alt/text gambar

Kamis, 26 Februari 2026

Topik Pilihan: ,

Kita Diajar Cinta, Tapi Tidak Diajar Curiga



Kita tumbuh dengan nyanyian kebangsaan yang indah, dengan lagu-lagu yang menyejukkan hati dan janji-janji tentang tanah air. Sekolah mengajarkan kita untuk mencintai bangsa, tetapi di balik itu, jarang sekali ada yang mengajari kita untuk mencurigai negara. Negara, katanya, adalah pelindung; tetapi siapa yang menjaga negara ketika ia menindas rakyatnya sendiri?


Jika cinta pada bangsa hanya berarti mengikuti seragam, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menghormati simbol, maka itu bukan cinta. Itu adalah kepatuhan yang dibungkus dengan rasa bangga. Sementara itu, mencurigai negara—mempertanyakan kebijakan, menilai tindakan penguasa, menolak ketidakadilan—selalu dianggap subversif, bahkan berbahaya.


Kita diajari bangga dengan sejarah, tetapi tidak diajari bertanya: sejarah mana yang benar, dan sejarah siapa yang ditulis? Kita diajari hormat pada lambang, tetapi tidak diajari bagaimana menegakkan keadilan ketika lambang itu dipakai untuk menindas.


Cinta pada bangsa yang sejati bukanlah cinta buta. Ia adalah cinta yang kritis, yang mempertahankan harga diri rakyat, yang menuntut kejujuran dan keberanian dari penguasa. Dan ketika kita tidak diajari mencurigai negara, kita hanya dilatih menjadi saksi pasif atas ketidakadilan, menjadi penonton di negeri sendiri.


Cinta bangsa yang buta hanya akan melahirkan rakyat yang tunduk. Dan rakyat yang tunduk adalah cermin dari negara yang lalim. Maka, belajar mencurigai negara bukan pengkhianatan, tetapi bagian dari cinta yang sejati—cinta yang berani menuntut kebenaran, bukan sekadar menerima janji-janji manis.


0 komentar:

Posting Komentar