![]() |
| Hadji Agus Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, Jakarta: Tintamas, 1962 |
Hadji Agus Salim, dalam bukunya berjudul Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, menulis dengan ejaan lama tentang pengertian filsafat:
"...Kata filsafat atau falsafat itu pada asalnja kata pindjaman daripada bahasa Gerik-purba atau Junani; dibentuk menurut tata-bahasa Arab (saraf). Asalnja merupakan kata rangkaian, terdiri daripada kata philein, ertinja gemar atau suka, dan kata sophia, ertinja pengetahuan (ilmu).
Dengan semudah-mudahnja kata itu dapat kita indonesiakan dengan misalnja: ingin-tahu atau suka-tahu. Tapi salinan itu sungguhpun djelas dan boleh pula dikatakan tegas, tidak terasa tepat. Rasanja tawar atau dangkal; tidak sama rasanja dengan kata filsafat dalam istilah.
Maknanja amat mendalam dan nilainja amat meninggi. Bagiannja jang pertama menaikkan makna keinginan itu ketingkat jang menjamai 'asjik disertai hasrat, tak kurang daripada tjinta asmara.
Tak mau puas, tak senang diam, djika tidak mentjapai, mendapat pokok tudjuannja dengan sepenuhnja. Dan pokok tudjuan itu, dalam bagian kedua kata itu, telah beroleh makna ,pengetahuan jang sempurna sepenuh-penuhnja', jang dapat ditjapai dengan pemeriksaan teliti dan dengan pikir sedalam-dalam dan selandjut-landjutnja tentang kenjataan jang sebenarnja, sehingga mentjapai tingkat tahu-kenal dan tahu-pandai.
Tahu dengan makna jang amat tjukup itu ialah jang dinamakan ma'rifat, dan kenjataan jang sebenarnya itu ialah jang dinamakan hakekat. Maka dapatlah kita maknakan filsafat dengan: hasrat kepada ma'rifat hakekat'.
Dan dengan seluas-luasnja dapatlah kita terangkan filsafat itu sebagai hasil daripada pikir jang sedalam-dalam dan selandjut-landjutnja tentang masalah-masalah jang penting-penting berkenaan dengan wudjud, asal, guna dan nilai tiap-tiap benda dan tiap-tiap peristiwa dalam keadaan; semata-mata karena hasrat akan ma'rifat belaka dan disamping itu hasrat akan pengertian jang jakin tentang kelakuan jang sebaik-baiknja, dalam segala-hal-ihwal kehidupan bagaimanapun djuga, jang sesuai dengan keichlasan niat jang utama; semata-mata karena hasrat akan kebadjikan.
BAHAN FILSAFAT
Adapun jang mendjadi bahan bagi filsafat adalah dua perkara: pertama, alam keadaan jang kita hidup ditengah-tengahnja, dan kedua, pendapat-pendapat akal jang kita bentuk didalam pikiran kita."
Sumber:
Hadji Agus Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, Jakarta: Tintamas, 1962, hlm. 10-11.


0 komentar:
Posting Komentar