HU…!
Oleh: Mohamad Sobary
(Kompas, 12 Februari 1995, “Asal Usul”)
Ketika ketegangan hubungan Pajang-Jipang memuncak, Arya Penangsang memutuskan lebih baik persoalan negara diselesaikan dengan adu jago. Jago-jagonya jelas: Pajang diwakili rajanya, Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir; dan Jipang diwakili adipatinya, Arya Penangsang. Bayangan penyelesaiannya pun tuntas: siapa gugur, otomatis kehilangan hak atas tahta.
Ini basa-basi Penangsang agar tampak ksatria dalam menyelesaikan masalah. Dia sudah pernah mengirim pembunuh untuk menghabisi Sultan Hadiwijaya tapi gagal. Kemudian ia mengusulkan kepada gurunya—yang adalah juga guru Sultan Hadiwijaya—Sunan Kudus, untuk turun tangan sendiri membunuhnya.
"Boleh ya Romo?" bujuk Penangsang. Sunan Kudus menarik napas. Wali senior dan ahli strategi ini tersudut dalam dilema. Ia tahu Penangsang yang berhak atas tahta, tapi ia pun tahu Penangsang tak cocok menjadi raja.
la memang memihak Penangsang. Tapi Tingkir lebih menarik: ia murid juga, dan cerdas, dan pandangan ketatanegaraannya luas. Tingkir lebih becus memerintah. Lagi pula, kalau mereka berlaga, Sunan Kudus tahu Penangsang pasti kalah.
"Bagaimana Romo?" desak Penangsang.
Sunan Kudus mengiyakan dengan berdebar-debar. Maka, secara tersamar ia membolehkan Penangsang berlaku curang.
"Tapi begini, Penangsang," kata Sunan Kudus. "Kamu harus tanggap sasmita sandi."
"Baik Romo," Penangsang gembira.
***
Momentum pun mematangkan diri. Keduanya bertemu. Setelah saling sindir di pendapa Panti Kudus, dengan halus Tingkir mengejek,
"Dimas, aku kembalikan pisau dapur ini. Beberapa hari yang lalu ada penjahat ingin menusukku dengan benda tumpul ini. Ya terang tidak mempan. Bukankah ini milikmu?"
Penangsang tersentak. Ia merasa diremehkan. Keris Kiai Setan Kober, miliknya, bukan sembarang pusaka. Pembunuh tolol itu ternyata tak punya nyali. Dan Kiai Setan Kober dianggap pisau dapur? Kurang ajar. Trembelane, pikir Penangsang.
"Kangmas, ini pusaka sakti. Kalau aku yang menghunjamkan- nya ke dadamu, jebol, Kangmas,"
"Ah, ampuh ini, Kiai Crubuk ini," kata Tingkir.
"Ampuh ini," jerit Penangsang.
Keduanya sudah marah. Keris saling ditodongkan. Bau kematian mengambang di ruangan itu.
Dalam situasi kritis itu muncul guru mereka. Suaranya rendah, langsung menyusup ke ulu hati.
"Penangsang. Sarungno (sarungkan)."
"Tidak guru. Aku bunuh dia."'
"Sarungno!"
"Aku bunuh dia."
"Aku bilang, sarungno!"
Kiai Setan Kober disarungkan ke dalam rangkanya. Tingkir melakukan hal yang sama pada pusakanya.
***
Setelah Tingkir pulang, Penangsang protes, mengapa gurunya melindungi Tingkir. Dan sang guru menjelaskan, bahwa "sarungno" tadi itu sasmita sandi. Bukan disarungkan ke dalam rangkanya, melainkan, seharusnya, langsung disarungkan ke dada Tingkir.
"Utekmu kuwi landep dengkul (otakmu lebih tumpul dari dengkulmu)," kata Sunan Kudus.
Kesalahan serupa terjadi antara ular dengan Sunan Kalijaga. Syahdan, menurut dongeng Mas Harry Tjan Silalahi, ada katak dicaplok ular. Katak menjerit-jerit. Sunan Kalijaga berteriak,
"Hu...!"
Ular yang ketakutan melepas si katak. Ular protes pada Nabi Sulaiman, mengapa ia tak boleh makan katak? Lantas makan apa?
"Mengapa kau larang dia makan katak? Itu sudah kodrat alam," tanya Nabi Sulaiman.
"Siapa yang melarang? Saya bilang "hu", artinya "huntalen" (telanlah). Ular tolol," kata Sunan Kalijaga.
Katak, yang masih di situ protes, kenapa Kanjeng Sunan membiarkan dirinya ditelan ular. Itu tidak adil, karena katak lemah tak berdaya.
"Saya tidak terima," kata si Katak.
"Husy, diam kamu," bisik Sunan Kalijaga. "Ular salah paham, dikiranya "hu" itu artinya "huculno" (lepaskan). Dia takut kepadaku dan kau dilepaskan. Sudah pergi, yang penting kamu selamat, bukan?"
***
Dugaan saya, "hu" itu pada mulanya "sabda alam" yang netral. Alam tak punya kepentingan, tak punya pamrih. "Hu" pendeknya suara ilahiah buat menjaga perdamaian, atau upaya menjaga harmoni semua pihak., agar sesama titah tak saling menginjak, tak saling menindih.
Di tangan Sunan Kalijaga, "hu" masih berwarna alam. Ia tak dibebani kepentingan apa pun. Tapi dalam politik kita? Tergantung. Seorang pemimpin sejati akan berbuat seperti Sunan Kalijaga juga. Ia tak akan membiarkan yang kuat (ular) menelan yang lemah (katak). Ia tak tega membiarkan umatnya morat-marit, saling cakar, saling jegal. Keutuhan sebagaimana alam menghendaki, diwujudkan dalam kepemimpinannya.
Tapi pemimpin sejati tidak banyak. Yang banyak ialah pemimpin yang pandai "bermain". Kalau musuhnya ditelan orang, ia akan berkata: "hu", yaitu "huntalen" betul. Dengan begitu, satu lawan sudah tewas. Jalan kekuasaan makin lapang.
Kalau ada orang mendapat milik besar, atau menduduki posisi baik, dia berkata "hu" (huculno). Setelah dilepas, dia "huntal" sendiri berapa pun banyaknya.
Dalam percaturan politik kita, yang muncul bukan "hu" netral, melainkan "hu" yang memihak. Wasit yang berteriak "hu" pun memihak. Dia bisa memihak atasan, teman, saudara, orangtua, adik, keponakan, anak-anak, dan cucu-cucu.
Di masyarakat kita, "hu" sudah kotor. "Hu" sudah tercemar. Kita lengah. Kita tak bisa menjaga prinsip netralitas "hu". Maka, kita harus bekerja keras mencari kembali "hu" yang netral. Biarlah "hu" berdaulat di atas kita semua.
"Hu siapa? Huculno?"
"Bukan."
"Huntalen?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Hukum."
Kita menghendaki kedaulatan hukum. Sekarang juga.***
Mohamad Sobary
Sumber: Kompas, 12 Februari 1995

0 komentar:
Posting Komentar