Oleh ReO Fiksiwan
"Struktur dan makna lelucon, serta struktur dan makna konsep filosofis, terbuat dari bahan yang sama.” — Thomas Cathcart(84) & Daniel Klein(86), Plato and a Platypus Walk into a Bar… (2007; Kanisius 2011).
Di panggung monolog Mens Rea, Pandji Pragiwaksono yang kini berusia 46 tahun tampil dengan gaya khasnya: satir, tajam, dan frontal. Potongan kalimat yang viral di Netflix dan media sosial—“Soal keadilan, hari ini kita cuma bisa berharap pada diri kita sendiri.
„Mau berharap ke siapa? Polisi membunuh, tentara berpolitik, presiden memaafkan koruptor, wapres kita… Gibran”—menjadi semacam pukulan telak yang mengundang tawa getir sekaligus renungan mendalam.
Pandji tidak sekadar melucu, ia menertawai model kekuasaan yang kemaruk dan brutal, yang justru menjauhkan rakyat dari rasa keadilan.
Komedinya bekerja seperti cermin retak: setiap pecahan memantulkan wajah institusi yang seharusnya menjaga hukum, tetapi justru menambah luka.
Dalam tradisi filsafat keadilan John Rawls, keadilan adalah fairness, sebuah sistem yang memastikan distribusi hak dan kewajiban secara merata. Namun di tangan Pandji, Rawls seakan dihadirkan kembali dalam bentuk parodi.
Ia teIah menunjukkan bahwa prinsip keadilan yang mestinya melindungi yang lemah justru dipelintir oleh kekuasaan yang rakus.
Ketika aparat bersenjata masuk ke gelanggang politik, ketika pengampunan terhadap koruptor menjadi kebiasaan, maka “veil of ignorance” Rawlsian runtuh, digantikan oleh tirai kepentingan yang transparan.
Humor Pandji juga bisa dibaca melalui lensa Thomas Cathcart dan Daniel Klein dalam Plato and a Platypus Walk into a Bar…. Buku itu menjelaskan bagaimana filsafat bisa dijelaskan lewat lelucon, dan bagaimana humor menjadi alat untuk mengungkap absurditas sosial.
Menurut Cathcart, alumni filsafat Harvard, teologi di University of Chicago dan Klein, penulis dan homoris kelahiran Massachusetts, AS, humor dan filsafat sama-sama berfungsi untuk mengganggu cara pandang konvensional, menyingkap kontradiksi, dan memaksa kita melihat dunia dari sudut berbeda.
Humor politik, menurut mereka, adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan absurditas kekuasaan.
Dengan lelucon, publik bisa melihat bahwa banyak praktik politik sebenarnya tidak masuk akal, dan tawa menjadi bentuk perlawanan
Pandji mempraktikkannya dengan sempurna: ia menertawakan absurditas kekuasaan, bukan untuk sekadar menghibur, melainkan untuk membuka ruang kesadaran.
Tawa yang lahir dari penonton bukanlah tawa kosong, melainkan tawa yang mengandung kritik, sebuah humor politik yang menyingkap ironi keadilan di negeri ini.
Reaksi publik pun beragam.
Ada yang menilai Pandji terlalu keras, ada yang menganggapnya sekadar refleksi kegelisahan kolektif.
Namun satu hal jelas: komedi ini berhasil memantik diskusi besar tentang siapa yang seharusnya menjadi sandaran keadilan. Ketika institusi gagal, rakyat dipaksa menoleh ke diri sendiri.
Pandji menegaskan bahwa keadilan bukanlah hadiah dari penguasa, melainkan kesadaran warga untuk terus bersuara, meski dengan risiko ditertawakan atau dicibir.
Komedinya adalah perayaan keberanian.
Ia menertawakan kekuasaan yang brutal, sekaligus mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh mati dalam diam.
Di tengah rapuhnya sistem, komedi menjadi senjata yang paling jujur: ia menghibur sekaligus menggugat.
Pandji menunjukkan bahwa di balik tawa, ada luka; dan di balik luka, ada harapan yang hanya bisa dijaga oleh keberanian dengan akal waras rakyat sendiri.
#coversongs:
Humorous Songs dari album Midnight Woods Melody dirilis pada 26 Agustus 2024 oleh grup The Three of Us. Album ini berisi 30 lagu dengan durasi total sekitar 56 menit.
Makna dari karya ini adalah menghadirkan nuansa humoris sekaligus reflektif, menggunakan musik sebagai medium untuk menertawakan absurditas hidup, sambil tetap memberi ruang bagi renungan tentang kebersamaan dan keindahan alam malam.
Sumber:
https://www.facebook.com/share/p/185QVcDoJi/

0 komentar:
Posting Komentar