alt/text gambar

Kamis, 22 Januari 2026

Topik Pilihan: , , ,

Khutbah Jumat: Pesan-Pesan Taqwa

 Nani Efendi

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

*******

Alhamdulillaahil ladzii arsala rasuulahu bil huda wadiinil haq, liyudzhirohu 'alad diini kullihi walau karihal musyrikuun.

Asyhadu allaa ilaaha illa llah wahdahu lasyarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa’ala alihi wasahbihi ajmain.

Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal muttaqun.

Qalallahutaala fil quranil azim: yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Shodaqollaahul 'adziim.

***

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Pertama khatib ingin mengawali khutbah ini dengan menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan shalat Jumat. Sebagaimana kita ketahui, beberapa aspek shalat Jumat telah menjadi diskursus atau wacana dalam kehidupan beragama, yang kadang-kadang mengganggu ukhuwah Islamiah dalam masyarakat.

Salah satu rukun khutbah shalat Jumat ialah membaca salam. Setelah salam, khatib kemudian duduk. Hal itu sebetulnya adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktek Rasulullah saw. Pada waktu itu, Rasulullah tinggal di sebelah masjid, rumah beliau satu tembok dengan masjid. Kalau beliau merasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk shalat Jumat, beliau lalu keluar rumah dan mengucapkan salam.

Kemudian beliau duduk sambil mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir. Karena itu, tempat duduk beliau dibikin lebih tinggi. Itulah kemudian yang menjadi rujukan desain mimbar kutbah Jumat. Namun demikian, bentuk mimbar kutbah Jumat tidaklah seragam. Bahkan, ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap bentuk mimbar kutbah Jumat—di beberapa tempat saat ini—adalah bid’ah, karena tidak sesuai dengan desain Nabi.

Setelah Nabi mengucapkan salam, dikumandangkanlah azan. Seolah-olah diumumkan bahwa shalat akan segera dimulai karena Rasulullah telah hadir. Pada zaman Utsman bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota yang sangat besar, azan dirasa tidak cukup satu kali. Maka, Utsman pun memerintahkan agar azan dilakukan lagi di luar masjid untuk mengumumkan bahwa shalat Jumat sudah dimulai. Maka muncullah tradisi azan menjadi dua kali.

Ini sama saja dengan perkembangan shalat tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah. Karena Nabi selalu mengerjakannya di rumah, karena prinsipnya shalat sunnah itu memang dilakukan di rumah. Oleh karena itu, sekarang masih ada orang yang seusai shalat wajib, lalu ketika shalat sunnah dia pindah tempat. Itu sebetulnya tiruan simbolis berpindah ke rumah untuk melakukan shalat sunnah.

Jadi begitulah, banyak aspek rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal usulnya. Padahal sebetulnya, banyak yang menyangkut masalah praktis seperti dipraktekkan Rasulullah Saw.

Ketika khutbah, Nabi selalu menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam adalah komunitas militer. Dalam konteks itulah, ketika Nabi menjadi khatib beliau tampil gagah di atas mimbar sambil menyandarkan pedang, atau kadang tombak pada bahu beliau. Praktik itu sekarang masih kita temui di banyak daerah, hanya saja pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat. 

Setelah itu, seperti yang telah kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaikan ialah pesan-pesan takwa. Karena itu, para khatib setiap Jumat selalu mengutip firman Allah tentang pesan takwa. 

Ayat yang biasa dikutip adalah Q.s. Ali Amran, ayat 102: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri atau Muslim.”

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Seluruh ayat Alquran sendiri sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, sebenarnya dirancang sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Ada beberapa indikasi orang-orang yang bertakwa menurut ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, yaitu: 

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ

Mereka yang percaya pada yang gaib. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Gaib pada ayat ini adalah gaib dalam pengertian seluas-luasnya, tidak sebatas percaya pada adanya malaikat, iblis, jin, dan syaitan saja, tapi juga percaya pada hal-hal gaib lainnya seperti persoalan taqdir, rezeki, nasib, masa depan, dan lain sebagainya. Kita harus yakin bahwa semua urusan itu berada dalam genggaman Allah.

Indikasi kedua orang bertaqwa itu:

وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ 

Dan mereka menegakkan shalat. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Orang yang menegakkan shalat itu berimplikasi pada perilaku kehidupan sehari-hari. Shalat yang benar adalah yang bisa menjauhkan orang dari perbuatan keji dan mungkar. Jika selesai shalat berjamaah, misalnya, seseorang masih enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang di sampingnya, berarti shalatnya belum memberi kebaikan pada orang itu. Artinya, orang itu belum menegakkan shalat, tapi masih sebatas melaksanakan kewajiban saja. Padahal, inti shalat adalah untuk membentuk berakhlak yang baik.

Indikasi ketiga orang bertaqwa itu:

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ

Dan mereka menginfakkan sebagian harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Seorang yang bertaqwa itu, di samping mempunyai kesadaran vertikal, hubungan dengan Allah (hablumminallah), juga harus memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Dua kesadaran itu disimbolkan dalam praktik shalat: dimulai dengan takbiratulihram (hablumminallah), dan diakhiri dengan ucapan salam, as-salamu'alaikum, yang secara simbolik menunjukkan hubungan atau kepedulian sosial kepada sesama manusia. Itulah akhlaqul-karimah, yang intinya adalah menebarkan kebaikan dan kepedulian kepada sesama, terutama pada masyarakat yang kurang beruntung. 

Ciri orang bertakwa berikutnya adalah: 

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ

Dan mereka beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad). (Q.s. Al-Baqarah, 4) 

Ada banyak nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad. Di mana-mana, kalau ada sekumpulan umat, maka di situ pernah ada rasul, sebab Al-Quran juga mengatakan:

Dan tidak ada satu umat pun melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Q.s. Fathir, ayat 24).

Para rasul itu berbicara dengan bahasa kaumnya. Nabi Muhammad, misalnya, karena beliau orang Arab, maka beliau menyampaikan wahyu dari Allah dalam bahasa Arab. Karena itulah al Qur’an berbahasa Arab. Nabi Isa berbahasa Aramia. Kitab suci Nabi Musa lain lagi: Nabi Musa menggunakan bahasa Ibrani, atau bahasa Yahudi kuno.

Tapi yang jelas, semua nabi itu membawa misi yang sama, yaitu menyampaikan ajaran ketundukan dan kepasrahan kepada Allah, yang dalam bahasa Arab disebut “islam”.

Orang bertaqwa harus beriman kepada seluruh nabi dan rasul beserta kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad itu.

Ciri orang bertakwa selanjutnya: 

وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Dan mereka yakin akan Hari Akhirat. (Q.s. Al-Baqarah, 4) 

Kesadaran kepada Hari Akhir ini penting sekali, karena implikasinya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang percaya pada Hari Akhir, akan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Karena ia yakin, apa yang ia lakukan di dunia, akan berkonsekuensi langsung pada kehidupan akhirat.

Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban secara pribadi di akhirat. Di akhirat tidak ada pertanggungjawaban kolektif. Semua orang tampil dalam kapasitas individu-individu di hadapan Allah. Orang bisa saja melakukan kejahatan di dunia secara bersama-sama, tapi pertanggungjawaban tetaplah bersifat pribadi-pribadi atau individu-individu di hadapan Allah.

Firman Allah: 

Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (Q.s. Al-Baqarah, 48) 

Rangkaian indikasi-indikasi takwa di atas merupakan dasar yang sangat kokoh untuk hidup yang benar.

Asas hidup itu hanya dua: benar dan salah.

Asas dan orientasi hidup yang benar adalah: takwa kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Selain daripada itu adalah tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada takwa dan mencari ridha Allah, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah akhlaqul-karimah atau akhlak yang baik. 

Inti takwa adalah kesadaran yang sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Takwa ialah kalau kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa Allah beserta kita, Allah mengawasi kita, dan memperhitungkan segala perbuatan kita.

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al-Hadid ayat ke-4) 

Inilah pengawasan melekat yang sebenarnya, yakni pengawasan yang ada dalam diri kita sendiri karena iman. Dengan demikian, takwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih. Dengan takwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang. Kita meninggalkan kejahatan juga bukan karena pengawasan orang lain. Tapi tumbuh secara otentik dalam diri kita sendiri sebagai akibat daripada takwa. 

Orang yang bertaqwa yakin segala amal perbuatannya selalu diawasi dan dicatat oleh Allah swt.

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh). (Q.s. Yaa Siin, ayat ke-12) 

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia

Sekarang timbul pertanyaan: Dari mana sebenarnya ukuran kebaikan itu? Ukuran kebaikan itu, pertama, adalah dari modal primordial yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hati nurani. Hati ini disebut nurani—berasal dari kata nuraniyun—artinya bersifat cahaya atau terang karena nurani bisa membedakan yang baik dan buruk, benar dan tidak benar, adil dan tidak adil.

Hati nurani merupakan modal pertama yang diberikan Allah untuk menerangi perilaku manusia. Banyak hadis yang menggambarkan bahwa kalau kita ingin tahu mana yang baik dan benar, kita harus bertanya pada hati nurani kita sendiri. 

Rasulullah pernah ditanya oleh beberapa orang sahabat, di antaranya bernama Wabishah. Orang itu datang kepada Rasulullah dengan sedikit memaksa. Kemudian dihalangi oleh para sahabat, tapi oleh Rasulullah justru disuruh menghadap. Ketika menghadap, dengan setengah bersumpah orang itu mengatakan, “Hai Muhammad, saya tidak akan pergi dari depanmu sebelum kamu mengajari aku apa itu kebaikan dan kejahatan.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke dada Wabishah, “Hai Wabishah, kebaikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram dan kejahatan ialah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.”

Nah, ketika orang yang seperti itu datang juga kepada Nabi dan bertanya tentang kebaikan dan keburukan, maka Nabi pun menjawab, “Tanyalah kepada hati kecilmu.”

Suatu saat Nabi didatangi orang serupa, dan bertanya hal yang serupa. Nabi mengatakan, “Mintalah nasihat pada hatimu sendiri.”

Menurut hadis, orang yang bertanya seperti itu kepada Nabi—kemudian dengan setia berpegang kepada pesan Nabi itu—mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang baik, menjadi manusia-manusia yang mendekati kualitas insan kamil.

Hati Nurani ini bersifat hanif (selalu cenderung pada kebaikan). Itulah fitrah manusia.

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Qs. Ar Ruum, ayat 30).

Fithrah itu tidak akan berubah sepanjang masa. Ia merupakan lokus kearifan abadi (al-hikmat al khalidah, sophia perennis).

***

Tapi, walaupun setiap pribadi manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, tidak selamanya manusia memiliki sensitivitas fithrah. Manusia masih bisa tergelincir dalam dosa. Karena manusia juga bersifat lemah. Oleh karena itu, manusia harus dibimbing dengan wahyu dari Allah agar manusia tetap berada dalam fitrahnya yang hanif.

Maka, ukuran kebaikan yang kedua adalah agama (wahyu). Agama disebut juga sebagai hati nurani atau fitrah yang diturunkan oleh Allah, yang diistilahkan dengan “fithrah munazzalah”. Fitrah yang diturunkan—yakni wahyu atau agama yang dibawa oleh para rasul—ini berfungsi memperkuat fitrah alami yang sudah ada dalam hati nurani setiap manusia.

***

Kemudian, ukuran kebenaran yang ketiga ialah mu'ahadah al-'uqud, yaitu perjanjian-perjanjian antarsesama manusia. Allah selalu berpesan agar kita senantiasa menghormati perjanjian-perjanjian atau kontrak-kontrak ('uqud) di antara kita. Oleh karena itu, undang-undang (hukum) yang benar-benar adil dan mempunyai legitimasi—yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan—haruslah kita hormati demi kebaikan bersama.

Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. Oleh karenanya, Islam disebut juga sebagai din (sistem ketundukan atau kepatuhan). Sedangkan masyarakatnya disebut madinah, yang berarti suatu tempat di mana kehidupan itu teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh pada aturan.

Baarakallahu lii wa lakum fiil quranil 'azhiiim, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

 

Kutbah II

Alhamdulillahi hamdan katsiiron kamaa amar.

Asyhadualla ilaha illallah wah dahula syarikalah, wa asyhaduanna Muhammaddan ‘abduhu warasuluh.

Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wasahbihi ajmain.

Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal muttaqun

Qalallahutaala fil quranil azim: innalaha wamalaikatahu yusallunaalannabiy ya ayyuhallazi na amanu sallu ‘alaihi wasallimutaslima.

Allahummasalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamasallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali ibrahim. Wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Fil ‘alamin innaka hamidummajid.

Alhummagfirlillmuslimin wal muslimat, wal mukminina wal mukminat al ahya iminmum wal amwat. Innaka sami’un qaribummujibu da’awat ya qadial hajat.

Rabbana atina fiddun ya hasanah wa fil akhiratihasanah wa kina ‘azabannar.

‘Ibadallah. Innallāha ya`muru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā 'anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya'iẓukum la'allakum tażakkarụn. Wa la zikrullahi akbar.



 

0 komentar:

Posting Komentar