alt/text gambar

Sabtu, 03 Oktober 2026

Topik Pilihan: ,

Tuntutan Nietzsche adalah agar Manusia menjadi Otentik

Tuntutan Nietzsche adalah agar manusia menjadi otentik. Agar menjadi diri sendiri. 

Nietzsche menulis:

Jenis manusia luhur merasa bahwa dirinya menentukan apa yang bernilai, mereka tidak memerlukan pembenaran, mereka menilai bahwa 'apa yang merugikanku itulah yang merugikan', mereka mengetahui diri sebagai sumber segala kemuliaan yang ada, mereka "menciptakan nilai". Apa pun yang mereka lihat pada diri mereka sendiri menjadi alasan kemuliaan mereka; moralitas semacam itu merupakan pemuliaan diri. Yang mencolok adalah perasaan keutuhan, kekuasaan yang mau meluap, kebahagiaan bertegangan tinggi, kesadaran kekayaan yang ingin memberikan dan melepaskan, manusia luhur membantu orang yang celaka, tetapi tidak atau hampir tidak karena perasaan belas kasih, melainkan karena kekuasaan yang melimpah menciptakan suatu dorongan (untuk membagi kekayaan itu). 

(Franz Magnis-Suseno, 13 Model Pendekatan Etika: Bunga Rampai Teks-Teks Etika dari Plato sampai dengan Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 1997) 


**

Moralitas Tuan dan Moralitas Budak

Sedang berjalan-jalan di antara sekian banyak moralitas halus dan kasar yang sampai sekarang pernah berkuasa di dunia atau masih berkuasa, saya temukan bahwa ada ciri-ciri tertentu yang secara teratur kembali bersama dan berkaitan satu sama lain sampai kutangkap adanya dua pola dasar dan muncul sebuah perbedaan dasar. Ada "moralitas tuan" dan "moralitas budak"; langsung saya tambahkan bahwa dalam semua budaya yang lebih tinggi, kelihatan juga usaha untuk menggabungkan dua moralitas itu. Tetapi lebih sering kelihatan ada kekacauan dan saling curiga, bahkan kadang-kadang dua moralitas itu bereksistensi berdampingan dengan keras, bahkan di dalam orang yang sama, dalam satu jiwa. 


Dalam hal pertama, apabila arti istilah 'baik' ditentukan oleh mereka yang berkuasa, maka yang dianggap utama dan menentukan rangkingnya adalah keadaan jiwa yang merasa bangga dan luhur. Manusia mulia menjauhkan makhluk-makhluk dari dirinya yang menunjukkan ciri-ciri yang kebalikan dari keadaan luhur bangga itu: ia meremehkan mereka. Langsung kentaralah bahwa dalam jenis pertama moralitas itu tadi pasangan 'baik' - 'buruk' memiliki arti sama dengan 'luhur' - 'hina', sedangkan pasangan 'baik' - 'jahat' mempunyai asal-usul lain. Yang dianggap hina adalah si penakut, si cengeng, si picik, orang yang memikirkan manfaat sempit, begitu pula si pencuriga yang tidak berani menatap mata lawan bicara, orang yang merendahkan diri, si manusia jenis anjing yang suka disiksa, si penjilat yang mengemis-ngemis, terutama si pembohong - semua bangsawan selalu yakin benar bahwa rakyat jelata suka bohong. 'Kami yang jujur - begitu di Yunani kuno kaum bangsawan menamakan diri. Jelaslah bahwa penilaian-penilaian moral pertama-tama diarahkan pada manusia dan baru secara tidak langsung dan belakangan pada tindakan, oleh karena itu, sangat kelirulah kalau para sejarawan moralitas bertolak dari pertanyaan seperti 'mengapa tindakan berbelas kasih dipuji?' 

Orang mulia yang menghormati diri sendiri, menghormati kekuasaan dalam diri sendiri, ia juga menghormati orang yang menguasai diri, yang mampu berbicara dan berdiam, yang merasakan nikmat kalau bersikap tegas dan keras terhadap dirinya sendiri dan menghormati segala apa yang tegas dan keras. 'Hati keras diletakkan Wotan (dewa tertinggi Jerman kuno) ke dalam dadaku? bunyi kisah Skandinavia kuno: begitu, dan tepatlah, syair jiwa seorang Wiking bangga. Orang jenis itu justru bangga bahwa ia tidak dibuat untuk berbelas kasihan. Oleh karena itu, tokoh saga [kisah kuno] itu menambah peringatan bahwa 'orang yang tidak memiliki hati keras waktu ia muda, tidak pernah akan memilikinya.' Orang luhur dan pemberani yang berpikir begitu adalah paling jauh dari sebuah moralitas yang menjunjung tinggi belas kasihan atau perhatian pada orang lain atau sikap acuh tak acuh; moralitas mulia itu sudah jelas memuat sikap seperti percaya diri, bangga atas diri sendiri, permusuhan dasar dan pandangan ironis terhadap sikap 'sepi ing pamrih', seperti pandangan agak rendah dan berhati-hati terhadap rasa kasihan dan 'hati hangat'. 

Adalah orang berkuasa yang tahu bagaimana memberi hormat, itulah seni mereka, kerajaan yang mereka temukan sendiri. Hormat mendalam terhadap umur tua dan keturunan; seluruh hukum berdasarkan hormat ganda itu. Yang khas bagi moralitas kaum berkuasa adalah kepercayaan dan bahwa mereka berpihak pada para leluhur dan tidak pada generasi yang akan datang. Sebaliknya, apabila orang yang mempunyai 'gagasan-gagasan moderen' hampir secara naluriah percaya akan 'kemajuan' dan 'masa depan: dan semakin tidak memiliki sikap hormat terhadap umur tua, asal-usul tidak luhur 'gagasan-gagasan' (modern) itu kentara dengan cukup jelas. Moralitas kaum kuasa merasa paling asing dengan selera dewasa ini dan tidak disukai prinsip keras moralitas itu, bahwa manusia hanya memiliki kewajiban terhadap orang yang sederajat, bahwa terhadap orang yang memiliki derajat lebih rendah, (ya) terhadap apa saja yang asing, orang boleh bertindak seenaknya atau 'sekehendak hati' dan (sikap terhadap orang yang tidak sederajat itu) bagaimanapun (berada) 'di seberang baik dan jahat', di sini barangkali termasuk rasa kasihan dan sebagainya. Kemampuan dan kewajiban untuk berbalas budi dan dendam untuk waktu lama--dua-duanya hanya di antara yang sederajat--kecanggihan dalam membalas, kecanggihan paham-paham dalam persahabatan, semacam keniscayaan untuk mempunyai musuh (seakan-akan sebagai parit pembuangan emosi cemburu, nafsu berkelahi, kesombongan pada dasarnya hanya untuk menjadi sahabat baik). Semuanya ini merupakan ciri-ciri khas moralitas luhur seperti yang telah disinggung, yang memang bukan moralitas 'gagasan-gagasan modern' dan karena itu sekarang sulit ikut dirasakan, juga sulit untuk digali kembali dan dibuka. 


Lain halnya dengan pola kedua moralitas, moralitas budak. Andaikan bahwa mereka yang diperkosa, ditindas, yang menderita, yang tidak bebas, yang ragu-ragu tentang diri sendiri dan yang lelah mulai bermoral-moralan: Apa yang menjadi kesamaan dalam penilaian moral mereka? Kemungkinan besar yang akan terungkap adalah rasa curiga pesimis terhadap seluruh situasi manusia, barangkali mereka akan mengutuk manusia dengan seluruh situasinya. Lirikan budak membenci keutamaan-keutamaan kaum berkuasa: ia skeptik dan curiga, ia peka dan curiga terhadap segala "kebaikan" yang dimuliakan di sana, ia ingin meyakinkan diri bahwa kebahagiaan di situ pun tidak benar. Sebaliknya sifat-sifat yang membantu untuk meringankan eksistensi orang yang menderita ditarik ke depan dan disinari cahaya: di sini dihormati rasa berbelas kasihan, tangan yang cepat membantu, hati yang hangat, kesabaran, kerajinan, kerendahan hati, keramahan, karena inilah sifat-sifat yang di sini paling berguna dan yang merupakan alat hampir satu-satunya untuk bertahan terhadap tekanan eksistensi. Moralitas budak secara hakiki berupa moralitas kegunaan. Di sinilah pusat terjadinya pasangan termasyur 'baik' dan 'jahat'; yang dirasakan jahat adalah kekuasaan dan kelakuan yang mengancam, kengerian, kehalusan, dan kekuatan tertentu yang tidak membiarkan perasaan meremehkan tumbuh. Menurut moralitas budak yang menakutkan adalah 'si jahatlah' dalam moralitas tuan justru 'orang baiklah' yang membuat, dan mau membuat, takut, sedangkan orang 'buruk' dialami sebagai hina. Kontradiksi itu memuncak apabila sesuai dengan konsekuensi moralitas budak mereka yang menurut moralitas budak itu sendiri justru 'baik' juga sedikit dianggap remeh, anggapan itu bisa saja ringan dan baik-baik saja, karena dalam pola berpikir budak orang baik sekurang-kurangya mesti merupakan orang yang tidak berbahaya: ia baik hati, mudah ditipu, barangkali sedikit bodoh, un bonhomme. Di mana saja moralitas budak mulai menang, bahasa menunjukkan kecondongan untuk saling mendekatkan kata 'baik' dan 'bodoh'. Satu perbedaan dasar terakhir yaitu kerinduan akan kebebasan, naluri yang mau bahagia dan pelbagai ciri halus perasaan kebebasan niscaya termasuk moralitas dan keutamaan budak, sama seperti seni dan antusiasme dalam memberi hormat, dalam pengabdian merupakan ciri khas cara berpikir dan bernilai aristokratik. Dari sini dapat dimengerti mengapa cinta sebagai gairah - itulah kekhasan Eropa kita - tidak bisa tidak berketurunan luhur: sebagaimana diketahui, perasaan itu ditemukan oleh para penyair-satriya Provencal, orang-orang 'gai saber' cemerlang inovatif yang memberikan begitu banyak kepada Eropa bahkan hampir menciptakannya. 

(Franz Magnis-Suseno, 13 Model Pendekatan Etika: Bunga Rampai Teks-Teks Etika dari Plato sampai dengan Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 1997) 




0 komentar:

Posting Komentar