Oleh: Chris Ruhupatty
chuhupatty@gmail.com
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Abstrak
Artikel ini akan mengulas tentang “apa itu bahasa?” dari perspektif Dekonstruksi yang dituliskan oleh Derrida pada Of Grammatology (1967). Bahasa, terang Derrida, adalah suplemen dari realitas.
Suplemen merupakan prinsip dasar untuk memahami tentang bahasa yang ditawarkan oleh Derrida untuk menggantikan prinsip representasional. Suplemen menunjukkan bahwa bahasa tidak merepresentasikan realitas, tapi menambahkan dan menggantikannya. Artinya, bahasa hanyalah sekadar produk-sambilan atau fatamorgana dari realitas. Itulah mengapa tidak dapat ditemukan kehadiran atau esensi realitas di dalam bahasa. Paling banter, bahasa hanya mampu untuk menunjukkan jejak dari realitas.
Keywords: Bahasa sebagai Suplemen dalam pandangan Dekonstruksi
Pendahuluan
Bahasa telah menjadi sebuah topik yang senantiasa mengiringi perkembangan sejarah pemikiran Filsafat Barat. Pada awalnya bahasa hanya dipandang sebagai media atau alat untuk menjelaskan realitas.
Sampai tiba waktunya, di abad ke-20, bahasa tidak lagi dipandang sebagai media, tapi sebagai realitas itu sendiri. Perubahan cara pandang terhadap bahasa ditandai dengan kajian-kajian yang menyatakan bahwa bahasa merupakan cerminan atau representasi dari pikiran manusia dan representasi dari realitas itu sendiri. Dengan kata lain, bahasa telah selalu menghubungkan pikiran manusia dan realitas. Salah satu dari kajian yang mengusung topik tersebut adalah karya John Locke (1632-1704) yang berjudul An Essay Concerning Human Understanding(1690). Tak ayal, Filsafat Barat yang sebelumnya menjadikan pikiran (idea) dan pengalaman empiris sebagai pusat kajian terhadap realitas, kini mulai memalingkan fokusnya kepada bahasa.
Kajian-kajian yang muncul kemudian semakin menunjukkan bahasa sebagai pusat realitas menggantikan pikiran (idea) dan pengalaman empiris.
Kajian-kajian tersebut dapat ditemukan pada karya Leibniz yang berjudul New Essays on Human Understanding (1765); Humboldt dengan karyanya berjudul On Language: The Diversity of Human Language-Structure and Its Influence on the Mental Development of Mankind (1836); Frege melalui karyanya berjudul The Foundations of Arithmetic (1884); Wittgenstein periode pertama yang dengan karyanya yang berjudul Tractatus Logico-Philosophicus (1921).
Sebenarnya masih banyak nama dan karya yang belum disebutkan, seperti: Carnap, Saussure, Austin, dan Chomsky, tapi intinya, semua karya-karya ini telah menandai perubahan arah penyelidikan filsafat menjadi penyelidikan terhadap bahasa, dan seluruh diskursus yang mengusung bahasa sebagai pusat kajian filsafat dibicarakan di bawah topik Belokan-Linguistik (Linguistic Turn).
Dekonstruksi sendiri lahir di puncak kemeriahan diskursus Belokan-Linguistik. Kendati topik tentang Fenomenologi menurut pemikiran Husserl merupakan penelitian ilmiah yang mengawali kiprah Derrida di dunia filsafat, tapi sesungguhnya, di dalam kajiannya tersebut ia sedang menunjukkan kelemahan Husserlian dalam mengulas tentang tanda atau bahasa (The Problem of Genesis in Husserl’s Philosophy). Derrida juga membandingkan Fenomenologi Husserlian dengan pemikiran Peirce yang membawa Fenomenologi ke arah kajian terhadap tanda atau bahasa.
Di tengah suasana filsafat yang telah menjadikan bahasa sebagai pusat kajian terhadap realitas inilah Derrida menunjukkan bahwa sebenarnya realitas tidak hadir di dalam bahasa. Paling banter, terang Derrida, bahasa hanya mampu untuk menunjukkan jejak-nya saja.
Dengan kata lain, esensi atau kehadiran realitas tidak dapat ditemukan di dalam bahasa. Jika demikian, apakah itu berarti Derrida hendak membawa diskursus filsafat kembali pada kajian tentang pikiran dan pengalaman manusia?
Posisi pemikiran Derrida yang khas di tengah diskursus Belokan-Linguistik inilah yang akan ditunjukkan oleh artikel ini. Karena Derrida tidak sepenuhnya menolak kajian terhadap bahasa sebagai kajian filosofis; dan secara bersamaan ia juga tidak sedang membawa diskursus filsafat kembali pada kajian terhadap idea dan pengalaman manusia. Ia hanya menunjukkan bahwa realitas pada dirinya sendiri telah selalu ada begitu saja tanpa intensi apapun, sedangkan bahasa adalah suplementasi yang menambahkan dan menggantikan realitas. Alhasil, bahasa bukan tentang realitas dan juga bukan realitas itu sendiri, melainkan realitas yang berbeda dari realitas pada dirinya sendiri. Karena itulah bahasa telah selalu memiliki potensi untuk mendekonstruksikan dirinya sendiri (oto-dekonstruksi).
Dengan demikian, artikel ini berisikan penjelasan tentang “suplemen” menurut pemikiran Derrida yang sekaligus menunjukkan posisi pemikiran Derrida terhadap diskursus Belokan-Linguistik.
Metode yang digunakan untuk menjelaskan topik ini adalah: deskriptif-kualitatif di mana artikel ini akan menunjukkan hal-hal penting dari uraian Derrida tentang “suplemen.” Seluruh uraian akan ditutup dengan pandangan artikel ini mengenai implikasi pemikiran Derrida terhadap perkembangan diskursus filosofis dan linguistik.
Suplemen
Suplemen bukanlah istilah yang diciptakan sendiri oleh Derrida. Istilah tersebut ia dapatkan dari pemikiran Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant (1724-1804). Rousseau melalui karyanya berjudul Dictionary of Music (1768) menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan karakteristik bahasa; sedangkan Kant menggunakannya untuk menjelaskan tentang konsep keindahan atau seni. Derrida sendiri mengulas “suplemen” menurut pemikiran Rousseau pada bagian kedua Of Grammatology; dan pemikiran Kant diulasnya pada The Truth in Painting (1978).
Penting untuk menjadi perhatian bahwa Kant tidak menggunakan istilah “suplemen” secara langsung, tapi ia menggunakan istilah parerga dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “ornamen.”
Namun, parergon maupun ornamen memiliki arti yang sama dengan suplemen, yaitu: menambahkan sekaligus menggantikan realitas. Berikut kutipan langsung dari Rousseau dan Kant:
Rousseau: “Semua gerakan tubuh yang diatur menurut hukum-hukum tertentu untuk apa yang dilihat oleh seseorang dengan beberapa gerakan secara umum disebut [sebagai] gestur. Gestur dibagi menjadi dua jenis, yang pertama berfungsi sebagai pengiring lisan dan yang kedua sebagai suplemen [cetak tebal sengaja ditambahkan oleh penulis].
Yang pertama, alami bagi setiap manusia yang berbicara, dimodifikasi secara berbeda berdasarkan manusianya, bahasanya, dan karakternya. Yang kedua adalah Seni berbicara kepada mata tanpa bantuan tulisan melalui gerakan tubuh yang telah menjadi tanda-tanda konvensional.”
Kant: “Bahkan apa yang disebut ornamen (parerga), yaitu: apa yang merupakan tambahan [suplemen], dan bukan unsur intrinsik dalam representasi objek yang lengkap, [tapi] menambahkan rasa hanya melalui bentuknya. Demikian juga dengan bingkai-bingkai lukisan atau gorden pada patung-patung, atau tiang di sekitar istana megah. Namun, jika ornamen [suplemen] itu sendiri tidak masuk ke dalam komposisi bentuk yang indah—jika diperkenalkan seperti bingkai emas hanya untuk memenangkan persetujuan gambar melalui pesonanya—maka disebut sebagai perhiasan dan menghilangkan keindahan aslinya.”
Istilah “suplemen” yang digunakan oleh Rousseau dan Kant telah memengaruhi pandangan Derrida terhadap bahasa. Suplemen memberikan cara pandang baru terhadap bahasa menggantikan cara pandang representasionalisme. Bagaimana Derrida menguraikannya?
Suplementasi
Rousseau, dalam uraian Derrida, menggunakan istilah “suplemen” untuk menjelaskan karakteristik Bahasa. Bagi Rousseau, bahasa memiliki dua bentuk, yaitu: lisan dan tulisan. Lisan merupakan representasi realitas secara langsung, sedangkan tulisan merupakan suplemen dari lisan. Dengan begitu, dalam pandangan Rousseau, lisan lebih natural dibandingkan dengan tulisan. Padahal, terang Derrida, tulisan dan lisan berkedudukan sama dihadapan realitas, yaitu sebagai suplemen.
Itu artinya, bahasa—baik lisan maupun tulisan—tidak merepresentasikan realitas, tapi menambahkan sekaligus menggantikan realitas. Ini menandakan bahwa realitas tetaplah asing di hadapan manusia.
Derrida menggambarkan bahwa manusia tidak memahami atau buta terhadap realitas. Namun, manusia tetap berusaha untuk memahami realitas dengan menggunakan logika atau bahasa. Pemahaman manusia terhadap realitas itulah yang disebut oleh Derrida sebagai “suplemen.”
Derrida: “Kebutaan dengan demikian menghasilkan apa yang lahir pada saat yang sama dengan masyarakat [yaitu]: bahasa, aturan pergantian tanda untuk halnya, [dan] urutan suplemen. Seseorang telah beralih dari kebutaan kepada suplemen. Namun, orang buta [tetap] tidak dapat melihat, itulah kenyataannya, [sehingga] ia harus menghasilkan suplemen untuk pandangannya. Kebutaan ke suplemen adalah hukum.”
Melalui gambaran di atas, yaitu: kebutaan, Derrida sedang menunjukkan bahwa bahasa bukanlah representasi realitas. Karena bahasa tidak menghadirkan (merepresentasikan) realitas atau sekadar mengubahnya ke dalam bentuk ucapan/tulisan.
Tepatnya, bagi Derrida, bahasa menambahkan sesuatu pada realitas dan secara bersamaan menggantikannya dengan bentuk yang lain, yaitu bentuk yang dapat dikenali oleh logika manusia. Oleh karena itu, suplementasi lebih memadai untuk menggambarkan bahasa dibandingkan dengan representasionalisme.
Representasionalisme
Cara pandang representasional terhadap bahasa setidaknya dapat ditemukan melalui pemikiran Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Ia menjelaskan pandangannya terhadap bahasa melalui New Essays dengan menyatakan bahasa sebagai cermin terbaik (best mirror) dari pikiran.
Tampak jelas bahwa Leibniz sedang memperkenalkan bahasa sebagai pusat untuk mengkaji realitas menggantikan pikiran dan pengalaman manusia. Alasannya sangat jelas bahwa pikiran dan pengalaman manusia direpresentasikan atau hadir di dalam bahasa.
Sejurus dengan Leibniz, Wilhelm von Humboldt (1767-1835) menyatakan bahwa bahasa merupakan pandangan dunia (Jerman: weltanschauung).
Itu artinya, bagi Humboldt, bahasa tidak hanya sekadar merepresentasikan realitas, tapi telah menjadi realitas itu sendiri. Karena tidak ada realitas atau dunia lain selain yang bisa diucapkan/dituliskan.
Alhasil, kajian terhadap realitas hanya bisa dilakukan dengan melakukan kajian terhadap bahasa; bukan dengan melakukan kajian terhadap pikiran atau pengalaman manusia. Dengan demikian, representasionalisme tidak hanya mengubah cara pandang terhadap bahasa, tapi juga arah dari perkembangan filsafat.
Representasi ke Suplementasi
Namun, di mata Derrida, bahasa tidak mungkin merepresentasikan realitas. Hal tersebut ia jelaskan dengan menunjukkan karakteristik bahasa yang sangat tergantung dengan konteks. Derrida mengungkapkannya melalui frasa yang cukup terkenal, yaitu: il n’y a pas de hors-texte yang berarti “tidak ada sesuatu apapun di luar konteks.”
Kendati telah terjadi kesalahpahaman dengan mengartikan frasa tersebut sebagai: “tidak ada sesuatu apapun di luar teks”, sehingga seolah-olah Derrida berpandangan representasional, tapi kekeliruan tersebut segera diluruskan oleh Derrida. Karena Derrida menggunakan frasa tersebut untuk menunjukkan ketidak-berdayaan bahasa tanpa bantuan konteks. Bahasa tanpa konteks sangat mungkin untuk dimaknai secara berbeda (multi tafsir). Konteks diperlukan untuk memahami atau membatasi makna dalam sebuah proposisi. Contoh: “Budi membeli buah di pasar” telah selalu bisa ditafsirkan dalam berbagai makna. Namun, dengan bantuan konteks, maka “Budi membeli buah di pasar” dapat dimaknai seturut dengan tujuannya. Semisal, Budi adalah seorang penjual jus buah di rumahnya, maka “Budi membeli buah di pasar” harus dimaknai sebagai bagian dari profesinya sebagai penjual jus buah; bukan sebagai bagian dari hobi atau kesukaan Budi terhadap buah atau yang lainnya. Jika bahasa mampu merepresentasikan realitas, mengapa bahasa dapat diartikan secara jamak? Apakah realitas bersifat jamak?

0 komentar:
Posting Komentar