alt/text gambar

Sabtu, 27 Desember 2025

Topik Pilihan:

Saintisme

 

Tentu fakta merupakan jenis kebenaran yang sangat penting untuk kehidupan. Politik tanpa fakta bisa menyesatkan. Pengadilan tanpa fakta berubah menjadi ketidakadilan dan kebohongan. Sains tanpa fakta tak ubahnya dengan gosip yang membahayakan. Media tanpa fakta akan menyebarluaskan kebohongan yang akan menghancurkan masyarakat. Fakta adalah kebenaran, dan hal itu, seperti disinggung di atas, adalah prestasi modernitas. Masalah muncul jika pemahaman kebenaran disempitkan hanya pada fakta sehingga fakta hanyalah satu-satunya jenis kebenaran. Fakta 

dianggap sebagai 'keseluruhan kebenaran', padahal mustahil kita mengetahui keseluruhan kebenaran itu. Dalam bukunya Philosophy in a New Key, Susanne K. Langer dengan tepat melukiskan kondisi kita sebagai berikut. 

"Kita telah mewarisi suatu iman yang naif akan substansialitas dan keunggulan fakta, dan yakin bahwa hidup manusia, agar bermakna, tidak harus hanya disesuaikan secara wajar dan pas dengan kebutuhan-kebutuhan mendesak mereka ... tetapi harus secara intelektual diisi dengan suatu apresiasi atas “benda-benda sebagaimana adanya”. Fakta adalah ukuran nilai kita yang sesungguhnya."

Sebagaimana akan jelas di bab akhir buku ini sebagai reduksionisme, yang kita persoalkan bukan fakta itu sendiri, melainkan penyempitan pemahaman kebenaran pada fakta. 

Susremasi kebenaran faktual inilah yang sedang kita persoalkan di sini dan kita identifikasi sebagai pangkal krisis-krisis makna dalam modernitas. Sains modern bekerja dalam teritorium epistemis yang tepat dengan upayanya mencari kebenaran faktual, tetapi cara-cara berpikir sains yang melampaui teritorium itu dan anggapan bahwa kebenaran faktual sains adalah seluruh kebenaran adalah keyakinan berlebihan yang kita sebut saintisme (scientism). 

Apakah kebenaran faktual mengakhiri pencarian kebenaran dalam sejarah peradaban? Atau lebih radikal lagi: masih perlukah bicara tentang “kebenaran” di suatu era yang sudah senantiasa mengandaikan bahwa kebenaran tidak bisa lain adalah fakta objektif. Pertanyaan-pertanyaan ini hanya mengawali perjalanan panjang dalam filsafat kontemporer untuk menguak 'kondisi-kondisi sosioepistemis dan historis' untuk mengonstruksi fakta, sehingga dapat membuka ruang lebih luas untuk dunia makna. 

(F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023, h. 25-26).


0 komentar:

Posting Komentar