“Tanpa demokrasi yang hidup, sosialisme akan berubah menjadi kediktatoran atas nama rakyat.”
— Rosa Luxemburg
Sosialisme bukan sekadar kata atau simbol di bendera, bukan sekadar janji yang diulang oleh orator di podium. Ia hidup hanya jika rakyatnya ikut bernapas di dalamnya, jika rakyat berbicara, bertanya, dan menuntut. Tanpa demokrasi yang hidup, sosialisme menjadi topeng kosong, kedok bagi kekuasaan yang haus kuasa.
Kekuasaan yang lahir tanpa partisipasi rakyat selalu rapuh, tetapi berbahaya. Ia mengklaim berbicara atas nama rakyat, padahal menindas rakyat itu sendiri. Dari tanah yang dijanjikan sebagai tanah pembebasan, bisa tumbuh kediktatoran yang membungkam, menindas, dan mengekang. Sejarah telah mengingatkan kita: revolusi yang kehilangan suara rakyatnya sendiri tidak hanya gagal membebaskan, tapi malah memperbudak.
Demokrasi bukan hiburan, bukan retorika yang indah. Ia adalah proses yang berisik, yang menuntut keberanian untuk mendengar, untuk meragukan, untuk mengoreksi. Ia adalah jantung dari setiap usaha sosialisme yang sejati. Tanpa itu, setiap kata “kebebasan” atau “persamaan” hanyalah gema kosong di udara, yang disalurkan melalui ketakutan dan kekerasan.
Maka, jika kita ingin membangun dunia baru, kita harus memastikan bahwa rakyat bukan hanya objek janji, tetapi subjek sejarah. Hanya dengan itu, sosialisme tidak akan menjadi tirani yang menutupi dirinya dengan nama rakyat, melainkan kebebasan yang dirasakan dan diperjuangkan bersama.
Salam Kato


0 komentar:
Posting Komentar