alt/text gambar

Rabu, 11 Februari 2026

Topik Pilihan: , ,

Derrida: Sebuah Prakata

Muhammad Al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LKiS, 2005

Oleh: Muhammad Al-Fayadl


“Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa.” Semangat zaman di era posmodern ini mungkin tak jauh-jauh amat dari apa yang tergambar dari ungkapan Milan Kundera itu: sebuah parodi, dan mungkin ironi, tentang rasionalitas, ketika berpikir tak harus selalu berarti mencari kebenaran, melainkan mendengar Tuhan tertawa dan menertawakan diri. 

Abad posmodern memang bukan zaman yang cocok bagi rasionalitas yang terlalu serius “memburu” kebenaran. Zaman itu telah lewat, atau setidaknya telah mengalami krisis dan meretas jalannya menuju keruntuhan. Abad posmodern mungkin hanya merayakan rasionalitas yang mau bermain dengan kebenaran, mempermainkan diri dengan paradoks, keganjilan, aporia. Permainan ini sudah menampakkan bentuknya pada filsafat Nietzsche yang sama sekali “anti-filsafat”, dan terus berproses hinggi kini di tangan Jacques Derrida, yang akan saya ulas pemikirannya dalam buku ini. 

Filsafat Derrida bukanlah filsafat dalam pengertiannya yang biasa. Mungkin inilah yang membuat pendekatannya tampak memukau bagi banyak orang. Derrida adalah filsuf yang memilih menjadikan filsafatnya sebuah penafsiran. Karena itu, ia memulai filsafatnya dengan menafsirkan teks-teks filosofis lalu mencari kelemahan-kelemahan yang tersembunyi di dalamnya, sambil mempermainkan logika dan asumsi dalam teks. Dengan cara itu, Derrida ingin menunjukkan bahwa tak ada makna yang stabil dalam teks. Sebuah teks selalu ditandai oleh dinamika terus-menerus, yang tidak mungkin distabilkan ke dalam satu tafsiran tunggal. 

Derrida menyuguhkan sebuah pembacaan radikal atas filsafat dan sejarah filsafat itu sendiri. Ia membuka sebuah undangan untuk menggugat dan mempertanyakan klaim filsafat sebagai satu-satunya penjelas bagi dunia peristiwa. Metodenya—yang juga “anti-metode”—adalah dengan mendekonstruksi pengandaian-pengandaian yang paten dalam teks dan memperlihatkan kompleksitas penafsiran yang mungkin dicerap dari teks. Mungkin karena itu pembacaan Derrida tidak pernah mengenal kata akhir: filsafatnya dimulai dengan pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan. Seperti Nietzsche yang mengumandangkan kematian modernitas dengan seruan untuk "membunuh Tuhan”, Derrida juga memulai filsafatnya dengan sebuah kecurigaan akan makna transendental dan asumsi-asumsi metafisik dalam teks. Ia mencurigai hal-hal yang tersembunyi dari teks dan mencari logika permainan yang dikangkangi oleh kuasa penafsiran. Dengan pembacaannya yang cermat, Derrida sampai pada kesimpulan bahwa “tak ada sesuatu di luar teks” (il n'y a pas de hors-texte): segalanya adalah teks, bermain dalam teks, dan sejauh dimaknai sebagai teks, maka kebenaran adalah intertekstual, bertaut tanpa akhir dari satu teks ke teks yang lain, dan tak pernah selesai untuk dirumuskan dan ditafsir ulang. 

Derrida telah menyajikan filsafatnya dengan gaya pembacaannya sendiri yang cenderung anarkis terhadap setiap pemikiran filosofis. Ia mempreteli klaim-klaim kebenaran dari sistem diskursif filsafat dan metafisika. Ini semua dilakukannya untuk membebaskan penafsiran dari beban makna dan menjadikan proses pembacaan terhadap teks sepenuhnya lepas dari kuasa-kuasa yang hendak menstabilkan penafsiran ke dalam satu modus pemaknaan tertentu. Pembacaan dekonstruktivis yang ditawarkan Derrida membawa konsekuensi serius pada ranah pemikiran karena kecenderungan anti-fondasionalismenya yang tinggi. Derrida mempersoalkan setiap klaim kebenaran dengan memeriksa asumsi metafisik yang menjadi landasan filsafat untuk membangun pandangan-dunianya. 

Di tengah dunia yang banal dengan klaim kebenaran, ' mungkin memang ada baiknya bila sejenak kita mendengar Derrida. Buku ini hadir menjawab kegelisahan tentang perlunya sebuah pemikiran alternatif, sebuah gagasan yang membela perbedaan, di dunia yang tengah dihantui ancaman penyeragaman seperti yang terjadi saat ini. Dunia yang ditegakkan dengan hegemoni terselubung yang mengatasnamakan rasionalitas, yang ingin mengarahkan masyarakat dan individu secara diam-diam dengan teleologi tertentu: teleologi modernitas. Apa yang kini dibayangkan sebagai “dusun global” atau globalisasi adalah salah satu geliat paling menonjol dari teleologi ini. Dalam dunia yang diatur oleh rasionalitas metafisik semacam ini, perbedaan — difference — akan tampak bagaikan sebuah ancaman. Mereka yang berkepentingan akan mudah membelokkan sejarah ke dalam sebuah totalitas makna dan menjadikan gagasan mereka sesuatu yang universal, yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia. 

Cerita agung yang dihadirkan oleh filsafat memberi andil besar bagi perkembangan modernitas sebagai sebuah teleologi. Pada Hegel, kita menemukan tipikal filsafat yang sepenuhnya totalistik ini: filsafat yang ingin memberikan penjelasan tentang dunia, dan menempatkan manusia sebagai subjek. Hegel tidak sendirian. Di belakangnya, para penafsirnya berebut mewarisi semangatnya yang monadik itu. Sebagian penafsirnya mencoba merekonstruksi ide Hegel ke dalam sebuah ideologi bernama Marxisme, dan sebagiannya lagi menjadikan gagasannya sebuah teleologi bagi unfinished project bernama modernitas (Fukuyama). 

Meski masa kejayaan Hegel telah habis, namun semangatnya untuk menjadikan manusia subjek yang penuh sadar akan dunia masih terus bergema hingga sekarang. Dalam suasana yang 

diliputi oleh hasrat akan “kebenaran” yang utuh dan tunggal itu, sebuah pembelaan akan perbedaan pun menjadi perlu. Melalui Derrida, kita mafhum bahwa tak selamanya yang-universal akan menyapu yang-partikular, yang einmalig dan tak-tergantikan. Selalu ada yang lepas dari totalitas. Yang-lepas itu tak tereduksikan: ia bergerak dengan keunikan dan perbedaannya sendiri, dan tak selamanya terangkum dalam satu keutuhan yang bulat dan total.

Apa yang kita andaikan sebagai “totalitas” sebenarnya tak pernah ada. Persentuhan kita dengan dunia selalu dimediasi oleh bahasa, sementara dalam bahasa tidak ada apa-apa selain perbedaan demi perbedaan yang dikonstruksi oleh permainan tanda. Pengalaman pertama manusia dengan dunianya adalah ketika ia menyematkan sebuah nama kepada sesuatu — benda atau peristiwa. Menamai adalah upaya menandai, menjadikan sesuatu sebuah tanda yang dapat kita tangkap maknanya. Dengan menamai, kita — sebagaimana dikatakan Adorno dalam sebuah tafsirnya — sesungguhnya tengah menaklukkan yang unik dan yang partikular ke dalam sebuah abstraksi yang kita buat sendiri. Nama lahir dari "dorongan untuk mengklasifikasikan”. Dengan nama, yang-beda kita masukkan ke dalam konsep dan kategori yang kita miliki. Namun, sebuah nama, sebuah tanda, tidak selamanya merengkuh yang-beda dan menguasainya ke / dalam sebuah konsep. Nama hanyalah penunjuk ke sesuatu yang hulang dari jangkauan kita dan tak pernah hadir. Sebuah nama menjadi isyarat bahwa “kehadiran” yang ingin kita abstraksikan selalu luput. Yang tersisa tinggal jejak, dan sang Kehadiran hanya bisa dirunut melalui jejak itu. 

Selama ini, kita berpikir bahwa yang kita sebut kebenaran berasal dari Kehadiran yang hilang itu. Dalam banyak hal, kita mengidentikkan Kehadiran dengan pikiran, cogito, diri, Tuhan, Ada. Kehadiran kita asumsikan sebagai sesuatu yang tetap dan tidak berubah. Descartes, melalui cogito ergo sum, meyakini bahwa satu-satunya realitas ontologis yang memberi kepastian adalah pikiran. Metafisika tidak beranjak jauh dari Kehadiran yang diandaikan sebagai pusat kebenaran itu. Hampir seluruh sejarah metafisika—sejarah ontologi—diwarnai dengan asumsi bahwa ada sebuah pusat yang stabil. Kecenderungan inilah yang disebut sebagai logosentrisme—keyakinan tentang sebuah logos yang universal, tetap, mengatasi perubahan. 

Buku ini ingin menelusuri jejak-jejak logosentrisme seperti yang tertuang dalam pembacaan Derrida atas teks-teks filosofis. Dengan mendekonstruksi nalar logosentris metafisika, Derrida mencari celah-celah untuk membebaskan kita dari ilusi akan Kehadiran yang telah hilang itu. Buku ini terdiri atas empat bab. Pada bab 1, diuraikan latar belakang pemikiran Derrida dan sedikit tentang riwayat hidup dan perjalanan serta karya-karyanya. Konteks pemikiran Derrida tidak lepas dari pengaruh posmodernisme secara umum, yang diresmikan pertama kali oleh Jean-Francois Lyotard pada akhir 1970-an. Namun, posmodernisme sebagai sebuah cara-pandang sebenarnya sudah jauh-jauh diperlihatkan oleh Nietzsche dan Heidegger di awal abad ke-20 melalui kritik metafisika, dan Derrida tampaknya juga berada dalam arus ini. 

Kritik logosentrisme tidak bisa dilakukan di luar bahasa. Munculnya strukturalisme membuat perhatian metafisika beralih pada bahasa. Derrida menemukan bahwa strukturalisme sebenarnya ingin membebaskan bahasa dari beban metafisika. Namun, rencana itu tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Kaum strukturalis juga menyimpan asumsi-asumsi metafisik dengan nuansa logosentrisme yang cukup kuat. Ketidakpuasan Derrida terhadap pendekatan strukturalis dijelaskan lebih jauh pada bab 2. 

Bab 3 mengulas beberapa sasaran dari proyek dekonstruksi Derrida. Dalam bab ini, kita melihat bagaimana dekonstruksi, permainan teks dan differance, menciptakan instabilitas makna dalam teks dan melahirkan pemaknaan baru. Tiga poros utama dalam proyek dekonstruksi adalah teks, tulisan, dan metafor. Derrida meradikalkan ketiga-tiganya untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan internal dalam metafisika melalui permainan dan penundaan terus-menerus atas kehadiran. Untuk itu, menarik diikuti pembacaannya atas Saussure, Nietzsche, Freud, Heidegger, dan Levinas dalam bab ini. 

Bab 4 membahas pengaruh dekonstruksi terhadap metafisika, yang meliputi pandangan kita atas kebenaran, agama dan iman, sejarah, dan rasionalitas. Dekonstruksi memperlihatkan ambiguitas yang tak terelakkan setiap kali kita berbicara mengenai tema-tema ini. Derrida menyuguhkan sebuah pembacaan enigmatik dalam bab ini. Pembacaan ini, bagaimanapun, adalah upaya menafsir berbagai ihwal yang selama ini kita terima secara taken for granted. Pertanyaan-pertanyaan Derrida menggugah kita untuk mempersoalkan lebih lanjut beberapa perkara yang telah dianggap “selesai” atau final. Bagian terakhir, epilog, mengundang pembaca untuk ikut bermain dengan dekonstruksi dan bertanya dengan kegelisahan yang sama seperti dialami Derrida: ada apa pasca-dekonstruksi? Pasca-Derrida? 

Seperti lazimnya karangan yang lain, penyusunan buku ini merujuk pada sejumlah sumber terpilih. Penulis merujuk utamanya pada karya-karya yang ditulis langsung oleh Derrida, baik dari versi terjemahan Inggris maupun versi aslinya dalam bahasa Prancis. Namun sayangnya ada satu buku yang gagal penulis dapatkan versi terjemahan atau aslinya: Specters of Marx. Terpaksa penulis merujuk versi terjemahan Indonesia buku ini, meski di beberapa bagian terlihat kurang memuaskan atau menyalahpahami logika. Pilihan penulis untuk merujuk langsung karya-karya Derrida sebenarnya problematis, karena setiap teks yang berbicara tentang Derrida, yang ditulis oleh Derrida atau bukan, memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Dengan kata lain, tidak berarti bahwa yang ditulis Derrida lebih unggul daripada teks-teks lain yang mengomentarinya. Sudah saatnya kita menghapus asumsi bahwa ada “teks asli” yang menjadi rujukan utama dari segala perbincangan. Tak ada “teks asli”: setiap teks, dengan sifatnya masing-masing, adalah intertekstual. 

Buku ini tidak akan lahir tanpa sokongan banyak pihak. Rasa terima kasih setulusnya penulis sampaikan kepada ayah dan ibunda kami, yang terus menyemangati kami untuk menyelesaikan tulisan ini. Beberapa sahabat juga lebih dari sekadar layak mendapat haturan terima kasih penulis: M. Mushthafa, editor saya yang setia, Afthonul Afif, Ahmad Zayyadi, Tasyriq Hifzhillah, M. Ali Hisyam, Ach. Maimun, Abdul Wahid, Dahlan, M. Faizi, Ahmad Jauhari, Faisal Kamandobat, A. Fawaid Sjadzili (Lakspesdam Jakarta), Mas Qamaruddin SF (Serambi, Jakarta), Jost Kokoh Prihatanto, Mas Suwandi (Seminari Tinggi Yogyakarta), dan kawan-kawan lain yang tak terhitung sumbangan tenaga dan pikirannya. Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, namun keterlibatan mereka dalam proses penulisan buku ini sudah lebih dari cukup. Tak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Goenawan Mohamad, yang di tengah kesibukannya mau meluangkan waktu untuk menulis pengantar. Juga kepada teman-teman Redaksi LKiS yang ikut menekuni buku ini. 

Apoligia pro libro suo. Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Sebagai sebuah pembacaan, apa yang tertoreh dalam tulisan ini tidak lahir dari vakum sejarah, dan karenanya selalu terbuka untuk diperiksa ulang. 


Sumber

Muhammad Al-Fayadl, "Prakata", dalam Muhammad Al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LKiS, 2005.

0 komentar:

Posting Komentar