alt/text gambar

Rabu, 11 Februari 2026

Topik Pilihan: , ,

Derrida: Sebuah Rekomendasi untuk La Survie

Muhammad Al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LKiS, 2005

Oleh: Goenawan Mohamad 


Di pemakaman di luar Paris di musim gugur 2004 itu, Pierre Derrida membacakan beberapa baris kalimat yang ditinggalkan ayahnya. Salah satunya berbunyi, “Affirmez la survie”. 

Dalam obituari yang ditulis untuk Jacques Derrida dalam Radical Philosophy edisi Januari-Februari 2005, Judith Butler menyebut kalimat almarhum yang dikutip Pierre di hari berkabung di bulan Oktober itu: 

Itulah kata-kata yang hidup-terus setelah dia, kata-kata yang diinginkannya untuk dibaca oleh pewarisnya, orang yang ia kenal, meskipun ia sendiri tahu hidup-terus justru berarti tak tahu ke mana kata-kata seseorang akan pergi dan pewarisan apa yang menantinya. 

Sungguh patut: siapa yang tahu ke mana kata-kata seseorang akan pergi? Derrida tak hadir lagi, ia meninggal karena kanker pankreas dalam umur 74 pada tanggal 9 Oktober 2004. Ia pernah mengatakan: “Saya tak percaya orang hidup-terus post-mortem”. Tapi kata-kata yang diutarakannya, yang ditulisnya, hidup-terus, sSurvivre, “di atas” atau “mengatasi” (sur) “hidup” (vivre), melampaui atau mengatasi kehadiran. 

Ini satu hal yang sebenarnya sejak lama sudah dikatakan Derrida kepada kita: bahwa kata-kata beserta maknanya pada akhirnya tak sepenuhnya tergantung pada aku yang ada di sini, yang berbicara sekarang, tapi juga pada kau dan mereka yang berada di tempat lain, di waktu yang berbedatapi itu pun tak sepenuhnya. Tak seorang pun yang akan tahu ke mana katakatanya akan hinggap, mendarat, dan dijadikan bagian dari khazanah orang lain. 

Tak ada yang perlu disesali di sini. Kata-kata mau tak mau memang begitu. Keharusan (atau keniscayaan?) meneguhkan la survie—yang hanya dapat kita terjemahkan sementara sebagai “hidup-terus” —sudah ada dalam bahasa sejak mula. Dalam perumusan Butler, kehidupan yang berlanjut terus itu sudah “dibangun dalam bahasa yang mendahului kita”. Tiap ujar, tiap konstruksi verbal, pada akhirnya berada di luar perbedaan kategoris “hidup” dan “mati”. Atau ia terdiri dari hidup dan mati. 

Itulah sebabnya Derrida menggunakan tulisan, atau lebih tepat, penulisan, sebagai paradigma. Satu paragraf yang saya petik dari wawancaranya terakhir di surat kabar Le Monde, yang terbit Agustus 2004: 

Bila seseorang menulis sebuah buku untuk pembaca yang luas, ia tak tahu kepada siapa ia bicara, orang akan membentuk dan menciptakan garis-besarnya, tapi semua itu tak lagi milik kita. Diucapkan atau dituliskan, semua gerak (gestes) yang mencoba memberi tahu itu meninggalkan kita: mereka bertindak mandiri dari kita, seperti mesin, atau, yang terbaik, seperti boneka ... Pada saat saya mengizinkan buku “saya” diterbitkan ... saya mulai muncul-dan-lenyap, seakan-akan sejenis hantu yang tak dapat disentuh yang tak pernah belajar bagaimana hidup. Jejak yang saya tinggalkan menandai kematian saya, nanti ataupun di masa lalu, tapijuga menandai harapan bahwa jejak itu akan hidup-terus setelah saya. Ini bukan ambisi untuk hidup kekal, ini struktural. —

Dalam hubungan itu pula ia berkata: “Saya melihat kematian saya dalam tulisan itu”. Dengan kata lain, kematian, atau lebih luas lagi ketidakhadiran, selalu membelah merasuk ke dalam tulisan. 

Tapi tak berarti tulisan itu jadi sepenuhnya dibentuk oleh ketidakhadiran sang penulis atau sang pembicara. Derrida pernah dikutip sedikit komentarnya atas kata-kata Roland Barthes yang tersohor itu, bahwa “sang pujangga sudah mati”. Dalam Signeponge (1984) ia pernah mengatakan bahwa orang terlalu banyak menekankan perkara mati atau hapusnya sang pujangga. 

Tentu harus dicatat di sini: Barthes berbicara tentang Vauteur, atau dalam bahasa Inggris author, dari mana kata “authority” berasal (itu sebabnya saya memakai kata “pujangga” dan bukan “pengarang”, seraya mengakui bahwa alih-bahasa itu juga kurang tepat). Dengan kata lain, sebenarnya yang hendak ditunjukkan ialah bahwa begitu sebuah teks ditulis dan beredar, tak ada otoritas dan pembawa wibawa yang dapat menentukan mana tafsir yang benar tentang teks itu. Pusat yang memegang kendali interpretasi tak ada —satu hal yang tentu saja akan punya gema yang dahsyat bila kita terapkan dalam cara kita memperbincangkan tafsir dan teks Kitab Suci, yang selamanya cenderung berdasar kepada satu atau dua penguasa tafsir. 

Di sini sebenarnya ada kesejajaran antara maksud Barthes dan pendirian Derrida. Bukankah jauh sebelumnya, di sebuah esai di tahun 1967, “Ellipsis”, ia menulis: “Kenapa orang akan berkabung untuk sang pusat? Bukankah sang pusat, tak adanya permainan dan perbedaan, sebuah nama lain kematian?” 

Tapi bagaimanapun, kita tahu, sang penulis tetap hadir, meskipun ia tak seratus persen menguasai teks yang ditulisnya: “Saya mulai muncul-dan-lenyap,” kata Derrida. 

Jika demikian, bagaimana membicarakan “ Derrida” , memperkenalkan “Derrida”, apabila “Derrida” itu sendiri “muncul dan-lenyap” ? 

Saya pernah melihat film dokumenter tentang pemikir yang menulis L'€criture et la difference ini. Tampak oleh saya betapa sulit, mungkin enggan, mungkin pula agak bingung ia berbicara tentang dirinya, terutama tentang hal-hal yang otobiografis sifatnya — dengan sikap seperti mengatakan, “Buat apa, sih?” Akhirnya ia, yang selalu tampak rendah hati dan ramah dan terbuka, membiarkan kamera mengikuti perjalanannya, tapi tetap: film ini tidak punya alur yang jelas sama sekali. 

Barangkali Jacques Derrida sendiri akan lebih suka melihat “Derrida” sebagai sebuah masalah pemikiran. Dalam De la grammatologie ia mengatakan bahwa kita akan main-main dan bersikap meremehkan bila kita berpikir tentang “ Descartes”, “Rousseau”, “Hegel”, dan lain-lain sebagai nama pengarang. Bagi Derrida, masing-masing sesungguhnya adalah “nama sebuah problem”. 

Buku yang disusun oleh Muhammad Al-Fayyadl ini mencoba melihat “Derrida” juga sebagai “nama sebuah problem” yang harus didiskusikan. Fayyadl membuka diskusinya dengan mengutip salah satu kalimat tokohnya ketika ia meragukan perlu atau tak perlunya pendekatan biografis dalam membahas seorang filsuf. Kata Derrida: “Sejak Aristoteles hingga Heidegger, mereka mencoba melihat kehidupan mereka tak ubahnya sesuatu yang remeh atau kebetulan.” 

Tentu saja dalam sebuah buku pertama yang memperkenalkan buah dan proses pemikiran Derrida ke hadirin Indonesia, Fayyadl harus menyertakan juga anasir riwayat hidup itu, dan lebih penting lagi, sebuah biografi intelektual yang meletakkan Derrida (sebagai “problem”) dalam peta bumi filsafat dewasa 

Tentang yang terakhir ini, Fayyadl menyajikan sebuah diskusi yang, bahkan bagi orang yang sudah agak lama mendengar “Derrida” sekalipun, menampilkan hal-hal yang baru atau setidaknya menyegarkan ingatan. Tak dapat dilupakan ialah kemampuan Fayyadl menyampaikannya dalam bahasa Indonesia yang rapi, terang, luwes, tanpa menghindar dari kompleksitas persoalan yang dibahas — dan dengan demikian memberi sumbangan yang amat berharga dalam khazanah penulisan filsafat

3

dalam bahasa kita, sebuah tradisi yang telah dirintis oleh Bung Hatta dan Driyarkara, kemudian diperkaya oleh Franz Magnis-Suseno, Ignas Kleden, Bambang Sugiharto, dan Franky Budi Hardiman. 

Pasti tidak hanya ada satu cara untuk memperkenalkan Derrida (sekali lagi, sebagai “problem”). Buku pengantar yang ditulis oleh Nicholas Royle untuk seri “Critical Thinkers” Routledge yang terbit di tahun 2003, Jacgues Derrida, misalnya, seraya mencoba menghidupkan kembali “semangat” Derrida, ditulis dengan loncatan-loncatan yang mengagetkan, ditaburi cuplikan kata-kata sang filsuf dari pelbagai sumber — kutipan yang kadang-kadang seperti terlepas dari konteks, kecil-kecil seperti detail yang selama ini diabaikan. Agaknya Royle dengan Cara ini memperkenalkan bagaimana “dekonstruksi” terjadi Argumennya sengaja atau tak sengaja terapung-apung dalam contoh-contoh dari karya sastra, tak pernah “selesai”, seakanakan demikianlah differance diperlihatkan. 

-Yeks Fayyadl lebih sistematik. Nadanya serius, sikapnya lebih rajin dan sabar — sebagaimana cara Derrida membaca karya pemikiran orang lain — dan meskipun konvensional, tak menyebabkan ia kehilangan pertautan dengan tendensi filsafat sang pemikir: Derrida menunjukkan bahwa seorang pemikir tak akan sampai menjadi pemikir bila ia tak mampu menulis dengan bahasa yang bebas dari sikap yang akan disebut oleh Adorno sebagai “menganggap konsep sebagai jimat”. Fayyadl tak hanya membawa problem Derrida kepada kita, tapi ia sendiri terasa tersentuh oleh pemikiran filsuf yang kontroversial ini, menghayatinya, dan bergumul dengan ketegangan yang menjalar di dalamnya. 

Epilognya perlu saya kutip: 

Dalam perjalanan ini saya telah mengalami banyak hal, dan selalu tak mudah untuk meringkasnya menjadi satu-dua paragraf. Selalu ada yang tersisa, dan meski saya kini telah sampai di bagian akhir teks ini, saya tidak dapat memastikan apakah saya dapat mengakhirinya. Derrida tidak mengizinkan saya mati disini. Saya harus memulai perjalanan saya berikutnya. Meski Anda, pembaca, berulang kali menikam saya, membunuh dan ingin saya mati agar Anda bebas bermain tafsir dan menulis kembali teks ini. Saya harus bangkit. Saya harus hidup kembali. 

“Dengan kata lain, Fayyadl hendak menegaskan sesuatu yang dikatakan Derrida, “Affirmez la survie”. 

Maka pergulatan kita dengan tiap teks — tentang hidup yang kita telaah dan hayati—tak akan henti-hentinya berlangsung, bergerak, dalam sebuah mobilitas yang bahkan tak bisa disebut sebagai dialektik. Khususnya jika dialektik berarti pertentangan yang akhirnya akan menemukan satu momen “tempuk-junjung”. Saya katakan “tempuk” karena ada perbenturan dan juga pertemuan, saya katakan “junjung” karena dalam proses itu terangkat satu tafsir baru yang mengatasi tafsir-tafsir yang bertempuk sebelumnya. Dengan kata lain, sebuah momen Aufhebung, ketika sintesis terjadi antara tesis dan antitesis. 

Dan itulah yang tak selamanya terjadi dalam lalu lintas berbagai tafsir tentang hidup, mati, Tuhan, nasib, kekuasaan, dan lain-lain, yang saling bertemu, mungkin bergosokan, mungkin pengaruh-memengaruhi atau tampik-menampik. Akhirnya, masing-masing akan berada dalam keniscayaan untuk berendah hati. 

Sebab bahkan bagi kita sendiri, makna yang hendak kita utarakan dan apa yang kita utarakan ternyata tak pernah sepenuhnya klop. Selalu ada beda, selalu geseh, dan pada akhirnya, ini berarti menyadari sebuah posisi etis yang mendasar: kita harus selalu memberi waktu bagi yang-lain untuk muncul. 

Agaknya sebab itu di tahun 1994 Helene Cixous mengatakan: “Dekonstruksi Derridean akan menjadi peringatan etikopolitis terbesar dari masa kita.” “Peringatan”, sebab kita perlu terhindar dari keyakinan yang jumawa akan kemampuan kita sendiri mengendalikan bahasa. “Etik”, karena menyangkut persoalan bagaimana dengan keyakinan itu kita berhubungan 


4

dengan liyan, sosok lain dalam hidup kita. "Politik", karena seperti dikatakan Derrida sendiri, dekonstruksi adalah keadilan: yang lain, yang berbeda, harus dicatat dan dapat tempat. 

Richard Rorty pernah menggambarkan kelebihan Derrida jalah karena ia merayakan wilayah “privat”, dan berdiri dengan ironi dalam menghadapi persoalan-persoalan yang menyangkut manusia. Derrida menampik itu: bukankah di tiap saat, juga di tiap saat yang paling privat, yang-lain tak dapat diingkari? 

**

Di tahun 1992, Universitas Cambridge menolak usul untuk memberikan gelar doctor honoris causa kepada Derrida. Ketika akhirnya keputusan itu diubah dan gelar itu diberikan, dan Derrida menerimanya dengan santun, dengan luwes dan tak melupakan humor, sebuah surat dilayangkan oleh seorang guru besar filsafat di Yale, disertai tandatangan kurang lebih dua puluh filsuf, yang menyatakan protes, karena bagi mereka, karya Derrida “tak memenuhi standar yang diterima untuk kejelasan dan ketekunan (rigor)”. 

Sebuah penilaian yang ganjil. Dalam suatu masa ketika filsuf dan filsafat jadi cerita dalam media massa, memang tak sedikit orang mengeluh, bahwa tulisan Derrida sukar dipahami, dan acap kali eksentrik. Tapi sebelum berkesimpulan seperti kedua puluh filsuf di atas, orang sebenarnya perlu lebih dulu menghadapi argumen Derrida tentang “teks”. Sebagaimana ditunjukkan oleh Fayyadl, bagi Derrida, teks adalah “sesuatu yang tak terbandingkan, yang unik, memendarkan bayang-bayang yang menghantui totalitas makna yang berhasrat menaklukkan, menguasai, dan menundukkan pelbagai ihwal ke dalam sebuah universum tunggal”. Dengan pandangan ini, tak mengherankan bila Derrida tak akan mengakui satu standar yang “benar”. 

Baginya, mengamati hidup, merenungkan hal-ihwal sampai dasar — dan di situlah letak ketekunannya — mau tak mau merupakan jalan yang rumit, bercabang-cabang, perlu ketabahan. Dan itu tak dapat dielakkan dalam berfilsafat. Simon Critchley menegaskan hal itu dalam mengenang pemikir yang terkenal dengan tajam telah menelaah dan mengkritik argumen Hegel, Husserl, dan Heidegger itu: “Bagi saya, keteladanan Derrida dalam filsafat terdiri dari pelajaran membaca: sabar, teliti, hati-hati, terbuka, mempertanyakan pembacaan yang, dalam keadaan yan terbaik, mampu mengguncang pengharapan pembaca...” 

Saya kira Derrida mengharap ia diperlakukan sama sebagaimana ia memperlakukan para filsuf lain. Terutama karena ia ingin kita berjalan bersama dia, mencari—yang menyebabkan kalimat-kalimatnya selalu terasa seperti meraba-raba dan mencoba-coba perumusan yang paling “kena”, yang menyebabkan kalimat-kalimat itu umumnya panjang, mengulang satu pengertian dengan beberapa kata lain, dengan banyak koma di antaranya. Itu memang membuatnya tak gampang disimpulkan. Sebagaimana dikatakannya dalam wawancara terakhir di Le Monde itu, “Saya berperang dengan diri saya sendiri.” 

Dalam “peperangan” itu ada pengakuan akan tak terelakkannya aporia: mengukuhkan kebenaran adalah perkara yang tak mudah. Tiap membaca Derrida, saya teringat sewaktu saya belajar filsafat dulu: seorang guru saya yang mengatakan bahwa mencari kebenaran adalah jalan yang berbahaya, tapi tak kurang berbahaya adalah “mendapatkan kebenaran”. 

Tapi itu tak berarti bahwa Derrida seorang Sophis yang tak mengerti kontradiksi dalam kata-katanya sendiri ketika ia yakin bahwa ia benar justru dalam menyatakan bahwa tak ada kebenaran. Di sini saya ingin meminjam kata-kata Gayatri Spivak dalam obituarinya, yang menyentuh hubungan Derrida dengan “kebenaran” yang menyebabkan ia sosok yang kontroversial: “Ia kontroversial karena ... dengan seluruh kejujurannya yang tak jera-jera, menyidik cara kita memproduksikan kebenaran.” 

Seperti dikatakan Fayyadl dalam buku ini, Derrida bukanlah seorang nihilis. Baginya kebenaran tetap “tampak , tap! “bagaikan sebuah atom kecil dari permainan akbar yang tak henti-hentinya menyemarakkan semesta raya ini . 

5

Tak berarti dalam keadaan itu orang tak dapat berbuat apa pun —juga dalam persoalan pelik di sekitar apa yang baik” dan yang “buruk”. Dalam suatu kesempatan Habermas pernah mengatakan, bahwa “dekonstruksi” yang ditawarkan Derrida “pada hakikatnya praksis”. Derrida sendiri mengakui ada kesejajaran antara dekonstruksi dan pragmatisme: pada mulanya adalah “laku”, bukan “tahu”. 

Maka orang bisa mengambil keputusan dengan tak disertai pengetahuan. Justru dalam keadaan yang tanpa pusat yang mengatur, tanpa patokan yang stabil, dalam keadaan ketika ukuran tak dapat secara a priori diketahui dan ditentukan itu, langkah manusia digerakkan oleh apa yang oleh Kant disebut “hukum moral” dalam hati—yang tak dapat dibuktikan ada secara objektif, tak dapat dirumuskan oleh nalar teoretis, tapi toh ada dalam diri manusia, satu hal yang menyebabkan Kant tak henti-hentinya takjub. 

Agaknya dari sini kita dapat melihat bahwa di balik kiasan muram yang dipilih Fayyadl, “gurun yang tak ramah dan menuntut perjuangan sungguh-sungguh untuk bertahan hidup”, ada sebuah harapan yang membuat manusia tawakal: nun entah di mana, yang “tak-mungkin” selalu menghimbau, selalu mengundang, dan kita datang. Kita tahu bahwa, seperti sajak Chairil Anwar Cintaku Jauh di Pulau, kematian selalu menanti, dan kita tak akan sampai ke tepi sana. Tapi hidup—yang selalu seperti menunggu-nunggu sang juru selamat yang mustahil—mempunyai maknanya sendiri. 

Mungkin itu sebabnya dalam wawancara terakhirnya Derrida merasa beruntung dapat “mencintai saat-saat yang paling tak bahagia dalam hidup”, dan “bahkan memberkatinya.” Katanya pula: “Merasakan nikmat dan menangis di hadapan kematian—bagi saya sama saja.” 

Goenawan Mohamad, "Pengantar" dalam Muhammad Al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LKiS, 2005


0 komentar:

Posting Komentar