Kaum muslimin sidang shalat Jumat yang berbahagia,
Dalam kesempatan khutbah kali ini, saya ingin meneruskan pembicaraan kita mengenai takwa. Unsur paling penting dalam takwa ialah ingat kepada Allah. Dalam bahasa Arabnya disebut dzikr. Banyak sekali ayat Al-Quran yang berisi pembicaraan dan perintah melakukan zikir. Al-Quran memberi gambaran bahwa ibadah shalat diperintahkan supaya kita berzikir kepada Allah. Supaya kita ingat kepada-Nya.
Firman Allah kepada Nabi Musa menyatakan:
Laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qs., Tha Ha [20]: 14)
Kemudian ada gambaran mengenai kaum munafik, yang disebutkan sebagai:
Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. Al-Nisa' [4]: 142) .
Maka dari itu, ada firman Allah yang memperingatkan kita jangan sampai lupa kepada-Nya.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (OS Al-Hasyr (59): 19).
Dengan demikian, zikir begitu penting dalam ajaran agama kita. Zikir merupakan salah satu inti ajaran agama. Keberagamaan itu tidak mungkin tanpa kita selalu ingat kepada Allah Swt. Dalam Al-Quran disebutkan, ciri-ciri kaum yang dipuji sebagai ulul-albab—mereka yang memiliki pikiran-pikiran mendalam—adalah mereka yang selalu ingat kepada Allah.
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia: Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Qs. Ali Amran (3): 191)
Zikir kepada Allah tidak mengenal ruang dan waktu. Selamanya dan di mana saja kita harus ingat kepada Allah Swt. Bila kita lupa kepada Allah, Allah akan membuat kita lupa akan diri kita sendiri. Hanya dengan ingat kepada Allah, kita mengetahui dan menginsafi bahwa hidup ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Itulah makna ungkapan yang sering kita baca, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Al-quran mengatakan, “Apakah kamu mengira Kami ciptakan kamu ini sia-sia (abasa)? Tidak!” Orang yang memiliki makna hidup, akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Seluruh tingkah lakunya akan bermakna, termasuk penderitaannya. Orang yang menderita untuk suatu makna, untuk suatu tujuan, akan tetap bahagia daripada orang yang meskipun tidak menderita tetapi hidupnya tidak mempunyai arti, tidak mempunyai makna.
Ada ungkapan dalam literatur kesufian Jawa yang relevan. Bahwa Tuhan itu adalah Sangkan Paran. Sangkan artinya asal. Paran artinya tujuan. Ini adalah penggantian kalimat dari terjemahan kalimat Al-quran, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Kita sesungguhnya terikat oleh suatu perjanjian antara kita dengan Allah Swt. Sebut saja perjanjian primordial. Perjanjian yang terjadi sebelum kita lahir, yang digambarkan dalam Al-quran:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Qs. Al-A'raf [7]: 172)
Suatu gambaran dalam Al-quran mengenai keadaan kita sebelum kita lahir. Kita pernah dipanggil oleh Allah dalam suatu alam ruhani, ketika kita masih dalam wujud ruhani, dan dimintakan persaksian kepada kita. Karena perjanjian tersebut terjadi di alam ruhani, maka tidak menjadi kesadaran hidup kita sekarang ini yang berada di alam jasmani. Tetapi perjanjian ruhani itu mempengaruhi hidup kita serta menentukan rasa bahagia dan sengsara kita dalam arti yang paling hakiki. Maka begitu lahir di dunia, kita terikat oleh perjanjian ini. Ia kemudian tumbuh dalam diri kita sebagai dorongan ruhani untuk kembali kepada Tuhan memenuhi janji itu.
Semua orang ingin kembali kepada Tuhan. Hidup ini adalah perjalanan ingin kembali. Kembali ke asal. Hidup ini bisa diumpamakan seperti anak kecil yang menangis, lalu dilihat ibunya, dan didekaplah dia oleh sang ibu, maka dia akan diam. Dia kembali ke ibunya.
Kita semua ingin kembali pulang. Pulang itu adalah suatu gejala psikologis, bukan gejala fisik. Kalau seseorang tidak berhasil pulang, dia disebut tersesat. Ketersesatannya itu tidak bisa ditebus. Meskipun dia ditampung di rumah yang lebih mewah dari rumahnya sendiri, dia akan tetap sengsara. Dia tetap ingin pulang. Pulang itu adalah gejala psikologis. Ada pepatah dalam bahasa Inggris home sweet home, kediaman adalah rumah yang paling enak. Kata Nabi Muhammad, Bayti Jannati, rumahku adalah surgaku. Rumah, selain mempunyai bentuk fisik berupa pintu, dinding, dan atap, juga memiliki makna psikologis yang disebut home, bukan house. Oleh karena itu, dalam bahasa Inggris tidak ada perkataan Go House, tetapi Go Home, artinya pulang. Sebagai gejala psikologis, pulang adalah suatu pemenuhan hasrat untuk kembali ke asal. Hal itu menimbulkan suatu ketenteraman dan kebahagiaan. Setiap orang ingin kembali ke kampung, kembali ke keluarga. Bahkan siapa saja yang pergi ke luar negeri, selalu saja ada keinginan lekas pulang ke negeri asal.
Semua proses kembali ini, yang paling mutlak ialah kembali kepada Allah Swt. Dimensinya spiritual. Anak kecil yang berhenti menangis karena berhasil didekap ibunya, lebih merupakan gejala psikologis semata. Tetapi kalau kita berhasil berada dalam dekapan Allah Swt., itu adalah pengalaman ruhani yang jauh lebih dalam. Dalam Al-quran disebutkan, orang yang ingat kepada Allah hatinya akan tenteram.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Qs. Al-Ra'd [13]: 28)
Orang-orang yang sesat dalam istilah keagamaan disebut dhallan. Yaitu, orang yang tidak sanggup kembali ke asal. Dalam makna lain, dhallan adalah mereka yang tidak sanggup kembali kepada Allah, karena tidak pernah mencoba membangun hubungan yang baik dengan Allah melalui ibadah. Maka salah satu unsur penting takwa adalah zikir, yang merupakan wujud keinginan kembali kepada Allah Swt. Dengan zikir, kita menginsafi hadirnya Allah dalam hidup kita. Allah selalu hadir bersama Kita. Allah adalah wujud yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hadid [57]: 4)
Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. (Qs. Al Baqarah [2]: 115)
Kalau kita menyadari hadirnya Tuhan dalam setiap detik kehidupan kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur. Ke arah akhlaqul-karimah. Ada sebuah hadis yang mengatakan:
“Tahukah kalian apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga, yaitu bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur.” (HR Ahmad)
Inilah bagian sangat penting dari takwa, yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita sendiri. Semua itu tidak terjadi begitu saja. Meskipun benih takwa ada dalam ruhani kita yang paling dalam, tetapi sepertinya semua bakat yang secara laten ada dalam diri kita, ia hanya akan berkembang kalau dilatih dan ditumbuhkan.
Sama dengan potensi kecerdasan. Sejak kecil kita mempunyai bakat untuk belajar dan memahami sesuatu. Akan tetapi, kita tetap memerlukan pendidikan untuk betul-betul mengembangkan kecerdasan otak kita. Sejak kecil kita mempunyai bakat cinta kepada sesama manusia. Tetapi itu pun baru tumbuh menjadi sikap yang mapan apabila dikembangkan melalui latihan dan pendidikan. Sejak dari lahir kita punya benih keinginan kembali kepada Allah Swt. Itu harus kita latih melalui berbagai ibadah, bacaan, atau zikir yang diajarkan agama. Sehingga potensi takwa .kita benar-benar manifes.

0 komentar:
Posting Komentar