Bagaimana Heidegger Menggugat Cara Kita Memahami Sains?
Sering kali kita membayangkan ilmu pengetahuan sebagai aktivitas yang murni “melihat” dunia secara objektif. Seorang ilmuwan, dalam gambaran populer, hanya mengamati realitas, mencatat fakta, lalu merumuskan teori. Seolah-olah ilmu pengetahuan adalah cermin yang memantulkan dunia sebagaimana adanya.
Namun bagi filusuf Martin Heidegger, gambaran ini terlalu sederhana bahkan menyesatkan. Dalam analisisnya tentang hubungan manusia dengan dunia ilmiah (das wissenschaftliche Weltverhältnis), ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah titik awal pemahaman manusia terhadap dunia. Sebaliknya, ia adalah hasil akhir dari proses yang jauh lebih mendasar, keterlibatan praktis manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, sebelum manusia menjadi “pengamat dunia”, ia terlebih dahulu adalah “pelaku di dalam dunia”.
Sejak zaman Yunani kuno, tradisi filsafat sering memisahkan dua hal:
Teori: aktivitas kontemplatif, murni melihat dan memahami.
Praktik: aktivitas bekerja, menggunakan alat, dan berinteraksi dengan dunia.
Dalam tradisi ini, teori dianggap lebih tinggi daripada praktik. Ilmuwan dilihat sebagai seseorang yang mengesampingkan aktivitas praktis demi mencapai pandangan objektif.
Namun Heidegger membalik asumsi ini.
Menurutnya, bahkan aktivitas ilmiah yang tampak paling “teoretis” sekalipun sebenarnya dipenuhi oleh tindakan praktis:
membaca hasil pengukuran eksperimen
mengamati preparat di bawah mikroskop
menggali situs arkeologi
menulis dan mencatat data
Ilmu pengetahuan ternyata bukan aktivitas pasif melihat dunia, tetapi jaringan tindakan yang sangat aktif.
Dalam sejarah filsafat Barat, banyak pemikir menganggap penglihatan sebagai dasar pengetahuan. Ide ini muncul dari tradisi Yunani dan terus berlanjut hingga filsafat modern.
Tokoh-tokoh seperti:
René Descartes
Immanuel Kant
Edmund Husserl
masih menganggap bahwa pengetahuan berakar pada intuisi atau persepsi.
Heidegger menolak asumsi ini.
Ia berpendapat bahwa sebelum kita “melihat” sesuatu secara teoritis, kita sudah lebih dahulu memahami dunia secara praktis melalui tindakan sehari-hari.
Melihat, dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menangkap objek dengan mata. Melihat selalu terjadi dalam konteks penggunaan.
Misalnya:
Anda melihat sebuah surat di meja. Anda langsung memahami bahwa surat itu perlu dikirim. Lalu Anda mencari amplop yang ukurannya sesuai.
Apa yang terjadi di sini?
Anda tidak sekadar melihat kertas. Anda langsung memahami:
ukuran surat
fungsi surat
kebutuhan amplop
Artinya, persepsi kita selalu sudah terikat pada jaringan makna praktis.
Dalam filsafat Heidegger, dunia sehari-hari bukan kumpulan benda netral. Dunia adalah jaringan alat dan kegunaan.
Ia menyebut benda-benda yang kita gunakan sebagai Zuhandenheit “yang siap digunakan”.
Contohnya:
palu untuk memukul paku
pena untuk menulis
sepatu untuk berjalan
Ketika kita menggunakan alat-alat ini, kita biasanya tidak memikirkannya secara teoritis. Kita tidak berkata:
“Objek berbahan logam dengan massa sekian gram sedang saya gunakan.”
Kita hanya memakainya.
Palu adalah sesuatu untuk memaku. Pena adalah sesuatu untuk menulis.
Makna benda muncul dari hubungannya dengan tindakan manusia.
Menariknya, menurut Heidegger, kita mulai berpikir secara teoritis justru ketika aktivitas praktis terganggu.
Ia memberikan beberapa contoh gangguan dalam penggunaan alat:
1. Auffälligkeit — alat rusak
Palu patah ketika digunakan.
2. Aufdringlichkeit — alat hilang
Kita tidak menemukan alat yang diperlukan.
3. Aufsässigkeit — alat mengganggu
Pena bocor atau sepatu terasa menyakitkan.
Dalam kondisi normal, alat “menghilang” dalam penggunaan. Kita tidak memikirkan palu saat memaku.
Namun ketika terjadi gangguan, alat tersebut tiba-tiba menjadi objek perhatian.
Misalnya:
Saat memaku, kita tiba-tiba menyadari:
“Palu ini terlalu berat.”
Di sinilah terjadi perubahan penting.
Heidegger mengatakan bahwa perubahan ini melahirkan bentuk baru pemahaman: pernyataan predikatif.
Awalnya kita hanya menggunakan palu.
Kemudian muncul kalimat:
“Palu itu berat.”
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menandai perubahan besar dalam cara kita memahami dunia.
Sebelumnya palu adalah bagian dari aktivitas memaku. Sekarang ia menjadi objek yang memiliki sifat.
Di sinilah Heidegger membedakan dua cara memahami sesuatu:
1. Hermeneutic “as”
Memahami sesuatu dalam konteks penggunaan.
Palu sebagai alat memaku.
2. Apophantic “as”
Memahami sesuatu sebagai objek dengan sifat tertentu.
Palu sebagai benda yang berat.
Perubahan dari yang pertama ke yang kedua adalah dasar munculnya pemikiran teoretis.
Ketika benda-benda dilepaskan dari konteks penggunaan sehari-hari, mereka menjadi objek yang berdiri sendiri.
Heidegger menyebut mode keberadaan ini sebagai Vorhandenheit
“yang hadir sebagai objek”.
Dalam tahap ini:
benda tidak lagi dilihat dari fungsinya
tetapi dari sifat-sifatnya
Berat, panjang, massa, volume.
Di sinilah ilmu pengetahuan modern mulai terbentuk.
Terutama dalam ilmu seperti fisika matematika, alam dipahami sebagai:
keseluruhan objek yang dapat diukur.
Dengan kata lain, “alam” dalam sains bukan alam yang kita alami sehari-hari, melainkan alam yang telah direduksi menjadi objek terukur.
Salah satu kesimpulan paling radikal dari Heidegger adalah:
fakta ilmiah tidak muncul secara langsung dari realitas.
Fakta ilmiah muncul dari cara tertentu manusia memproyeksikan dunia.
Sebelum ada fakta ilmiah, harus ada:
cara melihat tertentu
metode pengukuran
kerangka konseptual
Barulah sesuatu dapat disebut “fakta”.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan adalah praktik khusus yang lahir dari kehidupan manusia, bukan jendela langsung menuju realitas mutlak.
Analisis ini memiliki konsekuensi filosofis yang besar.
Heidegger menolak gagasan bahwa ilmu pengetahuan memberi kita akses istimewa pada “realitas sebagaimana adanya”.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan:
memisahkan objek dari konteksnya
mengukur dan menghitungnya
menjadikannya bagian dari sistem yang dapat diprediksi
Proses ini sangat berguna. Tanpa itu, teknologi modern tidak akan ada.
Namun proses ini juga mereduksi kompleksitas dunia.
Dunia yang kaya makna berubah menjadi dunia angka.
Heidegger juga menggugat tradisi epistemologi modern.
Selama berabad-abad, filsafat pengetahuan berangkat dari gambaran berikut:
seorang subjek terisolasi
mengamati objek di luar dirinya
lalu memperoleh pengetahuan
Namun bagi Heidegger, gambaran ini keliru.
Manusia tidak pernah berada di luar dunia sebagai pengamat netral. Manusia selalu sudah berada di dalam dunia, terlibat dalam aktivitas praktis.
Karena itu, dasar pengetahuan bukanlah persepsi, melainkan keterlibatan praktis dalam kehidupan bersama.
Jika filsafat lama memulai dari “kepala” (kesadaran yang mengamati), maka Heidegger ingin memulai dari “kaki” (tindakan manusia di dunia).
Analisis Heidegger mengingatkan kita bahwa dunia yang kita huni bukan sekadar kumpulan objek.
Dunia adalah:
jaringan alat
ruang aktivitas
medan makna bersama
Sains memang memberi kita pemahaman yang sangat kuat tentang alam. Namun ia hanyalah satu cara melihat dunia di antara banyak cara lainnya.
Sebelum dunia menjadi objek penelitian, ia sudah lebih dahulu menjadi rumah tempat manusia hidup dan bertindak.
Dan mungkin justru di situlah, menurut Heidegger, makna dunia yang paling mendasar berada.

0 komentar:
Posting Komentar