Nani Efendi
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
*******
Alhamdulillaahil ladzii arsala rasuulahu bil huda wadiinil
haq, liyudzhirohu 'alad diini kullihi walau karihal musyrikuun.
Asyhadu allaa ilaaha illa llah wahdahu lasyarikalah, wa
asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh.
Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa’ala alihi
wasahbihi ajmain.
Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal
muttaqun.
Qalallahutaala fil quranil azim: yaa ayyuhal ladziina aamanut
taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Shodaqollaahul
'adziim.
***
Kaum muslimin, sidang shalat
Jumat yang berbahagia,
Pertama khatib ingin mengawali
khutbah ini dengan menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan shalat
Jumat. Sebagaimana kita ketahui, beberapa aspek shalat Jumat telah menjadi
diskursus atau wacana dalam kehidupan beragama, yang kadang-kadang mengganggu
ukhuwah Islamiah dalam masyarakat.
Salah satu rukun khutbah shalat Jumat
ialah membaca salam. Setelah salam, khatib kemudian duduk. Hal itu sebetulnya
adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktek Rasulullah saw. Pada waktu
itu, Rasulullah tinggal di sebelah masjid, rumah beliau satu tembok dengan
masjid. Kalau beliau merasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk
shalat Jumat, beliau lalu keluar rumah dan mengucapkan salam.
Kemudian beliau duduk sambil
mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir. Karena itu, tempat duduk
beliau dibikin lebih tinggi. Itulah kemudian yang menjadi rujukan desain mimbar
kutbah Jumat. Namun demikian, bentuk mimbar kutbah Jumat tidaklah seragam.
Bahkan, ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap bentuk mimbar kutbah
Jumat—di beberapa tempat saat ini—adalah bid’ah, karena tidak sesuai dengan
desain Nabi.
Setelah Nabi mengucapkan salam, dikumandangkanlah
azan. Seolah-olah diumumkan bahwa shalat akan segera dimulai karena Rasulullah
telah hadir. Pada zaman Utsman bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota
yang sangat besar, azan dirasa tidak cukup satu kali. Maka, Utsman pun memerintahkan
agar azan dilakukan lagi di luar masjid untuk mengumumkan bahwa shalat Jumat
sudah dimulai. Maka muncullah tradisi azan menjadi dua kali.
Ini sama saja dengan perkembangan
shalat tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah. Karena Nabi
selalu mengerjakannya di rumah, karena prinsipnya shalat sunnah itu memang
dilakukan di rumah. Oleh karena itu, sekarang masih ada orang yang seusai
shalat wajib, lalu ketika shalat sunnah dia pindah tempat. Itu sebetulnya
tiruan simbolis berpindah ke rumah untuk melakukan shalat sunnah.
Jadi begitulah, banyak aspek
rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal
usulnya. Padahal sebetulnya, banyak yang menyangkut masalah praktis seperti
dipraktekkan Rasulullah Saw.
Ketika khutbah, Nabi selalu
menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam
adalah komunitas militer. Dalam konteks itulah, ketika Nabi menjadi khatib beliau
tampil gagah di atas mimbar sambil menyandarkan pedang, atau kadang tombak pada
bahu beliau. Praktik itu sekarang masih kita temui di banyak daerah, hanya saja
pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat.
Setelah itu, seperti yang telah
kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaikan
ialah pesan-pesan takwa. Karena itu, para khatib setiap Jumat selalu mengutip
firman Allah tentang pesan takwa.
Ayat yang biasa dikutip adalah Q.s.
Ali Amran, ayat 102:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan berserah diri atau Muslim.”
Kaum muslimin, sidang shalat
Jumat yang berbahagia,
Seluruh ayat Alquran sendiri
sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, sebenarnya
dirancang sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Ada beberapa indikasi orang-orang
yang bertakwa menurut ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, yaitu:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ
Mereka yang percaya pada yang
gaib. (Q.s. Al-Baqarah, 3)
Gaib pada ayat ini adalah gaib
dalam pengertian seluas-luasnya, tidak sebatas percaya pada adanya malaikat,
iblis, jin, dan syaitan saja, tapi juga percaya pada hal-hal gaib lainnya
seperti persoalan taqdir, rezeki, nasib, masa depan, dan lain sebagainya. Kita
harus yakin bahwa semua urusan itu berada dalam genggaman Allah.
Indikasi kedua orang bertaqwa
itu:
وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ
Dan mereka menegakkan shalat.
(Q.s. Al-Baqarah, 3)
Orang yang menegakkan shalat itu berimplikasi
pada perilaku kehidupan sehari-hari. Shalat yang benar adalah yang bisa menjauhkan
orang dari perbuatan keji dan mungkar. Jika selesai shalat berjamaah, misalnya,
seseorang masih enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang di sampingnya,
berarti shalatnya belum memberi kebaikan pada orang itu. Artinya, orang itu
belum menegakkan shalat, tapi masih sebatas melaksanakan kewajiban saja.
Padahal, inti shalat adalah untuk membentuk berakhlak yang baik.
Indikasi ketiga orang bertaqwa
itu:
وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
Dan mereka menginfakkan sebagian
harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.s. Al-Baqarah,
3)
Seorang yang bertaqwa itu, di samping
mempunyai kesadaran vertikal, hubungan dengan Allah (hablumminallah),
juga harus memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusia
(hablumminannas). Dua kesadaran itu disimbolkan dalam praktik shalat: dimulai
dengan takbiratulihram (hablumminallah), dan diakhiri dengan ucapan salam,
as-salamu'alaikum, yang secara simbolik menunjukkan hubungan atau kepedulian sosial
kepada sesama manusia. Itulah akhlaqul-karimah, yang intinya adalah menebarkan
kebaikan dan kepedulian kepada sesama, terutama pada masyarakat yang kurang
beruntung.
Ciri orang bertakwa berikutnya
adalah:
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ
Dan mereka beriman kepada kitab
suci yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka
sebelum engkau (Muhammad). (Q.s. Al-Baqarah, 4)
Ada banyak nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad. Di
mana-mana, kalau ada sekumpulan umat, maka di situ pernah ada rasul, sebab
Al-Quran juga mengatakan:
Dan tidak ada satu umat pun melainkan di sana telah datang
seorang pemberi peringatan. (Q.s. Fathir, ayat 24).
Para rasul itu berbicara dengan bahasa kaumnya. Nabi Muhammad,
misalnya, karena beliau orang Arab, maka beliau menyampaikan wahyu dari Allah
dalam bahasa Arab. Karena itulah al Qur’an berbahasa Arab. Nabi Isa berbahasa
Aramia. Kitab suci Nabi Musa lain lagi: Nabi Musa menggunakan bahasa Ibrani, atau
bahasa Yahudi kuno.
Tapi yang jelas, semua nabi itu membawa misi yang sama, yaitu
menyampaikan ajaran ketundukan dan kepasrahan kepada Allah, yang dalam bahasa
Arab disebut “islam”.
Orang bertaqwa harus beriman kepada seluruh nabi dan rasul beserta
kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad itu.
Ciri
orang bertakwa selanjutnya:
وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
Dan mereka yakin akan Hari
Akhirat. (Q.s. Al-Baqarah, 4)
Kesadaran kepada Hari Akhir ini
penting sekali, karena implikasinya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Orang
yang percaya pada Hari Akhir, akan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab.
Karena ia yakin, apa yang ia lakukan di dunia, akan berkonsekuensi langsung
pada kehidupan akhirat.
Setiap orang akan dimintai
pertanggungjawaban secara pribadi di akhirat. Di akhirat tidak ada
pertanggungjawaban kolektif. Semua orang tampil dalam kapasitas
individu-individu di hadapan Allah. Orang bisa saja melakukan kejahatan di
dunia secara bersama-sama, tapi pertanggungjawaban tetaplah bersifat
pribadi-pribadi atau individu-individu di hadapan Allah.
Firman Allah:
Dan takutlah kamu pada hari,
(ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan
syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan
ditolong. (Q.s. Al-Baqarah, 48)
Rangkaian indikasi-indikasi takwa
di atas merupakan dasar yang sangat kokoh untuk hidup yang benar.
Asas hidup itu hanya dua: benar
dan salah.
Asas dan orientasi hidup yang
benar adalah: takwa kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Selain daripada itu adalah
tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada takwa dan mencari
ridha Allah, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah
akhlaqul-karimah atau akhlak yang baik.
Inti takwa adalah kesadaran yang
sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Takwa ialah kalau
kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa
Allah beserta kita, Allah mengawasi kita, dan memperhitungkan segala perbuatan
kita.
وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا
كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ
Dan Dia bersama kamu di mana saja
kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al-Hadid
ayat ke-4)
Inilah pengawasan melekat yang
sebenarnya, yakni pengawasan yang ada dalam diri kita sendiri karena iman.
Dengan demikian, takwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus, dan tanpa
pamrih. Dengan takwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang. Kita
meninggalkan kejahatan juga bukan karena pengawasan orang lain. Tapi tumbuh secara
otentik dalam diri kita sendiri sebagai akibat daripada takwa.
Orang yang bertaqwa yakin segala
amal perbuatannya selalu diawasi dan dicatat oleh Allah swt.
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍࣖ
"Sungguh, Kamilah yang
menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah
mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu
Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh). (Q.s. Yaa Siin, ayat
ke-12)
Kaum muslimin, sidang shalat
Jumat yang berbahagia,
Sekarang timbul pertanyaan: Dari
mana sebenarnya ukuran kebaikan itu? Ukuran kebaikan itu, pertama, adalah dari
modal primordial yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hati nurani. Hati ini
disebut nurani—berasal dari kata nuraniyun—artinya bersifat cahaya atau
terang karena nurani bisa membedakan yang baik dan buruk, benar dan tidak benar,
adil dan tidak adil.
Hati nurani merupakan modal
pertama yang diberikan Allah untuk menerangi perilaku manusia. Banyak hadis
yang menggambarkan bahwa kalau kita ingin tahu mana yang baik dan benar, kita
harus bertanya pada hati nurani kita sendiri.
Rasulullah pernah ditanya oleh beberapa
orang sahabat, di antaranya bernama Wabishah. Orang itu datang kepada
Rasulullah dengan sedikit memaksa. Kemudian dihalangi oleh para sahabat, tapi
oleh Rasulullah justru disuruh menghadap. Ketika menghadap, dengan setengah
bersumpah orang itu mengatakan, “Hai Muhammad, saya tidak akan pergi dari
depanmu sebelum kamu mengajari aku apa itu kebaikan dan kejahatan.
Dalam situasi seperti itu,
Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke dada Wabishah, “Hai Wabishah,
kebaikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram dan kejahatan ialah sesuatu
yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.”
Nah, ketika orang yang seperti
itu datang juga kepada Nabi dan bertanya tentang kebaikan dan keburukan, maka
Nabi pun menjawab, “Tanyalah kepada hati kecilmu.”
Suatu saat Nabi didatangi orang
serupa, dan bertanya hal yang serupa. Nabi mengatakan, “Mintalah nasihat
pada hatimu sendiri.”
Menurut hadis, orang yang
bertanya seperti itu kepada Nabi—kemudian dengan setia berpegang kepada pesan
Nabi itu—mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang baik, menjadi
manusia-manusia yang mendekati kualitas insan kamil.
Hati Nurani ini bersifat hanif (selalu
cenderung pada kebaikan). Itulah fitrah manusia.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Qs. Ar Ruum,
ayat 30).
Fithrah itu tidak akan berubah
sepanjang masa. Ia merupakan lokus kearifan abadi (al-hikmat al khalidah,
sophia perennis).
***
Tapi, walaupun setiap pribadi
manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, tidak selamanya manusia memiliki
sensitivitas fithrah. Manusia masih bisa tergelincir dalam dosa. Karena manusia
juga bersifat lemah. Oleh karena itu, manusia harus dibimbing dengan wahyu dari
Allah agar manusia tetap berada dalam fitrahnya yang hanif.
Maka, ukuran kebaikan yang kedua
adalah agama (wahyu). Agama disebut juga sebagai hati nurani atau fitrah yang
diturunkan oleh Allah, yang diistilahkan dengan “fithrah munazzalah”.
Fitrah yang diturunkan—yakni wahyu atau agama yang dibawa oleh para rasul—ini berfungsi
memperkuat fitrah alami yang sudah ada dalam hati nurani setiap manusia.
***
Kemudian, ukuran kebenaran yang ketiga
ialah mu'ahadah al-'uqud, yaitu perjanjian-perjanjian antarsesama
manusia. Allah selalu berpesan agar kita senantiasa menghormati
perjanjian-perjanjian atau kontrak-kontrak ('uqud) di antara kita. Oleh
karena itu, undang-undang (hukum) yang benar-benar adil
dan mempunyai legitimasi—yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keadilan
dan kemanusiaan—haruslah kita hormati demi kebaikan bersama.
Umat Islam adalah umat yang
dididik untuk taat kepada aturan. Oleh karenanya, Islam disebut juga sebagai din
(sistem ketundukan atau kepatuhan). Sedangkan masyarakatnya disebut madinah,
yang berarti suatu tempat di mana kehidupan itu teratur, karena orang-orangnya
tunduk dan patuh pada aturan.
Baarakallahu lii wa lakum fiil
quranil 'azhiiim, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm.
Kutbah II
Alhamdulillahi hamdan katsiiron kamaa amar.
Asyhadualla ilaha illallah wah dahula syarikalah, wa
asyhaduanna Muhammaddan ‘abduhu warasuluh.
Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi
wasahbihi ajmain.
Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal
muttaqun
Qalallahutaala fil quranil azim: innalaha wamalaikatahu
yusallunaalannabiy ya ayyuhallazi na amanu sallu ‘alaihi wasallimutaslima.
Allahummasalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,
kamasallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali ibrahim. Wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala
ali Muhammad kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Fil ‘alamin innaka
hamidummajid.
Alhummagfirlillmuslimin wal muslimat, wal mukminina wal
mukminat al ahya iminmum wal amwat. Innaka sami’un qaribummujibu da’awat
ya qadial hajat.
Rabbana atina fiddun ya hasanah wa fil akhiratihasanah wa
kina ‘azabannar.
‘Ibadallah. Innallāha ya`muru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītā`i
żil-qurbā wa yan-hā 'anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya'iẓukum la'allakum
tażakkarụn. Wa la zikrullahi akbar.

0 komentar:
Posting Komentar