alt/text gambar

Sabtu, 24 Januari 2026

Topik Pilihan: ,

Khutbah Jumat: Puasa Sia-sia


Alhamdulillah, kita telah menjalani dua per tiga dari sebulan puasa Ramadhan. Kita akan menginjak sepuluh hari terakhir bulan suci ini. Dalam ajaran agama, kita tahu bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari sangat penting. 

Beberapa hadis Nabi menyebutkan, pada hari-hari ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir ini ada momen sangat penting yang dikenal dengan laylatulqadr. Maka dalam kesempatan khutbah singkat ini, ada baiknya bila kita merenung dan menyegarkan ingatan kita, mengenai tujuan dan makna ibadah puasa yang sedang kita jalani. 

Tujuan ibadah puasa, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, adalah supaya kita bertakwa. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. 

Dengan mudah bisa dikatakan, kalau kita tidak menjadi bertakwa, maka seluruh ibadah puasa kita telah sia-sia. 

Apa yang dimaksud dengan takwa, sudah sering kita singgung. Sekadar mengingatkan, inti takwa adalah ingat kepada Allah Swt., sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Allah Mahahadir. Dia beserta kita, di mana pun kita berada. 

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hadid [57]: 4) 

Karena kita selalu sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan perkenan atau ridha Allah. Oleh karena itu, takwa mempunyai korelasi positif dan langsung dengan budi pekerti luhur (akhlaqul-karimah). 

Takwa harus melahirkan akhlak karimah. Apabila tidak ada tanda-tanda akhlak karimah pada diri kita, maka patut dipertanyakan, seberapa jauh kita menjadi bertakwa. 

Nabi pernah bersabda bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. Bagaimana puasa bisa mengantarkan kita kepada takwa? Karena puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Paling personal. 

Jika ibadah-ibadah lain mudah tampak oleh mata, maka tidak demikian dengan puasa. Seseorang mengerjakan shalat atau tidak, bisa kita ketahui. Kita juga bisa tahu, apakah seseorang membayar zakat atau tidak. Orang yang beribadah haji lebih mudah lagi kita ketahui. 

Karena haji adalah ibadah yang sangat demonstratif. Tetapi, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali diri kita sendiri dan Allah Swt. Mengapa begitu? Karena cukuplah puasa kita batal hanya dengan meminum seteguk air pada waktu kita tak tahan haus dan kita sendirian. Dengan seteguk air yang semula kita harapkan untuk meringankan derita haus maka seluruh puasa kita telah hilang.

Apakah betul kita tidak mencuri untuk minum barang seteguk, pada waktu kita tidak tahan dahaga dan kita sendirian, itu semua hanya kita sendiri dan Allah Swt. yang tahu. 

Itulah sebabnya, dalam sebuah Hadis Qudsi (firman Allah, tetapi kalimatnya dari Nabi), Allah berfirman: 

Dari Abu Shalih Az-Zayyat, dia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menanggung pahalanya.” (HR Bukhari) 

Dari sanalah benih-benih ketakwaan dilatih. Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun kita tidak mencuri untuk makan atau minum, meskipun kita sendirian, maka di situ kita mulai melihat adanya permulaan takwa. Yaitu, kita tidak mencuri makan dan minum karena kita tahu Allah melihat kita. 

Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri, dan diharapkan jujur kepada sesama manusia. Puasa, dengan demikian, adalah ibadah yang sangat ruhani. Sangat spiritual.
 
Ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sangat sosial. Begitu sosialnya, sehingga ada indikasi dalam Alquran, seolah-olah Allah tidak peduli apakah sedekah kita ikhlas atau tidak. Yang penting kita keluarkan saja sedekah kita. Allah berfirman: 

"Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah (2): 271) 

Seolah-olah Allah mengatakan, Aku tidak peduli kamu ikhlas atau tidak. Yang penting kamu melakukan sedekah. Sebab dengan sedekah orang miskin tertolong. Kalau kamu tidak ikhlas, rugimu sendiri. Kalau kamu ikhlas, untungmu sendiri. Maka ada dua hal yang bisa kamu peroleh dengan sedekah.

Pertama, bila kamu ikhlas, ridha Allah akan kamu dapatkan. 
Kedua, sedekahmu menolong orang miskin yang nantinya akan berefek perbaikan kepada masyarakat. 

Jadi, sedekah adalah ibadah yang sangat sosial. Dalam bahasa yang sering kita dengar, dimensinya sangat horizontal. Sangat hablum-minannas
Tetapi puasa, disebabkan kerahasiaannya itu, sangatlah personal. Sangat vertikal. Karena itu juga, sangat ruhani.

Maka, efek puasa tidak selamanya bisa dilihat secara langsung. Efeknya adalah efek ruhani. Justru karena efeknya di bidang ruhani, maka kebaikan yang diakibatkannya akan melimpah ruah. 

Itulah sebabnya dalam Al-Quran disebutkan, seseorang yang sakit atau dalam perjalanan boleh tidak berpuasa dengan kompensasi menebus pada hari yang lain. 

Maka siapa saja di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah (2): 184) 

Mengapa begitu? Karena Allah tidak menghendaki kesulitan. Allah menghendaki kemudahan. Allah tidak ingin memberatkan manusia, tetapi ingin meringankannya. Namun kalau seseorang tetap berpuasa, sekalipun dalam perjalanan atau dalam keadaan sakit, itu lebih baik kalau saja dia mengetahui. 

Di situ ada isyarat bahwa ada hikmah puasa yang mungkin tidak terjangkau oleh kita secara lahiriah. 

Sidang Jumat yang terhormat. 

Puasa itu sendiri artinya menahan diri. Kata “puasa” yang kita pinjam dari bahasa Sansekerta, sebagai terjemahan dari kata shawm atau shiyam, mempunyai makna yang sama dengan shawum atau shiyam itu sendiri, yaitu menahan diri.

Ibadah puasa adalah ibadah untuk melatih menahan diri. Karena kelemahan manusia yang terbesar ialah ketidaksanggupan menahan diri. 

Ini dilambangkan dalam kisah kakek kita yang pertama, yaitu Adam. Ketika dia bersama istrinya, Hawa, dipersilakan oleh Allah Swt. untuk tinggal di surga dan diberikan kebebasan menikmati apa saja yang tersedia di surga.

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Baqarah (2): 35) 

Semuanya boleh, hanya satu pohon itu yang tidak boleh. Allah sudah membuat perjanjian, namun Adam rupanya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam Al-quran: 

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Qs. Tha Ha (20): 115) 

Akibatnya, dia tergoda setan. Kemudian melanggar larangan Allah, mendekati pohon terlarang tadi. Dia pun diusir dari surga secara tidak terhormat. 

Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.” (QS Tha Ha (20): 123) 

Ini adalah drama kosmis yang melambangkan karakter manusia. Bahwa kelemahan manusia terletak pada ketidakmampuannya menahan diri dari dorongan keserakahan. Mengapa Adam masih melanggar larangan Tuhan terhadap satu batang pohon, padahal seluruh yang ada di surga tersedia untuk dinikmatinya? Karena Adam serakah. 

Dia tidak puas dengan apa yang ada. Dan kita adalah anak cucu Adam. Kita mempunyai potensi menjadi seperti kakek kita: jatuh tidak terhormat, kalau kita tidak bisa menahan diri. 

Maka, puasa bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa kita harus menahan diri. Maka ukuran pahala puasa bukanlah lapar dahaga. Seolah olah makin lapar, pahalanya makin besar. Makin dahaga pahalanya makin banyak. Tidak demikian. 

Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad Saw. mengatakan, kalau kita sedang puasa, tetapi kita lupa bahwa kita sedang puasa, lalu makan sampai kenyang dan minum sampai puas, maka puasa kita tidak batal. Malah Nabi menganjurkan supaya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi makan dan memberi minum kepada kita. 

Ini menunjukkan bahwa pahala puasa tidak bergantung pada kadar kelaparan dan kehausan. Pahala puasa tergantung pada sikap jiwa. Dalam hadis disebutkan sebagai sikap jiwa imanan wahtisaban. Yaitu, penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (muhasabah; introspeksi). 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi (muhasabah), maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni oleh Allah.” (HR Bukhari) 

Ampunan dosa itu tidak tergantung pada rasa lapar dan haus, melainkan kepada imanan wahtisaban. Maka dari itu, marilah kita jalani ibadah puasa ini dengan penuh percaya kepada Allah bahwa Dia menghendaki kebaikan bagi kita. 

Kemudian kita teruskan dengan anjuran satu napas dalam hadis itu yaitu ihtisaban, introspeksi, muhasabah. 

Oleh karena itu, selama berpuasa kita dianjurkan banyak tafakkur iktikaf (duduk termenung di masjid), serta menjalankan shalat malam (qiyamul-layl) yang sekarang populer menjadi tarawih. 

Ide pertama tarawih sebetulnya adalah qiyamul-layl. Maka pelaksanaan shalat sunnah tarawih, makin malam makin baik. 

Nabi sendiri melaksanakan sembahyang tarawih selalu jauh malam dan sendiri di rumah beliau. Karena di situ hendak diciptakan suatu momen ketika kita secara bening, jernih, dan jujur sempat bertanya pada diri sendiri, sebetulnya siapa saya ini? Apakah betul saya ini orang baik? Apa betul semua kebaikan yang saya lakukan adalah benar-benar kebaikan? 

Ada perumpamaan karikatural. Ketika rumah kita diketok orang yang meminta uang, lalu kita memberinya uang, ikhlaskah pemberian kita itu? Ataukah untuk mengusir orang itu supaya lekas pergi? Ada satu batas yang kadang tidak tampak. Kelihatannya sedekah, tetapi sebetulnya perlakuan kasar. Karena kita menghendaki orang itu lekas pergi. Kadang kita katakan kepada anak kita atau pembantu kita, “Kasih orang itu uang biar lekas pergi.” Kelihatannya sedekah, tapi sebetulnya mengusir. 

Dalam hal ini, banyak sekali tindakan kita seperti itu. Rasulullah Muhammad Saw. pernah ditanya oleh Aisyah dengan penuh keheranan atas suatu ayat Al-Quran yang menggambarkan orang beriman, yaitu: 

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَۙ

"Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." (Q.s., Al-Mu'minan (23): 60) 

Ayat ini menimbulkan keheranan pada Aisyah. Lalu dia bertanya kepada Nabi, “Wahai Nabi, ayat ini bagi saya aneh, orang itu sudah bersedekah tetapi dia malu kepada Tuhan. Maksudnya apa?” 

Nabi mengatakan, “Memang orang bersedekah yang ikhlas itu ialah orang yang sedekah, tapi tidak bisa memastikan bahwa dia dapat pahala dari Tuhan karena dia belum tahu apa sedekahnya itu ikhlas atau tidak. Dia malu kepada Tuhan jangan-jangan sedekahnya tidak diterima Tuhan. Jangan-jangan terbaca oleh Tuhan niat di lubuk hatinya bahwa dia ingin disebut sebagai orang yang murah hati.” 

Karena itu, puasa menjadi kesempatan untuk introspeksi total, sebetulnya siapa diri kita ini. Diri kita, yang ketika berpakaian ihram, pakaian putih-putih tanpa jahitan, melambangkan ketelanjangan di depan Tuhan. Perlambang bahwa kita tidak punya pretensi apa-apa. Kita tidak mengklaim apa-apa. Tidak punya perasaan sebagai orang baik dan sebagainya. Terserah Tuhan untuk menilai kita. 

Hanya dengan instrospeksi seperti itu, tobat kita akan diterima oleh Allah Swt. Hanya dengan begitu, permohonan kita untuk mendapat petunjuk Allah, ihdinash-shirathalmustaqim, akan diterima oleh Allah Swt. 

Kalau kita memohon petunjuk tetapi sekaligus merasa bahwa kita sudah tahu apa yang benar, maka kira-kira jawaban Tuhan, “Kalau kamu sudah tahu yang benar mengapa kamu meminta petunjuk kepada-Ku." 

Oleh karena itu, asumsinya kita tidak tahu. Itu berarti melepaskan semua klaim dalam semangat introspeksi. Nah, kalau kita bisa melakukan itu, maka Nabi mengatakan, "Segala dosanya yang lalu akan dihapuskan oleh Allah Swt.” 
Sehingga kondisi kita suci bagai “terlahir kembali” dari rahim ibu. 

Itulah yang kita peringati dengan 'Idul-fitr, kembalinya fitrah. Kembalinya kesucian primordial. Kesucian asal kita, sebagaimana Allah telah menciptakan kita dahulu. 

Kita renungkan semua itu, agar sisa puasa kita ini betul-betul menjadi lebih baik. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari. Jangan sampai nilai puasa kita sepanjang dua puluh hari yang lewat terhapus begitu saja oleh kesalahan kita dalam sepuluh hari yang akan kita jalani ini.

Nabi memperingatkan kita: 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari) 

Allah tidak peduli. Artinya, puasa kita menjadi sia-sia.

***

Sumber: 

Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat Cak Nur: Menghayati Akhlak Allah dan Khutbah-Khutbah Pilihan Lainnya, Jakarta: Penerbit Noura Books, 2016, h. 185-196.



0 komentar:

Posting Komentar