seperti Nietzsche misalnya, ia menghadapi kegelapan dalam hidupnya dengan menulis puisi dan komposisi musik yang bagus. Mengenai seni dan penderitaan, dalam buku The Gay Science (terbit 1882, direvisi 1887), Nietzsche menuliskan bahwa Seni boleh dipandang sebagai suatu pertolongan atau obat untuk membela kehidupan. “Hidup memang penuh Derita...,” katanya. 

Sastra juga merupakan implementasi dari perjuangan hidup Nietzsche, ia membuat gaya sastra yang luar biasa dengan model tulisan berbentuk potongan-potongan tentang perumpamaan, kutipan ayat Kitab Suci, dan paragraf yang dinomori secara terpisah. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dapat dilihat dalam buku Demikianlah Sabda Zarathustra, ini terbilang unik, mengingat sentimen keras Nietzsche akan Kristianitas. Bukan Nietzsche namanya, jika pandangan tentang seni yang dilahirkannya berhenti pada dirinya sendiri. Sebagaimana Nietzsche sebagai seorang seniman-filsuf membuahkan pengaruh bagi para seniman setelahnya. 

Tercatat nama-nama seperti penulis drama, August Stinberg dari Swedia, Luigi Pirandello dari Italia, dan Bernand Shaw dari Irlandia, terpengaruh oleh Nietzsche. 

Demikian juga pelukis Gustav Klimt dari Austria. Deretan penyair Jerman terkenal seperti Rainer Maria Rilke dan Herman Hesse juga mendapat pengaruh kental dari Nietzsche. 

Beberapa novelis Perancis terkenal seperti Stendhal, Albert Camus, Andre Gide, dan Andre Malraux juga menuliskan karya sastra yang khas berbau pengaruh Nietzsche. 

Sumber:

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 102-104

**

Kritik terhadap Adat-Istiadat dalam Perspektif Nietzsche

Nietzsche ingin mengatakan bahwa hidup manusia adalah kehendak untuk berkuasa itu sendiri. Sehingga manusia sepantasnya dapat bertindak bebas tanpa terikat oleh aturan moral atau norma-norma yang ada selama ini.

Dalam bukunya yang berjudul Human, All too Human (A Book for Free Spirit), ia menekankan bahwa menjadi bermoral (mematuhi norma-norma yang ada), menganut agama, dan berlaku sopan dan etis tidaklah ada gunanya. 

Nietzsche seolah-olah menggugah manusia dengan kritik, 'Mengapa manusia harus lebih memilih bersikap etis ketimbang estetis?' Ia geram karena manusia hanya mematuhi adat-istiadat yang telah ada semenjak dahulu, dengan sikap dan perbuatannya yang demikian itu, manusia hanya berusaha menjadi manusiawi sesuai dengan kebiasaan yang telah diturunkan para pendahulunya. Tetapi sama sekali tidak bebas. 

Berikut adalah kutipan langsungnya: 

“Menjadi bermoral, bertindak sesuai dengan adat istiadat, menjadi etis berarti membiasakan kepatuhan kepada hukum atau tradisi dari tempo dulu... Seseorang dibilang baik karena dia melakukan apa yang biasanya dilakukan." (Human All Too Human)


Referensi: 

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 76


0 komentar:

Posting Komentar