![]() |
| (Kompas, 17 September 1990) |
Oleh: Ridwan Saidi
Ia seorang cendekiawan Perancis terkemuka saat ini, usianya 50 tahun, dan jabatan Direktur d'Etudes a l'Ecole des Hautes Etudes et Sciences Sociales. Belum lama ini ia memperoleh gelar Doctorat d'Etat, suatu gelar akademis setingkat di atas S-3. Untuk meraih gelar tersebut Prof Dr Denys Lombard menulis disertasi setebal 1.000 halaman berjudul Le Carrefour Javanais, sebuah esai tentang sejarah Islam di Jawa.
Sebagai ahli sejarah dan peradaban, Prof Lombard dalam disertasinya mengupas dan menginterpretasikan arti kedatangan Islam di tanah Jawa dan pengaruhnya pada kawasan sekitar.
Pada siang hari tanggal 27 Juni 1990 saya menemuinya di kantornya di Boulevard Raspail, Paris. Dua buah wayang kulit menghiasi dinding ruang kerjanya yang tidak terlalu luas. Ia segera mengajak makan siang di sebuah restoran yang terletak di Rue du Cherche Midi, tidak berapa jauh dari kan- tornya. Ia menatap daftar menu, dan menjanjikan memilih makanan yang cocok untuk saya. Saya sendiri lebih menantikan percakapan dengan Prof Lombard tentang pemikirannya yang dituangkan dalam disertasinya itu, meskipun saya menyukai masakan Perancis.
Bagian Pertama dari Empat Tulisan
Lombard melihat bahwa kedatangan Islam di tanah Jawa pada abad 14 dan 15 telah membawa perubahan dalam sistem mentalitas orang Jawa. Karena Jawa sebagai pusat "persimpangan jalan", maka perubahan sistem mentalitas itu juga melanda kawasan Nusantara, yaitu kerajaan-kerajaan yang berbahasa Melayu. Perubahan pada sistem mentalitas itu merupakan kondisi yang penting yang dibawa Islam sebagai dasar modernisasi.
Ada dua konsep penting yang dibawa Islam, yaitu konsep tentang waktu dan ruang. Sebelum kedatangan Islam, waktu lebih dilihat sebagai sesuatu yang mengandung nilai tertentu. Ada hari baik dan ada hari sial. Konsep waktu yang dibawa Islam sebenarnya diilhami peradaban Yunani kuno, namun Portugal gagal memasyarakatkan di Indonesia. Islam lebih berhasil memperkenalkan konsep waktu sebagai garis yang linier sifatnya. Ada hari kemarin, hari ini, dan esok. Dengan memandang waktu sebagai garis linier maka ada progres. Ini merupakan sendi yang amat penting dalam menegakkan kehidupan modern.
Ruang pada masyarakat Jawa berpusat di keraton. Keraton sebagai "pusat" merupakan gambaran kosmos yang sederhana dalam sistem mandala agraris. Islam menempatkan Mekkah sebagai "pusat". Perubahan konsep ruang ini mendorong berkembangnya kebudayaan pesisir, dan membudayanya peta geografis..
Menurut Lombard, dari abad ke 16 sampai ke 18 terjadi proses pemasyarakatan konsep- konsep modernisasi yang paling intens di Jawa dan kawasan sekitar. Meskipun hingga dewasa ini kesinambungan peran Islam dalam modernisasi masih terasa, namun di abad ke 19 simbol-simbol modernisasi yang baru masuk ke Indonesia dengan cepat dicerna golongan priyayi dan Cina.
Adanya "kecemburuan golongan" di kalangan Islam menyebabkan idiom modernisasi terlepas dari tangannya. Apalagi dalam perkembangan selanjutnya terjadi kekaburan dalam memahami konsep modernisasi di satu pihak, dan westernisasi di pihak lain. Kedua konsep ini memang banyak persamaan, tetapi mesti dibedakan. Karena pada dasarnya modernisasi didatangkan Islam, sedangkan westernisasi ada hubungannya dengan Barat sebagai sumber.
Kepada Prof Lombard saya tanyakan bagaimana menem- patkan pemikirannya dalam konteks perkembangan di Iran dan Aljazair. Ia mengatakan bahwa setiap oposisi terhadap sistem Barat selalu dikaguminya, tetapi pada saat bersamaan ia menyadari bahwa hal itu tak dapat tahan lama mengingat Islam juga harus mempertahankan aspek kosmopolitnya. Apalagi untuk memenangkan masa depan yang panjang di mana dunia makin cenderung ke arah globalisasi.
Sementara itu sejarah Eropa abad pertengahan ditandai dengan perdebatan penting antara kekuasaan negara dan agama yang berujung pada pemisahan ilmu dan agama, serta pemisahan politik dan agama. Kemajuan Eropa tidak terlepas dari kemampuan masyarakatnya untuk menyelesaikan perdebatan ini. Di kalangan Islam pemisahan itu belum terjadi. Tetapi kalau konsep Islam tentang tidak terpisahnya ilmu dan agama serta politik dan agama dibatalkan, maka Islam sudah bukan Islam lagi.
"Sebuah dilema?" saya bertanya. Profesor Lombard tidak menjawab. Lalu ia mengingatkan saya bahwa makanan saya sudah hampir dingin. "Habiskanlah, saya segera harus pergi, jam dua nanti saya ada janji," katanya ramah..
Kampung besar
Omong-omong dengan Adnan Buyung Nasution di Utrecht dan di Jakarta sama saja. Meski sudah tiga tahun ia bermukim di Negeri Belanda tapi pengetahuannya tentang situasi politik Tanah Air tetap aktual. Seraya memirsa pertandingan semifinal Italia-Argentina, kami tak henti-hentinya bercakap politik. Menjelang pulang Bang Buyung mengatakan, Islam perlu melanjutkan politik tradisi pembaharuan yang dirintis Sarekat Islam. Gerakan kebangsaan di tangan Budi Utomo mengering karena berputar di sementara elite feodal saja. SI berhasil memasyarakatkan gerakan kebangsaan menjadi populis.
Saya meniti tangga rumah yang terletak di jalan Oudegracht 238A Utrecht-Centrum, saya teringat percakapan dengan Prof Lombard. "Habis dari Holland ke mana lagi, Wan?" Bang Buyung bertanya. "Ke Inggris," jawabku seraya berlalu dari rumahnya.
Sayang sekali pertemuan saya dengan Dr E.U. Kratz di London berlangsung terlalu singkat. Itu terjadi di hari terakhir beberapa jam sebelum pesawat yang membawa saya pulang ke Jakarta tinggal landas. School of Oriental and African Studies University of London, tempat Dr Kratz memberi kuliah, merupakan pusat kajian Asia dan Afrika yang paling terkemuka di Eropa Mungkin cuma di Moskwa terdapat pusat kajian serupa.
School of Oriental and African Studies (SOAS) sudah ber diri tahun 1913, namun peresmiannya baru tahun 1916. Kalangan SOAS memandang, bahasa dan sastra merupakan cara pendekatan yang baik kepada masyarakat Asia dan Afrika. Dalam kedudukannya selaku Kepala Departemen Kajian Asia Tenggara, Dr Kratz yang berdarah Jerman itu amat canggih penguasaannya terhadap kesusasteraan Indonesia. Dengan lancar ia menyebutkan butir-butir Surat Kepercayaan Gelanggang, selancar ia menguraikan pandangan Asas '50, kelompok sasterawan Malaysia.
Kepada Kratz saya tanyakan komentarnya tentang pendapat yang mengatakan, kesusasteraan Indonesia masa kini tidak lagi mencerminkan pertemuan budaya Indonesia dengan Belanda. Pendapat ini berasal dari Dr James Siegal yang sempat menjamu saya makan malam di sebuah restoran di Paris. Menurut Siegal, hanya Francais dengan karyanya Nyai Dasima yang dapat dikatakan mencerminkan keadaan masyarakat Indonesia yang melakukan pertemuan budaya dengan Barat, dalam hal ini Belanda.
Kratz menyangkal pendapat Siegal. Menurut Kratz, malah masyarakat Indonesia abad ke- 20 terbentuk akibat pertemuan dengan Barat. Itu terlihat dari filsafat, politik dan ekonomi. Apalagi dalam kesusasteraan, karena pengaruh Belanda cukup kuat pada elite Indonesia. Sastera Indonesia mencerminkan perkembangan masyarakat, dan para sasterawan pun menganggap dirinya bagian dari masyarakat. Namun Dr. Kratz mengakui, perkembangan kesusasteraan Indonesia sejak tahun 1970-an memperlihatkan semakin kuatnya pengaruh daerah, khususnya Jawa. "Apa di luar bidang kesusasteraan juga begitu?" saya bertanya. "Justru pengaruh Islam semakin kuat di masa panjang."
Tampaknya Kratz tidak ingin memberi jawaban langsung, ia alihkan pembicaraan kepada tema yang lain. Dalam tema Islam, pembicaraan berkembang ke arah yang mendekati kerangka dasar pemikiran Prof Lombard. Bagi Dr Kratz, dunia kini sudah menjadi sebuah kampung besar. Tidak ada lagi sesuatu bangsa atau negara yang dapat menutup diri dari pengaruh luar. Begitu pula dunia Islam tidak dapat mengisolasi dirinya dari pelbagai pengaruh yang datang dari luar Islam.
Sebaliknya, dalam "kampung besar" ini masing-masing pihak yang hidup di dalamnya perlu mengenal secara lebih dekat pihak yang lain. Karena itu kajian bangsa-bangsa perlu dikembangkan, termasuk kajian tentang Islam.
Menyinggung tentang Islam di Indonesia masa kini, menurut Kratz ada tendensi di kalangan Islam bahwa agama semakin tidak menjadi vested interest politik. Agama (Islam) kini menjadi urusan semua orang, bukan cuma urusan kelompok politik Islam. Menurut Kratz, hal ini akan mempengaruhi proses politik. Yaitu, menguatnya kesadaran keagamaan masyarakat umum, dan kalau hal ini beriringan dengan menguatnya Islam dalam masyarakat, justru Jakarta Charter tidak diperlukan. Karena segala hal yang menyangkut kehidupan beragama (Islam) dapat diselesaikan di luar Jakarta Charter. "Bukankah Islam telah menjadi urusan orang lain juga, bukan hanya golongan politik Islam?" kata Dr Kratz mengakhiri percakapan.
Datuk Batuah dan Haji Misbach
"Saya sedang menyiapkan buku tentang Datuk Batuah dan Haji Misbach", kata Prof Van Dijk yang saya temui di ruang kerjanya di Universitas Leiden. Kedua tokoh yang akan ditulisnya itu adalah orang Islam yang beraliran kiri. Tetapi begitulah kehidupan akademis di Eropa. Semuanya terbuka untuk dijadikan obyek penelitian dan penulisan.
Dan pada akhirnya menggugah kesadaran bahwa Islam merupakan subyek yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Mulai dari pemikiran Prof Lombard yang dengan piawai merumuskan problema dasar yang dihadapi Islam, khususnya di Indonesia, dalam mengatasi dilema menjelang abad ke-21 sampai kepada pandangan Dr Kratz yang melihat Islam di Indonesia seolah-olah telah menemukan formula untuk merambah jalan ke depan dalam kerangka keIndonesiaan. Semuanya menarik diikuti sebagai "cermin" bagi kita.
Tetapi yang jelas apa yang diungkapkan Prof Lombard merupakan sesuatu yang baru. Selama ini kajian Islam didominasi oleh pandangan Snouck Hurgronje yang melihat kehadiran Islam di Indonesia membawa semangat perlawanan (terhadap kolonialisme). Bahkan Mekkah dikatakan sebagai jantung yang senantiasa menyemprotkan darah segar ke Hindia Belanda lewat aorta para pemukim asal Jawa.
Wajah Islam yang pelawan dan pemberang diyakini masih berpotensi. Lahirnya buku tentang pemberontakan Kartosoewirjo, kemudian akan munculnya buku tentang Datuk Batuah dan Haji Misbach, implisit mengandung asumsi bahwa sifat pelawan dan pemberang masih ada pada diri umat Islam. Apa yang patut diketengahkan dari percakapan dengan Prof. Denys Lombard adalah jalan pikirannya itu dilandasi asumsi yang jernih bahwa kehadiran Islam di Indonesia secara historis sesungguhnya membawa sifat pembaharuan. (bersambung)
Sumber: Kompas, 17 September 1990


0 komentar:
Posting Komentar