![]() |
| Arief Budiman |
Oleh: Arief Budiman
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh,
Kita adalah, manusia bermata satu, yang di tepi jalan
—Taufiq Ismail
SEBELUM Caligula roboh mati, dia masih sempat berteriak: “Aku masih hidup.” Kemudian dia roboh dan pertunjukan di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki pada 14 Januari 1970 selesai. Para penonton pun bubar. Pada saat itulah Benni Mamoto, seorang teman mahasiswa menghampiri saya dan berbisik: “Besok kita akan berdemonstrasi lagi. Datanglah ke Fakultas Psikologi.” Saya mengiyakan dan pulang.
Besoknya, saya ke Fakultas Psikologi pukul sembilan pagi. Sudah cukup banyak juga orang. Di meja ada beberapa tumpuk pamflet. Di sekelilingnya ada beberapa wajah yang sudah biasa bagi saya, terutama ketika tahun enam puluh enam. Salah seorang teman berkata sambil tertawa: “Lu, kalau ada yang begini-beginian rajin deh.”
Kemudian kami berkumpul semuanya. Pimpinan hari itu menjelaskan rencananya. Dia mengatakan bahwa kami akan mengadakan demonstrasi sambil menempelkan berbagai pamflet. Daerah operasi kita adalah di sekitar Salemba, Pasar Cikini yang merupakan tempat orang-orang gede berbelanja, dan Lapangan Banteng untuk menempelkan pamflet di bis-bis yang ke luar kota. Juga dikatakan bahwa demonstrasi ini harus berjalan dengan sopan dan tidak ada perusakan-perusakan.
Kemudian kami bergerak, setelah rombongan dibagi menjadi tiga kelompok. Begitu ke luar fakultas, kami sudah mulai melakukan aksi penempelan pada mobil-mobil yang lewat. Pamflet yang ditempelkan merupakan kertas-kertas stensil yang isinya menentang kenaikan harga bensin dan minyak tanah. Juga mengenai korupsi di kalangan pejabat pemerintahan yang tidak ditindak, dan mengenai para jenderal dan para profesor yang sekarang punya kursi empuk berkat berdirinya apa yang dinamakan sekarang sebagai Orde Baru.
Saya dan beberapa teman pergi ke Lapangan Banteng. Setelah tiba di sana, kami segera menempelkan pamflet-pamflet pada bis-bis yang sedang mencari penumpang. Sebelum menempel, kami minta izin dulu pada sopirnya. Ternyata, setelah tahu apa tujuan demonstrasi, mereka bukan saja mengizinkan, bahkan membantu. “Jangan tempel di situ, Pak. Dari dalam saja, supaya kalau nanti hujan, tidak lepas.” Bahkan beberapa orang sopir membantu menempelkannya di tempat yang paling strategis.
Seorang kernet bis ada yang datang kepada kami berkata: “Itu, Pak. Tempel di bis itu. Mau segera berangkat ke Semarang dan Jogja.” Dan kami segera menempelkan pamflet-pamflet kami sambil seorang berkata: “Pak, ini dibawa ke Jawa, ya. Biar orang-orang Jawa pada tahu kita demonstrasi.”
Seorang anggota ABRI saya lihat tersenyum memandangi kami menempelkan pamflet. Beberapa orang yang sedang berkerumun (saya kira para sopir) saya dekati. Rupanya mereka sedang membaca salah satu pamflet. Terdengar suara: "Memang harus begini. Pemerintah sih bisanya naikkan harga saja. Yang payah 'kan kita, rakyat kecil. Hidup sudah begini kempas-kempis, eh, minyak tanah naik lagi.”
Segera setelah pamflet-pamflet habis ditempelkan (persediaannya memang sedikit), kami berkumpul. Seorang teman mengeluh bahwa stensilannya kurang nyata, tidak bisa terbaca dari jauh. Alangkah baiknya bila pamflet-pamflet ini dicetak.
Saya segera teringat seorang teman yang punya jasa percetakan. Segera saya cari telepon dan menghubunginya. Saya tanyakan apakah dia bisa menolong mencetak beberapa ribu pamflet pada kertas-kertas potongan yang tidak terpakai, agar bisa gratis. Dia segera menyanggupi. Jadi, beres. Keperluan selanjutnya adalah mencari berbagai sumbangan kertas stensil untuk membuat pamflet-pamflet yang distensil. Kami segera menyebar untuk menghubungi koneksi-koneksi yang ada, mencari sumbangan kertas.
Lepas tengah hari, sudah kembali berkumpul di rumah salah seorang teman. Saya makan nasi dengan rendang, untuk menjaga kondisi badan. Jadi saya ingat makan nasi bungkus dulu, ketika tahun 1966. Apalagi sesudah makan, ada rambutan dua ikat. Terbayang kembali ketika pada 12 Maret 1966 saya bersama beribu teman berkeliling Jakarta naik truk bersama-sama RPKAD, Siliwangi, dan pasukan Kostrad, dilempari berpuluh-puluh ikat rambutan. Inilah yang membuat penyair Taufiq Ismail membuat sajak rambutan pada istrinya. Semua itu terbayang kembali ketika saya terduduk lelah pada sebuah kursi rotan yang sudah rusak menghadapi dua ikat rambutan yang dimakan bersama-sama.
Ketika seorang kawan mengatakan bahwa sebenarnya masalah kenaikan bensin merupakan sesuatu yang cukup pelik untuk dilihat secara hitam-putih, maka terjadi diskusi. Memang untuk pembangunan, diperlukan biaya. Dan untuk membangun, rakyat harus berkurban: dalam jangka pendek tampaknya dia menderita, tapi untuk jangka panjang, semuanya untuk kebaikan rakyat lagi. Keterangan Emil Salim, salah seorang yang banyak memberikan alasan-alasan tentang kebaikan menaikkan harga bensin ini disebut-sebut.
Saya mengatakan bahwa apa yang dikemukakan Emil Salim terlalu rasional dan kurang memperhatikan faktor-faktor lain. Menurut saya, pemerintah Soeharto perlu mendapatkan dukungan emosional dari rakyat, terutama rakyat kecil. Salah satu prestasi dari pemerintah Soeharto; yang paling nyata bagi rakyat kecil adalah harga-harga yang stabil. Saya kira rakyat tidak begitu peduli pada Repelita dengan rencana pembangunan yang hebat. Sebelum nyata hasilnya, bagi rakyat kecil semua itu merupakan hal-hal yang abstrak.
Maka, tindakan untuk menaikkan harga bensin dan minyak tanah benar-benar merusak jembatan satu-satunya bagi rakyat kecil untuk bisa percaya kepada pemerintah Soeharto. Ditambah lagi kampanye koran-koran tentang korupsi yang terjadi, misalnya kampanye Indonesia Raja tentang korupsi di Pertamina, tidak mendapatkan tanggapan yang sewajarnya dari pemerintah. Paling-paling Jaksa Agung, Sugih Arto membuat pernyataan “akan menindak koruptor siapa pun yang berdiri di belakangnya”. Pernyataan seperti itu hanya membuat kita tertawa dengan gemas saja.
Saya kira, inilah soal yang sebenarnya dari kenaikan harga minyak bumi itu. Bukan soal seperti yang diuraikan Emil Salim yang mengatakan bahwa dengan kenaikkan harga bensin yang sekarang ini hanya mengakibatkan kenaikan Rp 6 per 100 km bagi seriap penumpang bis. Apalagi dana yang diperoleh dari kenaikan ini diperuntukkan bagi apa yang disebut pembangunan Irian Barat dan biaya Pemilihan Umum, hal-hal yang sangat abstrak bagi rakyat kecil. Demonstrasi kami ini hendaknya menyadarkan pemerintah Soeharto supaya prestasi yang sudah terlalu nyata bagi rakyat jelata tidak dirusak oleh perhitungan-perhitungan yang terlalu jauh ke masa depan. Karena saya kira, rakyat Indonesia pada saat ini menghitung hidupnya dari hari ke hari, bukan dari bulan ke bulan, apalagi dari tahun ke tahun. Dan saya anggap, inilah kekurangan dari para teknokrat kita yang ada di dalam pemerintahan sekarang, yakni bahwa mereka sudah terlalu jauh dari perasaan-perasaan yang hidup di kalangan rakyat kecil.
***
Diskusi terpaksa dihentikan karena datang laporan dari seorang kawan bahwa pimpinan Lapangan Banteng didatangi oleh CPM. Ditanyakan mengapa dia membiarkan terjadi demonstrasi di Lapangan Banteng. Terhadap pertanyaan ini, jawaban yang diberikan adalah bahwa Lapangan Banteng merupakan tempat umum dan para mahasiswa yang datang tidak membuat keributan apa-apa. Bis-bis yang ditempel pamflet-pamflet kebanyakan adalah bis swasta dan tampaknya mereka tidak keberatan ditempeli, karena katanya para sopir bis itu bahkan turut membantu menempel.
Laporan ini menjadi tambah hangat dibicarakan karena datangnya seorang teman lain yang mengatakan bahwa dia mendapat keterangan dari CPM, bahwa untuk menertibkan demonstrasi mahasiswa, bukanlah wewenang mereka. Itu adalah tugas polisi yang menjaga tertib sipil. Kami lalu menduga-duga, dari mana CPM yang datang ke Lapangan Banteng itu. Seorang teman mengatakan, barangkali itu kelompok bayarannya Ibnu Sutowo. Dan kami semua tertawa.
Sementara itu orang-orang yang mencari sumbangan kertas stensil sudah datang. Semuanya berjumlah delapan belas rim.
Hari ini, hari Jumat, keadaannya hampir sama saja. Saya datang ke Fakultas Psikologi dan sudah banyak orang di sana. Pamflet-pamflet sudah bertumpuk, sekarang sudah ada yang dicetak. Seorang teman memberi komentar: "Yang ini meyakinkan, mac,” Wajah-wajah kemarin kembali saya temui di samping wajah-wajah baru. Tampaknya pemberitaan di koran-koran membuat mereka bergerak untuk ikut juga.
Seperti kemarin, kami bergerak melakukan aksi penempelan. Hanya sekarang sasaran demonstrasi adalah Departemen Pertambangan. Sambil jalan kaki ke sana pamflet-pamflet ditempelkan. Dan seperti kemarin tampaknya orang-orang yang mobilnya ditempeli pamflet cukup senang. Mobil para perwira ABRI juga tidak luput dan sang perwira tampak tersenyum dari dalam mobilnya. Sebuah truk berisi serombongan KKO bahkan berteriak-teriak meminta pamflet. Dan setelah membaca isinya, mereka mengangkat jempol sambil tertawa.
Ada juga kejadian lucu selama penempelan itu. Benni Mamoto bercerita bahwa ketika sebuah Volkswagen lewat. Segera dia dihentikan oleh para mahasiswa dan mahasiswi untuk ditempeli pamflet. Setelah semuanya beres, baru kami melihat bahwa yang duduk di dalam adalah Ali Sadikin. Dalam terkejutnya, Benni cuma bisa berkata: “Ah, Bang Ali”. Ali Sadikin hanya melambaikan tangan saja.
Pengalaman saya sendiri adalah ketika kami tiba di sekolah Cikini. Sebuah mobil sedang tampak sedang diparkir. Anak-anak sekolah di sekitar sana berteriak-teriak: “Ini, Pak, mobil Ibnu Sutowo.” Saya tanyakan bagaimana mereka tahu. Mereka menjawab: “Ini mobil anaknya. Dia sekelas dengan saya.” Kami segera menempelinya penuh dengan pamflet. Saya cuma berpikir kasihan juga anak yang reputasi bapaknya di dalam masyarakat tidak baik.
Ketika tiba di Departemen Pertambangan, rupanya sudah banyak anak KAPI berkumpul di sana. Saya agak terkejut juga, takut anak-anak KAPI ini tidak bisa dikendalikan. Untunglah tampak Julius Usman, pemimpin KAPI yang sudah cukup berpengalaman dalam memimpin demonstrasi.
Sebuah delegasi segera dibentuk untuk menemui Menteri Pertambangan Sumantri Brojonegoro, yang juga rektor UI. Para anggota delegasi yang semuanya adalah mahasiswa UI tampaknya agak kikuk juga menghadapi rektornya sendiri. Tapi mereka secara tegas minta supaya Sang Menteri bicara di depan anak-anak yang sudah berkumpul di luar. Keamanan akan dijaga.
Menteri segera menyanggupi. Dia segera turun dan berpidato di hadapan para demonstran yang kebanyakan adalah anak-anak KAPI. Dia menjelaskan tentang anggaran belanja negara yang kurang, tentang pembangunan untuk Irian Barat dan tentang Pemilihan Umum. Dia juga menerangkan daripada mencetak uang, lebih baik menaikkan harga bensin.
Saya duduk termenung di tangga loteng, ketika Sang Menteri sedang berpidato. Saya merasakan betapa tragisnya pidato Menteri ini. Dia persis mengulang apa yang dipidatokan oleh Chaerul Saleh pada 10 Januari 1968 di depan Sekretariat Negara. Tampaknya Sumantri tidak belajar dari pengalaman. Dia melihat persoalan ini dari sudut logika murni saja dan tidak memperhatikan persoalan sosial psikologis yang jalin-menjalin dalam tindakannya. Seorang teman mengatakan kepada saya bahwa Adam Malik lebih pintar dalam menghadapi massa.
Saya jadi ingat adik saya, Hok Gie. Dia pernah bicara tentang para sarjana yang ikut ke dalam lapangan pemerintahan. Menurut dia ada dua tipe. Mereka yang termasuk tipe orang-orang baik, teknokrat sejati yang kerja keras dan innocent. Tipe kedua adalah para sarjana yang selain ahli dalam bidangnya, juga “bajingan”, dalam arti tahu bagaimana cara main kotor. Tipe pertama, yang antara lain menurut Hok Gie adalah Sumantri dan Tojib, akhirnya hanya dikibuli saja oleh pembantu-pembantunya yang sudah benar-benar bajingan. Sedangkan tipe kedua menurut Hok Gie antara lain adalah Sumitro yang dapat melawan bajingan-bajingan tersebut dengan cara bajingan pula.
Mendengar pidato Sumantri sekarang, saya merasakan kembali kebenaran kata-kata almarhum. Terdengar sorakan-sorakan mengejek dan tampak Sumantri masuk dengan wajah cemberut. Menurut teman-teman UI yang mengenalnya dari dekat, dia sedang marah besar.
Ketika kami keluar, kami terkejut juga melihat sebuah mobil yang sedang diparkir sudah kempes keempat bannya serta sudah penuh ditempeli pamflet-pamflet. Demonstrasi yang sangat pantang mengadakan perusakan ini tampaknya tidak bisa secara sempurna menjaga semuanya ini. Untunglah saya lihat, tidak ada kaca pecah atau pun perusakan lainnya.
Sambil berjalan pulang, saya melihat para mahasiswa dan pelajar menempelkan pamflet. Dalam hati saya berpikir mengapa semua ini harus terjadi lagi? Hanya hujan rintik-rintik dan angin yang redup yang menjawabnya.
***
Pada suatu hari, seorang kolega dosen datang kepada saya. Mukanya tampak sedih, tapi seperti biasa, dia tetap tersenyum. Dia mengatakan bahwa dia baru saja diberhentikan dari universitas setelah mengabdi hampir 30 tahun.
“Mengapa?” saya bertanya. “Karena saya dianggap OTB (organisasi tanpa bentuk),” katanya, masih tetap tersenyum, meski tampak tegang. “Saya dulu ditahan delapan tahun di Pulau Buru.” Dia lalu menceritakan kisah hidupnya. Dia bekerja di universitas ini sejak permulaan tahun 1960-an, setelah dia lulus dari sebuah universitas negeri ternama sebagai ahli matematika. Dia tidak pernah ikut-ikutan politik, apalagi masuk organisasi. Perhatiannya hanya terbatas pada persoalan-persoalan matematika.
Pada 1965, setelah Peristiwa G30S, dia pulang ke kota tempat keluarganya bermukim. Suatu malam, datang petugas yang sedang mencari kakak iparnya yang memang merupakan anggota salah satu organisasi kiri. Sang kakak tidak ada. Para petugas tersebut kemudian menyandera dia, dengan catatan akan segera dilepaskan begitu kakak iparnya menyerahkan diri.
Tapi, sang kakak tidak pernah muncul, sementara dia tetap dalam tahanan militer. Berkali-kali dia berusaha menjelaskan bahwa dia tidak bersalah, bahwa yang dicari adalah kakak iparnya, bahwa dia cuma sekadar sandera. Tapi, para petugas yang sudah sering berganti itu tidak mengenalnya dan hanya berkata: “Bagaimana saya bisa percaya apa yang kamu katakan. Semua orang dalam tahanan ini mengatakan hal yang sama, bahwa mereka tidak bersalah.”
Bagaimana tentang dokumen yang menjelaskan tentang status dirinya? “Pada saat itu zaman kacau. Tak ada dokumen apa pun. Semuanya serba lisan,” teman saya menjelaskan. Begitulah, teman saya ini pada suatu hari diberangkatkan ke Pulau Buru dan mendekam di sana sampai delapan tahun. Berulang-ulang dia dan keluarganya melakukan protes, tapi hasilnya nihil.
***
Pulang dari Pulau Buru, dia kembali ke universitasnya, mengajar matematika. Memang ada persoalan dengan aparat setempat, tapi rektor universitas ketika itu adalah seorang yang berani bersikap. “Saya hanya menjalankan seruan pemerintah untuk menerima mantan tapol kembali ke masyarakat,” katanya. “Kalau nanti pihak aparat keamanan melihat bahwa orang ini melakukan kegiatan politik, saya akan segera memecatnya.”
Sikap ini tampaknya diterima oleh aparat keamanan setempat. Maka, teman saya dengan tenang dapat mengajar matematika kepada para mahasiswanya.
Dia memang dikenal sebagai dosen matematika yang sangat baik. Tapi kemudian, setahun yang lalu, Kasum ABRI Letjen Soejono melontarkan sinyalemen adanya OTB dari mantan PKI yang menyusup ke berbagai kalangan masyarakat, termasuk ke universitas.
Pada saat itu, di universitas tempat teman saya bekerja, sudah terjadi pergantian rektor dua kali. Rektor yang sekarang sedang mengalami konflik internal yang serius, sehingga dia butuh dukungan pemerintah untuk bisa bertahan. Untuk membuktikan bahwa dia adalah pendukung setia terhadap kebijakan pemerintah, teman saya ini dipanggil, dan masa pensiunnya dipercepat.
“Mengapa Anda masih bisa tersenyum menghadapi semua ini? Seharusnya Anda marah,” saya berkata dengan nada tinggi, kesal juga karena melihatnya selalu tersenyum.
Masih sambil tersenyum, teman saya menjawab: “Pak Arief, air mata saya sudah habis ketika di penjara dulu. Di sana, terutama pada tahun-tahun permulaan, saya sering menangis. Tapi tak ada gunanya. Sekarang, saya cuma bisa tersenyum, menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup ini.”
“Tapi, ini kan tidak adil. Anda sudah begitu lama mengabdi kepada universitas ini, dan sekarang Anda dicampakkan begitu saja,” kata saya lagi, masih dengan nada yang tinggi.
“Pak Arief, bagi saya hidup ini tidak dibagi menurut kriteria benar atau tidak benar, adil atau tidak adil. Dulu memang saya pernah percaya begitu. Ketika di penjara dulu, apa pun yang saya katakan, benar atau tidak benar, adil atau tidak adil, saya tetap tidak dipercaya dan dipukuli. Para petugas hanya mau mendengar saya mengatakan apa yang mereka inginkan. Sejak itu saya sadar bahwa hidup ini dibagi berdasarkan kuat atau tidak kuat, kuasa atau tidak kuasa. Sebagai orang yang lemah, saya hanya menyesuaikan diri saja,” jawabnya sambil tetap tersenyum.
Saya merasa senyumnya ini seperti mau mengejek saya. Barangkali, di dalam hatinya, dia berkata: “Hei, kok masih ada orang yang percaya tentang kebenaran dan keadilan? Bangunlah, hari sudah siang, sudah bukan waktunya lagi untuk bermimpi.”
Tiba-tiba, di hadapannya, saya jadi merasa dungu, seperti orang yang masih percaya kepada takhayul di zaman ilmu dan teknologi modern.
***
Apa yang dikatakan teman saya tampaknya sulit dibantah. Kasus-kasus yang ada akhir-akhir ini sangat mendukung pendapatnya. Lihat saja ketika Ketua Mahkamah Agung mengatakan bahwa kolusi yang coba diungkapkan oleh Hakim Adi Andojo dinyatakan hanya sekadar “kesalahan prosedur”, dan persoalan ini kemudian ditutup, tidak boleh dibicarakan lagi. Juga keputusan Mahkamah Agung yang membenarkan pembredelan mingguan Tempo dengan argumen yang menurut banyak ahli hukum terkemuka Indonesia sangat lemah, tidak bisa dipersoalkan lagi. Akhirnya kasus PDI di mana pemerintah dan ABRI menolak mengakui Megawati sebagai pimpinan yang sah dari partai ini menunjukkan bahwa kekuasaan selalu berada di atas keadilan dan kebenaran. Barangkali, teman saya memang benar, saya hanyalah seorang pemimpi yang menolak bangun.
Teman saya ini tampaknya bukan satu-satunya orang Indonesia yang bersikap demikian. Ada banyak, bahkan mungkin mayoritas bangsa ini, yang bersikap seperti teman saya. Mereka adalah orang-orang “realistis” dan “pragmatis” yang menyesuaikan diri mereka dengan keadaan.
Tiba-tiba, saya melihat bangsa ini sudah terdiri dari banyak jenazah, salah satunya adalah teman saya. Dia memang masih bicara dan berjalan, tapi oleh kekuasaan rohnya sudah dicabut. Pikirannya tidak lagi berkekuatan untuk meraih masa depan, tapi hanya sekadar dipakai untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
***
Tanpa sadar, saya menghapus air mata yang berlinang di mata saya. Sayup-sayup saya mendengar, nun jauh di sana, suara orang berpidato dengan penuh semangat: “I had a dream. Yes, I had a dream last night.” Lalu kedengaran suara tembakan. Ini adalah suara Martin Luther King, pejuang hak asasi manusia yang mati terbunuh di Amerika Serikat.
Dia seakan-akan mengingatkan bahwa hidup tidak hanya dibangun oleh kekuasaan saja, tapi juga oleh mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi King, setelah dia mati, diteruskan secara estafet ke generasi berikutnya. Dan kini banyak yang sudah menjadi kenyataan.
Perjuangan sering kali memang merupakan sebuah estafet, tidak segera memberikan hasil. Karena itu, janganlah kita cepat menyerah, meskipun suara King ini masih sayup-sayup kedengarannya. Sangat sayup-sayup. Pada suatu waktu nanti, dia akan bertambah keras.
Arief Budiman, aktivis-intelektual
Sinar Harapan, 17 Januari 1970
Sumber:
Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006, h. 62-69.


0 komentar:
Posting Komentar