alt/text gambar

Selasa, 06 Mei 2025

Topik Pilihan: , ,

SEPUTAR SASTRA

 

"Sastra tidak dibawa malaikat dari langit. Sastra tidak datang begitu saja. Ia lahir melalui proses pergulatan sastrawan dengan kondisi sosial—budaya zamannya. Maka, membaca karya sastra hakikatnya membaca keadaan masyarakat dan budaya yang terungkap dalam karya itu. Jadi, sastra menyimpan pemikiran sastrawannya juga."(Maman S. Mahayana, Pengantar dalam novel Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

***

"Karya sastra merupakan cermin masyarakat, potret kehidupan, dan gambaran semangat zamannya." (Denny Prabowo, "Idrus Memotret Kehidupan" dalam Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Jakarta: Balai Pustaka, 2010, h. xi) 

***

Manusia adalah Makhluk yang Menyukai Cerita

Sastra, bukanlah segala-galanya dalam kehidupan manusia. Namun, apakah bisa kau bayangkan apabila kehidupan manusia tiada mempunyai cerita untuk dibaca? Betapa hanya kesepian, kesunyian, dan keterasingan yang akan menimpanya. Karena bagaimanapun juga, manusia adalah makhluk yang menyukai cerita. Ia akan membangun hidupnya bersandarkan pada cerita yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. (Rae Wellmina) 

***

"Di dunia Barat, para sastrawan besar memang dikategorikan satu kolam dengan para filsuf, sebab mereka itu sesungguhnya perenung, yang menyelami dilema, misteri, dan dinamika kehidupan manusia. Mereka mampu merumuskan secara mendalam dan menyentuh hal-hal yang biasanya tak terumuskan."  (Prof. Dr. Bambang Sugiharto, guru besar filsafat Universitas Parahyangan) 

**

Membaca novel sebenarnya bukan sekadar pengisi waktu luang atau hiburan, meskipun memang menyenangkan. Di dunia Barat, sejak sekolah dasar, anak-anak dibiasakan membaca novel-novel klasik, seperti karya Alexander Dumas, Victor Hugo, dan sebagainya. Di dunia Barat, para sastrawan besar memang dikategorikan satu kolam dengan para filsuf, sebab mereka itu sesungguhnya perenung, yang menyelami dilema, misteri, dan dinamika kehidupan manusia. Mereka mampu merumuskan secara mendalam dan menyentuh hal-hal yang biasanya tak terumuskan." (Prof. Dr. Bambang Sugiharto, guru besar filsafat Universitas Parahyangan) 

***

“Muatan filsafat selalu menjadi titik pijak melahirkan sajak yang bermutu. Sastra dan filsafat adalah dua genre yang berbeda tetapi memiliki muatan isi yang sama. Dalam sastra ada begitu banyak muatan filosofis. Pram misalnya pernah mengatakan bahwa seorang intelektual harus adil sejak dalam pikirannya. Ini merupakan suatu rumusan karya prosa yang filosofis. Ada kedalaman nilai yang penting bagi orang lain.” (Ignas Kleden, kritikus sastra Indonesia) 

***

Pentingnya Membaca Novel

Kata Rocky Gerung, akhir pekan, bacalah novel. Ada pengetahuan di dalamnya. Ada pelajaran logika di situ. Etika dan estetika banyak. Fantasi dan imajinasi tumbuh. Tragedi dan komedi jadi satire. Kosakata dan diksi bertambah. Bacalah novel. Baca, baca, baca. Agar tak mendungu.

***

Buku yang bagus itu sebetulnya novel. Karena di situ ada logika, ada estetika, ada sejarah, ada humor, dan lain-lain. -- Rocky Gerung

***

Guru besar filsafat Universitas Parahyangan Prof Bambang Sugiharto menulis dalam kutukata.id berjudul "Mengapa Membaca Buku?":

"Membaca memperdalam cara pandang dan memperluas imajinasi. Ini terutama kalau kita membaca novel. Novel merekam jatuh-bangunnya manusia, merekam kerumitan emosi dan imajinasi manusia. Bila buku-buku ilmiah bernilai karena berisikan gagasan-gagasan yang bersifat universal, novel berharga justru karena dia merupakan tulisan individual; bagaimana kehidupan dijalani secara unik dan dipahami dari perspektif pribadi. Ini penting untuk lebih memperjelas bahwa bagi setiap orang, hidup itu memang dialami dan dipahami secara berbeda-beda. Maka untuk memahami kompleksitas kenyataan hidup tidaklah cukup kita hanya menggunakan sains. Sains penting untuk menangkap fakta dan pola. Seni (sastra) penting untuk menangkap makna, imajinasi dan rasa. Hidup manusia adalah soal makna, soal apa yang dirasa berharga, apa yang diimajinasikannya sebagai cita-cita. Dan ini memang bersifat pribadi, terkait pada pengalaman, perasaan, imajinasi, impian, yang memang berbeda-beda. Makin banyak kita membaca novel, semakin kita masuk ke dalam aneka bentuk kehidupan yang sebetulnya pelik. Misalnya, apa sebenarnya yang membuat seseorang itu menderita, termotivasi bekerja, berjuang, terluka, bermimpi; apa yang dianggapnya bahagia, dan sebagainya. Dengan cara itu, empati dan toleransi kita terhadap sesama manusia ditumbuhkan dan diperdalam. Membaca novel sebenarnya bukan sekadar pengisi waktu luang atau hiburan, meskipun memang menyenangkan. Di dunia Barat, sejak sekolah dasar, anak-anak dibiasakan membaca novel-novel klasik, seperti karya Alexander Dumas, Victor Hugo, dan sebagainya. Di dunia Barat, para sastrawan besar memang dikategorikan satu kolam dengan para filsuf, sebab mereka itu sesungguhnya perenung, yang menyelami dilema, misteri, dan dinamika kehidupan manusia. Mereka mampu merumuskan secara mendalam dan menyentuh hal-hal yang biasanya tak terumuskan."

***

"Pengarang tak bisa bersandar hanya pada pengalaman diri sendiri, sebab alangkah terbatasnya pengalaman pribadi seseorang." (Ayu Utami, dalam novel Saman

***

Jalan Tak Ada Ujung

Novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis mengajarkan pentingnya keberanian dalam menghadapi ketakutan dan ketidakpastian hidup. Melalui tokoh Guru Isa, novel ini menggambarkan bagaimana manusia sering terjebak dalam konflik batin dan rasa putus asa ketika dihadapkan pada situasi yang tak pasti. Mochtar Lubis menunjukkan: untuk menemukan makna dan kebebasan sejati, seseorang harus berani menghadapi dan melawan ketakutannya, serta terus mencari harapan di tengah-tengah keadaan yang tampaknya tak berujung. Novel ini juga mengajarkan: perjuangan melawan diri sendiri adalah salah satu bentuk keberanian terbesar yang dimiliki manusia.

***

"Menulis adalah sebuah panggilan. Penulis merasa terpanggil untuk menuangkan gagasan dengan medium bahasa. Ada gerakan dalam jiwa untuk membagi pengetahuan kepada orang lain. Sebagaimana panggilan diawali dengan sebuah kekaguman dan kesediaan untuk memberi diri, dalam hal menulis seorang penulis memiliki kegairahan untuk menulis dan berdedikasi tinggi untuk melakukannya. Panggilan menulis bersumber dari kedalaman hati untuk berbakti bagi sesama." (Ignas Kleden) 

***

Membaca fiksi akan mengubah Anda.

Pengarang, komikus, dan sineas Neil Gaiman, dalam sebuah esai visualnya di The Guardian, menulis, “Fiksi membangun empati. Fiksi adalah sesuatu yang Anda bangun dari 26 huruf dan tanda baca. Anda, dan Anda sendirilah, dengan imajinasi Anda, yang menciptakan dunia dan karakter-karakter di dalamnya serta melihat melalui mata orang lain. Anda menjadi orang lain, dan ketika Anda kembali ke dunia Anda sendiri, Anda akan sedikit berubah.”

Yang dimaksud Gaiman adalah setiap kali membaca buku, Anda berdialog dengan isi buku. Aktivitas membaca bukan cuma menerima (receptive) tapi juga menghasilkan (productive).

Anda memproduksi imajinasi, pendapat, dan kesimpulan Anda sendiri—yang bisa jadi lebih luas dan bahkan berbeda dengan maksud awal penulis atau pengarang. Maka, salah satu metode pembelajaran sastra yang disarankan adalah menugaskan siswa membaca satu karya tertentu dan kemudian meminta siswa menyampaikan komentarnya atas karya tersebut di depan kelas atau melalui tulisan. (Sumber: Mengapa Anda Harus Membaca Buku Setiap Hari? - KutuKata [kutukata.id]) 

***

MENGAPA BACA NOVEL? Apakah sebuah novel bisa mengubah dunia? Buatku, hal semacam itu penting nggak penting, tentang bisa atau tidak novel mengubah dunia. Tetapi, yang paling penting dan lebih bisa diusahakan adalah, bagaimana sebuah novel bisa mengubah cara orang melihat dunia. Karena ketika cara pandang orang terhadap dunia bisa berubah, dunia juga bisa berubah." (Eka Kurniawan, sastrawan Indonesia yang mulai menggemparkan kancah internasional melalui novel Cantik Itu Luka)

***

"Membaca novel, bisa menghibur kita saat sedang suntuk, juga melatih imajinasi dan menambah kosakata baru di dalam kepala. Novel juga bacaan yang ringan dan jarang membuat kita merasa ngantuk di tengah membaca. Kadang kalau kita sudah ketagihan dengan alur ceritanya, bisa-bisa tanpa sadar kita langsung selesai baca sekali duduk." (https://id.quora.com/Menurut-pendapatmu-mana-yang-lebih-bermanfaat-membaca-novel-buku-sejarah-atau-main-Quora) 

***

"Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa." (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia, tt, h. 3) 

***

Menikmati suatu karya sastra berarti memberi "napas" bagi jiwa, mengasah rasa seni dan sense. Lewat karya-karya tersebut, manusia dapat mengasah kepekaan budi dan emosinya, bercermin—membandingkan situasi dunia yang dihuni dan dikenal oleh pengarang pada masa itu dengan dunia yang dipijak dan ditempatinya saat ini. Melalui budaya, gaya bahasa, sejarah, struktur dan tatanan masyarakat, serta segala yang menyangkut masa lalu, perasaan tertentu dapat muncul di hati, seolah-olah kita sendiri mengalaminya. —Pengantar Penerbit Balai Pustaka dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (Jakarta: Balai Pustaka, 2009.) 

***

"Untuk bertahan hidup, kau harus bercerita"

(Umberto Eco, Six Walks in the Fictional Woods,1994)

Bercerita adalah cara manusia bertahan. Melalui cerita, kita mengingat, memahami, dan memberi makna pada pengalaman. Kisah-kisah yang kita bagikan memperkuat identitas, menyatukan komunitas, dan menjaga warisan pengetahuan. Bahkan dalam situasi paling sulit, menceritakan sesuatu—baik kepada diri sendiri maupun orang lain—membantu kita menghadapi ketakutan, kesedihan, dan ketidakpastian. 

Tanpa cerita, hidup kehilangan konteks, dan pengalaman menjadi sia-sia. Sejarah manusia dipenuhi dengan kisah-kisah yang diwariskan untuk menjaga keberlangsungan peradaban. Bercerita bukan hanya kebutuhan emosional, tetapi juga strategi bertahan hidup yang membuat kita tetap terhubung dengan dunia dan sesama.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1A3c2AFVVi/


***

Memang filsafat selalu dituntut rigoris, sistematis, dan koheren, tapi lupa bahwa keindahan, rasa, kehidupan tidak selalu demikian. Kekurangan ini justru merupakan kelebihan fiksi, dan dalam arti tertentu sastra. Kekuatan fiksi adalah memberikan paradigma-paradigma kehidupan dalam bentuk hipotetis. Maka karya sastra cenderung tidak menggurui dan lebih mudah mendorong pembacanya untuk bertindak karena model-model narasi yang ditawarkan mudah untuk ditiru serta tidak menggurui. Pada dasarnya tindakan manusia adalah bentuk peniruan. Heidegger dengan mengerahkan segala konsep dan kategori mau meyakinkan secara filosofis apa yang dimaksud dengan “waktu”, sedangkan karya sastra dengan narasinya membuat “waktu” bisa dipahami karena narasi memberi struktur untuk berpijak kepada “waktu”. (Haryatmoko, "Derrida yang Membuat Resah: Rezim Dogmatis dan Kepastian", dalam Majalah Basis, No. 11-12 Tahun ke 56, November-Desember 2007, h. 14-15).

***

Sastra dan Berbagai Perspektif tentangnya

Melalui sastra, penglihatan kita atas dinamika batin manusia terus-menerus diperdalam, dibimbing ke arah berbagai dimensi dan misterinya yang tak terduga, ke arah ceruk-ceruk pengalaman manusia yang biasanya tak kasat mata. Sastra berkomunikasi dengan hati dan imajinasi, sekaligus membukakan kesadaran, melalui caranya yang ganjil dalam memainkan kata, kalimat alur cerita dan karakter tokoh-tokoh dramatisnya. 

Sastra adalah potret misterius dinamika dunia batin manusia. Sepanjang sejarahnya ia telah dibolak-balik, diteliti dari berbagai sisinya. Kaum romantik memperdebatkan isinya, haruskah isi itu fiktif-imajinatif atau mimetik-realistis. 

Formalisme Rusia dan strukturalisme Prancis mempersoalkan struktur bentuknya yang otonom. 

Kritisisme-baru dari Amerika melihat bahwa isi karya sastra seringkali mengandung ambiguitas, paradoks dan ironi, namun justru itulah yang membuat karya sastra unik dan berharga untuk dikaji. 

Post-strukturalisme meradikalkan anggapan itu, dan menyatakan dengan tegas bahwa isi sebuah karya memang tidak pasti, undecidable, dan tak pernah final. 

Teori persepsi dan “reader-response" seperti menggarisbawahi hal itu, dan melihat bahwa pada akhirnya isi atau makna karya ditentukan oleh pembacanya, atau oleh komunitas pembaca, yang berbeda-beda. 

Sementara itu, neo-marxis seolah melepaskan karya, baik dari penulisnya, konstruksi bentuknya maupun pembacanya sekaligus. Sastra dilihat semata-mata sebagai representasi dari, atau kritik atas, ideologi yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini, wacana post-kolonial maupun feminisme berada pada jalur yang sama dengan neomarxisme: ketiganya mencurigai aspek ideologis yang tersembunyi di belakang karya. Bedanya, pada wacana neo-marxis yang disasar adalah ideologi kapitalisme, pada wacana post-kolonial adalah ideologi imperialisme, dan pada feminisme adalah ideologi patriarki. 

Ketiga mazhab terakhir memang sama-sama menggunakan lensa “hermeneutika-kecurigaan" (hermeneutics of suspicion) dalam menafsir karya sastra. 

Kulminasi dari perjalanan sejarah ini tampaknya adalah perspektif postmodernisme. Di sana bentuk, isi, latar belakang, segala kaidah, kriteria dan sekat-sekat bidang dibongkar dan dicampuradukkan, seolah sastra dikembalikan pada hakikatnya sebagai permainan imajinasi dan petualangan batin yang bebas. Dalam situasi kontemporer saat ini sastra ternyata juga bekerja sama dengan musik, film, tarian, lukisan, dsb. Belum lagi, ia masuk pula ke dalam medan komunikasi baru yang serba digital. 

Dalam medan baru yang penuh percampuran itu tentu saja pengertian kita tentang “sastra” pun berubah. Tapi barangkali melalui segala perubahan itu pula sastra, seperti seni pada umumnya, justru akan tetap mampu berperan sebagai mercusuar kemanusiaan dan katarsis kehidupan. 

Sophan Ajie, "Sastra Modern dan Aneka Perspektifnya", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020

***


0 komentar:

Posting Komentar