alt/text gambar

Minggu, 11 Januari 2026

Topik Pilihan:

PARA PENCINTA BUKU

Jawa Pos, 11 Januari 2015


Oleh: A.S Laksana


Kami baru bertemu lagi beberapa tahun kemudian setelah pertemuan terakhir di klub kami yang bubar begitu saja. Rizadini, teman saya dalam klub buku diskusi buku bertahun-tahun lalu dan penerjemah buku Gabriel Garcia Marquez Klandestin di Chile, memanggil saya melalui media sosial Twitter dan mengajak bertemu. Dengan senang hati, saya menyambut ajakannya dan kami bertemu suatu siang di sebuah tempat makan. Hari itu dia menyampaikan gagasan:


“Mari kita cari orang kaya yang mau mendanai perpustakaan untuk menyimpan buku-buku koleksi para tokoh negeri ini. Di sana nanti orang bisa menemukan koleksi Pramudya Ananta Toer, Rendra, Usmar Ismail, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, dan lain-lain.” 


Dia menyukai buku dan sering mempunyai gagasan menarik tentang buku karena dia sangat menyukainya. Saya menanggapi, “Ayo!” Namun, hingga sekarang, saya masih berpikir apakah akan ada orang kaya yang mau membiayai perpustakaan semacam itu. Pada waktu dia menyampaikan gagasannya, saya segera teringat kabar yang beberapa waktu sebelumnya, sudah agak lama, saya terima dari kawan baik saya yang lain, seorang penjual buku loak di sekitar Lebak Bulus bahwa sekian kontainer buku dari perpustakaan pribadi Adam Malik dijual kiloan. 


“Sudah tidak ada yang merawatnya lagi, Bang” katanya. “Saya ingin beli semua, tapi tidak ada modal.” 


Saya agak melodramatis soal perpustakaan. Desember tahun lalu, ketika membaca Perpustakaan Karta Pustaka Yogyakarta ditutup dengan alasan “visi-misinya menciptakan kerja sama di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan Belanda telah tercapai”, saya merasa sedih dan marah sekaligus dan ingin berteriak kuat-kuat: “Jangan tutup perpustakaan itu!” Jumlah perpustakaan umum kita sedikit sekali dan Karta Pustaka yang didirikan pada 1968 sekarang sudah tidak ada lagi. Kalaupun benar visi-misinya sudah tercapai, saya pikir ia tetap perlu ada dengan “visi-misi” yang lain. Misalnya, menjadi tempat rekreasi orang-orang yang senang berekreasi di antara buku-buku. 


Kita sangat kekurangan perpustakaan sebagai tempat rekreasi. Sebagai orang yang seumur hidup tinggal di negeri ini, yang sejak lahir memang jarang bertemu dengan gedung perpustakaan, saya tentu saja telah beradaptasi sepanjang hidup dan berdamai dengan keadaan. Ada perpustakaan saya senang, tidak ada tidak apa-apa. 


Namun, tidak demikian halnya dengan Yusuf Arifin. Kami dahulu sekantor dan dia menyeberang ke Inggris setelah pembredelan 1994, bekerja sebagai wartawan BBC, dan tinggal di pinggiran London nyaris 20 tahun. Rumahnya dikepung perpustakaan. Di desanya ada gedung perpustakaan, di desa sebelah ada gedung perpustakaan, di dekat perempatan sana ada gedung perpustakaan, di belakang rumah temannya ada gedung perpustakaan. Ringkasnya, di balik gerumbul semak-semak atau di belakang lemari pakaian dia bisa menjumpai perpustakaan. Tahun lalu dia balik ke Jakarta dan menjadi pemimpin redaksi CNN Indonesia dan tidak ada perpustakaan yang bisa dia kunjungi sewaktu-waktu. Di toko buku dia kesulitan menemukan buku-buku yang dia minati. Kepadanya saya bilang, “Selamat menikmati!” 


Sekarang saya tidak perlu iri mendengar ceritanya tentang perpustakaan. Dia menikmati situasi yang sama dengan saya. Sudah bertahun-tahun saya tidak memasuki gedung perpustakaan dan tidak tahu di mana saja ada perpustakaan umum di Jakarta. Saya hanya tahu satu-dua dan dan sudah lama tidak pernah lagi mengunjungi tempat tersebut karena jalanan macet dan waktu yang terasa sempit. 


Selain itu dengan jaringan internet yang sudah lebih baik ketimbang sepuluh tahun lalu, saya merasa kebutuhan terhadap buku tercukupi. Selalu ada orang yang memberontak terhadap tatanan. Mereka tidak memedulikan undang-undang hak cipta dengan menyediakan ratusan ribu, bahkan jutaan, buku yang bisa kita dapat secara gratis –dalam  format e-book. Kita bisa mengunduh buku semau kita di situs-situs web mereka. 


Pada awal-awal mengenal situs tersebut, setiap malam hingga dinihari saya “berbelanja” ratusan judul buku dan dalam waktu beberapa minggu saja saya sudah mengoleksi ribuan buku. Hingga sekarang, saya masih sering “berbelanja” di situs-situs itu meskipun sudah ada lebih dari 9.000 judul buku di folder komputer saya dan baru sedikit yang saya baca. 


Saya pernah iseng-iseng menghitung berapa buku yang bisa saya baca sampai hidup saya berakhir nanti. Misalkan, saya masih punya sisa umur 100 tahun lagi dan sebagai pemalas saya hanya bisa membaca satu judul sepakan, maka dalam seratus tahun itu, setelah dikurangi masa-masa tidak berdaya karena flu berat atau tidak enak badan, saya hanya akan bisa menyelesaikan paling banter 5.000 judul buku. Itu pun kalau sisa umur saya 100 tahun dan saya membaca secara ajek. Padahal, gairan membaca saya sama belaka kondisinya dengan iman seseorang—kadang naik, kadang turun. Tidak apa-apa, yang penting mengunduh. 


Dengan perpustakaan yang sedikit jumlahnya dan tidak terlalu diperhatikan di negara ini, dengan akses terhadap buku yang semula sangat terbatas, dan dengan maaf sebesar-besarnya terhadap unsur pelanggaran di dalam kegiatan unduh-mengunduh itu, saya bersyukur bahwa internet telah memungkinkan saya mengoleksi karya para penulis yang saya sukai, nyaris lengkap, dan buku-buku dengan berbagai topik yang saya ingin baca. 


Saya juga bersyukur internet memberikan banyak teman, melalui media sosial. Dalam waktu cepat, saya bisa mengumpulkan teman melalui Facebook. Itu hal yang tidak mungkinsaya lakukan dalam kenyataan sehari-hari. Sekarang saya mempunyai orang-orang yang berstatus “teman” di hampir semua provinsi negeri ini. 


Beberapa orang mengeluhkan bahwa pergaulan di media sosial telah mengiterupsi dan juga menyabot pergaulan sehari-hari dengan orang-orang terdekat, dengan teman-teman, dengan kerabat, juga dengan penumpang yang duduk di sebelah kita. Berada di mana pun dan kapan pun, orang sibuk dengan smartphone di tangannya. Dunia menjadi sunyi senyap karena orang membeku di depan layar, tetapi sekaligus riuh. Anda tahu, pergaulan di media sosial sangat riuh. Setiap hari ada pembicaraan menarik. Setiap hari ada topik yang bisa digunjingkan. Setiap hari ada yang bisa dicaci maki. 


Seorang suami menjadi jarang berbicara dengan istrinya. Seorang ayah menjadi kekurangan waktu untuk anak-anaknya, dan sebaliknya, anak-anak kekurangan waktu untuk orang tua mereka karena sebab yang sama. Dan seorang penulis kekurangan waktu khusyuk untuk menulis karena dorongan untuk ubyang-ubyung di internet melalui media sosial begitu tinggi. 


Dalam urusan itu saya merasa baik-baik saja. Hanya ada satu hal yang sangat terasa bagi saya: internet telah menjauh saya dari seseorang yang sudah menjadi teman baik sejak 1998, yakni penjual buku loak yang saya sebut di awal tulisan ini, pemuda Batak yang ramah dan selalu menawari kopi setiap saya mampir di kiosnya. Bertahun-tahun saya setia mengunjungi kios dan rumahnya dan dia selalu menyimpankan untuk saya buku-buku yang dia pikir saya sukai—agar tidak dibeli orang lain. 


Dari kiosnya saya pernah membawa pulang buku satu rak, masih bagus-bagus, dengan harga yang sangat murah. “Dapat dari pembantu di Pondok Indah, Bang,” katanya. “Majikannya pulang ke negaranya, tidak balik lagi. Ia meninggalkan koleksi bukunya kepada si pembantu. Pembantu itu menjualnya ke saya.” 


Dia tahu bagaimana mencari buku untuk mengisi kiosnya dan dia sering pula mendapat buku-buku lelang dari Jakarta International School jika sekolah tersebut hendak memperbarui koleksi buku di perpustakaannya dan harus menyingkirkan buku-buku yang sudah lama. Beberapa buku di rak saya adalah lungsuran dari perpustakaan sekolah tersebut. 


Saya masih lewat di depan kiosnya setiap hari, tetapi nyaris tidak pernah mampir lagi. Beberapa hari terakhir saya lihat kiosnya selalu tutup. Menurut kabar, lahan tempat dia menyewa kios harus dikosongkan karena hendak dibangun apartemen. Dia berpindah ke tempat lain, masih di daerah sekitar tempat tinggl saya. Tetapi, saya belum pernah ke temapt barunya. 


Internet telah benar-benar mencukupi kebutuhan saya akan buku bacaan yang saya inginkan—yang semula hanya tersedia dalam harga murah di kios buku loak itu. Saya masih tetap ke toko secara berkala, untuk mendapatkan buku-buku yang hanya ada di toko buku dan sebagai tempat rekreasi anak-anak. 


Bagaimanapun, saya pikir anak-anak perlu menikmati pemandangan buku-buku terpajang di rak dan mereka bisa memilih buku yang mereka sukai. Dan jika ada perpustakaan di dekat rumah, atau perpustakaan tempat menyimpan kolesi buku-buku para tokoh negeri ini, sebagaimana yang diangankan oleh Rizadini, saya akan senang sekali mengajak anak-anak berekreasi ke sana. Sampai sekarang saya masih memikirkan siapa kira-kira orang kaya yang bersedia mewujudkan gagasan tersebut. (*)


Sumber: Jawa Pos, 11 Januari 2015

0 komentar:

Posting Komentar