alt/text gambar

Selasa, 10 Februari 2026

Topik Pilihan:



MENJADI KUPU-KUPU

Oleh: AS Laksana

(Jawa Pos, 10 Februari 2019)


DARI sebuah artikel pendek di internet, saya menemukan cerita tentang mistikus sufi Bayazid. Konon di dalam otobiografinya Bayazid menulis: “Ketika saya masih muda, saya berdoa kepada Tuhan: ‘Ya Tuhan, beri saya kekuatan sehingga saya dapat mengubah seluruh dunia.’ Dengan doa itu, saya menjadi penuh semangat, revolusioner, dan betul-betul ingin mengubah dunia menjadi lebih baik.” 


Yang terjadi selanjutnya mudah diduga. Bayazid bergairah melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya mengubah dunia. Ia mendedikasikan diri untuk membuat perubahan besar. Ia membayangkan tindakan-tindakan besar.


Umurnya terus bertambah dan tenaganya makin berkurang, sampai akhirnya ia mendapatkan kesadaran baru bahwa mengubah seluruh dunia tampaknya terlalu berlebihan. Itu pekerjaan yang amat berat dan ia tidak mungkin melakukannya. 


Lalu, ia berdoa lagi kepada Tuhan, “Ya Tuhan, saya sudah melakukan segala sesuatu dalam separo usia saya. Tetapi selama itu, yang saya lakukan sepertinya hanya meninju-ninju angin. Jangankan dunia, bahkan satu orang pun kelihatannya tidak ada yang berubah. Sekarang, keluarga sudah cukup bagi saya. Izinkan dan beri saya kekuatan untuk mengubah keluarga saya.” 


Ketika makin tua, ia menyadari bahwa rupanya mengubah anggota keluarga sendiri pun sangat sulit. Akhirnya ia berdoa lagi kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sekarang saya sudah tiba pada titik yang tepat untuk menyadari kekeliruan diri sendiri dan sanggup membuat kesimpulan yang benar. Sepanjang hidup saya ingin mengubah orang lain dan semua upaya saya gagal. Tetapi, saya bersyukur setidaknya masih memiliki kesempatan untuk melakukan satu hal lagi. Dalam sisa umur saya, sepertinya sudah cukup bagi saya sekiranya bisa mengubah diri sendiri. Maka, izinkan saya melakukannya dan tolonglah beri saya kekuatan untuk mengubah diri sendiri.” 


Cerita dengan plot seperti itu muncul dalam berbagai versi, dengan tokoh-tokoh rekaan, dan dengan berbagai variasi di dalam detailnya, tetapi semuanya menyampaikan pesan yang sama: Untuk mengubah dunia, jika Anda ingin mengubah dunia, yang perlu Anda lakukan adalah membuat perubahan pada diri sendiri. 


Anda mengubah diri sendiri dan sisanya adalah urusan sebab-akibat yang bekerja sesuai hukum alam. Kata Edward Lorenz: Kepak sayap kupu-kupu di Brasil memicu tornado di Texas. Edward Lorenz (1917-2008) adalah matematikawan dan ahli meteorologi dan pelopor teori chaos. Dengan metafora tersebut dan dengan persamaan matematika yang tentu saja rumit bagi awam, ia ingin menyatakan bahwa hal-hal kecil bisa memicu terjadinya perubahan besar. 


Jadi, kalaupun tidak memiliki cita-cita mengubah dunia, Anda mungkin juga perlu mengubah diri sendiri—menjadi kupu-kupu bagi kehidupan Anda sendiri. Anda perlu memeriksa beberapa aspek di dalam kebiasaan sehari-hari: Mungkin ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlu distop, mungkin ada beberapa hal yang perlu disingkarkan jauh-jauh, mungkin Anda perlu merumuskan cara hidup yang lebih simpel sehingga kehidupan tidak melulu berisi kumpulan hal-hal rumit. 


Di sebuah tempat minum, pada suatu malam, saya mendengar ucapan seseorang dari meja lain: Hidup adalah seni mewujudkan kebahagiaan. 


Orang boleh membuat definisi apa pun tentang hidup. Ada banyak kutipan tentang hidup yang bisa Anda dapatkan dan Anda baca sambil lalu saja. Tetapi, kalimat yang saya dengar dari meja sebelah itu rupanya betul-betul mengganggu. Ia melekat di dalam pikiran dan muncul lagi ketika saya bangun tidur besok paginya. 


Jika ucapan itu benar, berarti saya harus memeriksa diri sendiri, mencari tahu apakah selama ini segala yang saya lakukan, kebiasaan-kebiasaan saya sehari-hari, membawa saya ke arah kebahagiaan. Dan apa sebetulnya yang paling membuat saya bahagia? Orang-orang yang menggunakan untuk meratap di media sosial saya pikir sama saja—mereka juga orang-orang yang ingin bahagia. Mereka melakukan apa yang mereka lakukan sekarang demi menjadikan diri bahagia. 


Begitu pula dengan orang-orang yang menjadi pecandu narkoba. Mereka mencari kebahagiaan dengan jalan yang bisa mereka temukan pada saat pikiran mereka gelap. Ketika realitas menjadi terlampau rumit untuk dijalani dan tidak membahagiakan, mereka memerlukan situasi lain untuk menghindar  demi mendapatkan kebahagiaan, yakni ketidaksadaran. 


Dalam satu waktu, saya pernah juga memiliki perasaan seperti Bayazid. Ingin membuat perubahan besar dan menjadikan diri serevolusioner yang bisa saya lakukan. Apakah itu cara saya mewujudkan kebahagiaan? Mungkin. 


Barangkali Anda juga pernah seperti itu. Masalahnya, jika hal itu ternyata tidak membawa kebahagiaan, apa lagi yang harus kita lakukan? Saya tidak pernah memikirkannya. 


Ada sejumlah hal yang membuat jalan kita tersendat-sendat. Kita tidak memerlukan segala sesuatu yang membuat perjalanan kita tersendat-sendat. Kita hanya memerlukan apa yang bermanfaat untuk melancarkan perjalanan. Dan jika mengibaratkan hidup adalah sebuah perjalanan, kita perlu menetapkan tujuan perjalanan itu. Dengan demikian, kita bisa mengevaluasi apakah kita sudah menempuh jalan yang tepat yang akan membawa kita ke tempat tujuan, atau kita bergerak menjauh. 


Pada akhirnya kita selalu akan kembali ke hal yang sangat simpel, seperti Bayazid kembali kepada diri sendiri. Kita memerlukan jeda. Kita memerlukan kesunyian untuk merenung dan menguji diri sendiri dengan satu pertanyaan: Jika hanya ini yang saya kerjakan terus-menerus, akan jadi apa saya? (*)


Sumber: Jawa Pos, 10 Februari 2019

0 komentar:

Posting Komentar